💐📝KAJIAN TAFSIR SURAT YAASIN (BAG KE-1)

Surat Yaasin adalah Makkiyyah. Maksudnya, surat tersebut diturunkan saat periode sebelum Hijrah.

 Pembagian surat menjadi Makkiyah dan Madaniyyah adalah berdasarkan periode, bukan berdasarkan tempat turunnya ayat. Jika diturunkan di masa sebelum hijrah, maka itu adalah Makkiyah. Jika diturunkan setelah hijrah, maka itu adalah surat Madaniyyah.

Salah satu ciri khas surat-surat Makkiyyah adalah pada uslub (gaya penyampaian) yang lebih kuat dan lebih fasih dengan ketinggian bahasa, karena yang dihadapi adalah orang-orang kafir (para penentang) asli Arab. Berbeda dengan ayat-ayat dalam surat Madaniyyah yang bahasanya tidak demikian, karena yang diajak bicara adalah orang-orang beriman atau Ahlul Kitab yang tidak perlu diajak bicara dengan gaya penyampaian seperti pada orang-orang Arab asli yang menentang.

Tafsir Surat Yaasin ini kebanyakan kami sarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam salah satu pelajaran beliau, penjelasan Tafsir al-Jalaalain pada Surat Yaasin. Sebagian lagi dirangkum dan diringkas dari beberapa tafsir Ulama seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir atThobary, Tafsir al-Baghowy, Tafsir alQurthuby, Fathul Qodiir, Tafsir as-Sa’di, dan Tafsir al-Muyassar. Pemberian arti kalimat lebih banyak berpatokan pada Tafsir al-Muyassar.

💎Ayat Ke-1 Surat Yaasin

يس

Kata Yaasiin adalah gabungan huruf ya’ dan sin dalam abjad Arab. Sama seperti beberapa awalan dalam surat lain yang diawali dengan gabungan beberapa huruf yang terpotong, seperti الم , حم, كهيعص dan semisalnya.

Pendapat yang rajih (lebih kuat), seperti yang dipilih oleh Syaikh Ibn Utsaimin bahwa kata Yaasin dalam bahasa Arab tidaklah memiliki makna. Fungsi penyebutan huruf-huruf terpotong di awal surat-surat al-Quran adalah untuk menantang bangsa Arab pada waktu itu yang pandai menggubah syair-syair yang indah, bahwa sesungguhnya al-Quran tidaklah tersusun dari huruf-huruf yang baru, tapi ia tersusun dari untaian kalimat yang huruf-hurufnya juga kalian gunakan. Ia tersusun dari huruf-huruf seperti ya’ dan sin, alif-lam-dan miim. Sama persis dengan yang kalian gunakan dalam percakapan kalian. Maka mampukah kalian menggubah suatu surat yang sama dengan al-Quran? Ternyata tidak mampu.

Jika kita perhatikan, hampir seluruh surat yang didahului oleh huruf-huruf terpotong tersebut setelahnya akan menyebutkan tentang al-Quran. Demikian yang dijelaskan oleh sebagian Ulama’, di antaranya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (salah seorang guru Ahli Tafsir, Ibnu Katsir rahimahullah).

💎Ayat Ke-2 Surat Yaasin

وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيمِ (2)

Arti kalimat: Demi al-Quran yang al-hakiim

Allah bersumpah dengan al-Quran yang memiliki sifat al-hakiim.

Apa yang dimaksud dengan al-Hakiim? Syaikh Ibn Utsaimin mengisyaratkan adanya 3 unsur utama dalam kata hakiim, yaitu hukum, ihkaam, dan hikmah.

Pertama, al-Quran adalah sebagai sumber hukum. Ia menjadi hakim yang memutuskan perkara jika ada perselisihan.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu hal, maka kembalikan kepada Allah (al-Quran) dan kepada Rasul (haditsnya), jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan akibatnya lebih baik (Q.S anNisaa’ ayat 59).

Kedua, mengandung makna ihkaam, yaitu pengokohan dan penyempurnaan.

Al-Quran dikokohkan dan dijadikan sempurna oleh Allah, sehingga tidak ada ayat dalam al-Quran yang bertentangan satu sama lain. Khabar-khabar dalam al-Quran adalah haq (benar dan jujur), hukum-hukumnya adil.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Tidakkah mereka mentadabburi (memikirkan dan menghayati) al-Quran? Kalau seandainya al-Quran berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan dapati di dalamnya pertentangan yang banyak (Q.S anNisaa’ ayat 82).

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

Dan telah sempurna kalimat Tuhan kalian dalam hal kebenaran dan keadilan (Q.S al-An’aam ayat 115)

Orang yang berpegang teguh dengan al-Quran, akan dikokohkan dan dikuatkan.
Ketiga, mengandung makna hikmah. Hikmah adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Hukum dalam al-Quran itu adil, sesuai dengan fitrah dan akal yang sehat. Secara global, akal akan menerima penjelasan dalam al-Quran.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan makna bahwa al-Quran adalah hikmah: meletakkan perintah dan larangan yang tepat dan sesuai, meletakkan balasan kebaikan dan balasan keburukan secara tepat dan sesuai.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom 2

📱📡 Turut Mempublikasikan :

📚 WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________


📶←←←←←←←←←←←←←📶

🔓PENUTURAN HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG DIHARAMKANNYA NYANYIAN DAN ALAT-ALAT MUSIK.

2. HADITS KEDUA:

🔹Dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anha diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu a'laihi wa'salam bersabda:

صَـوْتَانِ مَلْعُوْنَانِ فِي الدُّنْيَاوَالاَخِرَةِ: مِزْمَارٌعِنْدَ نِعْمَةٍوَرِنََّةٌ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ.

"Ada dua suara yang terlaknat: Seruling ketika ada kenikmatan, dan gemerincing ketika terjadi musibah."

▫Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya (Ⅰ: 377: 795 Kasyful Astaar): Amru bin Ali telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami. Ia berkata: Abu Ashim telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami. Ia berkata: Syabib bin Bisyr Al-Bajali telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami. Ia berkata: Aku pernah mendengar Anas bin Malik Radhiyallahu'anha menceritakan: lalu disebutkan hadits tersebut, Juga melalui jalur Abu Ashim namanya Adh-Dhahhaq bin Mukhallad dikeluarkan oleh Abu Bakar Asy-Syafi'i dalam Ar-Ruba'iyat (Ⅱ:22:1 Manuskrip Zhahiriyah). Adh-Dhaya'u Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah (Ⅵ: 188: 2200-2201)

▫ Al-Bazzar menyatakan: "kami hanya mengetahui riwayat dari Anas dengan sanad ini."

✒penulis katakan: sanad hadits ini hasan, bahkan shahih setelah melalui proses penyertaan.

🔹Dan hadits ini diiringi oleh riwayat penyerta dari Isa bin Thuhman dari Anas.

👉Dikeluarkan oleh Ibnu Sammak dalam Al-Awwal min Haditsihi (Qa'af 87: 2 -Manuskrip).

🔹Isa ini perawi yang dapat dipercaya, termasuk salah satu perawi Al-Bukhari sebagaimana dalam Al-Maghni oleh Adz-Dzahabi.

👍Alhamdulillah hadits ini shahih. Hadits ini juga memiliki riwayat penguat yang semakin menambah kekuatannya.

▪Yakni dari hadist Jabir bin Abdullah, dari Abdurrahman bin Auf, diriwayatkan bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu a'laihi wa'salam bersabda:

إِنِّيْ لَمْ أَنَّهُ عَنِ الْبُكَاءِ، وَلَكِنِّيْ نَهَيْتُ عَنْ صَوْ تَيْــــــنِ أَحْمَقَيْــــنِ فَجِرَ يْنِ؛ صَوْتٍ عِنْدَ نَغْمَةِ لَهْوِ، وَلَعْبٍ وَمَزَامِـــــيْرِ الشَّيْطَانِ، وَصَوْتٍ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ، لَطْمِ وُجُوْهٍ، وَشَقِّ جُيُوْبٍ، وَرِنَّةِ شَيْطَانٍ.

