FAIDAH PENTING YANG TERSEMBUNYI BAGI MAYORITAS MANUSIA

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته 🌟 |[فائدة مهمة تخفي على الكثير]| ▪سؤال : 🔸ﺇﺫﺍ ﻓﺮﻍ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺴﺮﻳﺔ ﻣﻦ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺳﻮﺭﺓ بعدها ، ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﻟﻢ ﻳﺮﻛﻊ ، ﻓﻬﻞ ﻳﺴﻜﺖ ؟ 🌱 الجواب : 🔹ﻻ ﻳﺴﻜﺖ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﺇﺫﺍ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﺳﻮﺭﺓ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ← ﺑﻞ ﻳﻘﺮﺃ ﺣﺘﻰ ﻳﺮﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ◆ ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﻟﻠﺘﻴﻦ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﺸﻬﺪ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﺮﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻘﺮﺃ ﺳﻮﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﺣﺘﻰ ﻳﺮﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ 👈 ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺳﻜﻮﺕ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﺳﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺇﻣﺎﻣﻪ 📝 المصدر : [ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ (15\108)] WA KHAS Terjemahan: 🔶 FAIDAH PENTING YANG TERSEMBUNYI BAGI MAYORITAS MANUSIA🔷 ❔Pertanyaan: ❓Apabila seorang musholli (orang yang melaksanakan shalat) pada shalat sirriyyah (shalat yang tidak dikeraskan bacaannya. Seperti Shalat Dhuhur dan 'Ashr- pent) telah selesai membaca al-Fatihah dan Surat lain setelahnya, sedangkan sang imam belum ruku', apakah dia diam saja (tidak membaca apa-apa hingga imam ruku'- pent)? 💎 Jawaban: ⛔ Hendaknya makmum TIDAK DIAM jika telah selesai membaca al-Fatihah dan surat (lainnya) sebelum sang imam ruku'. 👍 Bahkan hendaknya dia MEMBACA (surat-surat lainnya-pent) hingga sang imam ruku'. 👉 Hatta walaupun dia telah berada pada dua raka'at setelah tasyahhud awal dan telah selesai dari membaca al-Fatihah, sedangkan sang imam belum ruku', hendaknya dia membaca surat yang lain hingga imam ruku'. ⚪ Sebab tidak ada diam dalam shalat kecuali dalam kondisi makmum mendengarkan bacaan imamnya 📚 Sumber: Majmu' Fatawa Ibnu 'Utsaimin (15/108) Diterjemahkan: WA Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TWIS) Situbondo 🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

LARANGAN MENGGUNAKAN SIMBOL HATI

Asy-Syaikh Bin Baaz - rahimahulloh - berkata "
"Sesungguhnya gambar tersebut merupakan SIMBOL "ISYQ" (PERCINTAAN) yang diharamkan
dan merupakan SIMBOL DEWA-DEWA YUNANI"

Peringatan ini dikeluarkan oleh Allajnah Addaa'imah wal Ifta' no. 20950.

DOSA TABARRUJ


Menyedihkan memang! Sangat menyedihkan jika menyaksikan fakta pahit ini. Kaum wanita dieksploitasi sehabis-habisnya. Kaum wanita telah diperbudak tanpa sadar. Mereka menjadi obyek pemuas nafsu haram, mode, iklan, fashion dan penikmat kemolekan. Iya, kaum wanita dipilih sebagai magnet penarik pelanggan, pembeli dan nasabah.

Na’udzu billah min dzaalik.

Apapun nama dan istilahnya, tetap saja tidak mengubah fakta. Isu gender, emansipasi, penyetaraan hak bahkan hak asasi hanyalah sampul dari sebuah kebohongan. Mereka hendak menghancurkan kaum muslimah. Mereka ingin menceburkan kaum muslimah dalam dosa yang akibatnya berkepanjangan.

Dosa tabarruj. Istilah ini sebelumnya harus dikupas terlebih dahulu. Apapun terjemahnya nanti, inilah istilah yang digunakan di dalam syari’at Islam untuk menggambarkan dosa kaum wanita dalam kesehariannya. Sebelum berbicara lebih jauh, marilah mengenal makna tabarruj.

Menurut Az Zajjaj, tabarruj artinya menampakkan perhiasan dan segala hal yang bisa memancing syahwat dan nafsu lelaki. Al Imam Ibnul Atsir di dalam karyanya An Nihayah pun kurang lebih mengartikan tabarruj demikian.

Sudah jelas bukan, Sobat Tashfiyah? Apa makna tabarruj? Pertanyaan berikutnya adalah apakah kenyataan di lapangan, kaum wanita muslimah melakukan tabarruj? Oh…na’dzu billah. Begitulah tabarruj sampai benar-benar parah kondisinya!

Kaum wanita muslimah sepertinya dipandang lumrah jika tampil berhias di depan publik. Pakaian ketat dan tipis. Semerbak mewangi tercium dari tubuhnya. Bahkan bagian tubuh yang menggoda dan mengundang perhatian lelaki juga turut diumbar. Astaghfirullah!!!

_____00000_____

                Nah, mengapa kita menyatakan tabarruj sebagai dosa? Atas dasar apakah tabarruj disebut sebagai kesalahan kaum wanita yang dilakukan dalam kesehariannya?

Untuk menilai sesuatu sebagai perbuatan dosa haruslah berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Jika terkait dengan hukuman dan sanksi dari Allah, kita tidak mempunyai celah untuk asal berbicara dan berpendapat. Sebaliknya, jika telah dinyatakan sebagai perbuatan dosa dan salah oleh Al Qur’an atau Sunnah Nabi, kita pun tidak memiliki alasan untuk menolak atau membantahnya.

Dinamakan dosa tabarruj karena mengambil kata yang disebutkan Allah dalam firman-Nya ;

وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى

“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.”[Q.S. Al-Ahzab: 33]

Janganlah bertabarruj, wahai saudariku! Sadarlah jika bertabarruj itu dilarang dan diharamkan Allah. Apakah engkau berani melanggar larangan Allah? Apakah engkau berani melawan hukum Allah? Tinggalkan semua perasaan itu! Tanggalkan kebiasaan buruk itu!

Al Imam Mujahid, seorang ahli tafsir terkemuka, menerangkan tentang bentuk tabarruj yang dilakukan di masa jahilyah. Tabarruj itu dilakukan oleh kaum wanita dengan berjalan di hadapan laki-laki untuk mencari perhatiannya. Bukankah hal ini benar-benar terjadi di zaman kita? Berapa banyak perempuan yang berjalan di keramaian dan di depan publik dengan niatan mencari perhatian?

Hampir serupa.Al Imam Qatadah, juga seorang ahli tafsir, mengatakan bahwa kaum wanita di masa jahiliyah melakukan tabarruj dalam bentuk keluar rumah lalu berjalan dengan berlenggak-lenggok dan berperilaku genit.

_____00000_____

                Ada lagi bentuk tabarruj yang lain. Seorang wanita keluar rumah menggunakan parfum dan wewangian pun masuk dalam pengertian tabarruj. Seolah ia hendak memamerkan kepada setiap orang bahwa dirinya harum, tubuhnya menarik. Amat senang dirasakannya saat memperoleh penilaian dari kaum pria tentang wangi tubuhnya. Berbagai macam aroma wangi ia pakai.

