๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-6)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-8 Surat Yaasin

ุฅِู†َّุง ุฌَุนَู„ْู†َุง ูِูŠ ุฃَุนْู†َุงู‚ِู‡ِู…ْ ุฃَุบْู„َุงู„ًุง ูَู‡ِูŠَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุฃَุฐْู‚َุงู†ِ ูَู‡ُู…ْ ู…ُู‚ْู…َุญُูˆู†َ

Arti Kalimat : Sesungguhnya Kami jadikan di leher mereka ada belenggu (hingga tangan mereka terkumpul) di dagu, menyebabkan mereka tengadah (menghadap ke atas)

Allah permisalkan keadaan orang-orang kafir yang menentang dakwah Rasul tersebut bagaikan seseorang yang terbelenggu tangannya terikat bersama leher, menyebabkan wajahnya tengadah ke atas. Mereka tidak mau tunduk kepada kebenaran (keimanan), tidak mau menundukkan wajahnya ke bawah (disarikan dari Tafsir al-Jalalain).

Sesungguhnya kecerdasan akal akan tertutupi oleh perilaku dan perbuatan kekafiran/ kesyirikan. Hal itu bisa membutakan mata hati dan membelenggu seseorang dalam menerima kebenaran. Sebagaimana sebenarnya Ratu Saba’ adalah wanita cerdas, namun ia tumbuh dalam lingkungan kekafiran yang menyebabkan ia terbelenggu tidak segera mengenal dan menerima al-haq sejak dulu. Walaupun akhirnya kemudian beriman.

ูˆَุตَุฏَّู‡َุง ู…َุง ูƒَุงู†َุชْ ุชَุนْุจُุฏُ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّู‡َุง ูƒَุงู†َุชْ ู…ِู†ْ ู‚َูˆْู…ٍ ูƒَุงูِุฑِูŠู†َ

Dan sesembahan-sesembahan lain selain Allah telah mencegahnya (untuk menerima al-haq), sesungguhnya ia dulunya termasuk kaum yang kafir (Q.S anNaml ayat 43)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan: …(Ratu Saba’) itu memiliki kecerdasan dan kepintaran dalam membedakan al-haq dengan al-batil, akan tetapi akidah-akidah yang batil melenyapkan penglihatan mata hati (Tafsir as-Sa’di surat anNaml ayat 43).

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa tangan orang-orang kafir itu terbelenggu, menunjukkan mereka tertahan (bakhil) untuk berinfaq di jalan kebaikan. Sebagaimana dalam firman Allah yang lain, Allah melarang seseorang untuk bakhil dan digambarkan sebagai orang yang tangannya terbelenggu.

ูˆَู„َุง ุชَุฌْุนَู„ْ ูŠَุฏَูƒَ ู…َุบْู„ُูˆู„َุฉً ุฅِู„َู‰ ุนُู†ُู‚ِูƒَ ูˆَู„َุง ุชَุจْุณُุทْู‡َุง ูƒُู„َّ ุงู„ْุจَุณْุทِ ูَุชَู‚ْุนُุฏَ ู…َู„ُูˆู…ًุง ู…َุญْุณُูˆุฑًุง

Dan janganlah engkau menjadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (bakhil), dan jangan pula membentangkan seluas-luasnya (boros- berlebihan dalam infaq), hingga akan menyebabkan engkau duduk tercela lagi lemah/letih (Q.S al-Israa’ ayat 29)

Sebagian qiro’at (bacaan) pada ayat ini adalah mengganti kata a’naaqihim menjadi aymaanihim. Ini adalah qiroah dari Ibnu Mas’ud sebagaimana dijelaskan dalam tafsir atThobary. Namun, an-Nuhhaas menyatakan bahwa itu adalah bacaan penafsiran, sehingga jangan dibaca sebagai qiroah tersendiri yang menyelisihi tulisan dalam mushaf (Tafsir al-Qurthubiy).

