Bagi yang ingin mendownload murottal dari negara al yamaniy

Tafadhdhol di Unduh di Link



 🔊 http://download.quranicaudio.com/quran/wadee_hammadi_al-yamani/


🌾 Semoga Bermanfaat

♻ جزاكم الله خيرا
وبارك الله لي ولكم

✅ Salafy Sumatera


📫🌳🎒
----------
🚇 CONTOH KESESATAN/ PENYIMPANGAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYYAH DENGAN ROSUL PALSUNYA AHMAD MUSHADDEQ
(Sebuah upaya pemurtadan/kristenisasi berkedok Islam)

🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Luqman Ba'abduh hafizhohullah | Dauroh Ahad, 29 Juli 2007


•••••••
🅾 Durasi 34:47 (4,02 MB)

➦ #GAFATAR #alqiyadah #alqiyadah_alislamiyah #ahmad_mushaddeq #millah_abraham #fajar_nusantara
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾  https://www.dropbox.com/s/06bma85dk6wu0qj/AUD-20160126-WA0011.mp3?dl=0

HAKEKATNYA GAFATAR

📫🌳🎒
----------
🚇 HAKEKAT GAFATAR (GERAKAN FAJAR NUSANTARA), KOMAR (KOMUNITAS MILLAH ABRAHAM) & SEKTE BAHAIYYAH

🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhohullah

📅 Dauroh "BAHAYA RADIKALISME ISIS TERHADAP ISLAM DAN NKRI" | Kamis, 4 Rabi'ul Akhir 1437H ~ 14 Januari 2016 di Masjid Ar Rahim Sangatta.




)*Disertai penjelasan tentang Ciri gerakan sesat dan Hukum Jihad "Swasta" tanpa izin pemerintah

•••••••
🅾 Durasi 07:32 (1,55 MB)
Link :  bit.ly/1TZkqDM (Versi Full)

➦ #GAFATAR #alqiyadah #alqiyadah_alislamiyah #millah_abraham #jihad
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾  JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀  www.alfawaaid.net


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin)

Dalam praktik bisnis pada umumnya, pembeli kebanyakan dalam posisi dirugikan. “Kaidah” ini tak terkecuali juga berlaku pada sistem asuransi. Pencairan klaim yang dipersulit adalah contoh persoalan paling klise yang banyak dialami tertanggung atau pemegang polis. Namun yang namanya pertaruhan, tak ada yang mau dirugikan begitu saja. Banyak juga kasus di mana tertanggung dengan sengaja membakar atau menghilangkan aset miliknya menjelang habis masa pertanggungan demi memperoleh klaim. Bagaimana Islam menyoroti “perjudian” bernama asuransi ini? Simak kupasannya!

Asuransi
Asuransi yang jenisnya kian beragam pada masa sekarang, sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga: asuransi sosial, asuransi ta’awun (gotong-royong), dan asuransi tijarah (bisnis).

Asuransi Sosial
Biasanya, asuransi jenis ini diperuntukkan bagi pegawai pemerintah, sipil maupun militer. Sering juga didapati pada karyawan swasta. Gambarannya, pihak perusahaan memotong gaji karyawan setiap bulan dengan persentase tertentu dengan tujuan:
1.    Sebagai tunjangan hari tua (THT), yang biasanya uang tersebut diserahkan seluruhnya pada masa purna tugas seorang karyawan. Terkadang ditambah subsidi khusus dari perusahaan.
2.    Sebagai bantuan atau santunan bagi mereka yang wafat sebelum purna bakti, diserahkan kepada ahli waris atau yang mewakili.
3.    Sebagai pesangon bagi karyawan yang pensiun dini.
Pemotongan gaji dengan tujuan di atas yang dilakukan oleh pemerintah atau sebuah perusahaan adalah murni untuk santunan bagi karyawan, bukan dalam rangka dikembangkan untuk mendapatkan laba (investasi).
Hukum asuransi jenis ini dengan sistem seperti yang tersebut di atas adalah boleh, termasuk dalam bab ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan. Allah l berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Ma`idah: 2)
Rasulullah n bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Dan Allah selalu menolong seorang hamba selama dia selalu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 3391 dari Abu Hurairah z)
Upaya di atas termasuk dalam bab ihsan (berbuat baik) kepada sesama. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 15/284, dan Syarhul Buyu’ hal. 38)
Bila potongan gaji tersebut dimasukkan dalam investasi dan menghasilkan penambahan nominal dari total nilai gaji yang ada, maka tidak boleh (haram), karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara kebatilan. Allah l berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (Al-Baqarah: 188)
Maka tidak ada hak bagi karyawan tadi kecuali nominal gajinya yang dipotong selama kerja. Allah l berfirman:
وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
“Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 279)
Namun bila nominal tambahan tersebut telah diterima oleh sang karyawan dalam keadaan tidak mengetahui hukum sebelumnya, maka boleh dimanfaatkan. Allah l berfirman:
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)
Bila dia mengambilnya atas dasar ilmu (yakni mengetahui) tentang keharamannya, dia wajib bertaubat dan mensedekahkan ‘tambahan’ tadi.
Wallahu a’lam bish-shawab. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 15/261)