Seorang ahli tafsir masa kini, Al Imam As Sa’di menjelaskan tentang tafsir ayat di atas,” Yakni kalian jangan banyak keluar rumah dengan berdandan dan memakai wewangian seperti kebiasaan orang-orang jahiliyyah dahulu, yang mereka itu tidak memiliki ilmu dan tidak pula memiliki agama”

Laa haula walaa quwwata illa billah!

Hampir tidak ditemukan seorang wanita muslimah yang mampu mengamalkan ayat di atas. Hampir semua wanita melakukannya. Menggunakan parfum dan wewangian yang sangat harum saat ia beraktifitas di luar rumah. Dalam jarak beberapa meter, harumnya dapat tercium.

Andai saja ia tahu bahwa Rasulullah n melarang. Andai saja ia mengerti bahwa perbuatan semacam itu merupakan dosa. Andai saja ia mau berakhlak seperti akhlak muslimah yang diajarkan Islam. Andai dia patuh dan taat, pasti rahmah dan berkah Allah akan selalu tercurah untuknya.

Rasulullah n bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوْا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Wanita siapa saja yang menggunakan wewangian lalu ia melewati sekumpulan laki-laki dengan tujuan mereka mencium harumnya, maka ia terbilang pezina”

Apakah berani anda, wahai saudariku, menilai sabda Rasulullah n di atas sebagai ucapan kasar? Astaghfirullah! Apakah anda akan mengatakan bahwa Rasulullah n tidak memperhatikan hak kaum wanita?Astaghfirullah. Ingatlah bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah n .

Hadits di atas adalah hadits shahih. Ada banyak ulama yang meriwayatkannya. Seperti An Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan lainnya. Lantas, atas dasar dan dengan alasan apakah kita akan menolak hadits tersebut???

Shalat di masjid, walaupun diperbolehkan kaum muslimah untuk melakukannya, tetap dipersyaratkan untuk tidak menggunakan parfum dan wewangian. Namun, kenyataannya seperti apa? Kaum wanita yang berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat tidak memperhatikannya. Mereka berangkat dengan wangi dan parfum yang paling harum.

Duh, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Ya Allah, berikanlah petunjuk untuk saudari-saudari kami yang barangkali belum mengerti tentang hukum yang Engkau tetapkan melalui lisan Rasul-Mu. Barangkali mereka belum pernah membaca pesan Nabi-Mu kepada kaum muslimah berikut ini ;

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيْبًا

“Apabila salah seorang di antara kalian menghadiri shalat jamaah di masjid, janganlah ia memakai wewangian” .[H.R.  Muslim no 996]

Seorang ulama dari madzhab Syafi’i bernama Ibnu Daqiqil Ied menjelaskan, mengapa hal ini dilarang oleh Islam?

“Nabi  melarang para wanita keluar menuju masjid bila mereka memakai wewangian atau dupa-dupaan,  karena akan berpotensi menjadi godaan bagi lelaki dengan aroma semerbak mereka, sehingga menggerakkan hati dan syahwat lelaki. Tentunya larangan memakai wewangian bagi wanita selain menuju ke masjid lebih utama lagi .”

_____00000_____

Dari sudut dan dari segi manapun memandang, mestinya kita yakin bahwa syari’at yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya merupakan yang terbaik untuk umatnya. Sadarilah bahwa Allah lebih cinta dan lebih kasih kepada hamba dibanding kasih hamba pada dirinya sendiri.

Realisasi dari hal ini tentu akan membuat tanda tanya pada orang-orang yang berada di sekitarmu, wahai saudariku. Tidak perlu takut. Jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa Allah selalu bersamamu. Ingatlah bahwa tanggung jawabmu bukan kepada mereka. Hanya kepada Allah, engkau bertangggung jawab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kekuatan untukmu, wahai saudariku. Baarakallahu fiik

[Al Ustadz Mukhtar bin Rifai]

Perlukah Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jumat? Bolehkah Salat Isya Selepas Tengah Malam?

3 FEBRUARI 2016 BY ABU YUSUF ABDURRAHMANLEAVE A COMMENT

Pertanyaan:

1. Saat masuk masjid ketika Khutbah Jumat apakah wajib baginya untuk shalat tahiyatul masjid?

 

2. Apakah mungkin untuk mengakhirkan shalat Isya untuk dilakukan setelah tengah malam lebih sedikit, misalnya jam 2 pagi?

 

Dijawab oleh Lajnah Ad-Daimah (Komite Tetap Urusan Fatwa dan Riset Ilmiah)

Jawab:

1. Disyariatkan bagi orang yang masuk masjid untuk shalat dua rakaat tahiyatul masjid sebelum duduk -yaitu waktu masuknya-. Termasuk ketika imam sedang khutbah. Dalam hal ini secara khusus, telah datang hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, beliau mengatakan, “Seseorang datang di hari Jumat saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ‘Apakah engkau sudah shalat?’ Dia pun menjawab, ‘Belum.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, berdirilah lalu shalatlah dua rakaat.’” [H.R. Al-Bukhari]

2. Waktu shalat Isya lamanya sampai tengah malam. Dan waktu tersebut adalah waktu boleh memilih. Adapun setelah waktu ini hingga terbitnya fajar, waktu tersebut adalah waktu darurat. Tidak boleh mengakhirkan hingga pada waktu tersebut, sebagaimana tidak boleh mengakhirkan shalat Ashar hingga matahari menguning [di sore hari, ed.]. Namun, jika seseorang muslim mengundurkan shalatnya hingga waktu tersebut karena adanya alasan syar’i, sah shalatnya pada waktu darurat. Wajib baginya untuk bertobat dari pengunduran waktu shalat ini kepada Allah jika tidak ada alasan syar’i.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Baz  rahimahullah]

APLIKASI AN-NAJIYAH


Posted by AYYUB IBNU ALI on FEBRUARI 28, 2016

SUNTING

Bismillah

Untuk segenap pengguna aplikasi Radio an-najiyah kami mohon maaf atas ketidaknyamanan anda dikarenakan aplikasi yang kami hadirkan ada perubahan dari pusat website listen2Myradio.com dikarenakan yang kami gunakan jarang aktif atau karena gratisan hingga harus daftar ulang wallahu ta’ala alam

Alhamdulillah

Kini telah tersedia kembali versi terbaru dari radio an-najiyah sampit dengan fitur MP3 Juz 30 bisa didengar saat ofline (tanpa paket data) murottal dari negara al yamaniy

Untuk radio tersedia

1.Radio_An-najiyah_sampit
2.Radio_An-najiyah_bali-2

Dan untuk website

1.forumsalafiyyinsampit01.wordpress.com
2.forumsalafiyyinsampit.blogspot.com

Semoga Bermanfaat saran yang antum kemukakan demi kenyamanan Insyaa allah akan kami tampung karena tidak akan menuntut kemungkinan untuk mengadakan perubahan ke versi selanjutnya.

