Harta Warisan Otomatis Hak Ahli Waris, Setelah Dimiliki Silahkan Jika Ingin Dihibahkan

background sumber: https://cdns.klimg.com/dream.co.id/resize...

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

لو قال أحد الورثة: أنا غني لا أريد إرثي من فلان، قلنا له: إرثك ثابت شئت أم أبيت ولا يمكن أن تنفك عنه، ولكن إن أردت أن تتنازل عنه لأحد الورثة أو لغيرهم، فهذا إليك بعد أن دخل ملكك

Kalau seandainya salah satu ahli waris berkata: Aku sudah kaya. Aku tidak mau menerima warisan dari fulan. Kita katakan: engkau berhak mendapatkan bagian warisan itu, baik engkau mau ataupun tidak. (Hak itu) melekat pada dirimu. Namun, jika engkau mau mengalah untuk memberikan kepada salah satu ahli waris atau yang lain, itu hakmu, setelah harta waris itu masuk (terlebih dahulu) ke kepemilikanmu (asy-Syarhul Mumti’ alaa Zaadil Mustaqni’ Kitabuz Zakaat Bab Zakaatil Uruudl (6/142))

Sumber:
WA al I'tishom

Sikap Ghuluw Terhadap Kuburan


Audio Kajian Kitab Fathul Majid

Bab 20 Pertemuan 1

Tema : SIKAP GHULUW TERHADAP KUBURAN

Bersama Al-Ustadz Muhammad Bin Umar As Sewed حَفِظَهُ اللهُ
di Masjid Umar Ibnul Khotthob [ Jl. Truntum No 1, Krapyak - Pekalongan ]
Pada hari Jum'at, 10 Shafar 1440 / 19 Oktober 2018
Audio rekaman versi 32Kbps silahkan download di http://bit.ly/FathulMajid10021440http://bit.ly/FathulMajid10021440http://bit.ly/FathulMajid10021440
Audio sebelumnya bisa didownload di https://radiomasjidumar.com/kitab-fathul-majid/
WhatsApp Salafy Pekalongan 
Channel telegram :
@salafy_pekalongan
@radiomasjidumar
Website :
www.salafypekalongan.com
www.radiomasjidumar.com
...

Apa Arti Tauhid

Apa Arti Tauhid?

Apa arti Tauhid? Sebuah pertanyaan besar yang bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik ketika dia berusaha menerapkan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan baik dan benar. Tentunya hal ini harus dilakukan dengan dua syarat: ikhlas untuk Allah dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
1. Apa Arti Tauhid
2. Contoh Tauhid dalam Perbuatan Allah
3. Contoh Tauhid dalam Perbuatan Hamba
4. Contoh Tauhid dalam Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Kesimpulan Pembahasan “Apa Arti Tauhid?”

1.       Tauhid Secara Bahasa.
Asal kata tauhid dalam bahasa arab adalah bentuk masdar dari fi’il (kata tugas) wahhada-yuwahhidu-tauhiidan: وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا (dengan huruf ha di tasydid). Arti tauhid dalam secara bahasa adalah: وَحَّدَ الشَيْءَ إِذَا جَعَلَهُ وَاحِدًا “menjadikan sesuatu menjadi satu saja.”

2.       Tauhid Secara Istilah.
Adapun secara istilah, arti tauhid adalah mengesakan Allah dalam sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik dalam perbuatan Allah, perbuatan hamba (berupa peribadatan) serta dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah, bersamaan dengan menafikan semua kekhususan tersebut dari selain Allah.

Hal ini terkandung dalam kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaha illallahu).
sumber : https://islamhariini.com/apa-arti-tauhid/

Penafian: Menafikan hak penyembahan dari selain Allah, apapun bentuknya.
Penetapan: Menetapkan hak penyembahan hanya kepada Allah saja.

Contoh Tauhid dalam Perbuatan Allah

Contoh tauhid dalam perbuatan Allah Ta’ala adalah menyakini bahwa Allah Maha Esa dalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya.

Meyakini bahwa HANYA Allah lah Dzat yang satu-satunya menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat.

Juga meyakini bahwa Allah mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.

Meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini.

Allah Ta’ala berfirman:
 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4).

Contoh Tauhid dalam Perbuatan Hamba

Contoh tauhid dalam perbuatan hamba adalah menjadikan HANYA Allah lah satu-satunya tujuan dalam segala jenis ibadah seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baik dalam Al Qur’an maupun Hadits.

Tidak boleh memberikan ataupun membagi peribadatan SEDIKITPUN kepada selain Allah. Dengan kata lain tidak boleh beribadah kepada Allah bersamaan dengan beribadah kepada selain Allah Ta’ala, karena semua jenis ibadah hanyalah HAK Allah semata.

Allah ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوااللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An Nisa: 36).

Contoh Tauhid dalam Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Tauhid dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah diterapkan dengan meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an dan telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan dalam hadits-haditsnya.

Wajib meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al A’raf: 180).
 وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ
“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (An Nahl: 60).

Wajib meyakininya sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyelewengkannya sedikitpun apalagi menolaknya.

Contoh penerapan dalam hal ini adalah kaidah dasar yang telah diletakkan oleh Al Imam Asy Syafi’i ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu sebagai berikut:
“Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah.
Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah”.
Kesimpulan Pembahasan “Apa Arti Tauhid?”

Sehingga, arti tauhid (Arab: التوحيد) adalah konsep dalam aqidah Islam yang meyakini keesaan Allah baik dalam perbuatan Allah (seperti: Pencipta, Pemberi Rizki, dll), perbuatan makhluk (dalam semua jenis ibadah) serta dalam Penamaan dan Pensifatan Allah (seperti: Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui), yang semua hal tersebut merupakan kekhususan bagi-Nya yang tidak boleh menjadikan sekutu bagi-Nya dalam perkara ini.

Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan melalui Al Qur’an dan Hadits dengan penerapan yang benar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Jika Anda ingin jawaban yang lebih lengkap dari pertanyaan Apa Arti Tauhid? dengan dalil-dalil yang rinci dapat dibaca pada pembahasan: ilmu tauhid. Barakallahu fiikum.



Sumber: https://islamhariini.com/apa-arti-tauhid/ | Website Islam Hari Ini

KHIANAT DAN MELANGGAR PERJANJIAN TERMASUK KERUSAKAN YANG PALING BURUK DI MUKA BUMI

💥❌⛔🔥 KHIANAT DAN MELANGGAR PERJANJIAN TERMASUK KERUSAKAN YANG PALING BURUK DI MUKA BUMI

✍🏻 Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhaly hafizhahullah

Termasuk keistimewaan Islam yang terbesar adalah menepati perjanjian, walaupun kepada orang-orang kafir. Dan termasuk sifat mulia orang-orang yang beriman adalah tidak berkhianat dan tidak melanggar perjanjian.

Telah terjadi sebuah kisah pada al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu anhu yang menemani beberapa orang musyrik ketika mereka masih dalam kesyirikan dalam sebuah safar menuju Mesir untuk keperluan dagang. Mereka pun berhasil mendapatkan keuntungan. Pada suatu malam mereka bermalam di sebuah tempat, tiba-tiba dia menyerang mereka dan membunuh mereka serta merampas harta mereka.

Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi was sallam untuk masuk Islam dan menyerahkan harta yang dia rampas tersebut kepada beliau dan dia menceritakan kisah tadi kepada beliau, maka beliau bersabda:

ﺃﻣَّﺎ ﺍﻹﺳْﻼﻡُ ﻓَﻘَﺪْ ﻗَﺒِﻠْﻨﺎﻩُ، ﻭﺃﻣَّﺎ ﺍﻟﻤَﺎﻝُ ﻓﺈﻧَّﻪ ﻣَﺎﻝُ ﻏَﺪْﺭٍ ﻻ ﺣﺎﺟَﺔَ ﻟﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ.

"Adapun Islam maka telah kami terima, sedangkan harta ini maka ini sesungguhnya adalah harta dari pengkhianatan, maka kami tidak membutuhkannya."

(HR. Al-Bukhary no. 2731)

Karena harta tersebut berasal dari hasil pengkhianatan, sementara Islam tidak memperbolehkan melanggar perjanjian dalam keadaan apapun.

Kisah yang lain adalah ketika terjadi perjanjian antara Romawi dan kaum muslimin, ketika perjanjian tersebut telah mendekati masa berakhir, maka Muawiyah radhiyallahu anhu bergerak bersama pasukannya seraya berkata, "Jika waktu yang telah ditetapkan berakhir, maka kita akan menyerang musuh."

Maka salah seorang yang telah tua (Amr bin Abasah -pent) menunggangi kudanya sambil berteriak, "Allahu akbar, penuhi janji dan jangan mengkhianatinya, Allahu akbar, penuhi janji dan jangan mengkhianatinya!"