Asuransi Ta’awun (Gotong Royong)
Asuransi ini dibangun dengan tujuan membantu dan meringankan pihak-pihak yang membutuhkan atau yang terkena musibah. Gambarannya, sejumlah muhsinin menyerahkan saham dalam bentuk uang yang disetorkan setiap pekan atau bulan dengan nominal tertentu atau semampunya, kepada yayasan/lembaga yang menangani musibah, bencana dan orang yang membutuhkan.
Biasanya, saham akan dihentikan untuk sementara bila jumlah uang dirasa sudah cukup dan tidak terjadi bencana atau musibah yang menyebabkan kas menipis atau membutuhkan suntikan dana. Saham-saham dalam bentuk uang itu sendiri tidak dikembangkan dalam bentuk investasi. Dan asuransi ini murni dibangun di atas dasar kemanusiaan bukan paksaan.
Contoh di lapangan yang disebutkan oleh Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah adalah asuransi gotong royong pada perkumpulan angkutan kota atau bis (di mana kendaraan-kendaraan itu milik pribadi, bukan milik sebuah perusahaan). Caranya, masing-masing anggota menyetorkan sejumlah nominal tak tertentu, setiap pekan/bulan, kepada salah seorang yang mereka tunjuk untuk membantu anggota mereka yang kecelakaan atau terkena musibah. Setoran tersebut bersifat sukarela dan tidak mengikat, dengan nominal beragam dan dihentikan bila dirasa sudah cukup dan tidak ada musibah.
Mengenai asuransi jenis ini, para ulama anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah dan anggota Kibarul Ulama Kerajaan Saudi Arabia telah melakukan pertemuan ke-10 di kota Riyadh pada bulan Rabi’ul Awwal 1397 H. Hasilnya, mereka sepakat bahwa ta’awun ini diperbolehkan dan bisa menjadi ganti dari asuransi tijarah (bisnis) yang diharamkan, dengan beberapa alasan berikut:

6.    Dalam asuransi ini terdapat tindakan mengharuskan sesuatu yang tidak ada keharusannya secara syariat. Pihak lembaga asuransi diharuskan membayar semua kerugian yang dialami pihak nasabah, padahal musibah itu tidak berasal dari lembaga asuransi tersebut atau disebabkan olehnya. Dia hanya melakukan akad asuransi dengan pihak nasabah, dengan jaminan ganti rugi yang diperkirakan terjadi, dengan mendapatkan nominal yang disetorkan pihak nasabah. Tindakan ini adalah haram.

Kemudian para ulama tersebut membantah satu per satu argumentasi pihak yang membolehkan asuransi ini dengan uraian yang panjang lebar, yang dibukukan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah (15/275-287, juga 15/246-248). Lihat juga dalam Syarhul Buyu’ (hal. 38-39).
Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah menjelaskan bahwa sistem asuransi jenis ini awal mulanya bersumber dari Zionis Yahudi di Amerika. Dan ketika melakukan penjajahan terhadap wilayah-wilayah Islam, mereka memasukkan aturan ini ke tengah-tengah kaum muslimin. Semenjak itulah asuransi ini tersebar dengan beragam jenis dan modus. Wallahul musta’an.

Fatwa Ulama Seputar Asuransi
Al-Lajnah Ad-Da`imah pernah ditanya tentang beragam jenis asuransi dengan soal yang terperinci. Berikut ini pertanyaannya secara ringkas:
“Ada yang meminta fatwa tentang jenis asuransi berikut:
1.    Asuransi barang ekspor impor (pengiriman barang): per tahun atau setiap kali mengirim barang dengan jaminan ganti rugi kerusakan kargo laut, darat ataupun udara.
2.    Asuransi mobil (kendaraan) dengan beragam jenis dan mereknya: Disesuaikan dengan jenis mobil, penggunaannya sesuai permintaan, dengan jaminan ganti rugi semua kecelakaan, baik tabrakan, terbakar, dicuri, atau yang lain. Juga ganti rugi untuk pihak nasabah yang mengalami musibah dan atau kecelakaan yang ada.
3.    Asuransi ekspedisi darat: Untuk pengiriman dalam dan luar negeri dengan setoran intensif tahunan per ekspedisi, dengan ganti rugi total bila terjadi musibah.
4.    Asuransi harta benda: Seperti ruko, pertokoan, pabrik, perusahaan, perumahan, dan sebagainya, dengan ganti rugi total bila terjadi kebakaran, pencurian, banjir besar, dll.
5.    Asuransi barang berharga: Seperti cek, surat-surat penting, mata uang, permata, dsb, dengan ganti rugi total bila terjadi perampokan/pencurian.
6.    Asuransi rumah dan villa/hotel.
7.    Asuransi proyek, baik proyek pembangunan ataupun pabrik dan semua jenis proyek.
8.    Asuransi tata kota
9.    Asuransi tenaga kerja
10.    Asuransi jiwa atau kejadian-kejadian pribadi seperti asuransi kesehatan (askes) dan pengobatan.
Itu semua dengan menyetor uang secara intensif dengan nominal yang disepakati bersama.”
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab bahwa semua jenis asuransi dengan sistem di atas adalah haram, dengan argumentasi yang telah disebutkan di atas. Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa Al-Lajnah, 15/243-248)

Masalah 1: Bolehkah asuransi masjid?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (15/258-259):
“Asuransi bisnis adalah haram, baik itu asuransi jiwa, barang, mobil, tanah/rumah, walaupun itu adalah masjid atau tanah wakaf. Karena mengandung unsur jahalah (ketidaktahuan), pertaruhan, perjudian, riba, dan larangan-larangan syar’i lainnya.”
Ketua: Asy-Syaikh Ibnu baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota: Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud dan Asy-Syaikh Ibnu Ghudayyan.

