Hamba-hamba Ar-Rahman


Surah al-Furqan adalah salah satu surah yang biasa kita baca atau bahkan kita hafal dari al-Qur’an yang mulia, kalam Rabbul Alamin.

Surah ini dinamakan al-Furqan yang bermakna pembeda (antara yang haq dengan yang batil) karena ayat pertama memuat kata tersebut,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

        “Mahasuci Dzat yang telah menurunkan al-Furqan (yakni al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi peringatan bagi segenap alam.” (al-Furqan: 1)

 

Saudariku muslimah…

Entah sudah berapa kali kita menamatkan bacaan surah tersebut bila mengkhatamkan al-Qur’an merupakan kebiasaan kita. Namun, adakah sesuatu yang kita dapat dari surah tersebut yang bisa menjadi bahan renungan?

Tentu saja, jawabannya, banyak sekali! Nah, kita ingin membicarakan salah satunya, yaitu ayat-ayat yang memuat sifat-sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang (ar-Rahman), yang selanjutnya kita sebut dengan ‘ibadurrahman.

Al-Allamah al-Muhaddits Imam aljarh wat ta’dil zaman ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga beliau dan memanjangkan usianya dalam berkhidmat kepada sunnah—pernah menyampaikan keterangan tentang ayat-ayat tersebut dalam beberapa majelis di rumah beliau pada Ramadhan 1430 H.

Terkesan dengan keterangan beliau, kami menyusun tulisan ini dengan berbekal sebuah kitab yang memuat keterangan beliau yang berjudul Nafahat al-Huda wa al-Iman min Majalis al-Qur’an (hlm. 437—449).

Bacalah terlebih dahulu surah al-Furqan ayat 63—76. Itulah ayat-ayat yang memuat sifat-sifat ‘ibadurrahman, akhlak mereka, dan interaksi mereka dengan Rabb mereka serta dengan sesama manusia.

 

Tawadhu dalam Berjalan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا

        “Dan hamba-hamba ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (al-Furqan: 63)

Berjalan dengan rendah hati yang mereka lakukan tumbuh dari sifat tawadhu’ kepada Allah ‘azza wa jalla. Sifat ini adalah satu sifat yang terpuji dalam agama ini, bahkan terpuji dalam seluruh ajaran agama terdahulu. Tengoklah salah satu wasiat Luqman kepada putranya terkait adab ini.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan angkuh (merasa besar diri/tinggi hati).” (Luqman:18)

Dalam surah al-Isra’, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak pula engkau bisa mencapai tingginya gunung-gunung.” (al-Isra’: 37)

Ayat ini menunjukkan Allah ‘azza wa jalla menghinakan orang yang angkuh yang merasa dirinya besar, “Siapa kamu hingga kamu merasa besar diri dan meremehkan orang lain? Bukankah kamu tidak bisa mencapai tingginya gunung-gunung?”

Adapun ‘ibadurrahman berjalan di atas bumi-Nya Allah ‘azza wa jalla ini dengan penuh tawadhu kepada Allah ‘azza wa jalla , menghinakan diri di hadapan-Nya ‘azza wa jalla, dan rendah hati kepada orang-orang beriman.

Mereka berjalan dengan tenang, penuh kesantunan, tanpa dibuat-buat, sebagaimana orang sombong berjalan dengan gaya yang dibuat-buat.

 

Tidak Membalas Kebodohan dengan Kebodohan

Karena sempurnanya akhlak dan mulianya jiwa mereka, mereka tidak membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada mereka dengan keburukan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣

“Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka (menujukan kepada mereka ucapan-ucapan buruk), mereka mengatakan, ‘salaman’ (perkataan yang baik).” (al-Furqan: 63)

Mereka menjaga lisan mereka dari dosa dan dari ucapan yang dapat mencacati kehormatan dan kemuliaan mereka dengan tidak membalas ucapan buruk dengan keburukan.