"Aku tidak melarang kalian menangis. Namun yang aku larang adalah dua macam suara yang bodoh lagi tabu: Suara nyanyian bersenang-senang, bermain-main dengan seruling setan, dan suara ketika terjadi musibah: memukul-mukul pipi, meribek-robek pakaian dan raungan setan."

📕Dikeluarkan oleh Al-Hakim (Ⅳ: 1063- 1064), Al-Baihaqi (Ⅳ: 69) dan dalam syu'abul Iman (Ⅶ:241:1063-1064) juga oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malihi (Qaaf 159: I-Zhahiriyah), Al-Ajjuri dalam Tahrimun Narad (201:63) Al-Baghawi dalam Syarhus sunnah (Ⅴ:430-431). Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (1683). Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat (Ⅰ: 138) dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (Ⅲ: 393) Abu bin Humaid dalam Al-Muntakhab Minal Musnad (Ⅲ: 8:1044) melalui jalur Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dari Atha, dari Jabir. Sebagian diantaranya tidak menyebutkan Abdurrahman, dan dalam hal itu ada kisahnya.

▪Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi (1005) dari Jabir secara ringkas, Beliau berkimentar hadits ini Hasan, yakni karena adanya riwayat lain.

📕Judul asli :تحريم آلاتالطّرب
▪(Tahrim Alatit Tharab)▪

✒Penulis: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Edisi terjemahan

➝➝➝➝➝➝➝➝➝
🌐📡 forumsalafiyyinsampit.blogspot.com
◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈
☏℡
📚WA الناجية forum السلفيين ⭐✪

✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★ ً


📶←←←←←←←←←←←←←📶

🔓PENUTURAN HADITS-HADITS SHAHIH - 📶←←←←←←←←←←←←←📶

🔓PENUTURAN HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG DIHARAMKANNYA NYANYIAN DAN ALAT-ALAT MUSIK.


1.HADITS PERTAMA

🌷Dari Abu Amir atau Abu Malik Al-Asy'ari diriwayatkan Bahwa ia menceritakan:

🔹لَيَكُوْ نَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَّ وَالْحَرِيــْــــرَ وَالْخَمْـــرَ وَالْمَعَازِفَ. وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ، يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْ تِيْهِمْ لَحَ جَةٍ، فَيَقُوْلُوْنَ: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيُبَيِّتُهُـــــمُ اللَّهُ، وَيَضَعُ الْعَلَمَ، وَيَمْسَخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَا زِيْرَِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَا مَةِ.

🔹"Akan ada sebagian diantara ummatku yang menghalalkan zina,sutra dan minuman keras serta alat-alat musik. Kemudian sebagian diantara kaumku akan ada yang turun disisi gunung. Lalu datang orang-orang yang membawa ternak-ternak mereka dan mendatangi mereka untuk satu keperluan². Mereka berkata: "Datanglah lagi kemari besok. Maka malam itu Allah menghancurkan mereka. Allah meruntuhkan gunung tersebut dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat. "

📚Diriwayatkan secara muallaq oleh Al-Bukhari dalam shahih-nya dengan bentuk ungkapan tegas dan menjadikannya sebagai hujjah dalam kitab Al-Asyribah (X:51:5590- Fathul Bari).

🔒 Hisyam bin Ammar menyatakan: Shudqah bin Khalid menceritakan sebuah riwayat kepada kami: Abdurrahman bin Yazid bin Jabir telah menceritakan sebuah hadits kepada kami: Athiyah bin Qais Al-Killabi telah menceritakan sebuah hadits kepada kami: Abdurrahman bin Ghunm telah menceritakan sebuah riwayat kepadaku. Ia berkata: Abu Amir - Abu Malik- telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami demi Allah, ia tidak berdusta kepada ku, bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda demikian.

_____________________________
² Yakni menuntut kebutuhannya. Demikian dalam Riwayat Al-Asma'i dalam Mustakhraj-nya.

📕Judul asli :تحريم آلاتالطّرب
▪(Tahrim Alatit Tharab)▪

✒Penulis: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Edisi terjemahan

➝➝➝➝➝➝➝➝➝
🌐📡 forumsalafiyyinsampit.blogspot.com
◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈
☏℡
📚WA الناجية forum السلفيين ⭐✪

✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★ ً


✊🔥💥 BINGKISAN BERHARGA UNTUK HIZBIYYUN, SURURIYYUN RODJAIYYUN
---------------------------------------

🌷🔰📹💻 HUKUM MENGAMBIL GAMBAR MASYAIKH DENGAN VIDEO

✒📂 Asy Syaikh Shalih as-Suhaimi حفظه الله

📫 Pertanyaan: Apa hukum mengambil gambar masayikh dengan video di halaqah pelajaran atau channel Islamiyyah?

🔓 Jawaban: Demi Allah wahai saudaraku yang mulia, sepantasnya seorang muslim menjauhi ini semua ini, walaupun sebagian ulama mengecualikan pengambilan gambar dengan video atau televisi dengan alasan itu hanya siaran langsung. Hanya saja, tinggalkan apa yang meragukanmu menuju hal-hal yang tidak meragukanmu. Adapun gambar yang dibuat sama saja dengan menggunakan tangan atau alat, maka tidak diragukan lagi tentang keharamannya jika itu gambar sesuatu yang memiliki nyawa, na’am.

📢 Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimy hafizhahullah berkata: “Kami telah mengingatkan larangan menggambar lebih dari sekali. Jangan mengambil gambar dengan HP atau dengan selain HP. Kami tidak mengizinkan hal itu dan orang yang melakukannya berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi was salam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِيْنَ.

“Allah melaknat orang-orang yang menggambar.”

🔥 Laknat, laknat, laknat, pahamkah kalian apakah laknat itu? Allah melaknat orang-orang yang menggambar. Rasulullah shallallahu alaihi was salam bersabda: “Allah melaknat orang-orang yang menggambar.” Rasulullah shallallahu alaihi was salam melaknat setiap orang yang menggambar makhluk yang bernyawa. Beliau juga bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ.

💥 “Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang suka menggambar.” (HR. Muslim no. 2109 –pent)

☝ Oleh karena itu saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mengambil gambar baik dengan HP atau dengan selainnya. Hapuslah atau saya akan mendoakan keburukan atasmu.

📫 Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, sebelumnya bagaimana hukum gambar? Semoga Allah menjaga Anda.

🔓 Asy-Syaikh: Pertama saya telah mengingatkan para ikhwah lebih dari sekali, tidak boleh menggambar yang bernyawa kecuali karena darurat yang telah diketahui, seperti kartu identitas, paspor dan semisalnya. Oleh karena itulah kami tidak mengizinkan seorang pun untuk mengambil gambar, apakah dengan hp atau selainnya. Dan kami tidak membolehkan dan tidak pula menghalalkan. Dan barangsiapa telah mengambil gambar -dan ini telah saya peringatkan kemarin- dia wajib menghapus gambar tersebut. Saya tidak mengizinkan seorang pun untuk mencari-cari gambar, apakah gambar saya atau gambar orang lain. Orang-orang yang menggambar adalah termasuk manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat nanti sebagimana hal itu disebutkan dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi was salam. Oleh karena itu wajib atas kaum muslimin untuk membatasi pada hal-hal yang sifatnya darurat di masa ini karena mengikuti aturan masa kini. Adapun gambar anak-anak atau kenang-kenangan dan semisalnya, maka ini tidak boleh bahkan haram, sama saja apakah dalam bentuk tiga dimensi, atau dengan tangan atau dengan fothografi atau dalam bentuk apapun jika menunjukkan gambar makhluk yang bernyawa.