Masalah 2: Askes (Asuransi Kesehatan)
Al-Lajnah Ad-Da`imah pernah ditanya tentang asuransi kesehatan dengan sistem berikut:
1.    Asuransi pengobatan
Ketentuannya, pihak yang ikut serta dalam program kesehatan tersebut menyerahkan nominal tertentu yang disepakati bersama, dan dia akan mendapatkan pelayanan serta diskon berikut:
a.    Pemeriksaan kesehatan selama menjadi anggota maksimal 3 kali sebulan
b.    Diskon 5% untuk pembelian obat
c.    Diskon 15% untuk operasi di salah satu rumah sakit tertentu
d.    Diskon 20% untuk tes kesehatan dan pelayanan apotek
e.    Diskon 5% untuk pemasangan gigi.
Nominal setoran 580 real Saudi, dan bila anggota keluarga ikut semua maka setoran per kepala 475 real Saudi.
2.    Asuransi kehamilan dan kelahiran
Cukup dengan membayar 800 real Saudi selama masa kehamilan, dengan pelayanan sbb:
a.    Pemeriksaan kesehatan sejak awal kehamilan hingga melahirkan, 2-3 kali dalam sebulan. Khusus bulan terakhir dari kehamilan, pemeriksaan sekali sepekan.
b.    Pemeriksaan gratis 2 kali di rumah setelah melahirkan.
c.    Si bayi mendapatkan kartu pengobatan gratis selama setahun.
3.    Asuransi anak sehat
Setorannya 490 real per tahun, dengan pelayanan:
a.    Pemeriksaan bayi selama setahun sampai 3 kali dalam sebulan.
b.    Diskon 20% untuk UGD dan operasi kecil.
c.    Diskon 15% untuk operasi besar di salah satu rumah sakit tertentu.
Jawaban Al-Lajnah Ad-Da`imah (15/272-274):
Program ini termasuk jenis asuransi kesehatan yang berafiliasi bisnis, dan itu adalah haram karena termasuk akad perjudian dan pertaruhan.
Nominal yang diserahkan nasabah untuk mendapatkan pelayanan berdiskon selama setahun, lebih atau kurang, terkadang tidak dia manfaatkan sama sekali karena dia tidak membutuhkan pelayanan di klinik tersebut selama jangka waktu itu. Sehingga dia rugi dengan jumlah nominal tersebut. Yang untung adalah pihak klinik. Terkadang pula dia mengambil faedah besar yang berlipat ganda dari nominal yang dia serahkan, sehingga dia untung dan kliniknya rugi…
Program ini adalah perjudian yang diharamkan dengan nash Al-Qur`an. Allah l berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 90)
Ketua: Asy-Syaikh Ibnu Baz, Anggota: Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan.

Masalah 3: Apa hukumnya bekerja di lembaga asuransi bisnis?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (15/251, lihat pula 15/262-264):
Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk bekerja di perusahaan asuransi sebagai sekretaris ataupun lainnya. Sebab bekerja di situ termasuk ta’awun di atas dosa dan permusuhan, dan ini dilarang oleh Allah l dalam firman-Nya:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Ma`idah: 2)
Ketua: Asy-Syaikh Ibn Baz, Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan.

Masalah 4: Bila uang ganti rugi dari lembaga asuransi telah diterima, apa yang harus dilakukan?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (15/260-261):
Adapun harta yang telah diterima dari hasil akad asuransi bisnis, bila dia menerimanya karena tidak tahu hukumnya secara syar’i, maka tidak ada dosa baginya. Namun dia tidak boleh mengulangi lagi akad asuransi tersebut. Allah l berfirman:
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)
Tetapi bila dia menerimanya setelah tahu hukumnya, dia wajib bertaubat kepada Allah l dengan taubat nasuha, dan mensedekahkan keuntungan tersebut.
Ketua: Asy-Syaikh Ibn Baz, Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.
Ketika menjawab pertanyaan senada (15/260) Al-Lajnah Ad-Da`imah menyatakan: “Pihak nasabah boleh mengambil nominal uang yang pernah dia setorkan ke lembaga asuransi. Sedangkan sisanya dia sedekahkan untuk para faqir miskin, atau dia belanjakan untuk sisi-sisi kebajikan lainnya dan dia harus lepas/keluar dari lembaga asuransi.”
Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah menjelaskan: “Bila para pelaku usaha dan hartawan dipaksa untuk bermuamalah dengan lembaga-lembaga asuransi oleh pihak-pihak yang tidak mungkin bagi mereka untuk menghadapinya atau menolak permintaannya, sehingga mereka menyetor dan bermuamalah dengan lembaga tersebut. Dosanya ditanggung oleh pihak yang memaksa. Namun ketika terjadi musibah, mereka tidak boleh menerima kecuali nominal yang telah mereka setorkan.” (Syarhul Buyu’ hal 39, pada catatan kaki).
Demikian uraian tentang masalah asuransi. Semoga bermanfaat.
Wallahul muwaffiq.

Catatan Kaki:

1 Hasil ini dicantumkan pada ketetapan mereka no. 51 tanggal 4/4/1397 H.


Audio Kajian Salafiyah Sabtu-Ahad 08-09 Muharrom 1436 H/01-02 November 2014 M

بسم الله الرحمن الرحيم
Berikut Rekaman Kajian Salafiyah Sabtu-Ahad 08-09 Muharrom 1436 H/01-02 November 2014 M
***
1. Bumiayu
# Masjid Aisyah, Talok, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah(Sabtu, 08 Muharrom 1436 H /01 November 2014 M)
Tema : Fenomena Hizbiyah Dari Masa ke Masa
Pemateri : Al Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini
***
2. Babakan, Cirebon
# Masjid At-Tauhid, Babakan, Cirebon, Jawa Barat(Sabtu, 08 Muharrom 1436 H /01 November 2014 M)
Tema :  TIPU DAYA TERHADAP PEMBAWA ILMU
Pemateri : Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
***
3. Banyumas
# Ma’had Al Faruq, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah(Malam Ahad, 09 Muharrom 1436 H  / Sabtu01 November 2014 M)
Tema : Pelajaran Kitab Al Adyaan Wal Firoq Pertemuan ke 2
Pemateri : Al Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini
***
# Masjid Agung Nur Sulaiman, Banyumas, Jawa Tengah(Ahad, 09 Muharrom 1436 H /02 November 2014 M)
Tema : Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka
Pemateri : Al Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini
***
4. Cileungsi
# Ma’had Riyadhul Jannah, Cileungsi, Jawa Barat (Sabtu, 08 Muharrom 1436 H /01 November 2014 M)
Tema :  Saat Harus Kutaunaikan Hak Anakku
Pemateri : Al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafrudin Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Kajiaan Ummahat ~ Download Disini
***
5. Kediri
# Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq (Jl Merak KM. 15 RT 03/02 Banggle, Kec. Ngadiluwih) Kediri, Jawa Timur (Ahad, 09 Muharrom 1436 H/02 November 2014 M)
Tema  : “Inilah Jalan Yang Harus Kau Tempuh”
Pemateri : Al Ustadz Usamah Faishol Mahri, Lc Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
***
6. Yogyakarta
# Ma’had Al Manshuroh, Wates, Yogyakarta (Ahad, 09 Muharrom 1436 H/02 November 2014 M)
Tema  : “Bahaya Penyimpangan Radikalisme ISIS”
Pemateri : Al Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
***
7. Denpasar
# Masjid Al Ukhuwah, Denpasar, Bali (Jum’at – Ahad, 07-09 Muharrom 1436 H/31 Oktober – 02 November 2014 M)
Tema  : “Penyimpangan Dlm bermanhaj”
Pemateri : Al Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed Hafidzhohulloh
1. Khutbah Jum’at  ~ Download Disini
Sesi 1 Bahaya Menyepelekan Sunnah ~ Download Disini
Sesi 2 Tanya Jawab  ~ Download Disini
Sesi 1 Sebab Penyimpangan Dlm bermanhaj ~ Download Disini
Sesi 2 Sebab Penyimpangan Dlm bermanhaj ~ Download Disini
Sesi 3 Sebab Penyimpangan Dlm bermanhaj ~ Download Disini
Sesi 4 Sebab Penyimpangan Dlm bermanhaj ~ Download Disini
Tausiyah Ba’da Maghrib] Keutamaan Ilmu  ~ Download Disini
***
8. Wonogiri
Musholla Riyadhul jannah, Pulorejo RT 02/07 Nambangan, Selogiri, Wonogiri (Ahad, 09 Muharrom 1436 H/02 November 2014 M)
Tema  : “Syarh Fadhlul Islam”
Pemateri : Al Ustadz Fauzan bin Adbdul Karim Hafidzhohulloh
Tema  : “Asbabu As-Sa’aadah Al Asiroh”
Pemateri : Al Ustadz Abu Hudzaifah Hafidzhohulloh
***
9.  Kendari
Masjid Ar-Raufurrohim, Kampus Baru Unhalu Kendari (Ahad, 09 Muharrom 1436 H / 02 November 2014 M)
Tema : Keterasingan Islam dan Keutamaan Orang-orang yang Terasing didalam Islam
Pemateri : Al Ustadz Hasan bin Rasyid, Lc Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
***
10.  Balikpapan
Masjid Zaadul Maad Balikpapan
Tema : Menjaga Kemilau Cahaya Pesonah Muslimah Shalihah
Pemateri : Al Ustadz Abu Mu’awiyah Askari Hafidzhohulloh
Sabtu; 08 Muharram 1436H
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi 3 ~ Download Disini
Ahad; 09 Muharram 1436H
Sesi 4 ~ Download Disini
Sesi 5 ~ Download Disini
Sesi 6 ~ Download Disini
***
11.  Majalengka
Masjid Al Atsary Majalengka
Pemateri : Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Hafidzhohulloh
Tema: Jinayatu Attamayu ‘Ala Manhaj Salaf
Tema: Ahkamuj Janaiz


****************************************************************
Sumber Audio: Dari berbagai sumber…. Jazaahumullahu Khairaa



Audio Kajian Salafiyah Sabtu-Ahad 01-02 Muharrom 1436 H/25-26 Oktober 2014 M

Berikut Rekaman Kajian Salafiyah Indonesia Sabtu-Ahad 01-02 Muharrom 1436 H/25-26 Oktober 2014 M

1. # Masjid Al Abror, Kebokura, Sumpiuh, Banyumas(Sabtu, 01 Muharrom 1436 H / 25 Oktober 2014 M)
Tema : Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Robi’ Bin Hadi Al Madkholy
Pemateri : Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini Atau Disini
Sesi 2 ~ Download Disini Atau Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini Atau Disini

2. # Ma’had Al Faruq Kalibagor, Banyumas  (Sabtu, 01 Muharrom 1436 H / 25 Oktober 2014 M)
Tema : Pelajaran Kitab Bulughul Marom
Pemateri : Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar Hafidzhohulloh
Sesi 1 – Taushiyah “Ajakan Untuk Bersemangat Menuntut Ilmu” ~ Download Disini Atau Disini
Sesi 2 – (Ba’da Maghrib) Syarat-Syarat Jual Beli ~  Download Disini Atau Disini

3. Depok, Jawa Barat
# Mushola An-Nur, Limo Depok, Jawa Barat (Sabtu, 01 Muharrom 1436 H / 25 Oktober 2014 M)
Tema : Lamudduril Mantsur
Pemateri : Al Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed Hafidzhohulloh
Sesi 1 – Download Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini
Taushiyah Ba’da Sholat Subuh ~ Download Disini

4.  Slipi, Jakarta Barat
#  Masjid Al Mujahidin, Slipi, Jakarta (Sabtu, 01 Muharrom 1436 H / 25 Oktober 2014 M)
Tema : Lamudduril Mantsur
Tema : Kajian Kitab Kun Salafiyah ‘Alal Jaddah
Pemateri : Al Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed Hafidzhohulloh
Taushiyah Al Ustadz Abdurrohman, Cikarang ~ Download Disini Atau Disini
Sesi 1 ~ Download Disini Atau Disini
Sesi 2 ~ Download Disini Atau Disini
Sesi Tanya-Jawab ~ Download Disini Atau Disini

5.  Yogyakarta
# Ma’had Al Anshor, Sleman Yogyakarta (Sabtu, 01 Muharrom 1436 H / 25 Oktober 2014 M)
Tema : Peran Orang Tua Dalam Tarbiatul Aulad
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini atau Disini
Sesi 2 ~ Download Disini atau Disini
Sesi 3 ~ Download Disini atau Disini