Ada sebuah kisah yang juga dinisbatkan sebagai Asbaabun Nuzul ayat-ayat pertama dalam surat Yaasin ini bahwa saat Nabi mengeraskan bacaan al-Quran di dalam masjid, sebagian orang kafir Quraisy merasa marah dan akan berbuat buruk kepada Nabi. Tapi tiba-tiba tangannya terkumpul pada leher dan ia tidak bisa melihat. Maka ia meminta belas kasihan kepada Nabi dan Nabi mendoakan agar ia terlepas dari kondisi itu. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Dalaailun Nubuwwah, namun riwayat itu lemah karena selain adanya perawi yang majhul (tidak ada yang mentsiqohkan kecuali Ibnu Hibban, yaitu Muhammad bin Abdillah al-Banna’) juga adanya perawi yang matruk (ditinggalkan), yaitu anNadhr al-Khozzaaz. Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom


๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-5)

๐Ÿ’ŽAyat ke-7 Surat Yaasin

ู„َู‚َุฏْ ุญَู‚َّ ุงู„ْู‚َูˆْู„ُ ุนَู„َู‰ ุฃَูƒْุซَุฑِู‡ِู…ْ ูَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُุคْู…ِู†ُูˆู†َ

Arti Kalimat: Sungguh telah berlaku ketetapan adzab bagi kebanyakan mereka, sehingga mereka tidak beriman

Allah telah menakdirkan dalam catatan Lauhul Mahfudzh bahwa kebanyakan orang-orang kafir Quraisy itu tidak akan beriman. Hal ini dijelaskan dalam banyak penjelasan Ulama’ Tafsir seperti Ibnu Jarir atThobary, al-Qurthuby, dan yang lain.

Allah Maha Mengetahui bahwa kebanyakan mereka tidak akan beriman, meski banyak dan berlimpah bukti maupun tanda-tanda yang disampaikan. Allah tidak memberi hidayah kepada mereka. Allah Maha Mengetahui siapa saja yang berhak untuk mendapatkan hidayah, dan siapa yang berhak untuk disesatkan. Siapa saja yang mendapatkan hidayah, maka dia mendapatkan hidayah karena fadhilah (kelebihan kebaikan) dari Allah.

 Siapa saja yang tidak mendapatkan hidayah, maka ia memang berhak untuk tidak mendapat hidayah, dengan keadilan Allah. Allah tidak akan pernah sedikitpun salah dalam memberikan hidayah kepada yang tidak berhak.

...ุฅِู†َّ ุฑَุจَّูƒَ ู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِู…َู†ْ ุถَู„َّ ุนَู†ْ ุณَุจِูŠู„ِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِู…َู†ِ ุงู‡ْุชَุฏَู‰

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dia Paling Mengetahui siapa yang (berhak) mendapatkan hidayah (Q.S anNajm ayat 30)

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan: Allah Azza Wa Jalla melihat ke hati para hamba. Barangsiapa yang berhak mendapatkan hidayah, Allah akan beri hidayah kepadanya. Barangsiapa yang tidak layak mendapatkannya, Allah tidak memberi hidayah kepadanya.

