BAB KEDUA: KEUTAMAAN-KEUTAMAAN TAUHID, YANG SALAH SATUNYA SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

📚

〰〰〰〰〰〰

📖 Dalil Pertama:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman yang tidak mencampuri keimanannya dengan kedzhaliman (kesyirikan), mereka ini adalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan petunjuk (Q.S al-An’aam:82)

📌 Penjelasan Dalil Pertama:

Pada saat turun ayat ini, para Sahabat merasa gelisah dan sedih. Mereka menganggap bahwa orang yang akan mendapatkan keamanan dan petunjuk sesuai ayat itu adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dzhalim, yaitu berbuat dosa. Padahal tidak ada seorangpun yang bisa selamat dari dosa. Mereka menyangka makna ‘kedzhaliman’ pada ayat itu adalah semua jenis dosa.

Kemudian Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa maksud kedzhaliman dalam ayat itu adalah kesyirikan. Sebagaimana ucapan Luqman yang diabadikan dalam alQuran ketika menasehati anaknya bahwa kesyirikan adalah kedzhaliman yang paling besar.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ } شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ { يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

Dari Abdullah (bin Mas’ud) -radhiyallahu anhu- beliau berkata: Ketika turun ayat ini: “Orang –orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kedzhaliman….(Q.S al-An’aam:82)”para Sahabat Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- merasa sedih dan berat. Mereka berkata: Siapa di antara kami yang tidak mendzhalimi dirinya sendiri? Maka Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda: Itu tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya kedzhaliman yang dimaksud adalah sebagaimana ucapan Luqman kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah sesungguhnya kesyirikan adalah kedzhaliman yang sangat besar (Q.S Luqman:13)(H.R al-Bukhari)

Di dalam hadits yang lain Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- menjelaskan tentang 3 macam kedzhaliman:

الظُّلْمُ ثَلاَثَةٌ : فَظُلْمٌ لاَ يَتْرُكُهُ اللَّهُ ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ ، وَظُلْمٌ لاَ يُغْفَرُ ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لاَ يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لاَ يَغْفِرُهُ اللَّهُ ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ ، وَأَمَّا الَّذِي لاَ يُتْرَكُ فَقَصُّ اللهِ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ

Kedzhaliman itu ada 3 macam: kedzhaliman yang tidak ditinggalkan oleh Allah, kedzhaliman yang diampuni, dan kedzhaliman yang tidak diampuni. Kedzhaliman yang tidak diampuni adalah kesyirikan. Sedangkan kedzhaliman yang (bisa) diampuni adalah kedzhaliman seseorang terhadap Allah (dosa selain syirik), Sedangkan kedzhaliman yang tidak ditinggalkan oleh Allah (adalah kedzhaliman antar sesama makhluk) yang akan Allah beri balasan (qishash) satu sama lain (H.R Abu Dawud atThoyaalisiy dihasankan oleh al-Munawi dan al-Albany).

Seseorang yang mentauhidkan Allah -subhanahu wa ta'ala-, tidak pernah berbuat kesyirikan, atau pernah berbuat syirik namun bertaubat dan diterima taubatnya oleh Allah -subhanahu wa ta'ala-, maka ia akan mendapatkan keamanan berupa tidak akan mendapat adzab yang kekal. Akhir kehidupannya di akhirat pasti berujung pada Jannah (surga). Apakah sebelumnya dia mendapat adzab atau tidak, tergantung seberapa bersih ia dari dua macam kedzhaliman yang lain yang menentukan berat mana antara timbangan amal kebajikannya dengan keburukannya.

Pada ayat tersebut, Allah -subhanahu wa ta'ala- menjelaskan bahwa orang beriman yang tidak mengotori keimanannya dengan kesyirikan, maka ia akan mendapatkan 2 hal: keamanan dan petunjuk. Keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat.

Keamanan di dunia: orang yang mentauhidkan Allah -subhanahu wa ta'ala- dengan sempurna hatinya akan selalu merasa tenang, tidak ada perasaan gelisah, cemas, khawatir dan sebagainya. Keamanan di akhirat: aman dari kekekalan adzab Allah -azza wa jalla-.

Petunjuk di dunia: Allah -subhanahu wa ta'ala- beri petunjuk kepada ilmu dan amal sholeh. Petunjuk di akhirat: Allah arahkan dan bimbing ia menuju Jannah (surga)( (penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam al-Qoulul Mufiid).

〰〰〰〰〰〰

📖 Dalil Kedua:

عَنْ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Dari Ubadah (bin as-Shoomit) –semoga Allah meridhainya- dari Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda: Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya dan bahwa Isa hamba Allah dan utusanNya, dan Isa adalah kalimat (kun: Jadilah) dari Allah yang disampaikan ke Maryam dan ruh (dari makhluk Allah), al-Jannah (surga) adalah benar adanya, dan anNaar (neraka) benar adanya, Allah akan memasukkan dia ke surga sesuai kadar amalannya (H.R al-Bukhari)

📌 Penjelasan Dalil Kedua:

Penjelasan umum hadits ini: Allah -subhanahu wa ta'ala- akan memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersaksi bahwa:

1. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya.

2. Muhammad -shallallahu 'alahi wa sallam- adalah hamba dan utusan Allah.

3. Isa -alaihissalam- adalah hamba dan utusan Allah.

4. Isa -alaihissalam- adalah salah satu makhluk yang Allah -subhanahu wa ta'ala- ciptakan dengan ucapan ‘Kun’ (jadilah) yang ditiupkan ke rahim Maryam, sehingga Isa bisa terlahir tanpa ayah.

5. Surga dan neraka benar adanya. Surga balasan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepadaNya sedangkan neraka balasan bagi orang yang kafir dan durhaka kepadaNya.

Makna ‘bersaksi’ dalam hadits tersebut tidaklah cukup hanya mengucapkan saja, namun juga terkandung syarat-syarat yang lain, sebagaimana penjelasan para Ulama dalam menyebutkan syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah.

Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ada 7, yaitu:

1. Mengetahui maknanya (al-‘Ilmu). (Q.S Muhammad:19)

2. Yakin dan tidak ragu akan kandungan maknanya (al-Yaqiin).(al-Hujuraat:15).

3. Menerima konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Ilallaah dengan lisan dan hatinya serta tidak menolaknya (al-Qobuul).(Q.S as-Shoffaat:35).

4. Tunduk terhadap perintah dan larangan yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah dan berserah diri kepada Allah (al-Inqiyaad).(Q.S Luqmaan:22).

5. Jujur dalam mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (as-Shidq).(Q.S Ali Imron:167).

Sesuai antara apa yang diucapkan dengan yang diyakini dalam hati serta menjalankan konsekuensinya. Konsekuensinya adalah meninggalkan seluruh peribadatan kepada selain Allah.

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dan mengkufuri segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, serta perhitungannya diserahkan kepada Allah (H.R Muslim)

6. Ikhlas dalam mengucapkannya karena Allah (al-Ikhlash).

Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, (hanya) mengharapkan Wajah Allah (ikhlas)(H.R al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik)

7. Cinta terhadap kandungan yang terdapat dalam Laa Ilaaha Illallah (al-Mahabbah).(al-Baqoroh:165).



📝 Disalin dari buku "Tauhid Anugerah yang Tak Tergantikan (Syarh Kitabit Tauhid)".


〰〰〰〰
📚 WA Salafy Kendari 📡

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...