# Ma’had Daarul Hadist A Manshuroh, Klegen, Wates, Kulonprogo (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Kebahagiaan Rumah Tangga
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Taushiyah Ba’da Subuh ~Download Disini Atau Download Disini
Kebahagiaan Rumah Tangga ~ Download Disini AtauDownload Disini

# Ma’had Ar-Ridho, Sewon, Bantul, Yogyakarta (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Keutamaan Shodaqah Fisabilillah
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Sesi 2 ~ Download Disini Atau Download Disini

6.  Magelang
# Masjid Kholid Bin Walid (Ma’had Minhajussunnah, Magelang)  (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Hak-Hak Istri Atas Suami
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifudin As-Sidawi Hafidzhohulloh
Hak-Hak Istri Atas Suami ~  Download Disini

7.  Jeneponto 
# Jenoponto  (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Membina Keluarga Sakinah
Pemateri : Al Ustadz Abu Mu’awiyah Askari Hafidzhohulloh
Membina Keluarga Sakinah Sesi 1 ~ Download DisiniAtau Download Disini
Membina Keluarga Sakinah Sesi 2 ~ Download DisiniAtau Download Disini

Tema : Merajut Ukhuwah Diatas Bingkai Al Qur’an Dan As Sunnah
Merajut Ukhuwah Diatas Bingkai Al Qur’an Dan As Sunnah Sesi 1 ~ Download Disini Atau Download Disini
Merajut Ukhuwah Diatas Bingkai Al Qur’an Dan As Sunnah Sesi 2 ~ Download Disini Atau Download Disini

8.  Purbalingga 
# Masjid Agung Daarussalam, Purbalingga  (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Kajian Kitab Lamudduril Mantsur
Pemateri : Al Ustadz Saiful Bahri Hafidzhohulloh
Syubhat MLM ~ Download Disini Atau Download Disini

9.  Kendari
Masjid Ar-Raufurrohim, Kampus Baru Unhalu Kendari (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Keterasingan Islam dan Keutamaan Orang-orang yang Terasing didalam Islam
Pemateri : Al Ustadz Hasan bin Rasyid, Lc Hafidzhohulloh

10. Makassar
Masjid Al’ aafiyah (masjid Medik) lt.2 FK UNHAs (Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Jalan Menuju Surga itu Satu (pertemuan ke 2)
Pemateri : Al Ustadz Abdurrohim Pangkep Hafidzhohulloh
Jalan Menuju Surga itu Satu ~ Download Disini AtauDownload Disini

11.Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Ma’had Al manshuroh, banjarbaru Kalimantan Selatan(Ahad, 02 Muharrom 1436 H / 26 Oktober 2014 M)
Tema : Kajian Kitab ‘Umdatul Ahkam
Pemateri : Al Ustadz Abdul Haq Hafidzhohulloh
Kajian Untuk Muslimah ~ Download Disini AtauDownload Disini

****************************************************************
Sumber Audio: Dari berbagai sumber…. Jazaahumullahu Khairaa