Allah melihat ke hati para hamba. Sebagaimana Allah memilih siapa yang terbaik hatinya untuk menjadi Rasul dan siapa yang terbaik hatinya untuk menjadi para Sahabat Rasul. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู†َุธَุฑَ ูِูŠ ู‚ُู„ُูˆุจِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ูَูˆَุฌَุฏَ ู‚َู„ْุจَ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฎَูŠْุฑَ ู‚ُู„ُูˆุจِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ูَุงุตْุทَูَุงู‡ُ ู„ِู†َูْุณِู‡ِ ูَุงุจْุชَุนَุซَู‡ُ ุจِุฑِุณَุงู„َุชِู‡ِ ุซُู…َّ ู†َุธَุฑَ ูِูŠ ู‚ُู„ُูˆุจِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ุจَุนْุฏَ ู‚َู„ْุจِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูَูˆَุฌَุฏَ ู‚ُู„ُูˆุจَ ุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ุฎَูŠْุฑَ ู‚ُู„ُูˆุจِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ูَุฌَุนَู„َู‡ُู…ْ ูˆُุฒَุฑَุงุกَ ู†َุจِูŠِّู‡ِ ูŠُู‚َุงุชِู„ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุฏِูŠู†ِู‡ِ ูَู…َุง ุฑَุฃَู‰ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ ุญَุณَู†ًุง ูَู‡ُูˆَ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุญَุณَู†ٌ ูˆَู…َุง ุฑَุฃَูˆْุง ุณَูŠِّุฆًุง ูَู‡ُูˆَ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุณَูŠِّุฆٌ

Sesungguhnya Allah melihat pada hati para hamba. Kemudian Dia mendapati hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hati terbaik di antara hambaNya. Maka Allah pilih untuk DiriNya, Allah utus beliau dengan risalahNya. Kemudian Allah melihat pada hati para hamba (yang lain) setelah hati (Nabi) Muhammad. Allah mendapati hati para Sahabatnya adalah sebaik-baik hati para hambaNya. Maka Allah jadikan mereka sebagai menteri (penolong) Nabinya, yang berperang di atas agamaNya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin (para Sahabat Nabi) sebagai kebaikan, maka itu adalah kebaikan di sisi Allah, dan apa yang mereka lihat sebagai keburukan, maka itu buruk di sisi Allah (H.R Ahmad no 3600, alBazzar no 1816 dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

Karena hidayah taufiq satu-satunya di Tangan Allah, maka wajib bagi kita untuk ikhlas, bertawakkal dan tunduk sepenuhnya hanya kepada Allah memohon hidayah dan kekokohan di atas hidayah, karena Dialah Pemilik satu-satunya.

Allah menakdirkan sesuatu, dan juga menakdirkan penyebab-penyebab ke arah sesuatu. Allah menakdirkan suatu pihak dapat petunjuk dan Allah menakdirkan penyebab-penyebab pihak tersebut bisa mendapatkan petunjuk.

Allah telah memberikan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang jalan-jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan petunjuk, dan juga menjelaskan hal-hal yang bisa menyebabkan seseorang menyimpang dari jalanNya.

Allah akan menolong dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berjuang di jalanNya.

ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฌَุงู‡َุฏُูˆุง ูِูŠู†َุง ู„َู†َู‡ْุฏِูŠَู†َّู‡ُู…ْ ุณُุจُู„َู†َุง ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َู…َุนَ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ

Dan orang-orang yang berjuang di (jalan) Kami, sungguh Kami akan beri petunjuk pada jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)(Q.S al-Ankabuut ayat 69).

Mengikuti jalannya para Sahabat Nabi yang beriman bersama Nabi, akan menjadi penyebab mendapatkan petunjuk.

ูَุฅِู†ْ ุขَู…َู†ُูˆุง ุจِู…ِุซْู„ِ ู…َุง ุขَู…َู†ْุชُู…ْ ุจِู‡ِ ูَู‚َุฏِ ุงู‡ْุชَุฏَูˆْุง...

Jika mereka beriman sebagaimana iman kalian (wahai para Sahabat Nabi), maka sungguh mereka akan mendapatkan petunjuk (Q.S al-Baqoroh ayat 137).

Sebaliknya, bagi orang yang suka menyimpang, Allah akan simpangkan hatinya, sebagai balasan baginya.

...ูَู„َู…َّุง ุฒَุงุบُูˆุง ุฃَุฒَุงุบَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู‚ُู„ُูˆุจَู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู„َุง ูŠَู‡ْุฏِูŠ ุงู„ْู‚َูˆْู…َ ุงู„ْูَุงุณِู‚ِูŠู†

Ketika mereka menyimpang, Allah simpangkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (Q.S as-Shaff ayat 5)

Orang yang memilih menyelisihi jalan Rasul setelah jelas baginya petunjuk, Allah akan palingkan ia semakin jauh dari al-haq, maka ia semakin menyimpang.

