Radio Streaming

Majelis Ta'lim Ibnu Abbas Sampit

Loading ...

ISTIGHFAR MENGANGKAT WABAH


Wabah termasuk hukuman. 

عن عائشة -رضي الله تعالى عنها- قالت: سألتُ رسول الله ﷺ عن الطاعون فأخبرني أنه: عذاب يبعثه الله على من يشاء، وأن الله جعله رحمة للمؤمنين، ليس من أحدٍ يقعُ الطاعونُ فيمكث في بلده صابراً محتسباً، يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر شهيد. رواه البخاري.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wabah , maka beliau menyampaikan kepadaku, "Bahwa itu adalah adzab (hukuman) yang dikirim oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan bahwasanya Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorangpun yang tertimpa wabah, kemudian dia tetap tinggal di daerahnya dalam keadaan bersabar dan mengharapkan pahala, dia meyakini bahwa wabah tersebut tidaklah mengenai dia kecuali telah ditetapkan oleh Allah, kecuali pasti dia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mati syahid." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Nabi shalallahu alaihi wasallam juga bersabda :

وما انتشرت الفاحشة في قوم حتى يعلنوا بها إلا عمتهم الأوجاع والطواعين التي لم تكن في أسلافهم

"Tidaklah perzinaan merajalela di suatu masyarakat hingga merekapun terang-terangan dengannya, kecuali pasti akan menyelimuti mereka penyakit dan wabah yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka." (Hadits riwayat Ibnu Majah)

 Hukuman terangkat dengan sebab istighfar.

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِیهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ یَسۡتَغۡفِرُونَ

"Dan tidaklah Allah menghukum mereka sementara engkau (Nabi) ada di tengah-tengah mereka. Dan tidak pula Allah menghukum mereka sementara mereka beristighfar."
[QS. Al-Anfal: 33]

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan :

والاستغفار إن وقع من الفجار يدفع به ضرب من الشرور والأضرار.
"Dan istighfar jika dilakukan oleh para penggemar maksiat, akan menjadi sebab tercegahnya berbagai kejelekan dan mala petaka." (Al-Jami' Li Ahkamil Qur'an)

Jika istighfarnya para penggemar maksiat saja dapat membendung berbagai malapetaka, apa lagi jika istighfar itu berasal dari orang-orang yang taat.

 Istighfar menambah kekuatan (imun). 

Allah Ta'ala berfirman :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ

(Hud berkata) "Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, maka Dia akan mengirim hujan kepada kalian dengan deras dan akan menambah kekuatan pada kekuatan kalian." [QS. Hud: 52]

Dengan istighfar, Allah ta'ala menambah kekuatan badan seorang hamba di atas kekuatan yang telah Allah ta'ala berikan sebelumnya. Di antara kekuatan badan tersebut adalah kekuatan imun (daya tahan tubuh). Bisa jadi Allah ta'ala menambah imun seseorang dengan sebab istighfarnya.

Marilah kita banyak beristighfar dan bertaubat dalam menghadapi wabah COVID-19 ini, agar kita terlindungi dari wabah ini dan agar wabah ini segera dicabut oleh Allah ta'ala .

 Wallahu a'lam.

🖋 Oleh: al-Ustadz Muhammad Rofi حفظه الله

📲 Ayo Join dan Share:
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
🖼 Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
🌏 Kunjungi:
www.riyadhussalafiyyin.com

Baca selengkapnya »


MENCUCI LIPATAN DAN SELA-SELA JARI ADALAH SUNNAH FITROH ,


Disebutkan hadits tentang Sunanul Fithrah dari A'isyah radhiallahu 'anha : 

 عن عائشة قالت: قال رسول الله: " عشر من الفطرة: قص الشارب، وإعفاء اللحية، والسواك، والاستنشاقُ بالماء، وقص الأظفار، وغسل البراجِم، ونتف الإبط، وحلق العانة، وانتقاص الماء " يعني الاستنجاء بالماء. قال زكريا: قال مصعب بن شيبة: ونسيت العاشرة؛ إلا أن تكون المضمضة...(رواه مسلم)

Dari A'isyah --radhiallahu 'anha-- beliau berkata: Berkata Rasulullah --shalallahu alaihi wa sallam-- : "Sepuluh perkara yang termasuk Fithrah: menggunting kumis, membiarkan Jenggot, bersiwak, memasukan air ke hidung(membersihkan lubang hidung), menggunting kuku, mencuci -burjumah- (lipatan jari), mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, mengurangi air(beristinja)," Berkata Zakariya: berkata Mush'ab bin Syaibah: Aku lupa yg kesepuluh, sepertinya: berkumur kumur. (HR. Muslim)

"Baraajim" adalah bentuk jamak dari "burjumah" dengan dhommah pada huruf "Ba" dan huruf "Jim".