Maka Muawiyah bertanya kepadanya, lalu dia menjawab, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋَﻬْﺪٍ ﻓَﻼَ ﻳَﺤُﻠَّﻦَّ ﻋُﻘَﺪَﻩُ ﻭَﻻَ ﻳَﺸُﺪُّﻫَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﻘَﻀِﻰَ ﺃَﻣَﺪُﻫَﺎ ﺃَﻭْ ﻳَﻨْﺒِﺬَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻮَﺍﺀٍ‏»

"Barangsiapa terikat perjanjian dengan suatu kaum, maka jangan sekali-kali dia melepaskan tali ikatannya dan jangan pula memperkuatnya sampai berakhir masanya atau mengembalikan perjanjian tersebut kepada mereka."

(HR. Ahmad no. 17015, Abu Dawud no. 2759, at-Tirmidzy no. 1580, dan beliau berkata, "Hasan shahih." Dan al-Albany menilainya shahih dalam ash-Shahihah no. 2357)

Jadi melanggar perjanjian dan berkhianat tidak boleh dilakukan terhadap orang-orang kafir maupun kepada selain mereka. Dan tindakan perusakan dan penghancuran ketika melanggar perjanjian tidak boleh, karena bisa menyebabkan terbunuhnya para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang tidak bersalah. Lagi pula hal itu tidak bisa menghabisi musuh, bahkan justru membuat musuh senang karena bisa digunakan sebagai senjata untuk melemparkan gambaran yang buruk terhadap Islam dan kaum muslimin, dan juga bisa dimanfaatkan oleh media massa untuk melawan Islam, sehingga mereka bisa memberikan gambaran Islam yang lebih hitam dibandingkan gambaran agama-agama yang rusak. Dan ini semua adalah buah yang akan diperoleh oleh mereka untuk menyerang Islam dan kaum muslimin.

Jadi wajib atas kaum muslimin untuk menjadi contoh bagi kejujuran, akhlak-akhlak yang mulia, menepati perjanjian, amanah, serta menjauhi lawan dari semua sifat-sifat ini berupa melanggar perjanjian, berkhianat, berdusta, dan senang menumpahkan darah, yang mana ini semua tidak bermanfaat bagi Islam, bahkan justru merugikannya.

Dalam Islam terdapat jihad yang mulia dan jihad yang bersih yang diumumkan secara terang-terangan terhadap selain kaum muslimin. Dan sebelum itu diumumkan dakwah atau ajakan untuk masuk Islam disertai penjelasan dan penerangan. Jika mereka mau masuk Islam maka inilah yang diharapkan, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

ﻟَﺄَﻥْ ﻳَﻬْﺪِﻱَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻚَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻚَ ﺣُﻤْﺮُ ﺍﻟﻨَّﻌَﻢِ.

"Sungguh, Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui dirimu, itu lebih baik dibandingkan onta merah (harta yang paling berharga bagi orang Arab di masa itu -pent)."

(HR. Al-Bukhary no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu anhu)

Jadi jika mereka mau masuk Islam maka inilah yang diinginkan, karena sesungguhnya tujuan dari diutusnya para rasul adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya.

Tujuan jihad adalah untuk meninggikan kalimat Allah dan menunjuki manusia serta mengeluarkan mereka dari bingkai kekafiran menuju bingkai Islam. Dan ini merupakan perkara yang besar, jadi jika sebuah umat mendapatkan hidayah melalui seseorang atau sekelompok orang, betapa banyak pahala yang diraih dan betapa tingginya kedudukan dia di sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala.

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ.

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu diantara kalian dengan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Dan Allah juga akan meninggikan derajat orang-orang yang berjihad.

ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪِﻳﻦَ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﺎﻋِﺪِﻳﻦَ ﺩَﺭَﺟَﺔً ﻭَﻛُﻠّﺎً ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ﻭَﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪِﻳﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﺎﻋِﺪِﻳﻦَ ﺃَﺟْﺮﺍً ﻋَﻈِﻴﻤﺎً.

"Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang tidak berjihad dengan satu derajat, dan masing-masing Allah berikan janji yang baik, dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tidak berjihad dengan pahala yang besar." (QS. An-Nisa': 95)

Tetapi yang dimaksud tersebut adalah jihad yang mulia, bukan jihad dengan cara melanggar perjanjian, berkhianat, dan melakukan hal-hal yang rendah, karena yang semacam ini hanya akan menimpakan kerugian dan keburukan terhadap Islam.

📼 Kaset "Fatawal Ulama fil Ightiyalat wat Tafjirat wal Amaliyatil Intihariyyah"

📚 Sumber || http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=162003

🌎 Kunjungi || http://forumsalafy.net/khianat-dan-melanggar-perjanjian-termasuk-kerusakan-yang-paling-buruk-di-muka-bumi/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

TIDAK MENGERASKAN SUARA SAAT MENGIRINGI JENAZAH

💐📝TIDAK MENGERASKAN SUARA SAAT MENGIRINGI JENAZAH

عَنْ قَيْسِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ

Dari Qois bin Abbad beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membenci mengangkat suara pada saat (mengiringi) jenazah, ketika berperang, dan ketika berdzikir (riwayat al-Baihaqy dalam as-Sunanul Kubro, Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa para perawinya terpercaya dalam Ahkaamul Janaaiz)

al-Imam anNawawy rahimahullah –seorang Ulama’ Syafiiyyah- menyatakan:

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم : السكوت في حال السير مع الجنازة ، فلا يرفع صوتا بقراءة ، ولا ذكر ، ولا غير ذلك ، والحكمة فيه ظاهرة ، وهي أنه أسكن لخاطره ، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال ، فهذا هو الحق ، ولا تغترن بكثرة من يخالفه

 “Ketahuilah bahwasanya yang benar dan pendapat terpilih dari perbuatan para Ulama’ Salaf radhiyallahu anhum adalah diam ketika berjalan mengiringi jenazah. Tidak mengangkat suara dengan bacaan atau dzikir, atau ucapan lain. Hikmahnya jelas. Yang demikian lebih menenangkan hati, mengumpulkan pikiran terkait jenazah (mengingat kematian, pent). Itulah yang diharapkan dalam kondisi semacam itu. Inilah yang benar. Janganlah terperdaya dengan banyaknya orang yang menyelisihinya (al-Adzkaar karya anNawawy (1/160))

(dinukil dari buku "Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah (Syarh Kitabul Janaiz min Bulughil Maram", Abu Utsman Kharisman)

MENDOAKAN AMPUNAN BAGI KEDUA ORANGTUA DI DALAM SHOLAT

Mendoakan ampunan bagi kedua orangtua

MENDOAKAN AMPUNAN BAGI KEDUA ORANGTUA DI DALAM SHOLAT

Urwah bin az-Zubair rahimahullah adalah seorang Tabi’i, murid dari sekian banyak Sahabat Nabi. Banyak mengambil ilmu dari bibinya, Aisyah (istri Nabi) radhiyallaahu anha. Beliau adalah salah satu dari 7 Ahli Fiqh Madinah di masanya, yang selalu diajak musyawarah oleh Khalifah Umar bin Abdil Aziz.

Di dalam sholat, beliau tidak melupakan doa untuk kedua orangtuanya, yaitu az-Zubair bin al-Awwam (sang ayah) dan Asma’ bintu Abi Bakr, ibu beliau.

Di dalam sujud, Urwah bin az-Zubair membaca doa:

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، وَلِأَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْر

Ya Allah, ampunilah az-Zubair bin al-Awwaam dan Asmaa’ bintu Abi Bakr (riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya serta al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman, dinukil oleh Ibnul Mundzir dalam al-Awsath)

Demikianlah semestinya, di dalam sujud, setelah membaca bacaan yang disunnahkan di dalam sujud, kita bisa memperbanyak doa, di antaranya doa ampunan untuk kedua orangtua kita. Boleh dengan menyebut nama, atau tanpa menyebut nama, seperti dengan menyatakan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Wahai Rabbku, ampunilah aku dan orangtuaku

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“ Paling dekatnya seorang hamba kepada Allah adalah pada waktu dia sujud, maka perbanyaklah doa (pada saat itu) “(H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Wallaahu A’lam

(Abu Utsman Kharisman)


WA al I'tishom

DUA JENIS KEHARAMAN

🚫 *Dua Jenis Keharaman*

🎙Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"... sesungguhnya perkara-perkara yang diharamkan ada dua jenisnya:

⭕Diharamkan karena sifatnya.

⭕Diharamkan karena usaha (untuk mendapatkan)nya.

👉🏻Maka apa yang diharamkan karena cara mendapatkannya semisal perbuatan zalim, riba, dan perjudian.

1⃣ Adapun yang diharamkan karena sifatnya seperti bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih untuk selain Allah.

👉🏻Jenis pertama ini lebih sangat keharamannya. Dan bersikap wara' terhadapnya sudah masyhur.

Oleh karenanya para salaf dahulu mewaspadai dalam hal makanan dan pakaian dari syubhat-syubhat yang muncul dari penghasilan-penghasilan yang jelek.