Untuk download silahkan klik disini

Barakallahu fiikum wa Jazaakumullahu khairon

KAJIAN PANGKALANBUN

--- --- Dikirim dari WhatsApp

Klik dibawah ini untuk mencari fatwa ulama

Fatwa Ulama

☄TAWADHU'NYA AL-IMAM ASY-SYAFI'I DAN PUJIAN DUA ALIM BESAR KEPADA BELIAU

✒ Berkata al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah:

"Aku mencintai orang-orang yang shalih walaupun aku bukan termasuk mereka
Dan aku berharap mendapatkan syafa'at dengan (mencintai) mereka

Dan aku membenci orang yang perniagaannya adalah kemaksiatan
Walaupun kami sama dalam barang perniagaan itu."

💦Maka berkata kepada beliau (yakni kepada al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah), orang yang mengetahui keutamaan pemilik keutamaan, Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hambal rahimahullah:

"Engkau mencintai orang yang shalih padahal engkau termasuk mereka
Sahabat dekat kaum tersebut (yakni orang-orang yang shalih) akan menyusul jama'ah itu

Dan engkau membenci orang yang perniagaannya adalah kemaksiatan
Semoga Allah menjauhkanmu dari barang niaga tersebut."

👍🏻Maka berkata asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali rahimahullah menjawab (syair) al-Imam Ahmad rahimahullah:

"Dan apa yang dikatakan sang Imam ( yakni Ahmad), aku memandangnya sebagai kebenaran
Dan siapakah (orang) yang seperti asy-Syafi'i dalam ilmu dan ketaatan?

Duhai sekiranya para wanita melahirkan pada suatu hari
Seperti asy-Syafi'i, di setiap waktu.

Pemberani, sangat mulia, luas ilmunya, dermawan
Hebat zuhudnya, perhiasan beliau adalah qana'ah(1)

Dan pada berbagai macam bidang ilmu beliau mendalaminya
Demikian pula dalam bidang akhlak, teladan beliau adalah al-jama'ah (para Salafush Shalih)

Wahai Rabbnya asy-Syafi'i, rahmatilah kami semua
Wahai Ilahnya segenap makhluk, karuniakanlah pada kami syafa'at-Mu."

📝Alih Bahasa: admin Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS) hafizhahullaah

🔎Muraja'ah:

1. Al-Ustadz Musa bin Hadi.
2. Al-Ustadz Abu 'Utsman Kharisman hafizhahumallaah.

✏👣Catatan kaki:

1. Qana'ah: sikap merasa cukup dengan apa yang dipunyai.

Situbondo, 19 Jumadal Ula 1437H/28 Februari 2016.
_______________________

🇸🇦

قال الإمام الشافعي رحمه الله :
أحب الصالحين و لست منهم - و أرجو أن أنال بهم شفاعة
و أكره من تجارته المعاصي - و إن كنّا سواءً في البضاعة

👈 فقال له من يعرف الفضل لأهله إمام أهل السنة أحمد بن حنبل رحمه الله:
تُحب الصّالحين و أنت منهم - رفيق القوم يلحق بالجماعة
و تكره من بضاعته المعاصي - حماك الله من تلك البضاعة

✍ فردّ الشيخ العلامة زيد بن محمد المدخلي رحمه الله على الإمام أحمد رحمه الله فقال:
و ما قال الإمام أراه حقا - و من كالشافعي علما و طاعة
و ياليت النساء يلدن يوما - كمثل الشافعي في كل ساعة
شجاع ماجد حَبر كريم - عظيم الزّهد حليته القناعة
و في شتى العلوم له إطّلاع - كذا الأخلاق، أُسوته الجماعة
و ياربّاه فارحمنا جميعا - إله الخلق و إمنحنا الشفاعة

══════ ❁✿❁ ══════
📮خدمة الإسلام الحق الدعوية📮
📬 قناتنا على التليجرام:
📍http://telegram.e/aleslam_alhak
📬 صفحتنا على الفيسبوك:
📍https://m.facebook.com/aleslam.alhak
📬 مجموعتنا على الفيسبوك:
📍https://m.facebook.com/groups/370017696514062
📬 مجموعتنا على الواتساب
أرسل كلمة "إشتراك" للرقم
📍0021623534479
══════ ❁✿❁ ════

USTADZ MENJAWAB

🇮🇩🍃🍃🇮🇩 ❓Soal no.156. Afwan, kembali prmasalahan dulu lg.

Bismillah...

Ustadz, ana mau mminta nashatnya tntang ikhwan kita yg masi bermain fb slama ini, dengan alasan berbagai macam...??

Pdhal ulama kibar n ustadz kibar sudh mnashati  n mlarang ntuk tdk masuk n apalagi main d dlm fb.

Jazaakumulloh khoiron wa baarokallohu fiikum.
🇸🇦💺 Di Jawab oleh Al Ustad Muhamad Arsad Muqim di Madinah sedang mengambil Progam LC. fak SYARIAH. Jawaban: Jika demikian keadaanya maka kita ajak dia duduk bersama beserta asatidzah setempat untuk membimbing kita dalam masalah seperti ini .
🔰Dipubliksi Oleh

🇮🇩🍃USTADZ  MENJAWAB🍃🇮🇩

HUKUM JUAL BELI KUCING


✒ Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan حفظه الله
 Pertanyaan: Apa hukum membeli kucing dan memeliharanya di rumah?
 Jawaban:  Memelihara kucing di rumah maka tidak mengapa.
Dia (kucing) termasuk binatang yang biasa hidup di tengah-tengah kalian sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam.
✔Sampai-sampai beliau pernah berwudhu dari air bekas minum seekor kucing, karena air liur kucing suci.
Dan juga dibolehkan makan dari makanan yang dimakan kucing.
☝ Ini merupakan keringanan dari syariat terkait kucing yang berada di tengah-tengah manusia.
✋ Dan bahkan walaupun kucing tersebut tidak diharapkan kehadirannya dan dia datang ke rumah dengan meloncati pagar dan mencuri makanan. Maka tidak mengapa seseorang untuk memelihara kucing.
❌ Akan tetapi, yang dilarang adalah menjual kucing, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari harga jual kucing dan harga jual anjing.
❌ Maka tidak boleh menjual kucing demikian juga anjing.
 Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/14840
✏ Alih bahasa: Syabab Forum Salafy
 Whatsapp Salafy Indonesia ||  http://forumsalafy.net/?p=11583 
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
ما حكم شراء القطط وبيعها واقتناءها في البيت
السؤال:
ما حكم شراء القطط وما حكم اقتنائها في البيت ؟
الجواب: اقتناءها في البيت لا بأس به، هي من الطوافين عليكم كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم، حتى إنها يتوضأ من سؤرها الباقي منها الذي شربت منه يتوضأ منه لأنه ريقها طاهر، ويوكل ما أكلت منه أيضا هذا تخفيف عن العباد بحكم القطط تخلطهم حتى ولو لم يرضوا تسور الجدران وتأتي غصبا عليهم، فالقطط لا بأس باقتنائه، إنما بيع القطط حرام لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن السنور: وهو الهر، وعن ثمن الكلب فهو حرام، ما تباع القطط ولا الكلاب.
_______________________
======================
 Publikasi:
 JOIN Channel Fawaid Jual Beli:
http://bitly/fawaidJualBeli
 Jumat, 17 Jumadil Awal 1437 H / 26 Februari 2016
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Al Ikhwan

المؤمن مرآةأخيه إن رأى فيه مالا يعجبه سدده وقومه وحاطه وحفظه في السروالعلانية. إن لك من خليلك نصيبا وإن لك نصيبا من ذكر من أحببت فثقوابالأ صحاب والإخوان والمجالس

"Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Apabila melihat sesuatu yang tidak ia sukai, ia pun akan meluruskan, mengarahkan, menjaga dan melindunginya saat rahasia, maupun ketika banyak orang tahu. Sungguh, engkau memiliki hak atas saudaramu. Engkau pun memiliki bagian untuk menyebutkan orang yang engkau cintai. Maka percayalah dengan sahabat, saudara, dan teman majlis."