ูˆَู…َู†ْ ูŠُุดَุงู‚ِู‚ِ ุงู„ุฑَّุณُูˆู„َ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…َุง ุชَุจَูŠَّู†َ ู„َู‡ُ ุงู„ْู‡ُุฏَู‰ ูˆَูŠَุชَّุจِุนْ ุบَูŠْุฑَ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู†ُูˆَู„ِّู‡ِ ู…َุง ุชَูˆَู„َّู‰ ูˆَู†ُุตْู„ِู‡ِ ุฌَู‡َู†َّู…َ ูˆَุณَุงุกَุชْ ู…َุตِูŠุฑًุง

Dan barangsiapa yang menyelisihi Rasul, setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain jalan kaum beriman, maka Kami akan palingkan ia (ke arah berpalingnya) dan Kami masukkan ia ke Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali (Q.S anNisaa’ ayat 115)

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom 2


๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-4)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-6 Surat Yaasin

ู„ِุชُู†ْุฐِุฑَ ู‚َูˆْู…ًุง ู…َุง ุฃُู†ْุฐِุฑَ ุขَุจَุงุคُู‡ُู…ْ ูَู‡ُู…ْ ุบَุงูِู„ُูˆู†َ (6)

Arti Kalimat: "Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang ayah-ayah mereka tidak mendapat peringatan (sebelumnya) sehingga mereka lalai"

Allah turunkan al-Quran dan mengutus Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar memberi peringatan kepada kaumnya, yaitu bangsa Arab yang sudah sangat lama tidak mendapatkan nasehat, ilmu, dan peringatan-peringatan sejak Nabi Ismail ‘alaihissalam. Karena sudah sedemikian lamanya masa (perkiraan lebih dari 2000 tahun) sejak meninggal Nabi Ismail hingga diutusnya Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Sehingga ajaran Nabi Ismail sudah banyak mereka ubah, bercampur baur dengan penyimpangan-penyimpangan dan kesyirikan. Orang-orang Arab pada waktu itu mengenal Allah, bahkan tidak jarang di antara mereka yang bersumpah dengan atas nama Allah, mereka juga berhaji dan menyembah Allah, namun persembahan ibadah mereka itu tidak murni hanya untuk Allah semata, tapi juga dibagi (diserikatkan) dan ditujukan juga ke berhala-berhala yang mereka agungkan dengan tujuan untuk mendekatkan diri mereka atau memberi syafaat di sisi Allah.

Ayat ini semakna dengan ayat lain dalam al-Quran :

...ู„ِุชُู†ْุฐِุฑَ ู‚َูˆْู…ًุง ู…َุง ุฃَุชَุงู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َุฐِูŠุฑٍ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِูƒَ ู„َุนَู„َّู‡ُู…ْ ูŠَุชَุฐَูƒَّุฑُูˆู†َ  

…agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang sebelummu tidak ada pemberi peringatan yang datang kepada mereka, agar mereka menjadi ingat (Q.S al-Qoshosh ayat 46)

...ู„ِุชُู†ْุฐِุฑَ ู‚َูˆْู…ًุง ู…َุง ุฃَุชَุงู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َุฐِูŠุฑٍ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِูƒَ ู„َุนَู„َّู‡ُู…ْ ูŠَู‡ْุชَุฏُูˆู†َ

…agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang sebelummu tidak ada pemberi peringatan yang datang kepada mereka, agar mereka mendapatkan petunjuk (Q.S al-Qoshosh ayat 46)

Pada ayat ke-6 surat Yaasin ini Allah menjelaskan bahwa karena lamanya kaum Arab tidak mendapat peringatan, mereka kemudian menjadi lalai (fa hum ghofiluun). Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa seseorang akan terjatuh dalam sikap lalai, lupa, dan menyimpang jika lama tidak ada yang mengingatkan dengan peringatan dalam al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Semakin jauh dan lama seseorang dari majelis ilmu Ahlussunnah dan kajian-kajian melalui audio atau tulisan, maka ia akan semakin lalai dan mudah terperosok dalam pelanggaran-pelanggaran syar’i.