📚 Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108042

💻 Arsip WSI || http://forumsalafy.net/?p=12137

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Turut mempublikasikan
➝➝➝➝➝➝➝➝➝

◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈
☏℡
📚WA الناجية forum السلفيين ⭐✪

✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★


🌅🌙 TERWUJUDNYA ‘IZZAH (Kemuliaan) KAUM MUKMININ

📮 Tanya : “Bagaimana akan terwujud kemuliaan bagi kaum muslimin sementara saat ini kondisi mereka lemah di alam ini yang telah rusak berbagai sisinya. Sementara Yahudi dan Nashara-lah yang sekarang berkuasa di alam, berbuat sekehendak mereka.
🌳 Maka bagaimana akan terwujud kemuliaan/kejayaan kaum mukminin?”

☀ Jawab :
“Tidak akan terwujud ‘Izzah (kemuliaan) bagi kaum mukminin, kemenangan atas musuh, dan kejayaan di muka bumi kecuali dengan :
🌍 KETAATAN KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA Shallallahu 'alaihi wa Sallam
🌍 MENGAMALKAN ISLAM DAN IMAN SECARA LAHIR DAN BATIN
➡ Telah ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta dari Salafush Shalih berbagai keterangan yang cukup menjadi nasehat dan pengingat.

✅ Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

{بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا * الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا}

“Berilah berita gembira kepada orang-orang munafik, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai para pembelanya, bukan kaum mukminin. Apakah kalian mengharapkan kemuliaan dari mereka?! Padahal sesungguhnya kemuliaan itu adalah milik Allah semuanya.” (an-Nisa : 138-139)

✅ Allah juga berfirman :
{وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

“Allah pasti menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesunggunya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (al-Hajj : 40)

{الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ}

“Orang-orang yang apabila Kami berika kejayaan untuk mereka di muka bumi niscaya mereka menegakkan shalat, membayar zakat, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Milik Allah-lah akibat baik semua perkara.” (al-Hajj : 41)

✅ Allah ‘'Azza wa Jalla juga berfirman,

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا}

“Allah berjanji untuk orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih bahwa pasti Allah akan jadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan akan Allah jayakan agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka, serta Allah tukar setelah kondisi takut menjadi aman. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan apapun.” (an-Nuur : 55)

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian membela (agama) Allah niscaya Allah akan menangkan kalian dan Allah kokohkan kaki kalian.” (Muhammad : 7)

👉 Dan masih banyak lagi ayat-ayat mulia yang menerangkan dan menjelaskan, bahwa :
🌅☀ KEJAYAAN DAN KEMULIAAN KAUM MUKMININ dalam kehidupan ini DIPERSYARATKAN : MEREKA HARUS MENEGAKKAN KEWAJIBAN YANG ALLAH BERIKAN KEPADA MEREKA, yaitu :
🌠 Mentauhidkan Allah, mengagungkan dan memuliakan-Nya
🌠 Mengamalkan al-Qur’an dan Mengikuti Sunnah Nabi-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam
🌠 Menegakkan Shalat
🌠 Membayar Zakat
🌠 Mencintai para wali Allah kaum mukminin
🌠 Membenci para musuh Allah, kaum munafi dan orang-orang kafir
🌠 Berjihad melawan mereka (munafik dan kafir) agar kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah.
🌠 dan berbagai konsekuensi iman lainnya.

⛵ Telah sah hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, diriwayatkan dari shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

«بعثت بالسيف بين يدي الساعة حتى يعبد الله وحده لا شريك له، وجعل رزقي تحت ظل رمحي، وجعل الذلة والصغار على خالف أمري، ومن تشبه بقوم فهو منهم »

“Aku diutus dengan pedang sebelum hari Kiamat, agar Allah satu-satu-nya yang diibadahi tidak ada sekutu bagi-Nya. Dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku. Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Ahmad 2/50, 92; Abu Dawud 4013).

📀📝 Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa semua yang menyelisihi perintah beliau maka dia akan mendapatkan bagian kehinaan dan kerendahan sesuai kadar penyelisihan dan penentangannya.

📚 Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan dalam syarh hadits ini :
“Di antara penyebab terbesar kehinaan, yang merupakan penyelisihan terhadap perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, adalah meninggalkan amal yang dilakukan oleh beliau yaitu BERJIHAD MELAWAN MUSUH-MUSUH ALLAH. Barangsiapa yang menempuh jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam berjihad, maka DIA AKAN MULIA. Barangsiapa yang meninggalkan jihad, dalam kondisi dia mampu, maka dia akan hina. Telah lewat hadits :

«إذا تبايعتم بالعينة، واتبعتم أذناب البقر، وتركتم الجهاد في سبيل الله- سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه من رقابكم حتى تراجعوا دينكم  »

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘Inah (salah satu bentuk sistem riba, pen), dan kalian mengikuti ekor-ekor sapi, dan KALIAN MENINGGALKAN JIHAD FI SABILILLAH, maka Allah akan timpakan pada kalian kehinaan, yang tidak akan Allah cabut dari kalian sampai kalian mau kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud 3462, Ahmad 2/84)

Barangsiapa meninggalkan jihad yang dulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berada di atasnya, padahal dia mampu, dan dia tersibukkan dari jihad karena mencari dunia dengan cara-cara yang mubah, maka dia akan mendapatkan kehinaan. Maka bagaimana kalau tersibukkan dari jihad karena mengumpulkan dunia dengan cara-cara yang haram??!” – selesai penjelasan Ibnu Rajab –

🔍📨 Para Salafush Shalih dari kalangan para shahabat dan generasi setelahnya, MEMAHAMI HAKEKAT INI. Yaitu : bahwa ‘IZZAH itu ada pada :
▫ sikap BERPEGANG TEGUH PADA ISLAM, dan
▫ BERITTIBA’ (Mengikuti) NABI Shallallahu 'alaihi wa Sallam, serta
▪BERSUNGGUH-SUNGGUH (SERIUS) DALAM MENJALANKAN KETAATAN KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA, dan WASPADA dari sikap menentang Allah dan Rasul-Nya.


Ⓜ Karena itu, muncul dari mereka pernyataan-pernyataan : di antaranya ucapan yang pasti periwayatannya dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu :

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام، فمهما ابتغينا العزة من دونه أذلنا الله

👍 “Kami adalah suatu kaum, yang Allah muliakan kami dengan ISLAM. Maka apabila kami mencari kemuliaan dari selain Islam maka ALLAH AKAN HINAKAN KAMI.”

🚇 Telah pasti pula periwayatan dari shahabat Abu ad-Darda’ Radhiyallahu 'anhu , ketika kaum muslimin berhasil membuka negeri Qubrus, maka penduduknya menangis dan benar-benar menampakkan kesedihan dan kehinaan. Maka terduduklah Abu ad-Darda’ Radhiyallahu 'anhu sambil menangis. Jubair bin Nufair berkata kepadanya, “Wahai Abu ad- Darda’, apa yang menyebabkan Engkau menangis pada hari yang padanya Allah muliakan Islam dan umat Islam?”

🚇 Maka Abu ad-Darda’ Radhiyallahu 'anhu menjawab, “Ah, wahai Jubair. Betapa hinanya makhluk di hadapan Allah 'Azza wa Jalla apabila dia menyia-nyiakan perintah-Nya. Padahal mereka adalah kaum yang berkuasa dan jaya, serta memiliki kerajaan. Namun mereka meninggalkan perintah Allah, sehingga mereka menjadi seperti apa yang kamu lihat sekarang.”

🗻 Kesimpulannya : Atas setiap muslim ada tanggung jawab untuk merealisasikan IZZAH KAUM MUKMININ sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.