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله Al Ikhwan, karya Ibnu Abid Dunya رحمه الله.

http://forumsalafiyyinsampit.blogspot.com

BEGINILAH SEHARUSNYA PENUNTUT ILMU

🔷🔗🔷🔗🔷🔗🔷

📃
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

——————————————————
🎓 Al 'Alamah Al Muhadits Hamad Al Anshori rahimahullohu ta'ala mengatakan:

《 Sesungguhnya ulama telah menasihatkan penuntut ilmu bila rihlah (menempuh perjalanan) untuk menuntut ilmu agar tidak mengambil ilmu dari seorang yang alim atau syaikh sampai dia mengetahui aqidahnya,

☝️ bila aqidahnya salafiyah maka diambil ilmu darinya
dan bila selain itu maka jangan (mengambil ilmu darinya). 》

             •┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈•

📚 Al Majmu' Fi Tarjamatihi (2/585)
——————————————————
قال العلامة الـمحدث حماد الأنصاري
- رحمه الله تبارك وتعالى - :

👈 إن أهل العلم ينصحون طالب العلم إذا رحل لطلب العلم أن لا يأخذ العلم عن عالم أو شيخ حتى يعرف عقيدته ،
👈 فإن كانت عقيدة سلفية أخذ عليه العلم ، وإن كان خلاف ذلك فلا " .

📜 المجموع في ترجمته ( ٥٨٥/٢ )
----------------------
✍ FIK

🌌http://bit.ly/Forum_ilmiyahKarangAnyar

🌷🌾🌷🌾🌷🌾🌷🌾🌷

SIAPA YANG TAK PANTAS DI TAULADANI

‼Ahlu Bid'ah Jatuh Dari Martabat Imamah (Tidak Akan Menjadi Imam & Panutan Dalam Agama)‼
أهل البدع ساقطون
عن رتبة الإمامة
☝"الذين يقتدي بهم الناس مِن بعدهم هم الذين كانوا يقتدون بسلفهم الصالح من قبلهم، فالذين أحدثوا في الدين ما لم يعرفه السلف الصالح لم يقتدوا بمن قبلهم فليسوا أهلاً لأن يقتدي بهم مَن بعدهم، فكل من اخترع وابتدع في الديت ما لم يعرفه السلف الصالح فهو ساقط عن رتبة الإمامة فيه." (عبدالحميد بن باديس، الآثار، ١/٤٩٦)
☝"Orang-orang yang jadi panutan dan ditauladani oleh generasi berikutnya hanyalah orang-orang yang juga bertauladan dan mengikuti pada salaf soleh, maka mereka yang mengada-ada dalam agama ini dengan kebid'ahan yang tidak dikenal oleh salafusoleh, tidaklah bertauladan pada mereka kerananya mereka tidak pantas untuk jadi tauladan bagi generasi berikutnya. Dengan demikian setiap orang yang mengada-ada dan berbuat bid'ah yang tidak dikenal oleh salafusoleh dia telah jatuh dari martabat imamah (tidak akan menjadi imam dalam agama ini)." (Abdul Hamid bin Badis, Al-Atsar, 1/496)
 (Faedah ilmiah dari al-Ustadz Usamah Mahri di WhatsApp طريق السلف)
 WhatsApp طريق السلف 
www.thoriqussalaf.com
 telegram: http://bit.ly/thoriqussalaf

JUAL BELI

▪▪▪▪
 FAWAID FIQIH
 Ustadz apa hukum nya jual beli dengan cara si A mendatangi si B untuk membelikan barang seharga 1jt. Si B menyanggupi. Akhirnya si B ke toko dan membeli barang tersebut. Sampai di rumah si B menjual barangnya ke si A dengan kredit seharga 2 juta. Mohon nasehatnya. جزاك الله خي
 Al Jawab:
✅ Bismillaah.
Jual beli dengan model seperti itu in syaa Allooh diperbolehkan dengan syarat:  
1⃣ Barang dagangannya bukan berupa emas atau perak atau yang terbuat dari keduanya. Karena jual beli barang tersebut harus kontan, berdasarkan hadits:
ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺑﻴﻊ اﻟﺬﻫﺐ ﺑﺎﻟﻮﺭﻕ ﺩينا
"Rosululloh صلى الله عليه وسلم  melarang menjual emas dengan uang kertas secara terhutang (tidak kontan)."
( Riwayat al-Bukhoriy. )
2⃣ Si B menjual barang tersebut kepada si A dalam keadaan si B telah memilikinya dengan sempurna. Dengan kata lain sudah dibeli dari sebuah toko.
Karena Nabi صلى الله عليه وسلم  melarang menjual barang yang tidak dimiliki.
لا تبع ما ليس عندك
"Janganlah engkau menjual apa saja yang tidak ada padamu (tidak engkau miliki)."
(Hadits Shohih Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai)
3⃣ Barang trsebut sudah dipindahkan dari toko ke rumah si B atau ke tempat penyimpanan si B. Karena hadits Nabi صلى الله عليه وسلم  :
ﻣﻦ اﺑﺘﺎﻉ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻓﻼ ﻳﺒﻌﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﻮﻓﻴﻪ ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ: ﻭﺃﺣﺴﺐ ﻛﻞ ﺷﻲء ﻣﺜﻠﻪ
Barangsiapa yang membeli bahan makanan maka janganlah menjualnya sampai dia memegangnya (menerimanya/mengambilnya, pent.). Ibnu Abbas mengatakan, "dan aku menganggap segala sesuatu sepertinya."
(Riwayat Muslim).
Dan dalam riwayat Ahmad:
إذا اشتريت شيئا فلا تبعه حتى تقبضه
"Jika engkau membeli sesuatu maka janganlah engkau menjualnya sampai engkau memegangnya (menerimanya/mengambilnya, pent.)."  
4⃣ Akad jual beli kredit dgn si A memiliki jangka waktu yang jelas dan harga yang jelas. Berdasar hadits:
من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم
"Siapa saja yang melakukan jual-beli suatu barang dengan berjangka waktu, hendaklah melakukannya dalam takaran yang jelas, timbangan yangg jelas, dan jangka waktu yang jelas." (Riwayat al-Bukhoriy).  
5⃣ Tidak ada denda karena keterlambatan pembayaran. Karena denda keterlambatan pembayaran hutang termasuk riba nasi'ah (riba karena perpanjangan waktu pinjam). Dalam kondisi seperti ini Alloh mengatakan:
وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ
"Dan jika (orang yang berhutang) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia lapang."
(al-Baqoroh: 280).  
Wallohu Ta'ala A'lam.
✍ Al Ustadz Muhammad Rofi حفظه اللــــــــه - Syabab Ashhabus Sunnah
✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
  Untuk fawaid lainnya bisa kunjungi website kami:
www.ittibaus-sunnah.netn
أصحاب السنة
⭐⭐
_______________________
Dirangkum ditelegram Hukum-hukum.tanya jawab dien.channel LilHuda
JOIN
http://bit.ly/1OsbDFp
_______________
#jualbeli

BERILMU SEBELUM BERUCAP

➖➖➖➖➖➖➖➖

📃 

🌷🌾🌷🌾🌷🌾🌷

✍🏻‏قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-:

"من تكلم في الدين بلا علم كان كاذباً، وإن كان لا يتعمد الكذب"

📚مجموع الفتاوى | ٤٤٩/١٠📚

********

🔰 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullohu berkata:

🌌 " Barangsiapa yang berkata pada permasalahan agama tanpa mempunyai ilmu maka dia adalah pendusta, kendati dia tidak sengaja untuk berdusta ".