Jika ada yang bertanya setelah memahami kandungan makna ayat ini: "Apakah Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam hanya diutus kepada bangsa Arab saja?" Diperjelas dalam ayat lain bahwa beliau diutus kepada seluruh manusia:

ู‚ُู„ْ ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุฅِู†ِّูŠ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู„َูŠْูƒُู…ْ ุฌَู…ِูŠุนًุง

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian seluruhnya…(Q.S al-A’raaf: 158)

ุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„َّุฐِูŠ ู†َุฒَّู„َ ุงู„ْูُุฑْู‚َุงู†َ ุนَู„َู‰ ุนَุจْุฏِู‡ِ ู„ِูŠَูƒُูˆู†َ ู„ِู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ ู†َุฐِูŠุฑًุง

Maha Suci (Allah) Yang menurunkan al-Furqon kepada hambaNya untuk menjadi peringatan bagi seluruh alam (Q.S al-Furqon ayat 1)

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom 2


๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-3)

Ayat Ke-5 Surat Yaasin

ุชَู†ْุฒِูŠู„َ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ

Arti Kalimat: (al-Quran ini) diturunkan (oleh) Yang Maha Mulya lagi Maha Penyayang

Ayat ini menunjukkan bahwa al-Quran itu diturunkan oleh Allah. Penggunaan kata ‘diturunkan’ menunjukkan salah satu dari sekian banyak sisi pendalilan dalam al-Quran bahwa Allah itu berada di atas. Menunjukkan ketinggian Allah. Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, sebagaimana akidah yang disepakati Ulama Ahlussunnah.

Penggunaan lafadz ‘tanzil’ yang merupakan bentuk masdar dari kata ‘nazzala’ menunjukkan bahwa al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur, tidak sekaligus.

 ูˆَู‚ُุฑْุขَู†ًุง ูَุฑَู‚ْู†َุงู‡ُ ู„ِุชَู‚ْุฑَุฃَู‡ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุงุณِ ุนَู„َู‰ ู…ُูƒْุซٍ ูˆَู†َุฒَّู„ْู†َุงู‡ُ ุชَู†ْุฒِูŠู„ًุง

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian (Q.S al-Israa’ ayat 106)

Al-Quran itu diturunkan dari sisi Yang Maha Mulya lagi Maha Penyayang.

Allah sebutkan SifatNya, yaitu Yang Maha Mulya (al-Aziiz). Allah Maha Mulya dalam 3 keadaan:

Pertama, Maha Mulya dalam kedudukanNya (izzatul Qodr), artinya Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan agung.

Kedua, Maha Mulya dalam hal mengalahkan (izzatul Qohr), artinya tidak ada satu pihakpun yang bisa mengalahkan Allah, justru semuanya tunduk di bawah kekuasaanNya.

Ketiga adalah izzatul imtina’. Allah tidak akan pernah tersentuh dengan keburukan sedikitpun. Tidak ada satupun yang bisa menimbulkan mudharat/ berbuat buruk kepada Allah.
Dalam ayat ini juga Allah sebutkan sifatNya Yang Maha Penyayang (arRohiim).