2⃣ Sedangkan jenis kedua tidak lain diharamkan karena terdapat sifat jelek yang terkandung di dalamnya."

📖 *Al-Fataawa al-Kubraa, Ibnu Taimiyah, hal.15.*


✔️ Minhaajussalaf || Mengamalkan Islam Di Atas Manhaj Salaf
https://t.me/joinchat/AAAAAETpggfZv9PbbPzFPA

FATWA SEPUTAR _AL QADZAF_ DAN HUKUMNYA

📖📜 *FATWA SEPUTAR _AL QADZAF_ DAN HUKUMNYA*📜📖

❓❔Pertanyaan :
Apa yang dimaksud dengan _Al Qadzaf_ dan apa hukumnya?

📖 Jawaban :
👉🏼 _Al Qadzaf_ yaitu *menuduh seseorang berbuat zina atau homoseks, demikianlah yang dimaksud dengan Al Qadzaf.*

⚖ Hukumnya adalah haram dan termasuk dosa besar.
Menuduh seseorang berbuat zina atau homoseks termasuk dosa besar, karena Allah telah berfirman :

*{إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ.*
*يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .*
*يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ}* 
[سورة النور: الآيات 23، 25]

_"Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, beriman yang tidak terlintas dalam hati-hati mereka untuk berbuat zina, mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar._
_Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan._
_Pada hari itu, Allah akan menyempurnakan balasan yang setimpal bagi mereka, dan mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang Maha Benar, lagi Maha Menjelaskan."_ *(Q.S Nuur :23-25)*

🌍 Itu balasan baginya di akhirat, adapun balasannya di dunia ada beberapa macam, yaitu :

🏷 *Pertama* : _Ditegakkan hukum had atasnya_ yaitu dicambuk dengan 80 kali cambukan, jika ia tidak bisa menghadirkan 4 orang saksi yang mereka semua menyaksikan terhadap perbuatan yang dituduhkannya tersebut, berdasarkan firman Allah -Ta'ala- :

*{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً‏}* [سورة النور: آية 4].

_"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak bisa mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) dengan delapan puluh kali cambukan."_ *(Q.S An Nur : 4)*

🏷 *Kedua* : _Gugur sifat keadilannya -sehingga tidak diterima persaksiannya-_, berdasarkan firman Allah -Ta'ala- :

*{وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً‏}* [سورة النور: آية 4]

_"Janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya."_ *(Q.S An Nur : 4)*

🏷 *Ketiga* : _Disifati dengan fasik_, berdasarkan firman Allah -Ta'ala- :

*{وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ}*[سورة النور: الآيتين 4- 5].

_"Mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."_ *(Q.S An Nur : 4-5)*

📜 _Kesimpulannya_ : *Bahwa _Al Qadzaf_ menuduh seseorang dengan kejahatan zina dan homoseks termasuk dosa besar, wajib bagi setiap muslim untuk membersihkan lisannya dari tuduhan seperti itu dan memuliakan kehormatan kaum muslimin serta tidak berbuat ghibah dengan memperbincangkannya.*

✍🏻📘 _*Samahatus Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan -hafidzahullah ta'ala-*_
🕋 *Anggota Hai'ah Kibarul Ulama*
_______________________
Teks Arab :

السؤال:
ما هو القذف وما حكمه؟

الإجابة:
القذف هو الرمي بفاحشة الزنا واللواط هذا هو القذف،
وحكمه هو محرم وكبيرة من كبائر الذنوب
ورمي الإنسان بالزنا أو اللواط كبيرة من كبائر الذنوب
فالله يقول:
{إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ . يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ
وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ} [سورة النور: الآيات 23، 25]،
هذا جزاؤه في الآخرة، أما جزاؤه في الدنيا
فهو عدة أمور:
الأول:
يقام عليه الحد بأن يجلد ثمانين جلدة إذا لم يأت بأربعة شهود يشهدون على ما نطق به, لقوله تعالى:
{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً‏} [سورة النور: آية 4].
الثاني:
سقوط عدالته لقوله تعالى:
{وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً‏} [سورة النور: آية 4].
الثالث:
وصفه بالفسق لقوله تعالى:
{وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا
فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ} [سورة النور: الآيتين 4- 5].
والحاصل
أن القذف بجريمة الزنا أو اللواط كبيرة من كبائر الذنوب
يجب على المسلم أن يطهر لسانه منه، وأن يحترم أعراض المسلمين، ولا يخوض فيها‏.

سماحة الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله 
عضو هيئة كبار العلماء  .

https://t.me/kibarolama/3395

➖➖➖
🌐https://www.salafycirebon.com/fatwa-seputar-al-qadzaf-dan-hukumnya.htm

🌎 *WhatsApp Salafy Cirebon*
⏯ *Channel Telegram* || https://t.me/salafy_cirebon

📳 *_Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah_*


◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻

BATASAN AURAT WANITA DI HADAPAN MAHRAM

💐📝BATASAN AURAT WANITA DI HADAPAN MAHRAM

❓Pertanyaan:

Apakah batasan aurat seorang wanita di hadapan para mahramnya? Apakah itu aurat seluruhnya atau dari pusar hingga lutut (saja). Apakah boleh seorang wanita (memakai) pakaian lengan pendek di hadapan mahramnya? Apa hukum memakai pakaian yang transparan? Saya berharap faidah dari anda dalam hal itu...


💡Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah:

Ini ada perincian dari para Ulama. Ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama. Sebagian berpendapat, mahram boleh melihat yang di atas pusar dan di bawah lutut. Namun pendapat ini perlu ditinjau ulang.

Pendapat yang lebih dekat (pada kebenaran) – Wallaahu A’lam- adalah yang berlaku sesuai kebiasaan, boleh dinampakkan (pada mahram), seperti kepala, leher, anting-anting pada telinga, lengan dan telapak tangan. Demikian juga telapak kaki dan ujung betis. Itu yang berlaku sesuai kebiasaan yang boleh dinampakkan pada para mahram di rumah. Ini pendapat yang lebih dekat (pada kebenaran).

Hal yang lebih utama adalah menutup yang selain itu. Kecuali kalau ada keperluan, seperti keperluan menyusui, mengeluarkan payudara ketika menyusui (anaknya). Kami tidak melihat adanya permasalahan jika seseorang wanita menyusui bayinya di dekat mahramnya seperti saudara laki-lakinya, pamannya, dan semisalnya.

Intinya, jika seorang wanita lebih menutup tubuhnya dan lebih menjaga ketika berada di dekat para mahram (itu lebih baik). Terutama di masa ini yang penerapan agama semakin sedikit di kalangan sebagian manusia, dan banyaknya kefasikan dan sikap meremehkan dari para lelaki. Jika seorang wanita lebih berhati-hati di dekat para walinya (itulah yang diharapkan). Terutama (jika para walinya) tidak mengetahui agama dan orang fasik, mestinya ia selalu berhati-hati.

Janganlah menampakkan kecuali yang menurut kebiasaan boleh ditampakkan, seperti wajah, telapak tangan, telapak kaki, atau sebagian rambut jika diperlukan. Itu tidak mengapa. Selama memungkinkan untuk lebih menjaga, itu lebih utama. Selain wajah, telapak tangan, telapak kaki, di sisi para mahram.

Karena sebagian orang fasik telah diperindah oleh syaithan pandangannya sehingga hasilnya tidaklah baik. Meskipun ia mahram. Mestinya seorang wanita lebih menjaga sebisa mungkin. Kecuali yang secara kebiasaan bisa ditampakkan, seperti wajah, telapak tangan, telapak kaki, dan semisalnya.

🇸🇦Lafadz Asli:

السؤال: سؤالها الثاني تقول: ما حد عورة المرأة عند محارمها، هل هي عورة كلها، أم من السرة إلى الركبة، وما حكم نصف الكم للمرأة عند المحارم، وما حكم لبس الثياب الشفافة، أرجو إفادتي بذلك؟
الجواب: هذا فيه تفصيل عند أهل العلم، واختلاف بين أهل العلم، منهم من قال: إن المحرم منها ما فوق السرة وتحت الركبة للمحارم، ولكن هذا فيه نظر، والأقرب والله أعلم ما جرت العادة بكشفه مثل الرأس، مثل الرقبة، مثل القرط في الأذن، مثل الذراعين واليد والكفين، مثل القدمين، طرف الساق، شيء جرت العادة بانكشافه بين المحارم وفي البيوت، هذا هو الأقرب، والأفضل ستر ما سوى ذلك، إلا عند الحاجة مثل حاجة الرضاع، إخراج ثديها عند الرضاع لا نعلم فيه بأساً بإرضاع طفلها عند محرمها كأخيها وعمها ونحو ذلك.
فالحاصل أن كونها تستر بدنها وتحتاط عند محارمها ولاسيما في هذا العصر الذي قل فيه الدين عند بعض الناس وكثر الفسق والتساهل من كثير من الرجال، فكونها تحتاط عند أوليائها ولاسيما الجاهل والفاسق، ينبغي لها أن تحتاط دائماً فلا يظهر منها إلا ما جرت العادة بظهوره من الوجه والكف والقدم، أو بعض الشعور عند الحاجة لا بأس بهذا، ومهما أمكن يعني التحفظ فهو أولى، ما عدا الوجه والكفين والقدمين عند المحارم؛ لأن بعض الفساق قد يزين له الشيطان ما لا تحمد عقباه وإن كان محرماً، فينبغي التحفظ مهما أمكن إلا ما جرت العادة الغالبة بكشفه من الوجه والكفين والقدمين ونحو ذلك. نعم.

