๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-8)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-11 Surat Yaasin

ุฅِู†َّู…َุง ุชُู†ْุฐِุฑُ ู…َู†ِ ุงุชَّุจَุนَ ุงู„ุฐِّูƒْุฑَ ูˆَุฎَุดِูŠَ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†َ ุจِุงู„ْุบَูŠْุจِ ูَุจَุดِّุฑْู‡ُ ุจِู…َุบْูِุฑَุฉٍ ูˆَุฃَุฌْุฑٍ ูƒَุฑِูŠู…ٍ

Arti Kalimat: Peringatanmu hanyalah akan bermanfaat kepada orang yang mengikuti adz-Dzikr (al-Quran) dan takut kepada arRahmaan (Allah) dalam keadaan ghaib (kesendirian, tidak ada yang melihatnya kecuali hanya Allah), maka berikanlah kabar gembira kepadanya berupa ampunan dan pahala yang mulya (Jannah)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang akan menerima manfaat dari penyampaian al-Quran adalah 2 orang, yaitu:

Pertama, mau mengikuti al-Quran (adz-Dzikr). Mau mengamalkan ilmu yang ia dapatkan dari al-Quran.

Kedua, takut kepada Allah dalam kesendirian. Saat tidak ada orang lain yang melihatnya, ia tidak mau berbuat dosa karena ia yakin Allah Maha Melihat dan Mengetahui semua perbuatannya. Allah menyebut diriNya sebagai arRahmaan (Yang Maha Melimpahkan Kasih Sayang) dalam ayat ini, karena semakin besar takut seseorang kepada Allah, semakin besar kasih sayang Allah terlimpah kepadanya.

 Jika seseorang takut kepada Allah secara hakiki, ia akan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Maka dalam kondisi demikian, ia telah melapangkan Kasih Sayang (rahmat) Allah tercurah untuknya.

Orang-orang yang semacam ini akan mendapatkan ampunan dan Jannah (Surga). Dia akan mendapatkan perlindungan dari sesuatu yang dia takutkan (ampunan dari dosa) dan akan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan (Jannah).

Jannah disebut sebagai ajrun kariim (balasan/pahala yang mulya), karena mengandung 3 hal:

Pertama, Jannah mulya (kariim) dalam dzatnya.
Jika kita perhatikan kenikmatan-kenikmatan yang ada di Jannah (yang dikhabarkan dalam al-Quran dan hadits), itu lebih baik, lebih indah, lebih bermanfaat dibandingkan seluruh kenikmatan-kenikmatan di dunia.

Kedua, Jannah mulya dalam sifatnya. Dari segi sifat-sifatnya, seperti rasanya, baunya, dan sebagainya, kenikmatan-kenikmatan di Jannah itu jauh melebihi kenikmatan-kenikmatan di dunia.

Ketiga, Jannah memberikan pemulyaan terhadap orang yang akan mendapatkannya. Orang-orang yang mendapatkan nikmat Jannah akan dimulyakan lebih dari perbuatan yang ia lakukan. Ia mendapatkan balasan yang berlipat dari perbuatan baik yang telah ia lakukan
(disarikan dari Tafsir Yaasin libni Utsaimin)

Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskan makna kariim pada Jannah adalah: besar, luas, baik, indah. Sebagaimana dalam surat al-Mulk:

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุฎْุดَูˆْู†َ ุฑَุจَّู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْุบَูŠْุจِ ู„َู‡ُู…ْ ู…َุบْูِุฑَุฉٌ ูˆَุฃَุฌْุฑٌ ูƒَุจِูŠุฑٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam kesendirian, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S al-Mulk ayat 12)

๐Ÿ’ŽAyat ke-12 Surat Yaasin

ุฅِู†َّุง ู†َุญْู†ُ ู†ُุญْูŠِูŠ ุงู„ْู…َูˆْุชَู‰ ูˆَู†َูƒْุชُุจُ ู…َุง ู‚َุฏَّู…ُูˆุง ูˆَุขَุซَุงุฑَู‡ُู…ْ ูˆَูƒُู„َّ ุดَูŠْุกٍ ุฃุญْุตَูŠْู†َุงู‡ُ ูِูŠ ุฅِู…َุงู…ٍ ู…ُุจِูŠู†ٍ