Al-Quran diturunkan dari sisi Yang Maha Mulya lagi Maha Penyayang. Mengapa Allah menyebutkan 2 Sifat ini ketika menyebutkan diturunkannya al-Quran? Untuk mengingatkan manusia bahwa al-Quran itu diturunkan oleh Dzat Yang Maha Mulya, maka hati-hatilah kalian, wajib bagi kalian berpegang teguh dengan al-Quran, karena jika tidak….kalian akan berhadapan dengan Yang Maha Mulya yang Tak Terkalahkan saat mengadzab sesuatu. Selain itu, al-Quran diturunkan oleh Yang Maha Pengasih. Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa salah satu bentuk kasih sayang Allah yang terbesar adalah diturunkannya al-Quran.

 Dengan al-Quran, menjadi hiduplah hati dan badan. Dengan al-Quran menjadi baiklah pribadi manusia dan masyarakatnya.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom


๐Ÿญ ๐Ÿญ ๐Ÿญ ๐Ÿญ

๐ŸŒ„๐Ÿ’จ๐ŸŒธ MENJEMPUT HIDAYAH

☑ Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman ุญูุธู‡ ุงู„ู„ّٰู‡
______________________________________________

๐Ÿ“Ž๐Ÿ“› Al-haq dan al-batil merupakan dua perkara yang bertolak belakang, tidak akan bisa bertemu apalagi menyatu. Al-haq adalah sesuatu yang sudah jelas sebagaimana jelasnya al-batil, sehingga tidak ada pertengahan di antara keduanya.

๐ŸŒต Allah 'Azza Wa Jalla telah berfirman:

(ูَู…َุงุฐَุง ุจَุนْุฏَ ุงู„ْุญَู‚ِّ ุฅِู„َّุง ุงู„ุถَّู„َุงู„)ُ

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

(ูˆَู‡َุฏَูŠْู†َุงู‡ُ ุงู„ู†َّุฌْุฏَูŠْู†ِ)

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)

๐Ÿ’ข๐ŸŒผ As-Sa’di berkata, “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan. Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah 'Azza Wa Jalla dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah 'Azza Wa Jalla, namun manusia tidak mau melaksanakannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 855)

(ุฅِู†َّุง ู‡َุฏَูŠْู†َุงู‡ُ ุงู„ุณَّุจِูŠู„َ ุฅِู…َّุง ุดَุงูƒِุฑًุง ูˆَุฅِู…َّุง ูƒَูُูˆุฑًุง)

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)

๐Ÿ‚๐ŸŒŸ As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah 'Azza Wa Jalla mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah 'Azza Wa Jalla memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya. Kemudian Allah 'Azza Wa Jalla menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut.
Manusia pun terbagi. Ada yang mensyukuri nikmat Allah 'Azza Wa Jalla dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah 'Azza Wa Jalla. Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah 'Azza Wa Jalla Allah 'Azza Wa Jalla telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan.” (Tafsir as-Sa’di)

๐ŸŒ…๐ŸŒ‘ Kejelasan dua jalan yang berbeda ini sesungguhnya bagaikan matahari di siang bolong dan bulan purnama di malam hari. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengenalnya apalagi mengilmuinya. Hal ini karena beberapa faktor, di antaranya:

① Kebodohan yang menguasai setiap muslim.

② Kelalaian manusia sehingga tidak mau mencari dan mempelajarinya.

③ Tidak memiliki niat untuk mendapatkannya.

④ Munculnya para penyeru kesesatan yang mengaku pengikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam namun berjiwa iblis.

๐ŸŽฏ❌ Masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan tidak jelasnya kebenaran dan kebatilan. Apabila kita memerhatikan dengan saksama, kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mendapatkan al-haq, berjalan di atasnya, dan terjauhkan dari kebatilan, adalah semata hidayah dari Sang Pencipta.

๐Ÿ“ˆ Bersambung Insya Allah.

๐Ÿ”… ๐Ÿ”… ๐Ÿ”… ๐Ÿ”…

๐Ÿ“’ Majalah Asy-Syari'ah Online.