Berkata Ibnul Atsier dalam An Nihayah fi Ghariebil Hadiets:

هي العقد اللتي في ظهور الأصابع يجتمع فيها الوسخ الواحدة برجمة بالضم

Baraajim" adalah simpulan-simpulan dipunggung jari-jemari yg biasa berkumpul padanya kotoran. Bentuk mufardnya "Burjumah" dengan dhommah.(An Nihaayah 1/113)

Berkata Al khottoby:

المواضع التي تتسخ ويجتمع فيها الوسخ

Tempat-tempat yg biasa terkumpul padanya kotoran. (Fathul Mun'im 169)

Berkata Asy Syaukaani --rahimahullah-- dalam Nailul Authar:

   قال الشوكاني : وَهِيَ عُقَدُ الْأَصَابِعِ وَمَعَاطِفُهَا كُلُّهَا وَغَسْلُهَا سُنَّةٌ مُسْتَقِلَّةٌ لَيْسَتْ .بِوَاجِبَةٍ، قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَيُلْحَقُ بِالْبَرَاجِمِ مَا يَجْتَمِعُ فيه مِنْ الْوَسَخِ

Baraajim adalah simpulan-simpulan jari dan lipatan-lipatannya seluruhnya. Hukum dibersihkannya adalah sunnah tersendiri (terpisah dari wudhu). Dan tidak wajib. Berkata para ulama: Termasuk dalam Baraajim adalah semua yg biasa terkumpul padanya kotoran....(Nailul Authar )

Dengan demikian jelaslah mencuci tangan dengan membersihkan lipatan-lipatannya, sela-selanya dengan standar yg disebutkan oleh pakar pakar kesehatan merupakan Sunnah Fitrah yg disunnahkan oleh Rasulullah --shalallahu alaihi wa sallam--

Wallahu A'lam.


Oleh : Al Ustadz Muhammad bin Umar Assewed -hafidzahullahu-


▶️ Bergabung di Channel:
📟 https://t.me/ittibaussalafsumpiuh
🌐 www.ittibaussalaf.com
___
Sumber :
https://t.me/salafy_cirebon

Baca selengkapnya »


12 Sikap Seorang Muslim Dalam Menghadapi Wabah Virus Corona


Sebagaimana yang kita ketahui, dunia dikagetkan dengan mewabahnya infeksi virus corona yang berawal dari Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok. Kemudian tersebar ke hampir seluruh penjuru dunia. Lalu bagaimana sikap seorang muslim menghadapinya. Berikut ini beberapa sikap seorang muslim dalam menghadapi wabah penyakit infeksi virus corona.

1. Beriman kepada takdir Allah. Bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini terjadi atas kehendak dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Termasuk wabah virus corona yang tejadi sekarang ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11).

2. Meyakini penyakit menular tidaklah menular dengan sendirinya, tetapi menular atas izin dan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ عَدْوَى

“Tidak ada penyakit menular.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah mencampur unta yang sehat dengan unta yang sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Muslim)

Yang ditiadakan dalam hadits pertama bukanlah tidak ada penyakit menular, karena dalam kesempatan yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan ada penyakit yang menular, sebagaimana telah disebutkan haditsnya diatas.

Lalu apa yang ditiadakan dalam hadits pertama? yang ditiadakan adalah apa yang diyakini oleh kaum jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa ada kaitannya dengan kehendak dan takdir Allah.

3. Bertawakal hanya kepada Allah.

Bersandar/bertawakal hanya kepada Allah dalam meraih atau mendapatkan hal-hal yang bermanfaat atau menolak/menghindar dari hal-hal yang bermudhorat (bahaya). Diantaranya adalah penyakit menular.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Kepada Allah-lah kalian bertawakal (menyerahkan diri) jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (al-Ma’idah: 23)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari wabah virus corona kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala maka bersandarlah hanya kepada-Nya. Dan perlu diketahui tawakal tidaklah menafikan/meniadakan usaha yang dibolehkan agar kita terhindar dari wabah virus corona.

4. Memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah.

Musibah, bencana dan wabah penyakit yang terjadi diantara sebabnya adalah akibat perbuatan dosa dan maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berfirman

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu).” (asy-Syura: 30)

Oleh karena itu marilah kita memperbanyak  memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berfirman,:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (At Tahrim : 8)

Taubat nasuha adalah dengan menyesali perbuatan dosa yang pernah kita lakukan, meninggalkannya dan berazzam untuk tidak melakukannya/mengulangnya kembali.

5. Memperbanyak berdoa kepada Allah semata, agar terhindar dari berbagai penyakit termasuk wabah virus corona.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (al-Baqarah: 186)

Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya.”

(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani ).

6. Bersikap tenang dan tidak panik.

Sikap panik justru bisa berdampak jelek buat kita atau bahkan buat orang lain. Oleh karena itu kita tidak boleh panik dan senantiasa bersandar, bertawakal dan berdoa hanya kepada Allah.

7. Melakukan sebab-sebab yang dibolehkan agar kita terhidar dari wabah corona.

Diantaranya adalah

– Tidak berpergian ke daerah yang terjangkiti wabah.

– Menghindari orang yang terkena penyakit disebabkan wabah virus corona.

– Menerapkan pola hidup sehat. Seperti selalu menjaga kebersihan, menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin dengan tisu atau lengan baju, menggunakan masker saat sakit batuk pilek, rajin melakukan cuci tangan dengan air mengalir, istirahat yang cukup, mengkosumsi makanan bergizi dan berolahraga teratur.

8. Sabar ketika terkena penyakit virus corona.

Ketika ada seseorang yang terkena penyakit virus corona kewajiban dia adalah bersabar dan ridha atas ketentuan Allah, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim).

Disamping itu dia berusaha untuk mengobati penyakitnya dan banyak berdoa memohon kesembuhan kepada Allah semata.

9. Peduli kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Dan tidak melakukan hal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Agama kita mengajarkan kepada kita untuk peduli kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Baik dalam urusan dunia ataupun dalam urusan akhirat. Termasuk dalam hal yang sedang kita alami ini berupa wabah virus corona. Bukan malah melakukan hal yang berdampak jelek atau berbahaya untuk diri sendiri dan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

”Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.”(HR. Ibnu Majah)

10. Tidak boleh mencela, mencaci maki dan mengumpat penguasa kaum muslimin.

Sikap yang benar dari seorang muslim adalah menghormati penguasa/pemerintah kaum muslimin. Bukan malah mencaci maki dan mengumpat pemerintah. Sebab perbuatan tersebut akan semakin memperkeruh keadaan kita, yang sedang tertimpa musibah.

Perlu diketahui, pemerintah kita sudah berbuat banyak untuk menanggulangi wabah virus corona, seharusnya kita berterima kasih kepada pemerintah dan bukan malah sebaliknya.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

نَهَانَا كُبَارَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ قَالُوا: لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

“Kalangan tua dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kami (mencela penguasa). Mereka berkata, ‘Janganlah kalian mencela pemerintah kalian, janganlah melakukan tipu daya terhadapnya, jangan pula membencinya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya (keputusan) urusan itu sangat dekat’.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim, 2/488)

11. Tidak menyebarkan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya.

Berita hoax dan berita-berita yang tidak jelas kebenaraanya akan merugikan kita semua, selain akan memperkeruh keadaan yang ada. Seorang muslim seharusnya berhati-hati dari menyebarkan berita, karena semuanya akan dimintai dipertanggung jawabkan diakhirat kelak.

Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا

“Dan janganlah kamu mengikuti (mengatakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36). 

12. Mengambil pelajaran dari terjadinya wabah corona.

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari adanya wabah virus corona adalah betapa lemahnya manusia, dan betapa butuhnya kita kepada Allah. Tidak pantas bagi kita untuk sombong.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا

“dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (an-Nisa’: 28)

Dan seharus membuat kita sadar dan kembali kepada Allah dengan memperbanyak memohon ampunan dan bertaubat kepada Nya dari perbuatan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Serta melakukan hal-hal wajib yang Allah perintahkan atas kita, mungkin selama ini kita melalaikannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan ikhlas hanya mencari ridha Allah semata
Wallahu a’lam bish shawwab.