🌄 Maka hendaknya dia sendiri menegakkan perintah-perintah Allah Ta’ala,
🌄 Mengamalkan Islam dan Iman secara lahir batin,
🌄 Memberikan nasehat kepada saudara-saudaranya kaum muslimin, dan
🌄 Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

🅾 Hingga terwujud perbaikan kondisi kaum muslimin atau berjumpa dengan Allah dengan kondisi demikian dan telah berupaya bertaqwa kepada-Nya semaksimal kemampuan dirinya. Allahul Musta’an.

🏫 Al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’

Fatwa no. 21009

•••••••••••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


[13:09 26/07/2015] ‪+62 811-4898-444‬: 📦📮📖
BOLEHKAH MENGHADIAHKAN AL FATIHAH UNTUK MAYIT

==========
• Fatwa Syaikh
Ibnu Baaz rahimahullah
==========

Pertanyaan

❓Apa hukum membaca al Fatihah untuk mayit?

Jawaban

✔ Adapun menghadiahkan al Fatihah atau selainnya dari ayat al Quran untuk orang-orang yang sudah meniggal, hal terebut TIDAK ADA DALILNYA.

👋 Maka wajib meninggalkannya, karena tidak datang dari Nabi shallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu 'anhum dalil perbuatan tersebut.

👉 Namun yang disyariatkan adalah berdo'a untuk orang-orang yang telah meninggal dari kalangan kaum muslimin, bersedekah atas namanya demikian pula berbuat baik kepada orang-orang faqir dan miskin. Dengan perbuatan tersebut seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah sebhanah serta memohon agar pahalanya diberikan kepada ayah, ibu atau selain keduanya dari orang-orang yang telah meninggal atau yang masih hidup.

▪Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi alaihis sholatu was salam,

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة: إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

"Apabila seseorang meninggal terputuslah darinya amalannya kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang berdo'a untuknya."

▫Demikian pula karena datang dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa ada seseorang berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa salllam ibuku telah meninggal namun belum sempat berwasiat, dan aku menyangka jika dia berkata (berwasiat -pent) untuk bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedakah atas namanya?" Beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya"
(Disepakati keshahihannya)

👍 Demikian pula berhaji atas nama orang yang telah meninggal atau umroh atas namanya, melunasi hutangnya. Semua hal itu bermanfaat untuknya sebagaimana yang telah datang berupa dalil-dalil syar'i.

***
✍ Abdurrahman Harun al Bakasy

🔅〰🔅〰🔅〰🔅

▪ حكم قراءة الفاتحة للميت
=================
من فتاوى الشيخ الإمام ابن باز رحمه الله


📌 السؤال : ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ للميت


🌿 الجواب : ﺃﻣﺎ ﺇﻫﺪاء اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﺇﻟﻰ اﻷﻣﻮاﺕ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ

↙ ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ ﺗﺮﻛﻪ؛ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻻ ﻋﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ

✅ ﻟﻜﻦ ﻳﺸﺮﻉ اﻟﺪﻋﺎء ﻟﻷﻣﻮاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭاﻟﺼﺪﻗﺔ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻹﺣﺴﺎﻥ ﺇﻟﻰ اﻟﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ، ﻳﺘﻘﺮﺏ اﻟﻌﺒﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﻳﺴﺄﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﺛﻮاﺏ ﺫﻟﻚ ﻷﺑﻴﻪ ﺃﻭ ﺃﻣﻪ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﺕ ﺃﻭ اﻷﺣﻴﺎء؛

🔵 ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ: «ﺇﺫا ﻣﺎﺕ اﻹﻧﺴﺎﻥ اﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺛﺔ: ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ »

⚪ ﻭﻷﻧﻪ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ: «ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻣﻲ ﻣﺎﺗﺖ ﻭﻟﻢ ﺗﻮﺹ ﻭﺃﻇﻨﻬﺎ ﻟﻮ ﺗﻜﻠﻤﺖ ﻟﺘﺼﺪﻗﺖ ﺃﻓﻠﻬﺎ ﺃﺟﺮ ﺇﻥ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ »
ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺘﻪ.

↖ ﻭﻫﻜﺬا اﻟﺤﺞ ﻋﻦ اﻟﻤﻴﺖ ﻭاﻟﻌﻤﺮﺓ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﻀﺎء ﺩﻳﻨﻪ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﺣﺴﺒﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ اﻷﺩﻟﺔ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ،

Sumber :
📚 مجموع فتاوى ابن باز رحمه الله ( 9 / 324 )




——————————

MAJMU'AH AHLIS SUNNAH (MAS)

⭐⭐〰🎯〰⭐⭐
[13:51 26/07/2015] ‪+62 856-4081-3834‬: 🍹🍲🍜
°•°•°•°•°•°•°
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"ADAB MENYAJIKAN HIDANGAN
DALAM SEBUAH MAJLIS"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📜📄✒ Fadhilatus Syaikh Al Utsaimin rahimahullah

☕ Beliau berkata, "Sebagian orang jika datang ke sebuah majlis dengan membawa kopi/ teh, dia pun menuangkan minuman tersebut kepada orang yang berada di samping kanannya. Meskipun dia adalah orang yang paling muda di antara hadirin. Dia melakukannya karena ingin mendahulukan sebelah kanan dalam sega hal. Yang demikian ini tidaklah disyariatkan. Jika anda masuk majlis, maka mulailah dari yang paling tua. Kemudian berikanlah kepada orang yang berada di sebelah kanan anda. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat dua orang dalam mimpinya. Saat itu beliau membawa siwak di tangannya dan hendak memberikan kepada salah seorang di antara keduanya. Tiba-tiba ada yang berkata ' Mulailah dari yang paling tua'.
🍲 Adapun jika di samping anda ada seseorang dan di samping kiri ada orang lain. Lantas anda hendak memberikan sesuatu kepada mereka berdua, maka mulailah dengan sebelah kanan. Karena dia berada di samping kanan dan yang lain di kiri. Adapun jika mereka berada di hadapan anda, maka mulailah dari yang paling tua. Sehingga jika anda datang ke sebuah forum dengan membawa kopi dan teh, maka mulailah dari yang paling tua & setelahnya hadirin yang berada di sebelah kanan anda.

📑📜 Referensi : Silsilah Liqoat Al Bab Al Maftuh (18).

📝 Abu Hafiy Abdullah Al bului

📋 KITASATU
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
[15:39 26/07/2015] ‪+62 811-4898-444‬: 👈كن ربّانيّا ولاتكن رمضانيّا
💢 Jadilah Muslim Rabbani, Bukan Muslim Ramadhani!
( yang diinginkan dari "ramadhany" : orang yang hanya giat ibadah di bulan Ramadhan)

--------

🔘قال الله تعالى: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر : 99]
🔗 " Ibadahilah Rabb-mu sampai datangnya keyakinan."
(Al Hijr 99)
📝من تفسير العلاّمة عبدالرحمن بنا ناصر السعدي رحمه الله :
قال الله تعالى:{ واعبد ربك حتى يأتيك اليقين } أي: الموت أي: استمر في جميع الأوقات على التقرب إلى الله بأنواع العبادات، فامتثل صلى الله عليه وسلم أمر ربه، فلم يزل دائبا في العبادة، حتى أتاه اليقين من ربه صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا.

🍂 Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy rahimahullah menafsirkan :
" Allah berfirman :
🔘قال الله تعالى: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر : 99]
" Ibadahilah Rabb-mu sampai datangnya keyakinan"
👉 Keyakinan maksudnya kematian.
👉 Jadi maksud ayat ini , teruslah mendekatkan diri pada Allah dengan segenap ketaatan di seluruh waktu.Rasul sholallahu alaihi wa sallam dulu menjalankan perintah Rabbnya, terus - menerus beliau giat beribadah sampai maut mendatangi beliau.Shalawat dan salam dari Allah terus berlimpah kepadanya.