Arti Kalimat: Sesungguhnya Kami menghidupkan yang mati dan Kami menulis perbuatan dan jejak-jejak mereka. Dan segala sesuatu telah Kami perhitungkan dan jaga dalam (catatan) yang merupakan Imam yang jelas (Lauhul Mahfudzh)

Apa kaitan (keterhubungan) antara ayat ini dengan ayat sebelumnya? Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan adanya 2 keterhubungan:

Pertama, ayat sebelumnya menjelaskan adanya pihak-pihak yang tidak berpengaruh ketika diberi peringatan. Kemudian dijelaskan pihak-pihak yang akan mengambil manfaat dari adanya peringatan tersebut. Di ayat ini Allah jelaskan bahwa Dia Maha Mampu menghidupkan yang mati. Semua makhluk akan mati, dan akan Allah hidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam hal ini ada kabar gembira bagi pihak-pihak yang mau menerima peringatan, sekaligus ancaman bagi pihak-pihak yang tidak mau menerima peringatan.

Kedua, para penentang dakwah Rasul itu diibaratkan seperti orang-orang yang mati secara ma’nawi. Sebagaimana Allah Maha Mampu menghidupkan sesuatu yang secara fisik mati, maka Allah Maha Mampu untuk menghidupkan hati yang mati karena kekufuran, dsb. Maka masih ada sebagian pihak yang sebelumnya kafir, penentang dakwah Nabi, berubah menjadi pihak yang tunduk dan menerima dakwah tersebut. Inilah juga yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya. Beliau menyatakan: dalam hal ini terdapat isyarat bahwa Allah Taala menghidupkan hati orang yang dikehendakiNya dari kalangan kaum kafir yang hatinya telah mati dalam kesesatan. Kemudian Allah beri hidayah kepadanya kepada al-haq.

Uslub (gaya bahasa penyampaian) yang semacam ini juga Allah sebutkan dalam ayat yang lain dalam surat al-Hadiid. Setelah pada ayat sebelumnya Allah sebutkan tentang hati yang keras, Allah isyaratkan bahwa Allah Maha Mampu menghidupkan hati yang keras itu, sebagaimana Allah Maha Mampu menghidupkan bumi yang sebelumnya mati (dengan diturunkannya hujan).

...ูˆَู„َุง ูŠَูƒُูˆู†ُูˆุง ูƒَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ُ ูَุทَุงู„َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْุฃَู…َุฏُ ูَู‚َุณَุชْ ู‚ُู„ُูˆุจُู‡ُู…ْ ูˆَูƒَุซِูŠุฑٌ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูَุงุณِู‚ُูˆู†َ (16) ุงุนْู„َู…ُูˆุง ุฃَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠُุญْูŠِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุจَุนْุฏَ ู…َูˆْุชِู‡َุง ู‚َุฏْ ุจَูŠَّู†َّุง ู„َูƒُู…ُ ุงู„ْุขَูŠَุงุชِ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุนْู‚ِู„ُูˆู†َ (17)

…Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelumnya, kemudian berlalu waktu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka fasik. Ketahuilah sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Telah kami jelaskan kepada kalian ayat-ayat agar kalian berpikir (Q.S al-Hadiid ayat 16-17).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia menulis perbuatan kita dan jejak yang kita torehkan di muka bumi. Adakalanya perbuatan kita tidak meninggalkan ‘jejak’. Kita hanya berbuat saat itu dan tidak berdampak apapun. Namun adakalanya ada jejak-jejak yang kita tinggalkan. Jejak itu diikuti orang lain. Jika kita meninggalkan jejak yang baik dan diikuti kebaikan itu oleh orang lain, maka kita akan mendapat limpahan pahala terus meski kita telah berkalang tanah. Namun, jika jejak itu adalah jejak keburukan, maka kita juga akan terus mendapat limpahan dosa, meski kita telah tinggal nama.