📚 Majmu' Al-Fatawa 10/449

°•°•°•°•°•°•°

✍ FIK

🔷 http://bit.ly/Forum_ilmiyahKarangAnyar

🌷🌾🌷🌾🌷🌾🌷

SIAPAKAH

MENCINTAI PARA SAHABAT NABI

🌹💐

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🔖 Imam Al-Muzani Rahimahullah Menyatakan:

وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَة ِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالْفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَجَلِيْسَاهُ فِي الْجَنَّةِ وَنُثَلِّثُ بِذي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الْفَضْلِ وَالتَّقِىِّ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ ثُمَّ الْبَاقِيْنَ مِنَ الْعَشْرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَنَّةَ وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ اْلمحَبَّةِ بِقَدْرِ الّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ ثُمَّ لِ سَائِرِ أَصْحَابِهِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِي اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ

🍃 Dan dikatakan tentang Keutamaan Khalifah (Pengganti) Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam :

1⃣. Abu Bakr Radhiyallaahu Anhu adalah Manusia Terbaik dan Terpilih setelah Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam.

2⃣. Kita sebutkan di Urutan Kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khoththob Radhiyallahu Anhu. Keduanya adalah Orang Dekat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam yang Bersebelahan Kuburnya dan Teman Duduk di Surga.

3⃣. Kemudian kita sebutkan yang Ketiga adalah DzunNuuroini (Pemilik Dua Cahaya) Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

4⃣. Kemudian (Setelahnya) adalah Pemilik Kemulyaan dan Ketaqwaan Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu Anhum Ajmaiin (Semoga Allah Meridhai Mereka Berempat).

▶️ Kemudian (setelah itu) Sepuluh Orang yang Dipastikan oleh Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam Masuk Surga.                       ( Tholhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Al-Waqqosh, Said bin Zaid, Abu Ubaidah Ibnul Jarroh ).

💍 Hadits Riwayat AtTirmidzi No. 3680 Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany.

🌷 Kita Memurnikan Kecintaan Kepada Setiap di Antara Mereka dengan Kadar Kecintaan yang Ditetapkan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam sesuai Keutamaan Mereka.

⏩ Kemudian (Demikian Juga Sikap Kita) Kepada Seluruh Sahabat Beliau Setelahnya Semoga Allah Meridhai Mereka Seluruhnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

📒 Dikutip dari Buku "Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)"

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================
✍ http://telegrame/alistiqomah

AUDIO REKAMAN KAJIAN ILMIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

((🔴)) AUDIO REKAMAN

BERSAMA AL-USTADZ : MUHAMMAD UMAR AS SEWED حفظه الله

DENGAN TEMA :

SEKILAS MENGENAL KELOMPOK-KELOMPOK SESAT

DOWNLOAD DI BAWAH INI ⬇

Sesi 1

Sesi 2

Sesi 3

Sesi 4

Sesi 5

Sesi 6 tanya jawab

Semoga Bermanfaat

Barakallahu fiikum

📚 الناجية ملتقى السلفيين

※※※√√√√※※※※√√√※※※※

TATACARA SHALAT GERHANA MATAHARI & GERHANA BULAN (SHOLAT KHUSUF/KUSUF)

📇🌍☕
-----------

🚇

🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abu Muawiyah Asykari -hafizhahullah

📆 Audio Kajian Kitab Bulughul Maram halaman 401 dan 402
🅾 Durasi 55:50 ( 6,44 MB )

-------------------
Juga dijelaskan:
◾️ Panggilan/bacaan untuk menyeru sholat gerhana
◾️ Apakah ada Adzan/Iqomah dulu?
◾️ Apakah bacaannya dikeraskan/jahr atau tidak?
◾️ Perbedaan tatacaranya dibandingkan sholat lainnya
◾️ Disunnahkan memanjangkan berdiri dan ruku'nya
◾️ Pendapat Ahlussunnah tentang apakah bumi ini bulat/datar?

•••••
🌐 Link sumber:
http://bit.ly/1LF4txB

➥ #sholat_gerhana #gerhana #sholat_kusuf #sholat_khusuf #gerhana_bulan #gerhana_matahari
ـــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾  JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀  www.alfawaaid.net

Hukum Sholat Berjamaah Tanpa Adzan dan Iqomat


💭Pertanyaan:
Apakah sah sholat tanpa adzan dan iqomat?

💡Jawaban Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah:

Adzan dan iqomat adalah 2 kewajiban bagi jamaah. Jika tidak ada salah seorangpun yg menegakkannya, maka mereka berdosa semuanya.

Jika ada salah satu yg menegakkannya, misalkan ada yg adzan di suatu negeri dan orang2 mendengarkannya, maka adzan itu sdh mencukupi. Akan tetapi iqomat wajib ketika akan menegakkan sholat bagi jamaah itu. Kedua hal itu adalah kewajiban untuk sholat, bukan kewajiban di dalam sholat. Karena itu, jika mereka meninggalkan keduanya, tidak adzan dan tidak iqomat, maka mereka berdosa tapi sholatnya sah. Karena kewajiban ini adalah kewajiban di luar sholat, bukan di dalam sholat.

Terdapat perbedaan antara kewajiban untuk sholat dan kewajiban di luar sholat. Atas dasar ini, pendapat yg rajih adalah bahwa sholat berjamaah itu adalah 'kewajiban untuk sholat'. Jika seseorang meninggalkan sholat berjamaah tanpa udzur dan sholat sendirian, maka ia berdosa tapi sholatnya sah. Ada pendapat sebagian Ulama yg menyatakan bahwa orang yg meninggalkan sholat berjamaah tanpa udzur maka ia berdosa dan sholatnya tidak sah.