Sumber:

https://binbaz.org.sa/fatwas/4574/%D8%AD%D8%AF-%D8%B9%D9%88%D8%B1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%A9-%D8%B9%D9%86%D8%AF-%D9%85%D8%AD%D8%A7%D8%B1%D9%85%D9%87%D8%A7%C2%A0

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

MEMOHON KETAKWAAN JIWA KEPADA ALLAH

💐📝MEMOHON KETAKWAAN JIWA KEPADA ALLAH

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا. قَالَ : « اللَّهُمَّ ائْتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu alaihi wasallam membaca (ayat):

فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا

Kemudian Allah mengilhamkan kefajiran dan ketakwaan kepada jiwa (manusia)(Q.S asy-Syams ayat 8)

Nabi pun berdoa: ALLAAHUMMA AATII NAFSII TAQWAAHAA, ZAKKIHAA ANTA KHOYRU MAN ZAKKAAHAA. ANTA WALIYYUHAA WA MAULAAHAA (Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku. Sucikanlah jiwaku itu, sesungguhnya Engkau adalah pihak terbaik yang menyucikannya. Engkau adalah Wali (Penolong) dan Maulaa-nya (Pemiliknya)(H.R Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Dzhilaalul Jannah)

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

MEMINTA TOLONG DENGAN SABAR DAN SHOLAT

💐📝MEMINTA TOLONG DENGAN SABAR DAN SHOLAT

❓Pertanyaan:

Seorang pendengar....bertanya tentang tafsir firman Allah Ta’ala:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan minta tolonglah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya itu sulit dilakukan kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Q.S al-Baqoroh ayat 45)?

💡Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah:

Sesuai dzhahirnya, Rabb Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi memerintahkan untuk meminta tolong dengan sabar dan sholat dalam urusan dunia dan agama. Nabi shollallahu alaihi wasallam jika mengalami hal yang membuat beliau bersedih, segera melakukan sholat. Sholat adalah sebab terbesar dimudahkannya urusan dan didapatkannya solusi bagi permasalahan-permasalahan.

Jika seseorang mengalami hal yang menyusahkan, apakah itu hutang, adanya orang yang dzhalim, atau hal lain semisalnya, hendaknya ia sholat dan berdoa kepada Rabbnya. Beristighotsah (kepada Allah) agar hutangnya bisa dilunasi, atau terhindar dari kejahatan orang yang dzhalim, agar Allah menolong dia untuk berdzikir dan bersyukur.

Hendaknya dia juga bersabar ketika mengalami kesulitan dalam mencari rezeki, sabar dalam taat kepada Allah. Demikian pula ia bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Berusaha menyelisihi hawa nafsunya. Meminta tolong kepada Allah dalam hal itu.

Ia menunaikan kewajiban dari Allah seperti sholat berjamaah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturrahmi, membayar hutang, dan selainnya yang Allah perintahkan. Hendaknya ia bersabar dan tidak merasa jemu. Jangan malas dan merasa lemah. Hendaknya ia terus bersabar untuk menunaikan kewajiban, dan menjauhi keharaman. Serta meminta tolong kepada Allah dalam hal itu. Ia tunaikan sholat sebagaimana Allah perintahkan. Baik yang wajib maupun sunnah, sebagaimana Allah perintahkan.

Ia pun meminta tolong dengan sholat, yaitu dengan mengerjakannya, agar bisa melakukan ketaatan kepada Allah, dan menunaikan hak-hak (orang lain). Karena sholat adalah penolong terbaik. Ia sholat, mengingat Allah, berdoa, meminta tolong di dalam sujudnya, di antara 2 sujud, dan di akhir sholat (setelah salam) ia mengangkat tangannya dan berdoa kepada Rabbnya: Ya Allah berikan aku kemudahan dalam hal ini, ya Allah berikan aku ini...Itu dilakukan setelah salam. Atau, di waktu kapan saja ia mengangkat tangannya berdoa kepada Rabbnya, meminta perlindungan kepadaNya, meminta kepadaNya agar menolongnya dalam melunasi hutang, menolongnya agar bisa selamat dari orang yang dzhalim, menolongnya agar bisa menunaikan haji, menolongnya untuk bisa berbakti kepada orangtua, dan seterusnya. Ia merendahkan dirinya di hadapan Allah dan meminta kepadaNya.

Sholat menolongnya akan hal itu. Karena sholat adalah ibadah yang agung. Jika ia sholat dan meminta kepada Rabbnya, merendahkan diri kepadaNya, untuk menolongnya dalam mengerjakan tugas-tugasnya, itu adalah suatu hal yang indah, baik, dan bermanfaat.

Sedangkan makna firman Allah (yang artinya): Sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’: Sholat berat bagi orang-orang yang malas dan lemah imannya. Namun, orang-orang yang khusyu’ (takut kepada Allah), yang beriman, dan jujur, akan dimudahkan melaksanakannya. Mudah baginya. Karena mereka mengetahui keutamaannya dan besarnya pahalanya.

Mereka bersegera melaksanakannya dengan semangat, kuat, dan keinginan besar. Karena mereka mengetahui nilainya. Mereka mengetahui kedudukan sholat. Maka itu tidak berat bagi mereka.

Namun sholat terasa berat bagi para pemalas dan orang-orang yang lemah imannya, yang tidak mengetahui kedudukan dan keagungan sholat. Dan Allah semata tempat meminta pertolongan.

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/18718/%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1-%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-%D9%88%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%B9%D9%8A%D9%86%D9%88%D8%A7-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman


💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

PEMBELAAN TERHADAP AL-ALLAMAH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH

🚇PEMBELAAN TERHADAP AL-ALLAMAH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH (01)

[ Bantahan Terhadap Khalid bin Abdurrahman al-Mishri Atas Celaannya Terhadap asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali ]

❱ Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد:

[ + ] Sungguh saya benar-benar dikejutkan oleh apa yang saya dengar dari ucapan Khalid Abdurrahman al-Mishri yang dahulu saya hormati karena dia menampakkan as-Sunnah dan pemuliaan terhadap para ulama.

Tetapi kita menghormatinya selama dia menghormati para ulama, maka jika dia tidak lagi menghormati para ulama dan mencela mereka maka dia dibuang ke tempat sampah sejarah. Jadi daging para ulama itu beracun, dan sunnatullah pada orang yang mencela mereka sudah diketahui.

Dia dan selainnya dahulu menyatakan bahwa barangsiapa mencela para ulama –dan termasuk ulama tersebut adalah guru kita al-Allamah Rabi'– bisa jadi dia adalah seorang yang bodoh sehingga didoakan agar mendapatkan hidayah, atau bisa jadi seorang pengekor hawa nafsu sehingga kita memohon kepada Allah agar menghancurkan punggungnya (membinasakannya) sebagaimana yang pernah dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Hanya saja kesesatan yang sebenarnya adalah dengan engkau menganggap baik perkara yang dahulu engkau anggap mungkar, dan engkau mengingkari perkara yang dahulu engkau anggap baik.

Maka saya nasehatkan kepadamu agar engkau bertakwa kepada Allah dan kembali kepada as-Sunnah serta memuliakan orang-orang yang berpegang teguh dengannya, terkhusus para ulama besar, dan tinggalkan cara Haddadiyyah yang mencela para ulama dan menuduh mereka telah melakukan bid'ah, Khawarij, dan menyimpang dari as-Sunnah semacam ini!!

Engkau mengetahui dengan yakin bahwa asy-Syaikh Rabi' pada diri beliau tidak terdapat hizbiyyah maupun majelis-majelis rahasia model hizbiyyah, bahkan beliau sendiri secara tegas menafikan tuduhan tersebut. Yang ada hanyalah majelis-majelis yang padanya para ulama saling menasehati dan saling membimbing, dan muncullah berbagai nasehat dan fatwa mereka untuk manusia dengan kebaikan dan bimbingan yang berdasarkan sunnah Nabi.

Majelis-majelis semacam ini biasa dilakukan oleh asy-Syaikh Rabi' bersama para ulama Madinah baik dahulu maupun sekarang. Beliau pernah mengadakan majelis-majelis khusus bersama Samahatus Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, al-Luhaidan, al-Fauzan, dan para ulama yang lainnya. Dan dahulu mereka berfatwa dalam masalah-masalah kontemporer, yang berkaitan dengan darah kaum muslimin dan perang, karena mereka memang ahlinya, dan dengan persaksianmu sendiri tentang asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.