-------

📝قال الشيخ ابن باز رحمه الله :

سُئل بعض السلف عن قوم يتعبدون، ويجتهدون في رمضان، فإذا خرج رمضان تركوا فقال: بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان. وهذا صحيح إذا كانوا يضيّعون الفرائض،
📝 أما إذا كان، لا، إنما يتركون بعض الاجتهاد، فالقول هذا مو صحيح، لكن مراده الذين يتركون الفرائض، يعني يصلي في رمضان، ويترك الصلاة فيما سوا رمضان، مثلاً فهذا بئس القوم؛ لأنهم كفروا بهذا، ترك الصلاة كفر، نسأل الله العافية،
📝أما لو ترك بعض المستحبات في غير رمضان هذا لا يضر؛ لأن الناس في رمضان يجتهدون بأنواع العبادة المستحبة، والصدقات ونحو ذلك، فإذا تساهل في ذلك بعد خروج رمضان في المستحبات ما يقال فيه بئس القوم.

📝( برنامج نور على الدرب)

📝(المصدر موقع الشيخ ابن باز رحمه الله)
http://www.binbaz.org.sa/mat/19317

✅ Berkata Asy-Syeikh Ibnu Baz رحمه الله :

⚪ Sebagian salaf ditanya tentang suatu kaum yang mereka beribadah dan bersungguh - sungguh ketika bulan Ramadhan. Maka jika telah usai Ramadhan mereka meninggalkan apa yang mereka kerjakan di bulan Ramadhan. Maka beliau menjawab: "Mereka adalah sejelek-jelek kaum, mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan saja."

💭 Hal ini berlaku jika mereka menyia-nyiakan perkara -perkara yang fardhu (wajib). Adapun jika tidak, mereka hanyalah meninggalkan sebagian kesungguhan beribadah (sunnahnya)
⚪ Maka ungkapan seburuk-buruk kaum ini kurang tepat, akan tetapi yg dimaksud ialah orang-orang yang meninggalkan perkara yg fardhu, yakni ia sholat di bulan Ramadhan dan meninggalkan sholat di selain bulan Ramadhan ,maka yang spt ini adalah sejelek jelek kaum. Dikarenakan mereka telah kafir dg sebab ini, meninggalkan sholat adalah kekufuran.
Kita memohon keselamatan kepada Allah.

🌿Adapun jika dia meninggalkan sebagian perkara mustahab atau sunnah pada selain Ramadhan, maka hal ini tidaklah berbahaya. Dikarenakan umat manusia ketika di bulan Ramadhan mereka bersungguh - sungguh dengan bermacam ibadah yang mustahab, shodaqoh, dan sebagainya. Dan jika ia bermudah - mudahan pada yg demikian itu setelah keluar Ramadhan pada perkara - perkara yg mustahab, maka tidaklah tepat dikatakan padanya sejelek - jelek kaum.

💿 Kaset Nuurun alad Darbi

💻 Sumber dari Website Asy Syaikh bin Baaz rahimahullah di link http://www.binbaz.org.sa/node/19317

--------
🔗 Alih Bahasa : Abu Kayyis Zain Al Ma'rufy hafidzahullah
🌐 Forum Salafy Surabaya


🌹 بسم الله 🌹




🔹 ليس الضروري أن يكون لديك أصدقاء كثيرون لتكون ذو شخصية معروفة....

👉 Tak harus mempunyai banyak teman untuk membuatmu memiliki pribadi yang dikenal

🔹 فالأسد يمشي وحيدا

🐾 Singa itu berjalan sendirian

🔹 و الخروف يمشي على الجميع....

🐾🐾 Sedangkan Domba itu berjalan dengan bergerombol

🔹 الخنصر - البنصر - الوسطى- السبابة - بجانب بعضها

✋ Kelingking - Jari Manis - Jari Tengah - Jari Telunjuk - Saling Berdampingan satu sama yang lainnya.

🔹 إلا - الإبهام - بعيد عنها

👍 Kecuali - Ibu Jari - yang jauh dari mereka ...

🔹 و تعجبت عندما عرفت أن الأصابع لا تستطيع صنع شيء دون إبهامها البعيد

👋 Dan aku merasa Takjub saat telah mengetahui bahwa semua jari takan bisa berbuat apa-apa tanpa adanya Ibu Jari yang jauh dari yang lain.

🔹 جرّب أن تكتب أو أن تغلق أزرار ثيابك...!

✒ 👔 Cobalah engkau menulis atau menutup kancing bajumu ( tanpa adanya Ibu Jari ) ...!

🔹 فتأكد أنه " ليست العبرة بكثرة الأصحاب حولك... إنما العبرة حبا و منفعة لك حتى و إن كان بعيدا عنك

✊ Maka yakinlah bahwa suatu pelajaran itu diambil Bukanlah dengan Banyaknya Teman,
☝ Namun Sesungguhnya Pelajaran Tersebut adalah dengan Banyaknya Kecintaan Mereka serta Manfaat yang Mereka Berikan Untukmu Walaupun Mereka Jauh Darimu.

Sumber : Wa Qohwa Baabul Yaaman

======================

📀 WhatsApp Salafy Cirebon


○●○●○●○
💽📀 Audio Rekaman
|| Kajian Ilmiyyah Syawwal 1436 H

💺 Bersama: Al-Ustadz Fauzan bin 'Abdul Karim حفظه الله تعالى

🔰 Selasa, 5 Syawwal 1436 H - 21 Juli 2015 | Masjid Nurul Huda, Baturetno, Wonogiri

📁 TANDA-TANDA HARI KIAMAT.

📈 Sesi 1 | http://bit.ly/1RXwF6U (14,36 MB - 01:23:38)
📈 Sesi 2 | http://bit.ly/1IqX3Bs (4,68 MB - 27:15)

💽••||Audio mp3 versi 24 Kbps||••

✅Mudah-mudahan bermanfaat.
Baarokallahufiikum.

••••••••••••••••••••••
⭐🌈 WA Riyadhul Jannah As-Salafy

◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉
📌 أصحاب السنة
⭐ 🌿 ⭐ 🌿 ⭐

✪ASHHABUS SUNNAH✪


----------------------

🌷🌙🌍 SIAPAKAH WAHABI??
Bagian 1⃣

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullah­­.
👉🔥 Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya.

❓Dari manakah julukan itu?
❓ Siapa pelopornya?
❓ Dan apa rahasia di balik itu semua …?

Para pembaca,
☀🌠 Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia.
🌼 Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah.
📁 Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

❎ Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

🔗 bersambung, insya Allah

sumber
💻 http://manhajul-anbiya.net

•••••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya

🌐Turut mempublikasikan

📚WA الناجية forum السلفيين

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


🔥 Dua Jenis Manusia yang Menjadi BALA (Bencana) Dalam Dakwah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Fadhilatu asy-Syaikh al-Allamah 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiri –hafidzahullah wa ra'ah– berkata :

📜 “Di antara wasiat-wasiat Muhammad shallallahu alihi wa sallam yang dinukilkan secara benar/shahih dari beliau, bahwa beliau shallallahu alihi wa sallam bersabda :

"Seseorang di atas agama teman dekatnya, maka lihatlah siapa yang menjadi teman dekatnya˝.

✅ Semakna (dengan wasiat Nabi ini,-pen) - dan saya mengira ini memetik dari wasiat Nabi- ialah ucapan Ibnu Sirin –rahimahullah–, "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil/mempelajari agama kalian˝.

📢🔥 Hadits dan atsar tersebut sebagai peringatan atas wajibnya berwaspada dari dua jenis manusia yang menjadi BALA' dalam dakwah!

1⃣ Jenis yang pertama; ORANG-ORANG JAHIL (tidak berilmu) yang bermunculan di medan (dakwah), (dalam keadaan,-pen) mereka tidak memiliki ilmu tentang syariat Allah yang dengannya dia bisa memerintahkan (yang ma'ruf,-pen) dan melarang (dari yang munkar,-pen). Namun yang menjadi landasan mereka ialah kisah-kisah, hikayat, hadits-hadits palsu/dha'if, atau pendapat yang dibanggakan (dengan sombong) padahal bertentangan dengan dalil.