Peringatan Maulid Nabi dalam Timbangan Islam


OLEH  / RB1 9 1436 / AQIDAH
Sejarah Peringatan Hari Maulid Nabi Bulan Rabi’ul Awwal dikenang oleh kaum muslimin sebagai bulan maulid Nabi, karena pada bulan itulah, tepatnya pada hari senin tanggal 12, junjungan kita nabi besar Muhammad dilahirkan, menurut pendapat jumhur ulama. Mayoritas kaum muslimin pun beramai-ramai memperingatinya karena terdorong rasa mahabbah (kecintaan) kepada beliau , dengan suatu keyakinan bahwa ini adalah bagian dari hari raya Islam, bahkan terkategorikan sebagai amal ibadah mulia yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Lalu sejak kapankah peringatan ini diadakan?
Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. (Al Bidayah Wan Nihayah 11/172). Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar 1/490. (Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hal. 43)
Adapun Asy Syaikh Ali Mahfuzh maka beliau berkata: “Di antara pakar sejarah ada yang menilai, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi ialah para raja kerajaan Fathimiyyah di Kairo, pada abad ke-4 H. Mereka menyelenggarakan enam perayaan maulid, yaitu maulid Nabi , maulid Imam Ali radhiyallahu ‘anhu, maulid Sayyidah Fathimah Az Zahra, maulid Al Hasan dan Al Husain, dan maulid raja yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus berlangsung dengan berbagai modelnya, hingga akhirnya dilarang pada masa Raja Al Afdhal bin Amirul Juyusy. Namun kemudian dihidupkan kembali pada masa Al Hakim bin Amrullah pada tahun 524 H, setelah hampir dilupakan orang. (Al Ibda’ Fi Mazhahiril Ibtida’ , hal. 126)
Hukum Memperingati Maulid Nabi
Hari kelahiran Nabi mempunyai keutamaan di sisi Allah . Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: “Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun gajah. Peristiwa ini (yakni dihancurkannya tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah ketika hendak menyerang Ka’bah) adalah sebagai bentuk pemuliaan Allah kepada Nabi-Nya dan Baitullah Ka’bah.” (Zaadul Ma’ad: 1/74)
Lalu apakah dengan kemuliaan tersebut lantas disyari’atkan untuk memperingatinya?
Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa tolok ukur suatu kebenaran adalah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah dari kalangan sahabat Nabi . Allah berfirman (artinya): “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (yakni Al Qur’an) dan Rasul-Nya (yakni As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (An Nisaa’: 59)
Subhanallah!, ketika kita kembali kepada Al Qur’an ternyata tidak ada satu ayat pun yang memerintahkannya, demikian pula di dalam As Sunnah Rasulullah tidak pernah melakukannya atau memerintahkannya. Padahal kaum muslimin sepakat bahwa tidak ada sesuatu pun dari agama ini yang belum disampaikan oleh Nabi Muhammad . Nabi bersabda:
مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلىَ خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرُهُمْ شَرَّ ماَ يَعْلَمُهُ لَهُمْ
Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang diketahuinya.” (HR. Muslim)
Bagaimanakah dengan para sahabat Nabi , apakah mereka memperingati hari kelahiran seorang yang paling mereka cintai ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Merayakan hari kelahiran Nabi tidak pernah dilakukan oleh Salaf (yakni para sahabat), meski ada peluang dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Kalaulah perayaan maulid ini murni suatu kebaikan atau lebih besar kebaikannya, pastilah kaum Salaf orang yang lebih berhak merayakannya daripada kita. Karena kecintaan dan pengagungan mereka kepada Rasul lebih besar dari yang kita miliki, demikian pula semangat mereka dalam meraih kebaikan lebih besar daripada kita. (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim: 2/122)
Bagaimana dengan tabi’in, tabi’ut tabi’in dan Imam-Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad), apakah mereka merayakan maulid Nabi ?
Jawabnya adalah bahwa mereka sama sekali tidak pernah merayakannya.
Dan bila kita renungkan lebih dalam, ternyata peringatan Maulid Nabi ini merupakan bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang-orang Nashrani. Karena mereka biasa merayakan hari kelahiran Nabi Isa ‘alaihi sallam. Rasulullah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (H.R Ahmad)
Para pembaca yang budiman, mungkinkah suatu amalan yang tidak ada perintahnya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, tidak pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, tidak pernah pula dilakukan oleh tabi’in, tabi’ut tabi’in dan Imam-Imam yang empat (Al Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i dan Ahmad), bahkan hasil rekayasa para raja kerajaan Fathimiyyah yang dari keturunan Yahudi, dan juga mengandung unsur penyerupaan terhadap orang-orang Nashrani, tergolong sebagai amal ibadah dalam agama ini? Tentu seorang yang kritis dan berakal sehat akan mengatakan: ‘tidak mungkin’, bahkan tergolong sebagai amalan bid’ah yang sangat berbahaya.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalannya akan tertolak.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Lebih dari itu, Allah berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin (yakni sahabat Nabi), maka Aku akan palingkan ke mana mereka berpaling dan Kami masukkan mereka ke dalam Jahannam.” (An Nisaa’: 115)
Bagaimanakah, bila pada sebagian acara yang tidak ada syariatnya tersebut justru diramaikan oleh senandung syirik ala Bushiri yang ia goreskan dalam kitab Burdahnya :
“Duhai dzat yang paling mulia (Nabi Muhammad), tiada tempat berlindung bagiku dari hempasan musibah nan menggurita selain engkau.
Bila hari kiamat engkau tak berkenan mengambil tanganku sebagai bentuk kemuliaan, maka katakanlah duhai orang yang binasa.
Karena sungguh diantara bukti kedermawananmu adalah adanya dunia dan akhirat, dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfuzh dan pena pencatat takdir (ilmu tentang segala kejadian).”
Padahal, Rasulullah jauh-jauh hari telah memperingatkan umatnya dengan sabda beliau (artinya): “Janganlah kalian berlebihan didalam memuliakanku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan didalam memuliakan Isa bin Maryam, sungguh aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah (untukku): Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Al Bukhari). Demikian pula Allah telah berfirman (artinya): “Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, serta tidak (pula) aku mengatakan padamu bahwa aku adalah malaikat.” (Al An’am: 50)
Serba – Serbi
Para pembaca, ketahuilah bahwa semata-mata niat baik bukanlah timbangan segala-galanya. Lihatlah bagaimana sikap Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu terhadap sekelompok muslimin yang duduk di masjid dalam keadaan membaca takbir, tahlil, tasbih, dan berdzikir dengan cara yang belum pernah dikerjakan Rasulullah, beliau berkata:
“…celakalah kalian hai umat Nabi Muhammad! Alangkah cepatnya kehancuran menimpa kalian! Padahal para sahabat Nabi masih banyak yang hidup, pakaian beliau pun belum usang, dan bejana-bejana beliau pun belum hancur. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian merasa di atas suatu agama yang lebih benar daripada agama Muhammad atau kalian justru sebagai pembuka pintu-pintu kesesatan?” Mereka menjawab: “Wahai Abu Abdirrahman (yakni ‘kunyah’ dari Abdullah bin Mas’ud), tidaklah yang kami inginkan (niatkan) kecuali kebaikan semata? Beliau menjawab: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1/68-69).
Al Imam Asy Syafi’i berkata:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
“Barangsiapa yang menganggap baiknya suatu amalan (tanpa dalil), berarti ia telah membuat syari’at.” (Al Muhalla fi Jam’il Jawaami’ 2/395)
Demikian pula semata-mata mencintai Nabi tanpa meniti jalannya dan jalan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya yakni para sahabat, adalah kecintaan yang palsu. Dengan tegas Allah berfirman (artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku.” (Ali Imran: 31)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul terletak pada (kuatnya) ittiba’ (mengikuti jejaknya), ketaatan kepadanya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya lahir maupun batin, dan menyebarkannya serta berjihad dalam upaya tersebut baik dengan hati, tangan dan lisan.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim: 2/122)
Para pembaca, mungkin dalam hati kecil ada yang bergumam: “Tidakkah peringatan maulid Nabi ini termasuk bid’ah hasanah?”
Kita katakan bahwa Rasulullah bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena sungguh semua yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)
Beranikah seorang yang mengaku cinta kepada Rasulullah menyelisihi sabda beliau? Rasulullah nyatakan setiap bid’ah itu adalah sesat, lalu ia menyatakan bahwa ada bid’ah yang hasanah (baik)?!! Sungguh ironis seorang yang katanya cinta kepada Rasul sehingga sangat berkepentingan untuk memperingati hari kelahirannya, namun dalam mewujudkannya harus menentang Rasulullah. Apakah itu hakekat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Tentu jawabannya ‘Tidak’, karena hakekat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan ketaatan yang sempurna kepada keduanya, sebagaimana yang dikandung oleh firman Allah dalam Q.S Ali Imran:31.
Cukuplah sebagai bukti kesesatannya dan bukan hasanah, ketika Rasulullah, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka (termasuk imam yang empat), tidak melakukannya dan tidak pernah membimbing umat untuk mengerjakannya. Kalaulah ia hasanah, pasti mereka telah merayakannya dan menyumbangkan segala apa yang mereka punya untuk acara tersebut, namun ternyata mereka tidak melakukannya. Sahabat Abdullah bin Umar berkata: “Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya hasanah (baik). (Al Ushul I’tiqad Al Lika’i: 1/109)
Al Imam Malik berkata: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam agama yang dia pandang itu adalah baik, sungguh ia telah menuduh bahwa nabi Muhammad telah berkhianat terhadap risalah (yang beliau emban). Karena Allah berfirman (artinya): “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama bagi kalian, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah ridha Islam menjadi agama kalian”. Atas dasar ini, segala perkara yang pada waktu itu (yakni di masa nabi/para sahabat) bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pula perkara itu bukan termasuk agama.” (Al I’tisham: 1/49)
Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya. Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar!, karena sungguh ironis seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk kedalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau , yang ini pun sesungguhnya sudah masuk kedalam lingkup tasyabbuh dengan orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah sendiri. Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?!
Para pembaca, demikianlah apa yang bisa kami sajikan, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amiin, yaa Mujiibas Saailiin.