Bahkan engkau dan selainmu memiliki sekian banyak majelis yang padanya kalian saling menasehati dan berdiskusi, lalu kalian keluar dalam keadaan sepakat atas sebuah nasehat tertentu atau arahan tertentu, dan tidak ada seorangpun yang mensifati majelis-majelis semacam ini sebagai hizbiyyah.

Bahkan dahulu pengingkaranmu sangat besar terhadap orang yang mensifati asy-Syaikh Rabi' dengan hizbiyyah, maka bagaimana bisa sekarang engkau justru sepakat dengan mereka, bahkan engkau lebih parah dibandingkan mereka dengan menjatuhkan vonis mubtadi' dan mensifati beliau sebagai Khawarij dan menyimpang dari as-Sunnah.

Sungguh engkau telah melampaui Haddadiyyah dan engkau berdiri bersama barisan ahli bid'ah yang memerangi Ahlus Sunnah. Maka sadarlah dan kembalilah, dan jangan menjadi kunci pembuka keburukan dan fitnah bagi dirimu dan orang lain!!

▾▾▾

(02)
Jika engkau tidak bertaubat dari berbagai celaan jahat dan ungkapan-ungkapan buruk ini, maka yang semacam ini tidak bisa diterima dan tidak akan dimuliakan, bahkan yang pantas adalah mentahdzirnya dan KERAS dalam mengingkarinya. Jadi orang semacam ini ditinggalkan dan dihinakan, agar tidak menyeret para pemuda kepada jurang yang dalam dengan memerangi para ulama Ahlus Sunnah.

Dan alhamdulillah saya telah menulis sebuah buku baru tentang sirah atau perjalanan hidup asy-Syaikh Rabi' dan perjuangan ilmiah dan dakwah beliau serta pujian para ulama terhadap beliau yang insyaallah akan segera terbit dengan judul "Al-Fushul al-Mudhiyyah min Siratis Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali wa Juhudihil Ilmiyyah wad Da'awiyyah" yang berisi sekitar 500 halaman. Dan saya menasehatkan kepada orang yang memiliki sifat inshaf (jujur, adil, dan sportif) untuk menelaahnya agar mengetahui kedudukan imam ini serta perjuangan dan jasa beliau dalam menasehati untuk Allah (ikhlas), untuk Rasul-Nya (membela sunnah beliau), untuk membela kitab-Nya, dan untuk para imam kaum muslimin maupun keumuman mereka.

أسأل الله الهداية والتوفيق.

✍️Ditulis oleh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri

Url: http://bit.ly/Fw400607
📮••••|Edisi| t.me/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Tg @JujurlahSelamanya / Dari: https://t.me/chohab_mohrika/2468

🚇PEMBELAAN TERHADAP AL-ALLAMAH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH (02)

[ Nasehat Kepada Khalid bin Abdurrahman al-Mishri ]

❱ Asy-Syaikh Abu Ammar Ali al-Huzhaifi hafizhahullah

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله ولي الصالحين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد:

※ [ 1 ] 🔥 Di akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh Khalid bin Abdurrahman al-Mishri dengan berbagai perkara yang aneh[¹], dan saya telah mendengar tiga rekaman suaranya sebelumnya –sekitar lebih dari lima bulan yang lalu–.

Yang nampak bagi saya berdasarkan ucapan-ucapannya tersebut bahwa dia adalah orang yang sok berilmu, dan dia membuat-buat kaidah-kaidah dalam masalah jarh wa ta'dil yang tidak benar.

Saya dahulu memiliki keinginan yang kuat untuk menanggapinya, hanya saja saya disibukkan oleh urusan yang lain. Mudah-mudahan saya bisa menanggapinya pada bagian kedua dari bantahan ini.

※ [ 2 ] 🔥 Hari ini saya mendengar ucapannya yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang dungu dan lancang sekali dalam mengeluarkan vonis terhadap para ulama.

Yaitu dengan dia menganggap bahwa;

( ✘ ) Sebagian masyayikh Ahlus Sunnah –yaitu asy-Syaikh Rabi' dan masyayikh yang lain– telah menyimpang dari as-Sunnah dan mencocoki Khawarij
— karena para ulama tersebut berfatwa tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan perang di negara-negara lain.

( ✘ ) Khalid Abdurrahman menyebutkan bahwa beberapa ulama berkumpul dan bermusyawarah tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan perang di Suriah, Libya, dan Yaman.
— Dan mereka mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah ini, kemudian mereka mengirim fatwa-fatwa tersebut secara lisan.

( ✘ ) Dia menyebutkan bahwa ini adalah majelis-majelis rahasia yang menyerupai bid'ah Khawarij.
— Dia juga menyebutkan dengan penuh keheranan bahwa sebagian ulama tidak mengingkari majelis-majelis semacam ini, bahkan mengatakan bahwa itu termasuk syura atau musyawarah dan bahwasanya para ulama termasuk ulil amri.

( ✘ ) Kemudian Khalid Abdurrahman menyebutkan bahwa ulama tersebut adalah asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah.
— Lalu Khalid Abdurrahman mengeluarkan vonis akhirnya terhadap para ulama –asy-Syaikh Rabi' dan selain beliau– dengan menyebut bahwa ini adalah penyimpangan dari as-Sunnah dan menyimpang dari salah satu prinsip-prinsip mendasar agama kita.

Khalid Abdurrahman mengatakan, “Sesungguhnya asy-Syaikh Rabi' telah menyimpang dari as-Sunnah dan mencocoki Khawarij.”

•• ✘ ~ ✘ ~ ✘ ••

Saya katakan:

“Dengan ucapannya ini Khalid Abdurrahman telah jatuh tersungkur pada kepalanya[²] karena beberapa hal:

※ Pertama ※
Orang yang sok berilmu ini telah menyebut para ulama dakwah salafiyyah sebagai Khawarij, dan orang yang sangat bodoh ini tidak mengetahui bahwa fatwa para masyayikh kita –yang mereka keluarkan kepada dunia Islam– mayoritasnya berisi menghadang Khawarij dari kelompok al-Ikhwan al-Muslimun yang mengacaukan dunia dengan demonstrasi dan memberontak terhadap pemerintah, demikian juga menghadang Khawarij yang berasal dari organisasi-organisasi teroris semacam al-Qaeda dan ISIS, serta menghadang kelompok pemberontak Khawarij Hutsiyun (di Yaman) dan selain mereka.

—(▴) Catatan kaki: (▴)— 

[¹] Sejak beberapa tahun yang lalu saya mengkhawatirkan cara yang ditempuh oleh orang-orang yang tergabung dalam website "an-Nahjul Wadhih" seperti Ahmad Bazmul, Khalid Abdurrahman al-Mishri, Adil Manshur, Abu Fadhl al-Libbi, dan siapa saja yang menempuh jalan para shighar (orang-orang yang masih muda dan belum matang dan kokoh ilmunya) itu dari kalangan orang-orang yang meninggalkan nasehat para ulama.

[²] Seperti yang dikatakan oleh asy-Syaikh Salim Bamuhriz hafizhahullah.

▾▾▾

(02)
※ Kedua ※
Para masyayikh yaitu asy-Syaikh Rabi' dan asy-Syaikh Ubaid serta yang lainnya tidak sendirian dalam mengeluarkan fatwa-fatwa ulama dunia Islam, bahkan hal ini telah diketahui hingga dari para ulama yang lain. Para ulama –seperti asy-Syaikh Ibnu Baz, asy-Syaikh al-Albani, dan asy-Syaikh al-Utsaimin– telah mengeluarkan fatwa-fatwa di banyak negeri seperti Afghanistan, al-Jazair, Yaman, Indonesia, dan yang lainnya.

Maka apa yang akan dikatakan oleh Khalid Abdurrahman tentang fatwa-fatwa para ulama Ahlus Sunnah tentang jihad di Afghanistan, jihad di Indonesia, memerangi kelompok-kelompok teroris di Libya, memerangi milisi Hutsiyun di Yaman dan di tempat-tempat yang lain yang difatwakan oleh banyak dari para ulama Ahlus Sunnah di Kerajaan Arab Saudi dan yang lainnya?!

※ Ketiga ※
Khalid Abdurrahman tidak menjelaskan kepada kita;
(•) Perkara apa yang dia ingkari terhadap para ulama?!
(•) Dan siapa yang mendahuluinya dalam melakukan pengingkaran tersebut serta apa hujjah mereka?!
(•) Apakah dia mengingkari perkara yang sifatnya dilakukan secara rahasia?!
(•) Ataukah dia mengingkari musyawarah yang dilakukan oleh para ulama?!
(•) Atau dia mengingkari para ulama atas fatwa-fatwa mereka tentang masalah-masalah kontemporer yang terjadi di negara lain yang bukan negara mereka?!
(•) Ataukah dia menyangka bahwa para ulama akan mengirim para pemuda Arab Saudi (ke medan jihad) –sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyun dari kelompok al-Ikhwan al-Muslimun dan yang lainnya– tanpa izin dari pemerintah?!