(Fataawa Nuurun alad Darb libni Utsaimin (1/125))

🇸🇦 Naskah Asli:

س: هل تصح الصلاة بدون أذان ولا إقامة؟

فأجاب رحمه الله تعالى: الأذان والإقامة واجبان على الجماعة إذا لم يقم بهما أحد أثموا جميعاً فإن قام بهما أحد مثل أن يكونوا في بلد يسمعون الأذان فإن الأذان الذي في البلد يكفي ولكن الإقامة تجب عند فعل الصلاة على الجماعة وهما واجبان للصلاة وليسا واجبين في الصلاة ولهذا لو تركهما هؤلاء الجماعة أي لم يؤذنوا ولم يقيموا كانوا آثمين ولكن صلاتهم صحيحة لأن هذا الواجب واجب خارج الصلاة وليس فيها وهناك فرق بين الواجب للصلاة والواجب في الصلاة ولذلك كان القول الراجح في صلاة الجماعة أنها واجبة للصلاة وأن الإنسان لو ترك الجماعة من غير عذر وصلى منفرداً فهو آثم ولكن صلاته صحيحة وذهب بعض أهل العلم إلى أن من ترك صلاة الجماعة بلا عذر فهو آثم وصلاته غير صحيحة.

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

RENUNGKAN

🌷🍃🌷🍃🌷🍃

---------------

🌴قال ابن المبارك رحمه الله :

✒لا يزال المرء عالما ما طلب العلم فإذا ظن أنه قد علم فقد جهل .

📕[المجالسة وجواهر العلم (2/186)]
-----------

♻️ Ibnul Mubarok rahimahullohu ta'ala mengatakan:

" Akan senantiasa seseorang itu alim(berilmu) selama dia masih mau menuntut ilmu, maka bila dia menyangka bahwa dirinya telah berilmu maka sungguh dia orang yang bodoh"

📚 Al Mujalasatu wa jawahirul ilmi 2/186

~•••••~~~••~~~~••

✍ FIK

🌎 http://bit.ly/Forum_ilmiyahKarangAnyar

🌷🍃🌷🍃🌷🍃

HUKUM SHOLAT GERHANA

Shalat kusuf (gerhana) disyariatkan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan mencontohkannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat kusuf:

Kebanyakan ulama berpandangan bahwa hukumnya adalah sunnahmuakaddah (yang ditekankan).Ulama yang lain berpendapat bahwa shalat kusuf hukumnya wajib.

Ini yang dikuatkan oleh asy-Syaikh al-Albanirahimahullah. Beliau menyebutkan bahwa ini juga pendapat Ibnu Khuzaimah, Abu Awanah, dan dipilih oleh asy- Syaukani rahimahullahserta Shiddiq Hasan Khan.

 

Tata Cara Shalat Gerhana

Berikut ini beberapa hal terkait dengan tata cara shalat gerhana.

Sebab shalat ini adalah terlihatnya gerhana.

Shalat ini terkait dengan terlihatnya gerhana. Oleh karena itu, apabila gerhana tidak dapat dilihat, tidak disyariatkan padanya shalat. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengaitkan shalat gerhana ini dengan “melihat”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Apabila kalian melihatnya, berdoalah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.”

Jika di suatu daerah gerhana terlihat, disyariatkan bagi penduduk tempat itu untuk melakukan shalat kusuf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahmengatakan bahwa apabila ahli hisab bersepakat tentang terjadinya gerhana, kesepakatan mereka hampir-hampir tidak akan salah. Akan tetapi, kesepakatan mereka itu tidak berkonsekuensi adanya suatu ilmu (pengetahuan) yang syar’i. Sebab, shalat kusuf dan khusuf tidak dilakukan kecuali apabila gerhana itu terlihat.

Berdasarkan hal ini, apabila terjadi gerhana namun seseorang terlambat mendapat beritanya dan waktunya telah lewat, tidak disyariatkan baginya melakukan shalat gerhana karena waktunya telah berlalu. Ini yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya, al-Mulakhkhash al-Fiqhi.

 

Panggilan untuk shalat gerhana

Tidak ada azan dan iqamah untuk shalat gerhana. Yang ada ialah panggilan, “Ash-shalatu jami’ah.”

Hal ini sebagaimana riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma yang mengatakan, “Ketika terjadi gerhana matahari (pada zaman Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam), diserukan, ‘Ash-shalatu jami’ah’.”

 

Pelaksanaan shalat gerhana

Shalat gerhana dilaksanakan dua rakaat. Perbedaannya dengan shalat yang lain, setiap rakaat shalat gerhana terdapat dua rukuk. Jadi, dua rakaat shalat gerhana memiliki empat rukuk.

Rincian cara shalatnya adalah seperti tata cara shalat biasa. Hanya saja, setelah membaca surat kemudian rukuk dan bangkit dari rukuk, membaca sami’allahu liman hamidah, rabbana walakal hamdu (sebagaimana hadits Aisyahradhiallahu ‘anha yang muttafaqun alaih), dilanjutkan membaca al-Fatihah dan surat lagi.

 Disyariatkan berdiri dan rukuk pertama lebih lama daripada yang kedua. Setelah selesai bacaan kedua, dia rukuk kembali, bangkit, membaca sami’allahu liman hamidah rabbanawalakal hamdu, dan i’tidal. Setelah itu dilanjutkan sebagaimana biasa. Demikian pula pada rakaat kedua.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pelaksanaan shalat gerhana.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelakukan shalat gerhana dengan bacaan yang panjang.

Nabi memperpanjang bacaan tersebut sampai hilang gerhana itu. Meski demikian, untuk bacaan yang panjang seperti itu, perlu memerhatikan keadaan makmum. Wallahu a’lam.

Seandainya shalat telah selesai sementara gerhana belum hilang, perbanyaklah membaca zikir, tahlil, dan zikir sejenisnya. Bisa pula diulangi kembali shalatnya, sebagaimana penjelasan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitabnya, al-Mulakhkhash al-Fiqhi.

Bacaan pada shalat gerhana dilakukan dengan suara keras (jahr) meski pada siang hari.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang melakukan shalat karena gerhana matahari. Begitu pula pada malam hari ketika terjadi gerhana bulan, bacaan shalat gerhana dilakukan dengan jahr (keras).

Shalat gerhana dilakukan secara berjamaah di masjid.

Tentu saja hal ini juga boleh dilakukan oleh jamaah wanita. Di masa para sahabat, kaum wanita mengikuti shalat gerhana.

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Barimengatakan, “Jika imam rawatib tidak datang, salah seorang yang hadir menjadi imam.”

Apabila tidak ada seorang pun yang bisa diajak berjamaah, dia diperbolehkan melakukan shalat gerhana sendirian. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitabnya, al-Mulakhkhash al-Fiqhi.

 

Shalat gerhana dilakukan kapan saja saat terjadi gerhana.

Shalat gerhana boleh dilakukan meski di akhir siang atau di akhir malam, asalkan saat itu terjadi gerhana.

 

Setelah shalat, disyariatkan berkhutbah.

Hukumnya sunnah, tidak wajib. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha, “Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya dan matahari telah terang (gerhana telah usai). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammemuji dan menyanjung Allah subhanahu wa ta’ala seraya berkata, ‘Matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah keduanya mengalami gerhana karena kematian seseorang, tidak pula karena kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana,berdoalah, bertakbirlah, shalatlah kepada Allahsubhanahu wa ta’ala, dan bersedekahlah.’