========================
⭐๐ŸŒˆ WA Riyadhul Jannah As-Salafy
========================
๐Ÿ’Ž๐ŸŒพ๐ŸŒด๐Ÿ’Ž๐ŸŒพ๐ŸŒด๐Ÿ’Ž๐ŸŒพ๐ŸŒด


๐Ÿ’๐Ÿ“Kajian Tafsir Surat Yaasin (Bag Ke-2)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-3 Surat Yaasiin

ุฅِู†َّูƒَ ู„َู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِูŠู†َ (3)

Arti Kalimat: Sungguh engkau (wahai Muhammad) termasuk Rasul yang diutus

Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah Rasul. Kalimat pada ayat ke-3 ini nampak jelas adanya 3 penguatan/ penegasan, yaitu (i) huruf inna, (ii) huruf lam taukid, (iii) sumpah pada ayat sebelumnya.

Ayat ini adalah bantahan bagi kaum kafir Quraisy yang mengingkari dan mendustakan bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah seorang Rasul.

ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ู„َุณْุชَ ู…ُุฑْุณَู„ًุง

Dan orang-orang kafir berkata: engkau (wahai Muhammad) bukanlah Rasul…(Q.S arRa’d ayat 43)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-4 Surat Yaasin

ุนَู„َู‰ ุตِุฑَุงุทٍ ู…ُุณْุชَู‚ِูŠู…ٍ (4)

Arti Kalimat: berada di atas jalan yang lurus

Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam berada di atas jalan yang lurus.

 Dalam ayat yang lain, Allah menjelaskan bahwa beliau adalah pemberi petunjuk ke jalan yang lurus.

ูˆَุฅِู†َّูƒَ ู„َุชَู‡ْุฏِูŠ ุฅِู„َู‰ ุตِุฑَุงุทٍ ู…ُุณْุชَู‚ِูŠู…ٍ

dan sesungguhnya engkau adalah benar-benar pemberi petunjuk (penjelasan) menuju jalan yang lurus (Q.S asy-Syuuro ayat 52).

Maka Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam berada di atas jalan yang lurus, sekaligus beliau adalah pemberi petunjuk menuju jalan yang lurus. Dalam setiap sholatnya, orang yang beriman selalu meminta diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Maka ikutilah Sunnah Nabi (perbuatan, ucapan, dan persetujuan beliau), karena sesungguhnya itu akan mengantarkan kepada jalan yang lurus.

Jangan beribadah kepada Allah kecuali dengan petunjuk dan teladan yang dibimbing oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Jangan mengada-adakan sesuatu yang baru dalam Dien ini (bid’ah/ Ahwaa’), karena itu akan menyimpangkan kita dari jalan yang lurus tersebut.

Abul ‘Aaliyah –seorang tabi’i- rahimahullah menyatakan:

ุชَุนَู„َّู…ُูˆุง ุงْู„ุฅِุณْู„َุงู…َ ูَุฅِุฐَุง ุชَุนَู„َّู…ْุชُูˆُู‡ُ ูَู„ุงَ ุชَุฑْุบَุจُูˆْุง ุนَู†ْู‡ُ ูˆَุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุงู„ุตِّุฑَุงุทِ ุงู„ْู…ُุณْุชَู‚ِูŠْู…ِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ุงู„ْุฅِุณْู„ุงَู… ูˆَู„ุงَ ุชُุญَุฑِّูُูˆุง ุงْู„ِุฅุณْู„َุงู…َ ูŠَู…ِูŠْู†ًุง ูˆَู„َุง ุดِู…َุงู„ًุง ูˆَุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุณُู†َّุฉِ ู†َุจِูŠِّูƒُู…ْ ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃَุตْุญَุงุจُู‡ُ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ ูˆَู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْุฃَู‡ْูˆَุงุกَ ุงู„َّุชِูŠ ุชُู„ْู‚ِูŠ ุจَูŠْู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ุงู„ْุนَุฏَุงูˆَุฉَ ูˆَุงู„ْุจَุบْุถَุงุกَ