ู…َู†ْ ุณَู†َّ ูِูŠ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ุณُู†َّุฉً ุญَุณَู†َุฉً ูَุนُู…ِู„َ ุจِู‡َุง ุจَุนْุฏَู‡ُ ูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُ ู…ِุซْู„ُ ุฃَุฌْุฑِ ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุจِู‡َุง ูˆَู„َุง ูŠَู†ْู‚ُุตُ ู…ِู†ْ ุฃُุฌُูˆุฑِู‡ِู…ْ ุดَูŠْุกٌ ูˆَู…َู†ْ ุณَู†َّ ูِูŠ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ุณُู†َّุฉً ุณَูŠِّุฆَุฉً ูَุนُู…ِู„َ ุจِู‡َุง ุจَุนْุฏَู‡ُ ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…ِุซْู„ُ ูˆِุฒْุฑِ ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุจِู‡َุง ูˆَู„َุง ูŠَู†ْู‚ُุตُ ู…ِู†ْ ุฃَูˆْุฒَุงุฑِู‡ِู…ْ ุดَูŠْุกٌ

Barangsiapa yang mencontohkan di dalam Islam kebaikan, kemudian kebaikan itu diamalkan oleh orang setelahnya, maka tercatat ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa pahala pihak yang beramal itu dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam keburukan, kemudian diamalkan oleh orang setelahnya, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang melakukannya tanpa dikurangi dari dosa pelaku itu sedikitpun (H.R Muslim dari Jarir bin Abdillah)

Jejak-jejak kebaikan itu bisa berupa ilmu yang bermanfaat yang diamalkan juga oleh pihak lain, anak sholih yang bertaqwa kepada Allah karena hasil didikan baik yang diperjuangkan orangtuanya, atau shodaqoh jariyah (yang pahalanya terus mengalir), seperti menanam tanaman yang bermanfaat, menggali sumur, membangun masjid, mengeruk sungai supaya semakin dalam, dan semisalnya.

ุณَุจْุนٌ ูŠَุฌْุฑِูŠ ู„ِู„ْุนَุจْุฏِ ุฃَุฌْุฑُู‡ُู†َّ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…َูˆْุชِู‡ِ، ูˆู‡ُูˆ ูِูŠ ู‚َุจْุฑِู‡ِ: ู…َู†ْ ุนَู„َّู…َ ุนِู„ْู…ًุง، ุฃَูˆْ ูƒَุฑَู‰ ู†َู‡ْุฑًุง، ุฃَูˆْ ุญَูَุฑَ ุจِุฆْุฑًุง، ุฃَูˆْ ุบَุฑَุณَ ู†َุฎْู„ุง، ุฃَูˆْ ุจَู†َู‰ ู…َุณْุฌِุฏًุง، ุฃَูˆْ ูˆَุฑَّุซَ ู…ُุตْุญَูًุง، ุฃَูˆْ ุชَุฑَูƒَ ูˆَู„َุฏًุง ูŠَุณْุชَุบْูِุฑُ ู„َู‡ُ ุจَุนْุฏَ ู…َูˆْุชِู‡ِ

Tujuh hal yang pahalanya akan mengalir untuk seorang hamba setelah matinya pada saat ia berada di alam kubur: mengajarkan ilmu, mendalamkan sungai (mengeruk lumpurnya), menggali sumur, menanam kurma, membangun masjid, atau meninggalkan anak yang akan beristighfar untuknya setelah matinya (H.R al-Bazzar, Syaikh al-Albany menyatakan: hasan lighoirihi. Dalam riwayat Ibnu Majah ada tambahan: membangunkan rumah untuk Ibnus Sabiil (orang-orang yang dalam perjalanan))

ูَู„َุง ูŠَุบْุฑِุณُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُ ุบَุฑْุณًุง ูَูŠَุฃْูƒُู„َ ู…ِู†ْู‡ُ ุฅِู†ْุณَุงู†ٌ ูˆَู„َุง ุฏَุงุจَّุฉٌ ูˆَู„َุง ุทَูŠْุฑٌ ุฅِู„َّุง ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุตَุฏَู‚َุฉً ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ

Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman yang dimakan bagiannya oleh manusia, hewan melata, atau burung kecuali akan menjadi shodaqoh baginya hingga hari kiamat (H.R Muslim no 2903)

Sebaliknya, jejak-jejak keburukan bisa ditularkan kepada generasi berikutnya berupa kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan. Hal itu justru akan semakin menyengsarakan orang yang sengaja meninggalkan jejak tersebut.