keutamaan sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Sahabat Rasulullah adalah Orang-orang Pilihan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)

Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendakwahkan ajaran Islam, hanya segelintir orang yang mau mengikuti ajakan beliau. Sebagian besar manusia justru menentang beliau dengan permusuhan yang demikian keras. Orang-orang yang mau menerima ajakan Nabi shollallahu alaihi wasallam itulah para shahabat. Mereka adalah umat yang memiliki keimanan yang paling tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun sayang, kini kaum muslimin banyak melupakan dan tidak mau berteladan kepada mereka. Padahal mereka adalah umat yang banyak mendapat pujian dari Allah dan Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam, karena memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya.

Di masa sekarang, shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menjadi sekelompok orang yang asing. Keberadaan mereka sebagai “perantara” agama yang dibawa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kepada umat berikutnya telah banyak dilupakan orang. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba memahami agama ini, sebagian besar tidak lagi menjadikan para shahabat sebagai rujukan. Tokoh-tokoh yang muncul belakangan atau pimpinan kelompoknya lebih mereka sukai untuk dijadikan sebagai teladan. Sementara para shahabat sebagai orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap agama malah mereka jauhi.

Kalau ada sebagian kaum muslimin teringat kepada para shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam, biasanya mereka tidak lebih menjadikan kisah hidup para shahabat itu sebagai bahan cerita untuk anak-anak. Namun bagaimana pemahaman dan pengamalan mereka terhadap agama ini, hanya sedikit kaum muslimin yang mau menggali dan mengikuti mereka.

Yang lebih ironis, ada orang-orang yang mengaku sebagai kaum muslimin namun memiliki kebencian demikian besar kepada para shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam. Mereka berani melakukan celaan terhadap seorang shahabat atau beberapa shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam, sementara di sisi lain Allah dan Rasul-Nya shollallahu alaihi justru memuji mereka.

Para shahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah orang-orang yang memiliki banyak keutamaan. Mereka adalah generasi terbaik dari umat Islam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang telah diridhai oleh Allah, dan banyak di antara mereka ketika masih hidup sudah mendapatkan kabar gembira yaitu akan dimasukkan ke dalam jannah (surga). Tidak ada keutamaan yang demikian tinggi seperti ini didapatkan oleh umat manapun, terlebih umat setelah mereka.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ketika menggambarkan tentang para shahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkata:

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, maka Allah melihat hati Muhammad n adalah sebaik-baik hati para hamba, maka dipilih untuk diri-Nya dan Dia utus membawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati-hati para hamba setelah hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam, maka Allah melihat hati-hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah jadikan mereka sebagai pendukung-pendukungnya, berperang membela agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin itu sebagai kebaikan, maka di sisi Allah adalah baik. Dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai kejelekan maka di sisi Allah adalah jelek pula.” (Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Hadits ini shahih secara mauquf, diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi, Ahmad dan lain-lainnya dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Dengan gambaran di atas, kita mengetahui bahwa para shahabat adalah orang-orang yang istimewa yang memang sengaja Allahu Ta’ala pilih untuk mendukung Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam dalam mendakwahkan Islam. Tidak hanya itu, mereka bahkan banyak berperang membela Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan membela agamanya. Tentunya Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu tidak berkata berdasar hawa nafsunya atau disebabkan sifat ta’ashub (fanatisme) karena beliau sendiri adalah seorang shahabat. Tetapi beliau menyatakan demikian karena bukti-bukti yang jelas dari ucapan Allahu Ta’ala dan Rasul-Nya n.
Allahu Ta’ala berfirman:

“Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (di antara tafsirnya adalah kekhusyukan dan tawadhu’, ed.) Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29)

Kalimat  (“dan orang-orang yang bersamanya”) di dalam ayat ini tentunya yang langsung dipahami secara teksnya adalah para shahabat, walaupun tidak menutup kemungkinan masuknya selain shahabat karena kalimat ma’ahu juga bermakna bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallamdalam agamanya. Sehingga Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyatakan bahwa ini adalah keutamaan umat Islam khususnya para shahabat Rasulullah n. (Lihat Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, juz IV, hal. 215)

Sehingga para ulama menyatakan bahwa ayat ini adalah dalil yang sangat kuat tentang keutamaan para shahabat dan sekaligus haramnya mencerca dan menjatuhkan kedudukan mereka. Al-Imam Malik t berdalil dengan firman Allah: (“Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir”) bahwa orang-orang Syi’ah Rafidhah yang membenci para shahabat adalah kafir. Ibnu Katsir berkata: “Sekelompok ulama menyepakati ucapan Al-Imam Malik tersebut.” (Lihat Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, juz IV, hal. 216)