2⃣ Jenis yang kedua; PARA DA'I SESAT, AHLUL BID'AH, AHLUL AHWA', yang mengikrarkan kebid'ahan mereka, menetapkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip buatan diri mereka sendiri, dan mereka tidak memiliki bukti/dasar (atas kaidah-kaidah dan prinsip buatan mereka itu), baik dari al-Kitab (al-Qur'an) maupun as-Sunnah.

✌📛 Kedua kelompok tersebut sesat menyesatkan dan merusak.

➡ Yang pertama; Kesesatannya karena kebodohan.

➡ Yang kedua; Allah sesatkan di atas ilmu.

Alangkah bagusnya apa yang diucapkan oleh Sufyan ats-Tsauri atau yang lain –rahimahumullah–,
“Siapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah, maka padanya kemiripan dengan kaum Nashara. Siapa yang rusak dari kalangan orang yang punya ilmu, maka padanya kemiripan dengan kaum Yahudi.”

📮 Faidah ini dikutip dari syarh beliau –hafizhahullah– terhadap risalah "Nawaqidhul Islam", pelajaran keempat.

💻 Sumber: http://ar.miraath.net/fawaid/7161

•••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



🔑🌅 Terbaru : NASEHAT ASY-SYAIKH RABI' UNTUK SALAFIYYIN


📇📟 Transkrip Nasehat asy-Syaikh Rabi' hafizhahullah untuk anak-anak didiknya
📆 (tertanggal 7 Syawal 1436 H)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من اتبع هداه، أما بعد

Aku menasihatkan kepada diri saya pribadi dan segenap kaum muslimin, dan bagi Salafiyyin secara khusus :
🔖 untuk bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala,
🔖 berpegang teguh dengan TALI AGAMA Allah Azza wa Jalla,
🔖 saling memperkuat persaudaraan di antara Salafiyyin secara khusus,
🔖 saling bersatu dan berta'awun (bekerja sama) di atas kebaikan dan ketakwaan, dan
🔖👉 menjauhi sebab-sebab perselisihan -Barakallahu fikum- karena ini semua dapat merusak dan memperburuk Dakwah mereka, serta membuat musuh-musuh mereka senang.

📟 Aku wasiatkan kepada Salafiyyin untuk bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala dan bersemangat kuat untuk saling mencintai, saling memperkuat persaudaraan, saling berkasih sayang, saling berbelas kasih di antara mereka, dan menjauhi sebab-sebab timbulnya perselisihan. Barangsiapa di kalangan Salafiyyin melakukan kesalahan maka janganlah disebar-sebarkan.
🌺☀ Namun hendaknya orang-orang yang berakal sehat dan berpengetahuan baik menasehatinya dengan hikmah dan peringatan yang baik.

🔍🚧 Aku menasihatkan secara khusus bagi saudara-saudaraku di Britania (Inggris) untuk menjalin persaudaraan dengan saudara-saudaranya Salafiyyin di Kuwait, Saudi Arabia, Mesir, Sudan, dan segenap negeri Muslim lainnya.
⛵✈ Ketika datang utusan (para tamu) dari negeri Kuwait dan selainnya, hendaknya mereka menyambutnya dengan penuh penghormatan dan pemuliaan. Jangan kalian takut terhadap siapapun karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah, barakallahu fikum.

💥 Syaitan menakut-nakuti dan membuat kalian khawatir terhadap fulan dan fulan. JANGANLAH TAKUT KECUALI HANYA KEPADA ALLAH TABARAKA WA TA'ALA. Hendaknya kalian saling menghormati satu sama lain. Hormatilah saudara-saudara kalian yang berasal dari Kuwait, yang mereka itu bersungguh-sungguh membantu kalian membangun dakwah, menyebarkannya, dan memperkuat dakwah. Janganlah kalian mengingkari perkara ma'ruf (kebaikan, pen) ini.

🌼🔗 Semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian, meluruskan langkah kalian, melimpahkan berkah kepada kalian, menyatukan hati-hati kalian, serta menjauhkan semua keburukan dari kami dan kalian.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم.

Nasehat ini aku sampaikan pada malam ketujuh Syawal 1436 H.


✅📌 Aku tegaskan lagi kepada saudara-saudaraku sekalian yang pada hari-hari ini saling mencela dan melempar kata-kata yang buruk sesama mereka, hendaknya mereka BERTAKWA KEPADA ALLAH dan MERASA MALU DARI PERBUATAN JELEK INI.
👎yakni menunjukkan TIDAK ADA KESABARAN, KELEMAHLEMBUTAN, dan tidak ada.... tidak ada.... .

☀🌅 Sementara DAKWAH SALAFIYAH DITEGAKKAN DI ATAS PRINSIP-PRINSIP INI : KESABARAN, KELEMAHLEMBUTAN, SIKAP SALING MENTOLERIR, DLL.

Jika ada salah seorang melakukan kesalahan, jangan kamu bantah, diamlah.
🌅👍 Akan tetapi, nasehatilah dia secara tersembunyi antara kamu dan dia.
🚫 Tinggalkan saling mencaci, dan malulah kalian kepada Allah Azza wa Jalla, dan hendaknya kalian saling menghormati satu sama lainnya. Jangan kalian rusak Dakwah Salafiyah dengan caci makian yang buruk ini. Bertakwalah kepada Allah pada diri kalian dan Dakwah ini.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم.

Sumber
💻 http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=153720

💻 http://ar.alnahj.net/audio/2047/7-1436

..........................................
unduh audio di sini
📥📀 http://ar.alnahj.net/audio/download/2382/rabee-shawal.mp3
📲 6.01 MB

••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📱📡 Turut Mempublikasikan :

📚 WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________


Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?


(738 Views) June 20, 2015 5:01 pm | Published by admin | Comments Off on Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?

💺Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan



Berbagai kerusakan dan kehancuran terjadi dalam urusan dunia, lebih-lebih lagi urusan agama. Penyebab utamanya adalah jauhnya umat ini dari ilmu kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jauhnya mereka dari para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits yang lainnya tentang akibat dicabutnya ilmu.

يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ

“Ilmu akan dicabut, (akibatnya) akan merebak kebodohan, berbagai fitnah,dan akan timbul banyak pembunuhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Amalan-amalan jelek ibarat penyakit, sedangkan para ulama ibarat obatnya. Apabila para ulama rusak, siapa yang akan mengobati penyakit?” (al-Hilyah, 6/361)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau tidak ada para ulama, niscaya umat manusia akan menjadi seperti binatang-binatang ternak (tidak tahu halal dan haram).” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm.167)



Siapakah Para Ulama?

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang keutamaan mereka dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Mereka itulah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sifat-sifat para ulama yang pantas dijadikan sebagai ikutan dan suri teladan ialah orang-orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

Orang-orang yang pantas dijadikan suri teladan adalah orang-orang yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh (pada dirinya). Orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, tidak boleh diikuti. Demikian pula orang jahil yang tidak berilmu, tidak boleh diikuti.

Tidak boleh diikuti dan diteladani kecuali orang yang mengumpulkan dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh. Adapun orang yang berilmu dan tidak sengaja berbuat salah atau menyimpang dalam perjalanan atau pemikirannya, maka pantas diambil ilmunya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 251)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Orang alim adalah orang yang ada pada dirinya sifat-sifat berikut ini,

Mengikuti segala sesuatu yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah,
Mengaitkan pemahamannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf ash-shalih,
Komitmen dengan ketaatan dan jauh dari kefasikan, maksiat, dan dosadosa,
Menjauhkan dirinya dari bid’ah, kesesatan, kebodohan, dan mentahdzir (umat) darinya,
Mengembalikan (dalil-dalil) yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas pengertiannya) dan tidak mengikuti (dalil-dalil) yang mutasyabih itu,
Khusyuk dan tunduk terhadap perintah Allah,
Ahli istinbath (mengambil kesimpulan hukum dari dalil) dan memahaminya. (Syarh Qaul Ibni Sirin, 116—117)


Perintah Menimba Ilmu dari Mereka, Bukan dari Pihak Lain

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya,

“Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata, ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari salah mengambil rujukan ilmu. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat, orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini mengandung penjelasan bahwa seorang muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang muslim tidak akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Di dalamnya ada penjelasan bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)



Cara Mengenali Ahli Ilmu

Ada tiga cara untuk mengenali ahlul ilmu yang berhak diambil ilmunya.