Sebagian Ahlut Tafsir juga menjelaskan makna jejak-jejak yang dicatat oleh Allah adalah langkah kaki dalam mengerjakan kebaikan, seperti langkah kaki menuju masjid. Bani Salamah yang tempat tinggalnya jauh dari masjid ingin berpindah tempat dekat dengan masjid. Namun Nabi memberikan arahan kepada mereka untuk tetap di tempat tinggalnya, karena hal itu akan menyebabkan semakin besarnya pahala mereka karena jarak yang jauh berjalan kaki menuju masjid. Sesungguhnya langkah kaki seseorang yang berjalan menuju masjid tercatat sebagai pahala untuk berangkat maupun pulangnya.

ุนَู†ْ ุฃُุจَูŠِّ ุจْู†ِ ูƒَุนْุจٍ ู‚َุงู„َ ูƒَุงู†َ ุฑَุฌُู„ٌ ู„َุง ุฃَุนْู„َู…ُ ุฑَุฌُู„ًุง ุฃَุจْุนَุฏَ ู…ِู†ْ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ู…ِู†ْู‡ُ ูˆَูƒَุงู†َ ู„َุง ุชُุฎْุทِุฆُู‡ُ ุตَู„َุงุฉٌ ู‚َุงู„َ ูَู‚ِูŠู„َ ู„َู‡ُ ุฃَูˆْ ู‚ُู„ْุชُ ู„َู‡ُ ู„َูˆْ ุงุดْุชَุฑَูŠْุชَ ุญِู…َุงุฑًุง ุชَุฑْูƒَุจُู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุธَّู„ْู…َุงุกِ ูˆَูِูŠ ุงู„ุฑَّู…ْุถَุงุกِ ู‚َุงู„َ ู…َุง ูŠَุณُุฑُّู†ِูŠ ุฃَู†َّ ู…َู†ْุฒِู„ِูŠ ุฅِู„َู‰ ุฌَู†ْุจِ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ุฅِู†ِّูŠ ุฃُุฑِูŠุฏُ ุฃَู†ْ ูŠُูƒْุชَุจَ ู„ِูŠ ู…َู…ْุดَุงูŠَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูˆَุฑُุฌُูˆุนِูŠ ุฅِุฐَุง ุฑَุฌَุนْุชُ ุฅِู„َู‰ ุฃَู‡ْู„ِูŠ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุฏْ ุฌَู…َุนَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َูƒَ ุฐَู„ِูƒَ ูƒُู„َّู‡ُ

Dari Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Ada seseorang laki-laki yang aku tidak mengetahui ada orang yang lebih jauh kediamannya dari masjid dibandingkan dia. Dia tidak pernah terlewatkan dari sholat (di masjid). Ada seseorang yang mengatakan kepadanya: Tidakkah sebaiknya engkau membeli keledai yang bisa engkau tunggangi di masa gelap dan di saat panas. Orang tersebut menyatakan: Aku tidak suka rumahku di samping masjid. Aku ingin tercatat (pahala) langkah kakiku menuju masjid dan langkah kakiku ketika kembali ke keluargaku. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Allah telah menggabungkan (kedua pahala untuk berangkat dan pulang) bagimu seluruhnya (H.R Muslim)