Kemudian beliau mengatakan, ‘Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala ketika seorang lakilaki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, tentukalian akan sedikit tertawa dan banyakmenangis’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat tiba-tiba beliau maju seolah-olah mengambil sesuatu, dan tiba-tiba mundur seolah-olah takut dari satu hal yang mengerikan. Sebagian sahabat bertanya tentang apa yang terjadi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Sesungguhnya aku melihat surga. Aku berusaha mengambil sekumpulan anggur. Seandainya aku dapat mengambilnya, kalian akan terus makan darinya selama dunia masih ada. Sungguh, aku juga melihat neraka. Aku tidak pernah melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan daripada yang aku lihat hari ini. Aku melihat ternyata kebanyakan penghuninya adalah para perempuan.”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya, “Apa sebabnya wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Karena mereka kufur.”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya, “Apakah kufur terhadap Allah subhanahu wa ta’ala?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Tidak, tetapi mereka kufur (tidak berterima kasih) terhadap (kebaikan) para suamimereka. Kufur terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang mereka sepanjang tahun, lantas dia melihat sesuatu yang tidak dia sukai, dia akan berkata, “Aku tidak pernah melihat pada dirimu kebaikansama sekali.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas.

Khutbah ini menyatakan batilnya apa yang diyakini oleh orang jahiliah bahwa gerhana adalah tanda kematian atau kelahiran orang yang besar. Pada saat itu, putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Orang mengira, gerhana terjadi karena sebab tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenepis anggapan jahiliah ini.

 

Gerhana adalah salah satu tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allahsubhanahu wa ta’ala hendak memberikan rasa takut dengan keduanya terhadap para hamba-Nya. Sungguh, orang yang berpikir tentang kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dalam mengatur alam ini, akan memiliki rasa takut yang besar.

Dalam sebagian riwayat disebutkan, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir terjadi kiamat. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa meski gerhana adalah peristiwa alam, seorang muslim hendaknya tidak hanya memandangnya sebagai peristiwa alam biasa yang teratur.

Seorang muslim memandang bahwa hal itu merupakan tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dan kemampuan-Nya yang mengatur matahari dan bulan, sehingga jadilah malam dan siang. Jika Allah subhanahu wa ta’alaberkehendak menjadikan semuanya sebagai waktu siang, Dia Maha mampu melakukannya. Demikian pula sebaliknya. Selain itu Allahsubhanahu wa ta’ala Maha mampu memanjangkan waktu siang dan memendekkannya, memanjangkan waktu malam dan memendekkannya.

Dengan adanya gerhana seorang muslim mesti berpikir tentang kebesaran Allah tersebut dan tumbuh dalam dirinya rasa takut apabila Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengembalikan matahari atau bulan sebagaimana mestinya.

 

Khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengisyaratkan beberapa maksiat, di antaranya perzinaan. Tampak dari sini—wallahu a’lam— bahwa gerhana berkaitan dengan peringatan Allahsubhanahu wa ta’ala atas berbagai maksiat yang terjadi. Apabila kita lihat pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selama sekian tahun di Madinah gerhana terjadi hanya satu kali.

Pada masa kita ini, kemungkinan terjadi gerhana berkali-kali. Seorang muslim hendaknya berpikir bahwa gerhana tersebut adalah peringatan agar para hamba-Nya takut kepada-Nya atas kemaksiatan yang terjadi.

Pada masa ini kemaksiatan begitu merajalela, terlebih yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya, yaitu zina. Oleh karena itu, takutlah kepada Allahsubhanahu wa ta’ala.  Allah subhanahu wa ta’alaMaha mampu mengubah aturan alam apabila Dia berkehendak.

Bisa jadi, ada yang menyatakan bahwa gerhana ini hanyalah kejadian alam. Kita katakan, betul bahwa itu adalah kejadian alam. Akan tetapi, alam ini ada Dzat yang mengatur sekehendak-Nya.

Pada kesempatan ini, pembacarahimakumullah, kita mengingatkan sebagian orang yang menganggap melihat gerhana sebagai hiburan. Kita dapati sebagian orang justru menikmati gerhana dan tidak melakukan shalat gerhana yang disyariatkan. Demikian pula mereka tidak takut, padahal inilah yang diinginkan  oleh syariat saat terjadi gerhana. Rasa takut tersebut menjadikan seseorang bertambah ketaatannya kepada Allahsubhanahu wa ta’ala. Hendaknya kaum muslimin menyadari hal ini dan kembali kepada petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenganjurkan umatnya memperbanyak amalan saleh, yaitu doa, shalat, dan sedekah saat terjadi gerhana.

 

Kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita. Hal ini disebabkan mereka tidak mensyukuri nikmat, tidak mau berterima kasih kepada suami. Ketika muncul rasa marah, seakan-akan kebaikan suami tidak pernah ada. Suara pun diangkat melebihi suara suami, atau hal lain yang merupakan sikap yang tidak dibenarkan oleh syariat. Hal ini sangat berbahaya dan menjadi sebab kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka.

 

Apabila Tertinggal Satu Rukuk

Satu rakaat dalam shalat gerhana ada dua kali rukuk. Apabila tertinggal satu rukuk, dia harus menambah satu rakaat lagi. Demikian yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Muhammad Bazmulhafizhahullah dalam kitab BughyatulMutathawwi’ fi Shalati at-Tathawwu’.

Demikian pembahasan yang bisa kami sampaikan tentang shalat gerhana. Semoga bermanfaat. Apabila ada kekurangan, kami memohon maaf sebesar-besarnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 http://asysyariah.com/tata-cara-shalat-gerhana/

SUDAH BENARKAH NIAT ANDA

📒✏📖 Sudah benarkah niatan anda dalam menghadiri majlis ilmu❓❔❓

👉🔎 Apabila engkau menghadiri sebuah majlis ilmu, maka jangan jadikan kehadiranmu itu melainkan kehadiran ORANG YANG INGIN MENAMBAH ILMU DAN PAHALA. Bukan kehadiran orang merasa cukup dengan ilmu yang ada pada dirimu untuk mencari-cari ketergelinciran yang akan engkau sebarkan atau kekeliruan yang akan engkau jelek-jelekkan. Yang demikian ini adalah perbuatan orang-orang rendahan yang tiada akan pernah beruntung dalam ilmu untuk selama-lamanya. Jika engkau menghadirinya dengan niatan yang benar tersebut, maka engkau telah mendapatkan kebaikan betapa pun keadaannya. Namun jika engkau menghadirinya bukan dengan niatan itu, maka diamnya engkau di rumah lebih nyaman bagi tubuhmu, lebih terhormat untuk akhlakmu & lebih selamat untuk agamamu.

📩📨📝 Mudawatun Nufus 92. Karya Ibnu Hazm

إصلاح النية في حضور مجالس العلم - إصلاح النية في حضور مجالس العلم

«إِذا حضرت مجْلِس علم فَلا يكن حضورك إِلا حُضُور مستزيدٍ علمًا وَأَجرًا، لا حُضُور مستغنٍ بِمَا عنْدك طَالبًا عَثْرَة تشيعها أَو غَرِيبَةً تشنِّعها، فَهَذِهِ أَفعَال الأرذال الَّذين لا يفلحون فِي الْعلم أبدًا، فَإِذا حضرتها على هَذِه النِّيَّة فقد حصَّلت خيرًا على كلِّ حَالٍ، وَإِن لم تحضرها على هَذِه النِّيَّة فجلوسك فِي مَنْزِلك أروح لبدنك وَأكْرم لخُلُقك وَأسلم لدينك».