(a) — Jika Khalid Abdurrahman mengingkari perkara yang sifatnya rahasia yang dilakukan oleh para ulama,

Maka kita katakan kepadanya,
     “Perkara yang sifatnya rahasia berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain sesuai dengan pihak-pihak yang merahasiakan urusan mereka sesuai dengan tujuan mereka.”

Jadi perkara yang sifatnya rahasia jika dilakukan oleh kelompok pergerakan atau sekelompok pemuda yang dengan perkara yang sifatnya rahasia tersebut mereka ingin menyembunyikan masalah-masalah dari para ulama, maka ini adalah perkara yang sifatnya rahasia yang tercela, karena itu artinya pada mereka terdapat penyimpangan yang mereka tidak ingin para ulama mengetahuinya.

Namun jika yang dimaksud adalah para ulama yang kokoh ilmunya menyembunyikan sebagian masalah-masalah dari orang-orang awam dan yang semisal mereka maka tidak ada yang melarang.[³]

Jadi jika para ulama merahasiakan sebagian perkara dakwah atau fatwa-fatwa kontemporer dari orang-orang awam, maka tidak ada dalil yang melarang, dan perkara yang sifatnya rahasia di sini bukan seperti yang dilakukan oleh Khawarij yang mereka takut jika pemerintah mengetahui rahasia dan keyakinan mereka.

Fatwa-fatwa para ulama kita di Arab Saudi terus bermunculan dalam masalah-masalah kontemporer dan sampai ke negara-negara lain di dunia seperti Yaman, Suriah, al-Jazair, Irak, dan yang lainnya sejak beberapa tahun lalu, dan tidak ada seorangpun yang mengingkarinya dan tidak pula ada perintah yang melarang fatwa-fatwa tersebut, karena fatwa-fatwa mereka sama sekali tidak menyinggung pemerintah sedikitpun.

(b) — Jika yang dia maksud adalah mengingkari musyawarah,

Maka musyawarah yang dilakukan oleh seorang ulama dengan para ulama yang lainnya merupakan perkara yang disyariatkan pada perkara-perkara yang sisi kebenarannya kurang jelas, karena seorang ulama terkadang membutuhkan dan terkadang tidak.

—(▴) Catatan kaki: (▴)— 

[³] Al-Bukhari mengatakan pada kitab al-Ilmu dalam Shahihnya, “Bab Orang yang Mengkhususkan Ilmu Kepada Suatu Kaum karena Khawatir Mereka tidak Memahami.” — Kemudian beliau berdalil dengan hadits Mu'adz bin Jabal.

Dan dengan hadits yang sama asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berdalil dalam kitab at-Tauhid dengan mengatakan, “Masalah ke-16: Bolehnya menyembunyikan ilmu untuk maslahat. Karena Nabi [ﷺ] melarang Mu'adz agar jangan memberi tahu kepada seorangpun bahwa Allah tidak akan memasukkan ke neraka orang yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun.”

▾▾▾

(03)
(c) — Jika yang dia maksud adalah mengingkari para ulama atas fatwa mereka tentang hal-hal kontemporer yang terjadi di negara lain,

Maka hukum asalnya boleh, bahkan terkadang bisa wajib hukumnya, dan kita menuntutnya untuk menunjukkan dalil yang melarangnya.

(d) — Jika yang dia maksud adalah mengingkari pengiriman para pemuda Arab Saudi yang dilakukan oleh para ulama tanpa seizin pemerintah,

Maka ini tidak pernah terjadi sama sekali, dan para ulama dakwah salafiyyah termasuk orang yang paling jauh dari hal-hal seperti itu, dan Khalid Abdurrahman perlu untuk menunjukkan bukti bahwa para ulama salafiyyun berfatwa kepada para pemuda Arab Saudi agar keluar untuk berjihad di luar Arab Saudi.

※ Keempat ※
Adapun berkaitan dengan ucapannya tentang asy-Syaikh Rabi' dan para ulama yang bersama beliau bahwa mereka telah menyimpang dari as-Sunnah dan terjatuh pada ucapan Khawarij,

Maka kita katakan kepadanya,
    “Sesungguhnya engkau belum pantas untuk mengeluarkan vonis besar semacam ini, dan engkau jangan menganggap dirimu tidak mungkin sebagai pihak yang menyimpang dari as-Sunnah, dan pemahamanmu tentang masalah-masalah ini telah menyimpang dari jalan yang benar, dan engkau jangan menganggap dirimu tidak mungkin sebagai orang yang menempuh langkah-langkah Khawarij, karena Khawarij dikenal suka memvonis sesat terhadap para ulama, menyebut para ulama besar sebagai orang-orang dungu, kurang ajar terhadap mereka, dan memisahkan diri dari mereka.”

Inilah kesimpulan hal-hal yang diingkari oleh Khalid Abdurrahman terhadap para ulama[⁴], dan yang aneh adalah bahwasanya Khalid Abdurrahman memiliki rekaman suaranya sekitar 5 tahun lalu yang padanya dia mengarahkan pada fatwa-fatwa tentang Libya kepada asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri dan dia mengatakan:

     “Beliau memiliki kekhususan dalam bidang ini.”

Dan dia juga mengatakan bahwa asy-Syaikh Rabi' mempersaksikan untuk beliau bahwa beliau adalah Imam dalam as-Sunnah.

※ [ 3 ] 🔥 Duhai kiranya Khalid Abdurrahman al-Mishri mengambil nasehat asy-Syaikh Rabi' agar semangat menuntut ilmu dan sibuk berdakwah di negaranya Mesir[⁵], serta tidak memperbanyak safar ke negara-negara Teluk karena negaranya sendiri membutuhkan para dai untuk berdakwah. Seandainya dia mengambil nasehat asy-Syaikh Rabi' niscaya itu lebih baik baginya dibandingkan berbicara tentang masalah-masalah yang dia tidak dia pahami dengan baik.

✍️Ditulis oleh Ali al-Hudzaifi
— Ahad, 12 Jumadal Akhirah 1440H


—(▴) Catatan kaki: (▴)— 

[⁵] Dia meninggalkan negaranya Mesir dan berhenti berdakwah di sana, dan pergi ke Kuwait dan tinggal di sana beberapa pekan atau lebih, maka bagaimana akan meraih ilmu orang yang caranya seperti ini?!

Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, sungguh saya kasihan kepadanya dan menginginkan kebaikan untuknya, maka saya menasehatinya agar introspeksi diri dan meninggalkan jalan yang dia tempuh ini.

Url: http://bit.ly/Fw400608
📮••••|Edisi| t.me/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Tg @JujurlahSelamanya / Dari: https://t.me/SheikhAliAlHuthaifi/377

🚇PEMBELAAN TERHADAP AL-ALLAMAH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH (03)

[ Bantahan Terhadap Khalid Abdurrahman al-Mishri ]

❱ Asy-Syaikh Raid bin Abdul Jabbar al-Mahdawi hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد:

[ + ] Telah sampai kepada saya audio buruk dari seseorang yang telah nampak jelas manhajnya yang buruk yang bernama Khalid Abdurrahman Zaki al-Mishri,

— Di dalamnya dia mencela salah seorang imam dalam agama menurut penilaian kami dan Allah yang lebih mengetahui keadaan beliau, yaitu guru kita al-Imam Rabi' yang semoga Allah memperpanjang usia beliau di atas as-Sunnah sebagai penghancur punggung ahli bid'ah dan menyingkap kedok orang-orang yang mengaku sebagai salafiyyun.

— Diantara yang terdapat dalam audio tersebut adalah
(•) dia menyebut bahwa asy-Syaikh Rabi' menetapkan manhaj Khawarij
(•) dan mendukung majelis-majelis syura yang sifatnya rahasia
(•) serta beliau telah menyimpang dari manhaj salaf menurut dia,
... semoga Allah Ta'ala membalasnya dengan yang setimpal.

Maka saya katakan:

※ [ 1 ] 🔥 Ciri-ciri ahli bid'ah yang diketahui oleh salafiyyun
— adalah mencela dan menjatuhkan kehormatan para ulama Ahlus Sunnah.

Sedangkan ciri-ciri Ahlus Sunnah
— adalah mencintai para ulama Ahlus Sunnah, membela mereka, mendoakan kebaikan dan memohon ampunan untuk mereka.


※ [ 2 ] 🔥 Tidak aneh ucapan semacam ini muncul di waktu ini secara khusus yang padanya anak-anak panah para pencela menghujani asy-Syaikh Rabi'

(•) untuk merealisasikan keinginan mereka yang lama terpendam
(•) dan keinginan pihak yang mendorong, mendukung, dan membiayai mereka,

... dalam rangka menjatuhkan asy-Syaikh Rabi' dan manhaj salaf yang jelas yang beliau pegangi yang membuat mereka tidak bisa tidur dan cemas serta menyingkap kedok mereka.