Oleh karena itu Allahu Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa keridhaan-Nya adalah untuk orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka. Hal ini bermakna perintah untuk seluruh kaum muslimin agar mengikuti para shahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dalam menerapkan Al Qur`an dan As Sunnah.
Allahu Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Makna kalimat  “(dan orang-orang yang mengikuti mereka”) adalah orang-orang yang mengikuti generasi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar yaitu orang-orang yang datang belakangan, baik dari kalangan para shahabat (yakni yang datang setelah Fathu Makkah), maupun yang setelah mereka sampai hari kiamat.” (Fathul Qadir, juz 2 hal. 398 melalui nukilan Asy-Syaikh Abdus Salam Hasan bin Qasim dalam Irsyadul Bariyyah, hal. 25)

Allah Pisahkan Munafiqin dari Para Shahabat
Di antara syubhat kaum Syi’ah dan kaum mutasyayyi’in (kaum yang terpengaruh syubhat Syi’ah) adalah ucapan: “Shahabat Nabi itu tidak semuanya mukmin, ada pula di antara mereka yang munafiq atau fasik,” “Masalah iman itu kan masalah hati, bisa jadi pada lahirnya mereka seperti mukmin akan tetapi hatinya kafir,” atau ucapan: “Siapa tahu Abu Bakar dan Umar ternyata munafiq.” Ucapan-ucapan syubhat dan tasykik (membuat ragu) ini sering mereka ucapkan untuk meragukan kemuliaan dan keimanan para shahabat Rasulullah n, dan pada akhirnya menjatuhkan kedudukan mereka.

Sesungguhnya, jika pertanyaan mereka (kaum Syi’ah) adalah: “Siapa yang tahu hati mereka?” Maka jawabannya sangat jelas. Allahlah Yang Maha Mengetahui hati mereka, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang  beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafiq.” (Al-Ankabut: 11)

Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian Allahu Ta’ala telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa mukmin yaitu para shahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang mulia. Allahu Ta’ala berfirman:

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, hingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)…” (Ali ‘Imran: 179)

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mempermalukan musuh-musuh-Nya, dan akan diketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/468)

Juga Allahu Ta’ala mengancam orang-orang munafiq untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatanmu.” (Muhammad: 29-30)

Para Shahabat adalah Orang-orang yang Telah Lulus Ujian
Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai macam ujian, sehingga terlihat siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa yang berdusta (munafiq).

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  (saja)  berkata: ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 1-3)

Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat Nabi adalah gangguan dan penyiksaan dari kaumnya di Makkah. Sebagian mereka disiksa dengan api, sebagian lainnya diusir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.

Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Makkah sebelum hijrah adalah orang-orang yang terbukti keimanannya dan terbebas dari tuduhan munafiq, karena tidak mungkin ada seorang yang berpura-pura masuk Islam ketika itu dicaci-maki dan disiksa.

Ujian berikutnya adalah perintah hijrah yaitu meninggalkan negerinya, tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir untuk menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka Allahu Ta’ala katakan tentang mereka:

“(Juga) bagi orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hasyr: 8)
Dalam ayat ini Allah memuji para Muhajirin dengan kalimat Ash-Shadiqin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).

Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para Muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat Al-Muflihun (orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan).  Merekalah yang disebut As-Sabiqunal Awwalun yaitu Muhajirin dan Anshar, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 100 di atas.

Jihad sebagai Tolok Ukur
Ketika kaum muslimin mulai kuat dan di Madinah bertambah banyak , muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah r. Hal ini mereka lakukan agar terlindung dirinya dan hartanya, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.

Tentu saja mereka itu adalah kaum yang paling tidak suka terhadap sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah untuk berjihad, terlihatlah yang paling pertama menolak dan menghindarinya -dengan alasan yang dibuat-buat-, adalah para munafiqin. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah dengan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafiq).

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar  akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian.” (Muhammad: 31)

Tentang yang lulus pada ujian ini, Allahu Ta’ala katakan:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal: 74)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)
Dalam ayat di atas, Allahu Ta’ala kembali memuji mereka dan menggelari mereka sebagai Ash-Shadiqun yaitu orang-orang yang jujur dan benar keimanannya, bukan munafiqin.
Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allahu Ta’ala tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa peristiwa.

Setiap kali mereka berupaya untuk menghindari jihad dengan berbagai kedustaan dan sumpah palsu, Allahu Ta’ala menurunkan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allahu Ta’ala katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata munafiqin…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya…”
Sehingga Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa orang-orang munafiqin. Bahkan kaum muslimin pun mengetahuinya.
Allahu Ta’ala berfirman:

“Supaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (Ali ‘Imran: 167)

“Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kalian diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kalian; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kalian, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.” (Al-Hasyr: 11)

“(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 49)

“Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al-Ahzab: 12)

Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allahu Ta’ala juga jelaskan tentang mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti Al-Mukhallafuun yakni orang-orang yang menghindar dari jihad, “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.
Allahu Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jika mereka mengetahui.” (At-Taubah: 81)

“Orang-orang Badui yang  tertinggal  (tidak  turut  ke  Hudaibiyah)  akan mengatakan:  “Harta  dan  keluarga  kami  telah  merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami,” mereka mengucapkan dengan lidahnya  apa yang  tidak  ada  dalam  hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang  dapat  menghalang-halangi  kehendak  Allah  jika  Dia  menghendaki kemudharatan bagimu atau   jika  Dia  menghendaki  manfaat  bagimu? Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fath: 11)

“Dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Mengapa tiada diturunkan suatu surat?’ Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.” (Muhammad: 20)

Demikianlah, dengan adanya perintah jihad, terpisahlah antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang munafiq. Dan para shahabat adalah orang-orang yang telah terbukti keimanan mereka, sehingga mereka sama sekali bukan kaum munafiq. Dengan keimanan yang jujur itulah Allahu Ta’ala memberi kemuliaan yang demikian banyak kepada mereka.



Sumber: Asy Syariah Edisi 017