Di dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi telah tercatat dalam Lauhul Mahfudzh. Allah sebut Lauhul Mahfudzh dalam ayat ini sebagai Imam yang jelas, karena semua kejadian yang ada di alam semesta menjadi makmum (mengikuti) catatan tersebut. Tidak ada yang bertambah, berkurang, ataupun berubah dari catatan takdir tersebut. Penjelasan makna “Imam yang nyata” sebagai Lauhul Mahfudzh adalah penafsiran dari beberapa Ulama tafsir seperti al-Baghowy, as-Sa’di, asy-Syinqithy, dan lainnya.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom


๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-9)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-13 Surat Yaasin

ูˆَุงุถْุฑِุจْ ู„َู‡ُู…ْ ู…َุซَู„ًุง ุฃَุตْุญَุงุจَ ุงู„ْู‚َุฑْูŠَุฉِ ุฅِุฐْ ุฌَุงุกَู‡َุง ุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ُูˆู†َ

Arti Kalimat: Buatkan untuk mereka (kaum kafir Quraisy) permisalan tentang penduduk suatu kampung ketika didatangi oleh para Rasul

Sesungguhnya pada kaum kafir Quraisy yang menentang dakwah Rasul, terdapat kesamaan dengan penduduk suatu kampung yang sebelumnya pernah didatangi beberapa Rasul. Berikanlah permisalan kepada kaummu yang menentang dakwahmu wahai Muhammad, bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada umat sebelumnya, penduduk suatu kampung, yang mereka menentang dakwah para Rasul dan mendapatkan akibat yang buruk.

Sebagian para Ulama tafsir menyatakan bahwa kampung yang dimaksud adalah Anthokiyyah. Namun hal ini disanggah oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-29 dari surat Yaasin ini. Karena nama tempat yang bernama Anthokiyyah itu sebenarnya sudah dikenal luas, namun tidak pernah ada pemberitaan, termasuk dalam kisah-kisah Nashrani bahwa tempat itu telah dihancurkan/ dibinasakan. Sehingga bisa jadi yang dimaksud adalah tempat lain, bukan Anthokiyyah yang sudah dikenal luas tersebut.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa kampung tersebut tidak ditentukan secara pasti namanya dalam al-Quran, sehingga tidak ada faidah untuk mencari-cari namanya. Hal yang terpenting adalah mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah yang disampaikan dalam al-Quran tersebut.

๐Ÿ’ŽAyat Ke-14 Surat Yaasin

ุฅِุฐْ ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุง ุฅِู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงุซْู†َูŠْู†ِ ูَูƒَุฐَّุจُูˆู‡ُู…َุง ูَุนَุฒَّุฒْู†َุง ุจِุซَุงู„ِุซٍ ูَู‚َุงู„ُูˆุง ุฅِู†َّุง ุฅِู„َูŠْูƒُู…ْ ู…ُุฑْุณَู„ُูˆู†َ

Arti Kalimat: ketika Kami mengutus dua utusan kepada mereka, kemudian mereka mendustakan keduanya, sehingga Kami kuatkan lagi dengan utusan ketiga dan para utusan itu berkata: Sesungguhnya kami diutus (sebagai Rasul) kepada kalian

Dalam pembacaan ayat ini ada 2 qiroaah (cara membaca) sesuai dengan qiroah sab’ah, yaitu pada kata fa’azzaznaa. Bisa dibaca dengan tasydid pada huruf zai, juga bisa dibaca tanpa tasydid. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Jalalain.

๐Ÿ’ŽAyat Ke-15 Surat Yaasin

ู‚َุงู„ُูˆุง ู…َุง ุฃَู†ْุชُู…ْ ุฅِู„َّุง ุจَุดَุฑٌ ู…ِุซْู„ُู†َุง ูˆَู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ُ ู…ِู†ْ ุดَูŠْุกٍ ุฅِู†ْ ุฃَู†ْุชُู…ْ ุฅِู„َّุง ุชَูƒْุฐِุจُูˆู†َ

Arti Kalimat: Mereka (kaum itu) berkata: Tidaklah kalian kecuali manusia sama seperti kami, dan arRahmaan (Allah) tidaklah menurunkan apapun. Tidaklah kalian kecuali berdusta