Orang-orang yang berilmu dan terkenal akan keilmuannya.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’bah rahimahullah, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang masyhur/terkenal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Jarh wa Ta’dil, 2/28)
Sebagai permisalan di masa kita adalah seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dll.

Bertanya pada ahlul ilmi pada zaman tersebut.
Orang-orang yang masyhur bahwa dia menuntut ilmu di majelis-majelis para ulama.
Syu’bah berkata, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang terkenal (keilmuannya).” (Diriwayatkan oleh al-Khatib di dalam al-Kifayah, hlm. 161)

Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Tidak boleh diambil ilmu ini kecuali dari orang-orang yang dipersaksikan dengan menuntut ilmu.”



Orang-Orang yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Memerhatikan keadaan orang-orang yang berbicara di majelis untuk memberi faedah kepada orang lain akan membuahkan pembeda yang akan memilah antara orang-orang yang berhak diambil ilmunya dan yang tidak berhak.”

Ibnu Sirin berkata rahimahullah, “(Salaf) dahulu tidak bertanya tentang sanad. Tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami para perawi kalian.’ Setelah itu diteliti, perawi-perawi dari Ahlus Sunnah diambil haditsnya. Adapun perawi-perawi dari kalangan ahli bid’ah tidak diambil haditsnya.”

Sungguh, sebagian orang asing telah mengaku-aku berilmu. Sebagian ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu juga telah berbicara di majelis-majelis untuk memberi faedah kepada umat (dengan bid’ahnya). Orang yang sebenarnya lebih membutuhkan ilmu dan dakwah daripada orang-orang yang bodoh, sudah berani naik mimbar. Sungguh, salaf ash-shalih telah memperingatkan umat dari mereka.

Ahlul ilmi dan iman yang mengikuti salaf ash-shalih dengan baik senantiasa mentahdzir umat dari orang yang semacam ini dan melarang mengambil ilmu darinya disebabkan bahaya mereka terhadap masyarakat dan kesesatan serta penyimpangan yang muncul darinya.

Selanjutnya, asy-Syaikh Ahmad Bazmul menjelaskan bahwa kita bisa menyimpulkan tentang sebab-sebab pokok orang yang tidak berhak diambil ilmunya.

Jahil (orang bodoh)
Menyelisihi kebenaran karena syahwat dan syubhat
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menggolongkan ulama menjadi tiga.

Orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia), tetapi tidak berilmu tentang perintah (syariat) Allah ‘azza wa jalla.
Orang yang berilmu tentang perintah Allah ‘azza wa jalla dan berilmu tentang syariat-Nya. Orang ini adalah yang takut terhadap Allah ‘azza wa jalla dan itulah orang alim yang sempurna
Orang berilmu tentang syariat Allah ‘azza wa jalla, namun tidak berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah orang yang tidak takut terhadap Allah ‘azza wa jalla, dan dialah alim yang jahat. (Syarh Qaul Ibni Sirin, hlm. 121—122)
Syaikhul Islam berkata, “Setiap muslim wajib memerhatikan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas mengamalkannya. Dia juga wajib memerhatikan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas meninggalkannya. Inilah jalan Allah ‘azza wa jalla dan agama-Nya, yaitu ash-shirath al-mustaqim. Jalan orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Ash-shirath al-mustaqim adalah jalan yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu yang syar’i dan amal yang syar’i. Barang siapa telah berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, berarti dia adalah orang yang jahat. Barang siapa beramal tanpa ilmu, berarti dia sesat.” (Majmu’ Fatawa, 11/26)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita sehingga terkumpul pada diri kita semua dua hal yang mulia, yaitu ilmu dan amal.

Amin.


Apa Itu Manhaj Salaf

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)

Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut: 1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)

Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).

Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]

Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: – Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. – Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. – Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:

1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.

2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.

3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.

4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:

1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).

2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).

3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).

4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)

5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc, judul asli Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji, Majalah Asy Syariah. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82)


❌🔨🔊BAHAYANYA BID'AH
(PERKARA BARU YANG DIADA-ADAKAN DALAM AGAMA)

🔸Berkata asy Syaikh Rabi' bin Hadiy al Madkhaliy hafidzahullah:

🌷"Ar Rasul shalallahu 'alaihi wassalam dahulu berkhutbah, sementara di hadapan beliau tidak ada seorang ahlul bid'ahpun.

📢🔰Dalam setiap khutbah atau seringnya, beliau mengucapkan:

أما بعد ، فإن خير الكلام كلام الله تعالى، و خير الهدى هدي محمد صلى الله عليه و سلم ، و إن شر الأمور محدثاتها.

Amma ba'du:
🔸Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah ta'ala, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam.
❌Sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama."

🔊Beliau sering mengulang-ulangnya, sementara tidak ada di hadapan beliau ahlul bid'ah."

KENAPA❓❓

↪Dikarenakan BAHAYANYA KEBID'AHAN.

📕Kitab "Marhaban Yaa Thalibal Ilmi (hal. 35)

■◎■◎■◎■
🔰🌠Forum Salafy Purbalingga


💥💣💡❓ MEMBERONTAK KEPADA PEMERINTAH BERSUMBER DARI KEYAKINAN YANG RUSAK

✒📂 Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

📫 Pertanyaan: Bagaimana dengan orang yang memprovokasi untuk memberontak kepada pemerintah dan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan menyempal dari jamaah kaum Muslimin (memberontak kepada pemerintah) bukanlah dengan cara melakukan demonstrasi dan mengemukakan pendapat. Tetapi yang dimaksud dengan pemberontakan yang diperingatkan oleh syari’at agar dijauhi adalah pemberontakan bersenjata?

🔓 Jawaban: Pemberontakan ada beberapa macam, diantaranya adalah pemberontakan dengan ucapan. Ini juga merupakan salah satu jenis pemberontakan jika dengan ucapan tersebut memprovokasi dan menganjurkan untuk memberontak kepada pemerintah. Ini merupakan bentuk pemberontakan walaupun tidak membawa senjata. Bahkan terkadang ini lebih berbahaya dibandingkan membawa senjata. Orang yang menyebarkan pemikiran Khawarij dan menganjurkannya maka dia lebih berbahaya dibandingkan membawa senjata. Pemberontakan bisa juga dilakukan dengan hati, yaitu jika seseorang tidak meyakini kekuasaan pemerintah dan tidak meyakini kewajiban yang ditetapkan oleh syari’at terhadapnya (taat dalam perkara yang ma’ruf dan tidak memberontak –pent) dan membenci pemerintah. Semacam ini merupakan pemberontakan dengan hati. Jadi pemberontakan itu bisa dengan hati, niat (untuk memberontak –pent), dengan ucapan, dan juga dengan senjata.

📚 Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14279

💻 Arsip WSI || http://forumsalafy.net/?p=1947

➖➖➖➖📢🔉➖➖➖➖


💰 HUKUM UPAH DARI PENGHASILAN YANG HARAM 🍚🍖

Fatwa no 4206

❓Pertanyaan:
"Aku seorang penjaga gedung milik seorang bankir. Dan aku mendapat upah sebagai pengganti pekerjaanku. Sedangkan aku kuatir atas diriku dari (perkara) syubhat berupa uang yang dia berikan padaku. Maka apakah aku berdosa bila mengambilnya?"