Pelajarilah Islam. Jika kalian telah mempelajarinya janganlah membencinya. Hendaknya kalian berada di atas jalan yang lurus, yaitu Islam. Jangan menyimpang dari Islam ke kanan atau ke kiri. Wajib bagi kalian (berpegang) dengan Sunnah Nabi kalian yang diamalkan oleh para Sahabat beliau. Hati-hati kalian jauhilah hawa nafsu ini (kebid’ahan) yang akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara manusia (diriwayatkan oleh al-Laalikaai dalam syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal Jamaah(1/56), Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’, al-Ajurriy dalam asy-Syari’ah, al-Marwaziy dalam as-Sunnah).

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom 2


๐Ÿ“ถ←←←←←←←←←←←←←๐Ÿ“ถ

๐Ÿ”“PENUTURAN HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG DIHARAMKANNYA NYANYIAN DAN ALAT-ALAT MUSIK.

3. HADITS KETIGA

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu'anha diriwayatkan bahwa ia menceritakan: "Rasulullah Shallallahu a'laihi wasalam bersabda:

ุงِู†َّุงู„ู„َّู‡َุญَุฑَّู…َ ุนَู„َูŠَّ ุฃَูˆْ(ุญَุฑَّู…َ) --ุงู„ْุฎ‌َู…ْุฑَูˆَุงู„ْู…َูŠْุณِุฑَ ูˆَุงู„ْูƒُูˆْุจَุฉَ،ูˆَูƒُู„ُّ ู…ُุณْู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ูƒِุฑٍ ุญَุฑَุงู…ٌ.

"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas diri ku ---atau--- (telah mengharamkan) -minuman keras, judi, Al-Kubah dan segala yang memabukan adalah haram. "

Diriwayatkan oleh Qais bin Jubtur An-Nahsyuli, dan itu memiliki dua jalur periwayatan.

-pertama: Dari Ali bin Budzaimah diriwayatkan bahwa ia berkata":Qais bin Jubtur An-Nahsyuli telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami.

      Dikeluarkan oleh Abu Daud (3696), Al-Baihaqi (Ⅹ: 221), Ahmad dalam Musnad-nya (2729), Ibnu Hibban dalam shahih-nya (5341), Abul Hasan Ath-Thusi dalam Al-Arba'in (Qaaf -ⅩⅢ: Ⅰ -Zhahiriyah). Ath-Thabrani dalam Al-Ma'jamul Kabir (Ⅻ: 101-102)-12598 dan 12599. melalui jalur Sufyan. Dari Ali bin Budzaimah: Sufyan berkata: Aku bertanya kepada Ali Budzaimah: "Apa yang dimaksutkan dengan Al-Kubah ?: Beliau menjawab: "Genderang/gendang."

-Dan yang lain dari Abdul Karim Al-Jazri dari Qais ibnu Hubtur dengan lafazh: "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas mereka khamr, judi, gendang, Dan beliau berkata: "setiap yang memamerkan adalah haram. "¹

Dan ini adalah isnad yang shahih dari dua jalurnya Qais ini.

_________________________
¹Dikeluarkan oleh imam Ahmad (1/289) dan dalam Al-Asyribah 14. Ath-Thabrani 12601 dan Al-Baihaqi (10/213-221).

๐Ÿ“•Judul asli :ุชุญุฑูŠู… ุขู„ุงุชุงู„ุทّุฑุจ
▪(Tahrim Alatit Tharab)▪

✒Penulis: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Edisi terjemahan

๐Ÿ‘‰Bersambung In'syaa Allah .............


➝➝➝➝➝➝➝➝➝
๐ŸŒ๐Ÿ“ก forumsalafiyyinsampit.blogspot.com
◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈ ◉ ◈
☏℡
๐Ÿ“šWA ุงู„ู†ุงุฌูŠุฉ forum ุงู„ุณู„ููŠูŠู† ⭐✪

✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★✧☆✧★ ً