[«مداواة النفوس» لابن حزم (٩٢)]

💡Ustadz Abu Hafiy Abdulloh

🌏 KITASATU
🗓 14 Jumail Ulaa 1437H

📥 Join Channel Telegram kami di:
http://bit.ly/KajianIslamTemanggung

MEWASPADAI (KESESATAN) SUFI SERTA KETERKAITANNYA DENGAN JAMAAH TABLIGH & IKHWANUL MUSLIMIN

📌MEWASPADAI (KESESATAN) SUFI SERTA KETERKAITANNYA DENGAN JAMAAH TABLIGH & IKHWANUL MUSLIMIN📌



Sufi, selama ini banyak dipahami sebagai gambaran kesederhanaan, kezuhudan ataupun kehidupan yang nyaris tak tersentuh ‘peradaban’. Menilik sejarahnya, nama sufi sebenarnya nisbat dari sekelompok manusia yang beribadah secara berlebihan, dengan berbagai tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

🔥Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

Tasawuf (تَصَوُّف) diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Penganutnya disebut Shufi (صُوْفِيٌّ) (selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red), dan jamaknya adalah Sufiyyah (صُوْفِيَّةٌ).

Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/صُوْفٌ).

Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (صُوْفٌ). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (صُفِّيٌ). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi (صَفِّيٌ).

Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah karena nisbatnya adalah Shafawi (صَفَوِيٌّ). Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi ini, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwa telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jamirahimahullah berkata: “Demikianlah munculnya jahiliyyah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 5)

🔥Siapakah Peletak Tasawuf?

Ibnu ‘Ajibah, seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwa peletak Tasawuf adalah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut Ibnu ‘Ajibah, mendapatkannya dari Allah subhanahu wa ta’alamelalui wahyu dan ilham.

Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang hal ini dengan sekian banyak bumbu keanehan dan kedustaan, yaitu: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ilmu syariat. Ketika ilmu itu telah mantap, turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khusus saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal. 5 dinukil dari At-Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 8)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kedustaan, ia menuduh bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya:

يَٰأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ

“Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah: 67)

Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah).

Benar-benar ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah rahimahullah. Ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: ‘Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu?’

Maka ‘Ali pun marah lalu mengatakan: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia! Hanya saja beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara.’

Abu Thufail rahimahullah berkata: ‘Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin?’

Beliau menjawab: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘(Artinya) Allah melaknat seseorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah’.” (At-Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8)

🔥Hakikat Tasawuf

Dari bahasan di atas, jelaslah bahwa Tasawuf bukan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan pula ilmu warisan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Lalu dari manakah ajaran Tasawuf ini?

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah subhanahu wa ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.” (At-Tashawwuf Al-Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28)

Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala di dalam memerangi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tasawuf, hal. 19)

Keterangan para ulama di atas menunjukkan bahwa ajaran Tasawuf bukan dari Islam. Bahkan ajaran ini merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran sesat yang berusaha disusupkan ke tengah-tengah umat untuk menjauhkan mereka dari agama Islam yang benar.

🔥Kesesatan-Kesesatan Ajaran Tasawuf

Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah:

Wihdatul Wujud, yakni keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dapat masuk ke dalam makhluk-Nya.
Al-Hallaj, seorang dedengkot sufi, berkata: “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang (yang sedang) makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al-Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600)

Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata: “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601)

Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُوْرَةِ شَابٍ

“Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.” (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615)

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي

“Berkatalah Musa: ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…”[1] (Al-A’raf: 143)

💥Seorang yang menyetubuhi istrinya, tidak lain ia menyetubuhi Allah subhanahu wa ta’ala.
Ibnu ‘Arabi berkata: “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).[2]

Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini?

Keyakinan kafir bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah makhluk dan makhluk adalah Allah subhanahu wa ta’ala, masing-masing saling menyembah kepada yang lainnya.
Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).[3]

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93)

💥Keyakinan bahwa tidak ada perbedaan di antara agama-agama yang ada.
Ibnu ‘Arabi berkata: “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).[4]

Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.”[5]

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

💥Bolehnya menolak hadits yang jelas-jelas shahih.
Ibnu ‘Arabi berkata: “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin). Ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung: “Apakah engkau mengatakannya?”

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari seraya berkata: “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.”

Maka diketahui dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkan berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al-Futuhat Al-Makkiyah).[6]

💥Pembagian ilmu menjadi syariat dan hakikat.
Di mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩

yang mana mereka terjemahkan dengan: “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwa perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401)

Beliau juga berkata: “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian’, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya: ‘Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”

Beliau melanjutkan: “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418)

💥Keyakinan bahwa ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu bukan karena takut dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala (an-naar/neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah subhanahu wa ta’ala.
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ١٣١

“Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (‘Ali Imran: 131)

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (‘Ali Imran: 133)

💥 Dzikirnya orang-orang awam adalah Laa ilaha illallah, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah الله Allah”, هُوَ huwa (dibaca: huu)”, dan آه aah” saja.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الذِّكْرَ لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللهُ

“Sebaik-baik dzikir adalah Laa ilaha illallah.” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 1104).[7]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Barangsiapa beranggapan bahwa Laa ilaha illallah adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah هُو/Huwa, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-’Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13)

💥Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.
Allah subhanahu wa ta’ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

💥Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nur/cahaya-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ
“Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).

إِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰئِكَةِ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن طِينٖ ٧١
“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71)

💥Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Demikianlah beberapa dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut.

🔥Keterkaitan Antara Sufi dengan Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin

Keterkaitan antara Sufi dengan kelompok Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin sangatlah erat karena pendiri kedua kelompok ini adalah seorang Sufi.

Jamaah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi seorang Sufi dari tarekat Jisytiyyah. Dan seiring bergulirnya waktu, Jamaah Tabligh kemudian berbai’at di atas empat tarekat Sufi: Jisytiyyah, Qadiriyyah, Sahruwardiyyah, dan Naqsyabandiyyah. (Lihat kitab Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, karya Asy-Syaikh Hasan Janahi, hal. 2, 12.)

Adapun Ikhwanul Muslimin, pendirinya adalahHasan Al-Banna, seorang Sufi dari tarekat Hashafiyyah, sebagaimana yang ia katakan sendiri: “…Di Damanhur aku bergaul dengan kawan-kawan dari tarekat Hashafiyyah dan setiap malam aku selalu mengikuti acara hadhrah yang diadakan di Masjid At-Taubah…”

Ia juga berkata: “Terkadang kami berziarah ke daerah Azbah Nawam, karena di sana terdapat makam Asy-Syaikh Sayyid Sanjar, salah seorang dari tokoh tarekat Hashafiyyah.” (Mudzakkiratud Da’wah Wad Da’iyah, hal. 19, 23, dinukil dari kitab Fitnatut Takfir Wal Hakimiyah, karya Muhammad bin Abdullah Al-Husain, hal. 63-64)

Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Maksudnya di dunia ini, adapun di akhirat maka kaum mukminin akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala, menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ salaf. (ed)

[2] Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.

[3] Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.

[4] Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25.

[5] Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25.

[6] Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 23

[7] Lihat kitab Fiqhul Ad‘iyati Wal Adzkar, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 173.

Sumber: http://asysyariah.com/mewaspadai-sufi/