Kaum itu menentang dan menganggap para Rasul itu sama dengan mereka, sama-sama manusia, bukanlah utusan Allah. Mereka menganggap bahwa kalau seandainya Allah turunkan utusanNya, maka niscaya bukan dari kalangan manusia, tapi kalangan Malaikat. Ucapan ini sama dengan ucapan-ucapan para penentang Rasul pada umat-umat sebelum kita yang lain, yang diabadikan dalam al-Quran:

ุฐَู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َุชْ ุชَุฃْุชِูŠู‡ِู…ْ ุฑُุณُู„ُู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْุจَูŠِّู†َุงุชِ ูَู‚َุงู„ُูˆุง ุฃَุจَุดَุฑٌ ูŠَู‡ْุฏُูˆู†َู†َุง

Yang demikian itu karena telah datang kepada mereka para Rasul dengan membawa penjelasan-penjelasan kemudian mereka berkata: Apakah (pantas) seorang manusia memberi petunjuk kepada kita? (Q.S atTaghobuun ayat 6)

ูˆَู„َุฆِู†ْ ุฃَุทَุนْุชُู…ْ ุจَุดَุฑًุง ู…ِุซْู„َูƒُู…ْ ุฅِู†َّูƒُู…ْ ุฅِุฐًุง ู„َุฎَุงุณِุฑُูˆู†َ

Kalau seandainya kalian mentaati manusia juga yang sama dengan kalian, sungguh kalian telah merugi (Q.S al-Mu’minuun ayat 34)

ูˆَู…َุง ู…َู†َุนَ ุงู„ู†َّุงุณَ ุฃَู†ْ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆุง ุฅِุฐْ ุฌَุงุกَู‡ُู…ُ ุงู„ْู‡ُุฏَู‰ ุฅِู„ุง ุฃَู†ْ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฃَุจَุนَุซَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจَุดَุฑًุง ุฑَุณُูˆู„ุง

Dan tidaklah ada yang mencegah manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka berkata: Apakah Allah mengutus manusia sebagai Rasul? (Q.S al-Israa’ ayat 94)

Petikan ayat-ayat tersebut yang menyebutkan sikap serupa dari para penentang dakwah Rasul yang mencemooh jika utusan Allah adalah manusia biasa, disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa para penentang dakwah Rasul itu menyatakan: arRahmaan tidaklah menurunkan apapun. Artinya, mereka mengingkari bahwa Allah (arRahmaan) menurunkan kitab dan mengutus RasulNya.
Apakah itu berarti bahwa orang-orang yang menentang dakwah para Rasul itu telah mengenal Nama Allah arRahmaan (Yang Maha Penyayang)?

Dalam hal ini ada 2 penafsiran yang disebutkan oleh al-Aluusy dalam tafsirnya Ruuhul Ma’aaniy:

Pertama, Ucapan ini menunjukkan pengakuan mereka terhadap Uluhiyyah (Allah), tapi mereka mengingkari arRisalah (diutusnya Rasul) dan mereka bertawassul kepada berhala-berhala (dalam beribadah kepada Allah, pent).

Kedua, Bisa jadi penyebutan itu adalah penghikayatan Allah terhadap ucapan mereka. Artinya, Allah tidak menukil secara persis lafadz ucapan mereka tapi menggunakan pengibaratan yang lain.
Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom


๐Ÿ’๐Ÿ“KAJIAN TAFSIR SURAT YASIN (Bag ke-7)

๐Ÿ’ŽAyat Ke-9 Surat Yaasin

ูˆَุฌَุนَู„ْู†َุง ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ุณَุฏًّุง ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِู…ْ ุณَุฏًّุง ูَุฃَุบْุดَูŠْู†َุงู‡ُู…ْ ูَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُุจْุตِุฑُูˆู†َ

Arti Kalimat: Dan Kami jadikan di hadapannya ada tabir/penghalang, dan di belakang mereka juga ada tabir, maka Kami tutup mereka sehingga mereka tidak bisa melihat

Dalam membaca ayat ini, ada 2 qiro’ah yang sama-sama boleh, yaitu:

Pertama, dibaca saddan. Fathah pada huruf sin. Inilah yang masyhur, bacaan Hafsh, Hamzah, dan al-Kisaa-i.