— Dan setiap kali mereka selalu mengorbankan seorang yang dungu, gegabah, suka mengobarkan fitnah, dan berani dengan lancangnya menunjukkan kebatilan.

(•) Dan orang yang terakhir adalah teman mereka ini,
(•) dan dia ini tidaklah menambah mereka selain kerugian dan terbongkarnya kedok mereka,
... sedangkan asy-Syaikh Rabi' tetap kokoh dan manhaj beliau mendapatkan kemenangan.


※ [ 3 ] 🔥 Orang yang mensifati asy-Syaikh Rabi' bahwa beliau menetapkan madzhab Khawarij,

— bisa jadi dia seorang yang bodoh tentang madzhab Khawarij, kacau pemahamannya, dan rusak pemikirannya,

— dan bisa jadi dia seorang yang bodoh terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi' dan rancu dalam memahami manhaj salaf sehingga tidak bisa membedakan antara as-Sunnah dengan bid'ah,

— atau bisa jadi sebenarnya dia mengetahui kebenaran yang ditempuh oleh asy-Syaikh Rabi' sebagaimana dia mengenal anak-anaknya sendiri, hanya saja dia memiliki tujuan busuk yang hatinya penuh dengan kemarahan mendidih terhadap imam jarh wa ta'dil sehingga lisannya pun menumpahkan isi hatinya.


※ [ 4 ] 🔥 Khalid al-Mishri menyebut asy-Syaikh Rabi' sebagai ulama dan orang tua serta termasuk ulama besar dan tokoh, dan beliau setelah karunia Allah memiliki jasa besar kepadanya –yaitu kepada Khalid– dan kepada Ahlus Sunnah di zaman kita.

— Pujian ini ibarat menaburkan abu ke mata dan merupakan kedustaan yang terbongkar karena menyelisihi apa yang dia tetapkan dan dia vonis di akhir ucapannya bahwa asy-Syaikh Rabi' telah menyimpang dari manhaj salaf dan telah menyelisihi salah satu prinsip dasar salaf yang disepakati!

— Cara penuh makar seperti ini dengan memuji kemudian mencela kita kenal sejak dahulu sebagai cara yang ditempuh oleh Abul Hasan al-Ma'ribi dan siapa saja yang terjungkal dalam setiap fitnah setelahnya.

Jadi engkau wahai Khalid menempuh cara mereka itu, bukan menempuh jalan yang benar dan jelas sebagaimana yang engkau klaim.

— Dan antara dirimu dan para pendahulumu yang suka mencela itu terdapat satu perbedaan:
(•) yaitu engkau berani lancang melakukan apa-apa yang tidak berani mereka lakukan
(•) dan engkau mendobrak apa yang tidak mampu mereka lakukan.

▾▾▾

(02)
※ [ 5 ] 🔥 Asy-Syaikh Rabi' hafizhahullah ketika membantah tuduhan tentang majelis-majelis rahasia,

(•) beliau membedakan antara amalan rahasia yang dilakukan oleh orang-orang harakah (pergerakan) hizbiyyah yang isinya persiapan untuk memberontak melawan pemerintah, merencanakannya, dan baiat rahasia yang ini semua merupakan manhaj Khawarij,

(•) dengan musyawarah diantara para ulama yang tidak akan melarangnya kecuali orang yang bodoh, dan tidak akan menyebutnya sebagai manhaj Khawarij kecuali seorang pengusung kebatilan.

((⚙️)) Jadi musyawarah diantara para ulama
√- yang membahas masalah-masalah ilmiah,
√- terkhusus masalah-masalah besar dan kontemporer, seperti masalah jihad, upaya menciptakan ketenangan masyarakat, dan hubungan antara pemerintah dan rakyat,
... ini semua tidak bisa dijadikan bahan untuk mencela mereka.

((⚙️)) Bahkan itu termasuk keutamaan mereka
— karena keinginan kuat mereka bagi keselamatan para pemuda dan keumuman manusia dengan membimbing mereka kepada maslahat agama dan dunia mereka.

((⚙️)) Dan ini termasuk perjanjian yang Allah ambil dari para ulama,
— sehingga dari sisi mana kritikannya dan di mana letak manhaj Khawarijnya?!


※ [ 6 ] 🔥 Apa yang keluar dari para ulama berupa hukum-hukum tentang syariat dan bimbingan-bimbingan tentang perkara-perkara besar atau kontemporer, tentang fitnah, dan tentang keadaan masyarakat bukanlah perkara yang sifatnya rahasia dan tidak pula tertutup untuk seorangpun,
— sama saja apakah hal itu berupa tulisan maupun ucapan yang dinukil oleh manusia dan mereka amalkan konsekuensinya serta benar-benar diketahui oleh pemerintah.

Jadi ucapan bahwa ini termasuk manhaj Khawarij;
(•) merupakan intrik jahat yang tujuannya untuk menghasut pemerintah agar menyalahkan asy-Syaikh Rabi' dan manhaj yang beliau tempuh. Dan perkara ini telah jelas sekali dan bukti-buktinya banyak pada fitnah Muhammad bin Hadi yang terakhir ini.


※ [ 7 ] 🔥 Prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah jelas dan diketahui oleh para penuntut ilmu pemula.

— Maka anggapannya dalam audio suaranya bahwa musyawarah yang dilakukan oleh para ulama yang membahas maslahat umat dan masalah-masalah besar seputar jihad dan yang lainnya sebagai perbuatan rahasia yang bid'ah dan bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah adalah kebodohan yang memalukan dan kesalahan fatal dari orang yang mengklaim bahwa dirinya di atas manhaj yang benar dan jelas.


※ [ 8 ] 🔥 Yang wajib atas Khalid al-Mishri untuk introspeksi diri dan bertaubat dari ucapannya serta menampakkan hal itu kepada khalayak umum.

√- Karena kembali kepada kebenaran lebih baik dibandingkan terus menerus dalam kebatilan.

√- Seharusnya dia membela as-Sunnah dan prinsip-prinsip pokok dakwah salafiyyah yang benar-benar nyata diselisihi oleh dedengkot fitnah terakhir ini yaitu Muhammad bin Hadi.

Saya berharap si pencela ini tidak termasuk orang-orang yang disebut sebagai Khawarij (keras dan ekstrim) ketika bersikap terhadap para ulama, namun Murji'ah (lembek dan meremehkan) jika menyikapi orang-orang yang menyimpang dan ahli bid'ah.

✍️Ditulis oleh Raid bin Abdul Jabbar al-Mahdawi
— 13 Jumadal Akhirah 1440 H

Url: http://bit.ly/Fw400609
📮••••|Edisi| t.me/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Tg @JujurlahSelamanya / Dari: https://t.me/raedalmihdawi/1006

🚇SEORANG YANG DUNGU DAN LANCANG (KHALID AL-MISHRI)[¹] MENYEBUT MUSYAWARAH YANG DILAKUKAN OLEH PARA ULAMA SEBAGAI PENYIMPANGAN??!!

[ Al-Imam Ahmad Tidak Meninggalkan Musyawarah ]

(i) ❱ Al-Imam Ibnu Muflih menukil dari al-Imam al-Marrudzi yang menceritakan tentang al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:

{ كان أبو عبد الله لا يدع المشورة إذا كان في أمر، حتى إن كان ليشاور من هو دونه، وكان إذا أشار عليه من يثق به، أو أشار عليه من لا يتهمه من أهل النسك من غير أن يشاوره قَبِلَ مشورته. }

[ + ] “Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) tidak meninggalkan musyawarah jika beliau sedang dalam sebuah urusan,

— bahkan sungguh beliau pernah bermusyawarah
(•) dengan orang yang di bawah beliau,
(•) dan jika ada orang yang beliau percaya
(•) atau orang yang tidak beliau curigai dari orang-orang yang baik agamanya memberi saran kepada beliau tanpa beliau minta
... maka beliau menerima sarannya.”

📚[Al-Adab asy-Syar’iyyah, 1/323]

* * *

[ Musyawarah Adalah Wasiat Salaf Yang Berdasarkan Al-qur'an Dan As-sunnah ]

(ii) ❱ Al-Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

{ واللَّهِ! ما استشارَ قومٌ قطُّ إلَّا هُدُوا لأفضَلِ ما بِحَضرتهم. }

[ + ] “Demi Allah, tidaklah suatu kaum bermusyawarah kecuali mereka akan ditunjukkan kepada urusan yang terbaik yang sedang mereka hadapi.”

Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala:

{ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ. }

“Dan urusan mereka diselesaikan dengan musyawarah diantara mereka.” [Asy-Syura: 38]

📚[Al-Adab al-Mufrad, no. 258]

* * *

[ Orang-Orang Yang Beriman Dipuji Karena Melakukan Musyawarah ]

(iii) ❱ Al-Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata:

{ لأن المؤمنين إذا تشاوروا في أمور دينهم متبعين الحق في ذلك، لم يُخلِّهم الله عز وجل من لطفه، وتوفيقه للصواب من الرأي والقول فيه. }

[ + ] “Karena orang-orang yang beriman jika mereka bermusyawarah dalam urusan agama mereka dengan mengikuti kebenaran dalam hal itu, maka Allah Azza wa Jalla tidak akan menelantarkan mereka dari kelembutan-Nya dan taufik-Nya untuk terarah kepada pendapat dan ucapan yang benar.”

Para ulama mengatakan bahwa hal itu sesuai dengan firman-Nya ketika memuji orang-orang yang beriman:

{ وأمرُهم شُورَى بَينَهُم }

“Dan urusan mereka diselesaikan dengan musyawarah diantara mereka.” [Asy-Syura: 38]

📚[Jami'ul Bayan, 6/190]

•• ✘ ~ ✘ ~ ✘ ••

((⚙️)) Lalu yang aneh datang sang jongos bayaran (Khalid al-Mishri) yang menyebut musyawarah yang dilakukan oleh para ulama sebagai penyimpangan!!

—(▴) Catatan kaki: (▴)—

[¹] Seperti yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Abu Ammar Ali al-Huzhaifi hafizhahullah.

Url: http://bit.ly/Fw400610 { Judul dari Admin }
📮••••|Edisi| t.me/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Tg @JujurlahSelamanya
(i) Dari: Twitter { https://goo.gl/WXszUH }
(ii) Dari: Twitter { https://goo.gl/bXto8N }
(iii) Dari: Twitter { https://goo.gl/NAcW9d }

PANDAI DEBAT BUKAN TANDA BERILMU


Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan,

وقد فتن كثير من المتأخرين بهذا فظنوا أن من كثر كلامه وجداله وخصامه في مسائل الدين فهو أعلم ممن ليس كذلك. وهذا جهل محض. وانظر إلى أكابر الصحابة وعلمائهم كأبي بكر وعمر وعلي ومعاذ وابن مسعود وزيد بن ثابت كيف كانوا. كلامهم أقل من كلام ابن عباس وهم أعلم منه وكذلك كلام التابعين أكثر من كلام الصحابة والصحابة أعلم منهم وكذلك تابعوا التابعين كلامهم أكثر من كلام التابعين والتابعون أعلم منهم. فليس العلم بكثرة الرواية ولا بكثرة المقال ولكنه نور يقذف في القلب يفهم به العبد الحق ويميز به بينه وبين الباطل ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد.

‼️ Banyak dari orang-orang belakangan terjerumus ke dalam kesalahan ini. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicara, debat, dan argumentasi pada masalah agama, maka mereka ini lebih berilmu daripada yang tidak. Ini adalah murni kebodohan.

Lihatlah kepada para senior dan ulama shahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu'adz, Ibnu Mas'ud, dan Zaid bin Tsabit, bagaimana kondisi mereka? Ucapan mereka lebih sedikit daripada ucapan Ibnu Abbas, padahal mereka lebih berilmu daripada Ibnu Abbas.

Begitu pula, ucapan para tabi'in lebih banyak daripada ucapan para shahabat, padahal para shahabat lebih berilmu dari mereka.

Begitu pula, ucapan tabiut tabi'in lebih banyak daripada ucapan para tabi'in, padahal para tabi'in lebih berilmu dari mereka.

Ilmu itu tidak diukur dari banyaknya riwayat atau banyaknya ucapan. Akan tetapi, itu adalah sebuah cahaya yang Allah berikan pada kalbu. Dengannya, seorang hamba bisa mengetahui kebenaran.

Dengan itu juga, dia bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dan dia ungkapkan dengan ungkapan yang ringkas namun menyampaikan maksudnya."

Bayan Fadhli Ilmis Salaf Ibnu Rajab hlm. 57-58 (Tahqiq Muhammad Al Ajmi)

Channel Telegram majalahtashfiyah

Arsip Fawaid Ilmiyah:
https://t.me/fawaidsolo


Turut mempublikasikan:
WA Ilmu Syar'i Tulungagung

Join Channel Telegram:
https://t.me/taklimtulungagung

TADABBUR SURAT AL-KAHFI AYAT 30-31


✅ Ayat ke-30 Surat al-Kahfi

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak akan menyia-nyiakan balasan (kebaikan) bagi orang yang baik amalannya."

Orang yang berbuat baik (ihsan) dalam amalannya adalah yang ikhlas dan mencontoh Nabi _shalallahu 'alaihi wa sallam_ (penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin).

Setiap kebaikan yang dilakukan dalam keadaan beriman, Allah tidak akan membiarkannya tanpa balasan. Bahkan, Allah akan membalas dengan balasan kebaikan yang berlipat. Termasuk orang-orang yang dulunya beramal dengan syariat tertentu dari Allah kemudian syariat itu dihapus, maka amalannya akan mendapatkan balasan kebaikan berlipat dari Allah.

Sebagian Sahabat Nabi, saat terjadi perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, bertanya-tanya bagaimana dengan saudara-saudara kami yang dulu sebelum pemindahan kiblat shalat menghadap Baitul Maqdis. Apakah amalan shalat mereka dulu tidak sia-sia, karena saat ini sudah terjadi pemindahan kiblat?

Allah turunkan firman-Nya,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

"Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan iman (shalat) kalian." (Q.S. Al-Baqarah ayat 143) (H.R. Al-Bukhari dari al-Bara’ bin Azib)

Seseorang yang dulu berbuat kebaikan di masa sebelum masuk Islam, kemudian ia masuk Islam, kebaikan itu tidaklah terhapuskan.

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِى عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىْ رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَوْ صِلَةِ رَحِمٍ أَفِيهَا أَجْرٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ ».

Dari Ibnu Syihab ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Urwah bin az-Zubair, bahwasanya Hakim bin Hizam–semoga Allah meridhainya–, mengabarkan kepadanya bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah _shallallahu 'alaihi wa sallam_, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang amal kebaikan yang aku lakukan di Masa Jahiliah seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturahmi. Apakah itu mendatangkan pahala?" Rasulullah _shallallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda, "Engkau telah masuk Islam dengan membawa kebaikan yang telah lalu." (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Hakim bin Hizam dulu di Masa Jahiliah memerdekakan 100 budak dan bersedekah sebanyak 100 ekor unta. Hakim bin Hizam juga menyatakan, "Tidaklah aku tinggalkan perbuatan kebaikan yang aku lakukan di Masa Jahiliah, kecuali aku akan lakukan hal serupa dalam Islam."

Sedangkan orang yang berbuat kebaikan, namun ia bukanlah seorang yang beriman, tidak pernah masuk Islam selama hidupnya, tidak meyakini adanya hari pembalasan, maka kebaikannya tidak bernilai sedikitpun di akhirat nanti.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ « لاَ يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى يَوْمَ الدِّينِ ».

Dari Aisyah–semoga Allah meridhainya–ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an dulu di Masa Jahiliah suka menyambung silaturahmi, memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat bagi dia?" Nabi menyatakan, "Tidak bermanfaat bagi dia, karena sehari pun ia tidak pernah berdoa, 'Wahai Rabbku ampuni dosaku pada hari pembalasan." (H.R. Muslim)

✅ Ayat ke-31 Surat al-Kahfi

أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَيَلۡبَسُونَ ثِيَابًا خُضۡرٗا مِّن سُندُسٖ وَإِسۡتَبۡرَقٖ مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ نِعۡمَ ٱلثَّوَابُ وَحَسُنَتۡ مُرۡتَفَقٗا

"Mereka itu adalah orang-orang yang akan mendapatkan surga ‘adn yang mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Dipakaikan perhiasan gelang-gelang dari emas, dan dikenakan pakaian hijau dari sutra yang halus dan sutra yang tebal. Mereka bertelekan (duduk santai) di dalam surga di atas dipan-dipan yang dihias. Itu adalah sebaik-baik pahala dan sebaik-baik tempat beristirahat."

Allah menyebutkan pada ayat ini sebagian kenikmatan surga yang akan didapatkan oleh orang yang beriman dan beramal saleh, yaitu, mengalir di bawahnya sungai-sungai, diberi perhiasan gelang emas, memakai pakaian hijau yang indah dari sutra halus dan sutra yang tebal. Duduk santai dengan penuh ketentraman dan damai di atas dipan-dipan tinggi yang dihias. Itu adalah sebaik-baik balasan dan sebaik-baik tempat beristirahat.

(Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله)

WhatsApp al I'tishom

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
🕌 _“Tetap hadir di majelis ilmu syar'i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”_

📲 Ayo Join dan Share :
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
↘️ Faedah:
📚 telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
↘️ Poster dan Video:
🖼 telegram.me/galerifaedah
↘️ Kunjungi Website Kami:
🌏 www.riyadhussalafiyyin.com