RITUAL PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK SESAJI/SESAJEN ADALAH KESYIRIKAN

::
🚇 RITUAL PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK SESAJI/SESAJEN ADALAH KESYIRIKAN *:


Masuk Neraka karena Seekor Lalat


Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah Ta'ala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut. Mereka mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.’

Mereka pun mengatakan, ‘Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.’

Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka.

Mereka juga mengatakan kepada lelaki yang kedua, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Ta'ala.’

Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu 'anhu secara mauquf dengan sanad yang sahih)

❗️Perhatikanlah hadits di atas dengan baik!

Tradisi atau ritual penyembelihan binatang adalah ibadah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan Allah Ta'ala, baik dalam hal tujuan, waktu, tempat, maupun niatnya.

Adalah sebuah dosa besar, bahkan dosa terbesar, saat seorang hamba menyembelih hewan untuk selain Allah Ta'ala. Entah untuk memohon bantuan makhluk gaib, harmonisasi manusia dengan alam, meredakan amarah makhluk halus, atau sebab-sebab kesyirikan lainnya.

Menyembelih hewan dalam rangka ritual adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta'ala. Barang siapa melakukannya, Allah Ta'ala akan melaknatnya. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan.

Apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat, ia akan dihukum kekal di dalam neraka. Surga haram baginya. Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang beterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah Ta'ala.

Contoh terbaru adalah ritual penyembelihan korban terkait dengan bencana meletusnya gunung Merapi. Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam.

Ritual yang bernama asli Kuat Maheso Luwung Saji Rojosunya tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhindar dari marabahaya akibat letusan Merapi. Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule.

Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor kerbau bule dan sembilan ayam jago jurik kuning sebagai sesaji untuk makhluk-makhluk halus. Kepala kerbau dan sembilan jago jurik kuning itu rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana.


(*) Judul utama dari tim redaksi channel @ForumBerbagiFaidah

••••
Sumber: https://www.google.co.id/amp/asysyariah.com/tradisi-menyembelih-di-masyarakat/amp/

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...