📝 Jawab:
"Apabila si bankir (dalam pekerjaannya) berhubungan dengan riba, maka sepantasnya engkau menjauh darinya. Hendaknya engkau mencari pekerjaan yang gajinya tidak ada riba padanya. Sungguh telah tetap dari Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

دع ما يريبك إلى مالا يريبك

"Tinggalkan apa yang meragukanmu pada sesuatu yang tidak meragukanmu" ( H.R. At-Tirmidzi dalam sunannya 2518, an-Nasa'i dalam sunannya 5711, Ahmad dalam musnadnya 1/200, dan ad-Darimi dalam sunannya 2532 ).
Wabillaahit taufiq wa shallallaahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa aalihii wa shahbihi wa sallam.

Lembaga Tetap untuk Riset 'Ilmiyyah dan Fatwa

Ketua: Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: 'Abdur Razzaq 'Afifi
Anggota: 'Abdullah bin Ghudayyan
----------------------------------------
Teks Arab 🇸🇦

الفتوى رقم ‏(‏4206‏)‏

س‏:‏ أنا حارس في عمارة لرجل صيرفي، وأتقاضى راتبا مقابل عملي، وأخشى على نفسي من شبهة ما يعطيني من النقود، فهل علي في أخذها شيء‏؟‏

ج‏:‏ إذا كان هذا الصيرفي يتعامل بالربا فينبغي أن تبتعد عنه، وتبحث عن عمل يكون الكسب الذي يدفع لك لا ربا فيه، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال دع ما يريبك إلى ما لا يريبك ( سنن الترمذي صفة القيامة والرقائق والورع ‏(‏2518‏)‏، سنن النسائي الأشربة ‏(‏5711‏)‏، مسند أحمد بن حنبل ‏(‏1/200‏)‏، سنن الدارمي البيوع ‏(‏2532‏))


‏.‏ وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم‏.‏

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

الرئيس‏:‏ عبد العزيز بن عبد الله بن باز

نائب الرئيس‏:‏ عبد الرزاق عفيفي

عضو‏:‏ عبد الله بن غديان

✅ Koreksi dan Muraja'ah: al-Ustadz Abu 'Utsman Kharisman hafizhahullah

📝 Alih bahasa: Thuwailibul Ilmisy Syar'i


Turut menyebarkan:
📚WA MAS
Majmuah ahlus sunnah


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


BERGEMBIRA DENGAN KARUNIA ALLAH DAN RAHMATNYA
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

🔖 Allahu سبحانه وتعالى berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". ( yunus : 58 ) .


🌴 Berkata Ibnul-Qoyyim Al-jauziyyah رحمه الله تعالى :

Dan sungguh bermacam-macam ungkapan salaf dalam menafsirkan الفضل=karunia dan الرحمة=rahmat , dan yang benar keduanya adalah hidayah dan nikmat .
Maka karunia-Nya adalah hidayah-Nya
dan rahmat-Nya adalah nikmat-Nya .

📕 Al-Fawaaid hal : 142 .


✒ Abu Kholid Rosyid Almausy
Sorong , 6-Syawal-1436 H .

📖 DA.PAPUA 📖


🔰🌷✔
■◎■◎■◎■
🌷✔AMBILLAH PELAJARAN, WAHAI ORANG YANG BERAKAL!!

📆Dihikayatkan bahwa ada seorang bernama "Bahlul" seorang lelaki gila pada masa khilafah abbasiyyah Harun ar Rasyid...

🌈Pada suatu hari, Khalifah Harun ar Rasyid melewatinya, dalam keadaan Bahlul sedang duduk di salah satu kuburan.

🔸Maka khalifah Harun berkata kepadanya:
"Wahai Bahlul...Wahai Majnun...kapan kamu akan berakal?!

🌴🔹Maka Bahlul pun lari kemudian memanjat pohon yang paling tinggi, kemudian iapun menyeru kepada Harun dengan suara yang paling tinggi:
"Wahai Harun...wahai Majnun...kapan engkau akan berakal?.

🔸🌾Maka Harun pun menghampirinya di bawah pohon, dalam keadaan beliau menunggang di atas kudanya dan berkata kepada Bahlul:
"Aku yang gila ataukah engkau yang duduk di atas kuburan?

🔹Maka Bahlul berkata kepadanya:
"Bahkan aku orang yang berakal !!
🔸Berkata Harun:
"Bagaimana bisa demikian?!

🔹Berkata Bahlul:
"Dikarenakan aku mengetahui bahwa ini semua akan lenyap (sambil mengisyaratkan ke istana Harun).
Adapun ini akan kekal (sambil mengisyaratkan ke kubur).
Akupun sudah terbiasa tinggal di sini, sebelum aku akan benar-benar akan tinggal di sini (kuburan).

Sementara engkau terbiasa hidup di istanamu.
Engkau pun meninggalkan dari mengingat kubur, engkau juga tidak suka untuk berpindah dari istana kepada kehancuran, dalam keadaan engkau mengetahui bahwa itulah tempat kembalimu. Bukan perkara yang mustahil, tapi pasti...
🔹Bahlul pun menimpali: "Maka katakan kepadaku, siapa orang yang GILA?!

🔰💦Maka Harun ar Rasyid pun bergetar hatinya, kemudian menangis sampai basah jenggotnya.
Lalu berkata: "Sungguh engkau benar..."

🔸Kemudian Harun berkata:
"Tambahkanlah kepadaku nasihat, wahai Bahlul !!"

🔹Bahlul pun berkata:
"Cukup bagimu Kitabullah, berpegang teguhlah dengannya!!"

🔸Harun berkata:
"Apakah engkau memilki kebutuhan, sehingga aku akan memenuhinya untukmu?"

🔹Bahlul berkata:
"Iya. Aku punya 3 kebutuhan...
Kalau engkau mampu untuk memenuhinya, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu.
🔸Berkata Harun:
Mintalah !!

🔹Berkata Bahlul:
"Apakah engkau mampu untuk menambah umurku?!
🔸Harun menjawab:
"Aku tidak mampu."

🔹Bahlul berkata lagi:
"Apakah engkau mampu menjagaku dari malakul maut!!
🔸Harun menjawab:
"Aku tidak mampu."

🔹Bahlul berkata:
"Apakah engkau mampu untuk memasukkanku ke dalam al Jannah dan menjauhkan aku dari an Naar?!
🔸Harun pun menjawab:
"Aku tidak mampu..."

🔹Berkatalah Bahlul:
"Maka ketahuilah, engkau hanyalah seorang raja dunia...engkau bukanlah Raja yang sesungguhnya (Allah ta'ala).
Aku tidak butuh kepadamu.

📕Uqalaul Majanin-Abul Qasim al Hasan bin Muhammad bin Habib an Naisaburiy (Wafat 406H).

■◎■◎■◎■
🔰🌠Forum Salafy Purbalingga


Berkata Asy Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhahullah :

"Pembagian Tauhid hanya ada 3,..Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat,..adapun membaginya menjadi 4 yaitu (Tauhid Hakimiyah) ini adalah pembagian orang-orang Ikhwaniyyiin (Ikhwanul Muflisin),..karena sesungguhnya Tauhid Hakimiyah itu sudah termasuk didalam Tauhid Uluhiyyah, berhukum dengan hukum Syar'i (Hukum Allah) adalah bentuk peribadahan kepada Allah 'azza wa jalla (yang ini termasuk kedalam Tauhid Al Uluhiyyah,-red)".

فواز المدخلي– ‏@DrBenaa

الشيخ صالح الفوزان :

 أقسام التوحيد ثلاثة فقط, أما القسم الرابع
( توحيد الحاكمية ) هذا عند الإخوانيين

https://www.youtube.com/watch?v=XYOwnDiWjIY …

Faedah kiriman Syaikh Fawwaz Al Madkhali via @DrBenaa: https://twitter.com/DrBenaa/status/622608126919884800?s=08

📡 SAS