Abdullah al Jakarty

(YBI-AJ/03/20)

https://www.yukbelajarislam.com/2020/03/05/12-sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-wabah-virus-corona/

Baca selengkapnya »

Download Buku Tata Cara Pengurusan Jenazah Sesuai Sunnah

Download Buku Tata Cara Pengurusan Jenazah Sesuai Sunnah


Tata Cara Pengurusan Jenazah Sesuai Sunnah

JUDUL:
Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah

SUBJUDUL:

Syarh Kitab al-Janaiz min Bulughul Maram

PENULIS:

ABU UTSMAN KHARISMAN

Jumlah  halaman: 170 hal

SINOPSIS:

Bulughul Maram adalah salah satu karya tulis legendaris. Ditulis oleh seorang Ulama’ Syafiiyah al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany. Buku yang di hadapan pembaca ini menjelaskan makna hadits-hadits yang terkait penyelenggaraan jenazah dalam Bulughul Maram dengan berpedoman pada penjelasan para Ulama’ Ahlussunnah dalam kitab-kitab mereka.Penjelasan makna tiap hadits seringkali tidak hanya berkisar pada permasalahan fiqh, namun juga aqidah (tauhid), akhlak, kemasyarakatan dan lain sebagainya.Buku ini tepat sebagai panduan dalam proses penyelenggaraan jenazah sejak sebelum kematian, menjelang, hingga pada saat terjadinya kematian tersebut. Pedoman yang akan menuntun tata cara memandikan, mengkafani, mensholatkan, mengiringi, dan menguburkan jenazah, serta adab-adab terkait kematian berdasarkan Sunnah Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam. Selain penjelasan pada tiap hadits, di akhir buku ini juga terdapat ringkasan tata cara tiap proses sehingga pembaca bisa mempelajari dan menerapkannya secara mudah.
Download file PDF Lengkap, di SINI


Baca selengkapnya »


Meraih Kebahagiaan Hakiki



Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan.
Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan tersebut adalah bagaimana hidup bahagia.
Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya.
Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.
Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut.

Hakikat Hidup Bahagia


Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. Dalam kenyataannya telah banyak orang yang tampil untuk mendefinisikannya sesuai dengan sisi pandang masing-masing, akan tetapi mereka belum menemukan titik terang.
Ahli ekonomi mendefinisikannya sesuai dengan bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendefinisikannya sesuai dengan ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendefinisikannya sesuai dengan ilmu jiwa tersebut. Mari kita melihat bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hidup bahagia.



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kamu tidak akan menemukan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta-mencinta kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan keluarga-keluarga mereka. Merekalah orang-orang yang telah dicatat dalam hati-hati mereka keimanan dan diberikan pertolongan, memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Ketahuilah mereka adalah (hizb) pasukan Allah dan ketahuilah bahwa pasukan Allah itu pasti menang".(Al-Mujadilah:22)



Dari ayat ini jelas bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan orang-orang yang bahagia dan mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dan orang-orang yang menjunjung tinggi makna al-wala’ (berloyalitas) dan al-bara’ (kebencian) sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.



As-Sa’di dalam tafsir beliau mengatakan: “Orang-orang yang memiliki sifat ini adalah orang-orang yang telah dicatat di dalam hati-hati mereka keimanan. Artinya Allah mengokohkan dalam dirinya keimanan dan menahannya sehingga tidak goncang dan terpengaruh sedikitpun dengan syubhat dan keraguan. Dialah yang telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongn-Nya yaitu menguatkanya dengan wahyu-Nya, ilmu dari-Nya, pertolongan dan dengan segala kebaikan.



Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebagian dalam hidup di negeri dunia dan akan mendapatkan segala macam nikmat di dalam surga dimana di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan menyejukkan hatinya dan segala apa yang diinginkan dan mereka juga akan mendapatkan nikmat yang paling utama dan besar yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan tidak akan mendapatkan kemurkaan selama - lamanya dan mereka ridha dengan apa yang diberikan oleh Rabb mereka dari segala macam kemuliaan, pahala yang banyak, kewibawaan yang tinggi dan derajat yang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka tidak melihat yang lebih dari apa yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala”.