Kedua, dibaca suddan. Dhommah pada huruf sin. Sebagaimana dibaca oleh Ahli Qiraah dari Madinah, Bashrah, dan sebagian Kufah.
Dari sisi perbedaan arti, suddan itu artinya penghalang buatan Allah, sedangkan saddan artinya penghalang yang dibuat manusia. (Lihat Tafsir atThobariy dan al-Baghowy).

Di hadapan orang-orang kafir itu seakan-akan ada penghalang dan di depannya juga ada penghalang. Allah tutup penglihatan mereka. Karena adanya penghalang di depan dan di belakang mereka, maka mereka tetap kokoh di tempatnya tidak ke depan dan tidak ke belakang, menunjukkan mereka tidak goyah, berpegang prinsip dalam kekafiran.

๐Ÿ’ŽAyat Ke-10 Surat Yaasin

ูˆَุณَูˆَุงุกٌ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَุฃَู†ْุฐَุฑْุชَู‡ُู…ْ ุฃَู…ْ ู„َู…ْ ุชُู†ْุฐِุฑْู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُุคْู…ِู†ُูˆู†َ

Arti Kalimat: Sama saja bagi mereka, apakah engkau beri peringatan kepada mereka atau tidak, mereka tidak beriman.

Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang telah Allah tetapkan berada dalam kekafiran, Allah tutup hatinya, mereka tidak akan pernah beriman meski Nabi memberikan peringatan seperti apapun kepada mereka. Hal ini adalah hiburan untuk Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar jangan terlampau bersedih jika mereka tetap tidak beriman setelah berulang kali disampaikan peringatan. Karena Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam merasa sangat bersedih jika setelah didakwahi manusia tetap tidak mau menerima atau tidak mendapatkan hidayah.

ูˆَู…َุง ุฃَูƒْุซَุฑُ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَู„َูˆْ ุญَุฑَุตْุชَ ุจِู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ

Dan kebanyakan manusia (tidak beriman) meski engkau sangat bersemangat agar mereka beriman (Q.S Yusuf ayat 103)

ุฃَูَู…َู†ْ ุญَู‚َّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูƒَู„ِู…َุฉُ ุงู„ْุนَุฐَุงุจِ ุฃَูَุฃَู†ْุชَ ุชُู†ْู‚ِุฐُ ู…َู†ْ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ

Apakah orang yang sudah mendapat ketetapan adzab (tidak akan beriman), apakah engkau mampu menyelamatkannya dari anNaar ? (Tentu tidak)(Q.S az-Zumar ayat 19)

Artinya, bersemangatlah untuk terus berdakwah karena kita tidak tahu siapakah yang ditakdirkan Allah akan mendapat hidayah, dan siapakah yang telah ditetapkan tidak akan mendapatkan hidayah. Namun, jika telah berupaya maksimal dan akhirnya orang itu meninggal dalam kekafiran, jangan terlampau bersedih. Bagi orang yang sudah ditetapkan takdir kekafiran dan Allah tutup hatinya, tidak akan bermanfaat peringatan seperti apapun.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom


web-web Bermanfa'at

����Web-Web Bermanfaat

��Bismillah. Dikongsikan kemas kini terkini laman-laman web yang bermanfaat dan selamat untuk dijadikan rujukan bagi Ahlus Sunnah:

���� Web Bahasa Arab:


�� Sumber:
http://forumsalafy.net/?page_id=190
������������ Selain itu, link di bawah adalah link bagi kumpulan artikel yang dikirim melalui WhatsApp Ahlus Sunnah:
https://postinganwhatsapp.wordpress.com/
���� Juga disertakan link bagi artikel dari WhatsApp Majmu’ah Thoriqus Salaf:
https://postinganwhatsapp.wordpress.com/category/thoriqus-salaf/

Moga Bermanfaat.

�� WhatsApp ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุณู„ู ��