Abdurrahman As-Sa’di dalam mukadimah risalah beliau Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah hal. 5 mengatakan: “Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki”.



Allah berfirman:
“Barang siapa yang melakukan amal shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan ganjaran pahala yang lebih baik dikarenakan apa yang telah di lakukannya”.(An-Nahl: 97)



As-Sa’di dalam Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 9 mengatakan: “Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shalih yaitu dengan kehidupan yang bahagia dalam negeri dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat”.



Dari kedua dalil ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagian hidup itu terletak pada dua perkara yang sangat mendasar : Kebagusan jiwa yang di landasi oleh iman yang benar dan kebagusan amal seseorang yang dilandasi oleh ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Kebahagian Yang Hakiki dengan Aqidah

Orang yang beriman kepada Allah dan mewujudkan keimanannya tersebut dalam amal mereka adalah orang yang bahagia di dalam hidup. Merekalah yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di belakang kejadian ini ada hikmah-hikmah yang belum terbetik pada dirinya yang dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan dia bersabar menerimanya. Dan apabila mereka mendapatkan kesenangan, mereka bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya.


Alangkah bahagianya hidup kalau dalam setiap waktunya selalu dalam kebaikan. Bukankah sabar itu merupakan kebaikan? Dan bukankah bersyukur itu merupakan kebaikan? Di antara sabar dan syukur ini orang-orang yang beriman berlabuh dengan bahtera imannya dalam mengarungi lautan hidup. Allah berfirman;
"Jika kalian bersyukur (atas nikmat-nikmat-Ku ), niscaya Aku akan benar-benar menambahnya kepada kalian dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim: 7)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Dan tidaklah seseorang di berikan satu pemberian lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Kesabaran itu adalah Cahaya


Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami menemukan kebahagian hidup bersama kesabaran”. ( HR. Al-Bukhari)
Mari kita mendengar herannya Rasululah terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam:
"Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikan baginya”.



As-Sa’di rahimahullah mengatakan: ”Rasulullah memberitakan bahwa seorang yang beriman kepada Allah berlipat-lipat ganjaran kebaikan dan buahnya dalam setiap keadaan yang dilaluinya baik itu senang atau duka. Dari itu kamu menemukan bila dua orang ditimpa oleh dua hal tersebut kamu akan mendapatkan perbedaan yang jauh pada dua orang tersebut, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tingkat kimanan yang ada pada mereka berdua”. (Lihat Kitab Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 12).
Dalam meraih kebahagiaan dalam hidup manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut dan dia berusaha untuk menempuhnya walaupun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut walaupun harus mengorbankan nyawa. Dia mempertahankan diri dalam amukan badai kehidupan dan berusaha menggandeng tangan keluarganya untuk bersama-sama dalam menyelamatkan diri. Yang menjadi syi’arnya adalah firman Allah;
"Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka".(At-Tahrim: 6)
Karena perjuangan yang gigih tersebut, Allah mencatatnya termasuk kedalam barisan orang-orang yang tidak merugi dalam hidup dan selalu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al- ‘Ashr 1-3 dan surat Al-Mujadalah 22. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan merekalah pemilik kehidupan yang hakiki.



Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagian yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Mendapatkan kegagalan demi kegagalan ketika bertarung melawannya. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih kebahagian yang semu daripada harus meraih kebahagian yang hakiki di dunia dan di akhirat kelak. Menanggalkan baju ketakwaannya, mahkota keyakinannya dan menggugurkan ilmu yang ada pada dirinya. Mereka adalah barisan orang-orang yang lemah imannya.



Ketiga, orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagian yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana’ dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat. Orang yang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalm surat Al-‘Ashr ayat 2 yaitu “Orang-orang yang pasti merugi” dan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 yaitu “ Partainya syaithon yang pasti akan merugi dan gagal”. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sabda beliau: Di pagi hari seseorang menjadi mukmin dan di sore harinya menjadi kafir dan di sore harinya mukmin maka di pagi harinya dia kafir dan dia melelang agamanya dengan harga dunia.



Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Di antaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shalih dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah subhanahu wa ta’ala. Hidup harus bertarung dengan fitnah sehingga dengannya ada yang harus menemukan kegagalan dirinya dan terjatuh pada kehinaan di mata Alllah dan di mata makhluk-Nya.
Wallahu A'lam.

(Dikutip dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=1)

Baca selengkapnya »