Sebab, melayani perkataan buruk dari orang-orang bodoh yang tidak paham kemuliaan jiwa, akan mencacati kemuliaan orang-orang yang cerdas. Walaupun orang-orang bodoh itu mencaci dan menujukan kata-kata keji kepada mereka, mereka justru membalasnya dengan akhlak yang tinggi berupa kesabaran, kelembutan, dan ucapan yang baik. Saat dicaci orang bodoh, sebagian orang yang mulia berkata, “Assalamu ‘alaikum.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥

        “Salamun ‘alaikum, kami tidak ingin bergaul (melayani) orang-orang jahil.” (al-Qashash55)

Janganlah engkau menjadi orang bodoh yang membalas cacian dengan cacian. Akan tetapi, tetaplah tenang dan sabar. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Balaslah (keburukan itu) dengan yang lebih baik. (Jika engkau berbuat demikian) engkau dapati orang yang tadinya antara engkau dan dia ada permusuhan, (di belakang hari) seolah-olah merupakan teman yang sangat setia. Sifat itu (membalas keburukan dengan kebaikan) tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Inilah akhlak yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kita. Dia menerangkan sifat-sifat kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya agar kita menirunya.

Ayat ke-63 dari surah al-Furqan di atas memuat dua interaksi yang dilakukan hamba: dengan Allah ‘azza wa jalla dan dengan sesama hamba Allah ‘azza wa jalla.

 

Menggunakan Sebagian Malamnya untuk Shalat

Ayat berikutnya (ayat 64) dalam surah al-Furqan khusus menyebutkan hubungan hamba dengan Rabbnya,

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤

        “Orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan banyak sujud dan berdiri.” (al-Furqan: 64)

Mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan qiyamul lail.

Bermalam untuk Rabb mereka’, bukanlah maknanya mereka shalat sepanjang malam, tetapi sebagian waktu malam, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa?

Karena syariat agama kita ini mudah dan ringan, tidak memberati pemeluknya. Islam adalah agama yang pertengahan antara sifat meremehkan dan sifat berlebih-lebihan.

Karena itulah, tatkala sebagian sahabat ingin membebani diri dengan ibadah tertentu, ada yang berkata, “Aku akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur.”

Yang lain berkata, “Aku akan selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.”

Yang satunya lagi berkata, “Aku akan fokus ibadah dan tidak akan menikah.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada mereka dengan menyatakan,

        مَا بَالُ أَقْوَامٌ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنّيِ أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَفَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa orang-orang itu mengatakan ini dan itu? Aku shalat dan aku juga tidur. Aku puasa dan aku juga berbuka. Aku pun menikahi banyak wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukanlah temasuk golonganku.” (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401 dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dan ini adalah lafadz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan puasa dan shalat yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla, dalam sabda beliau kepada Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma,

        أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يَوْمًاوَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari. Shalat (malam) yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah shalat Dawud ‘alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun shalat (setelahnya) selama dua pertiga malam dan tidur lagi (setelah shalat) seperenam malam (yang tersisa).” (HR. al-Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

 ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan penuh khusyuk. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

        “Sungguh, beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam mengerjakan shalat.” (al-Mukminun: 1—2)

Senantiasa Berdoa agar Dijauhkan dari Neraka

        ‘Ibadurrahman mengimani adanya surga dan neraka. Mereka yakin akan dahsyatnya azab neraka dan kesengsaraan para penghuninya, hingga mereka memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Doa yang mereka lantunkan,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥

        Dan orang-orang yang berdoa, “Wahai Rabb kami, palingkanlah dari kami (jauhkanlah) azab Janannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.” (al-Furqan: 65)

Orang-orang kafir akan diazab dalam neraka selama-lamanya. Azab itu senantiasa menyertai mereka. Mereka ingin rehat walau sebentar dari azab, namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tidak mati dalam neraka, namun hidup yang semestinya pun tidak. Mereka terus diazab sebagai balasan kekufuran mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, kesyirikan mereka, dan gelimang maksiat saat hidup di dunia.

Adapun hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang saat di dunia beriman kepada-Nya, beramal saleh, menjauhi perbuatan buruk dan tercela—terutama kekafiran—sembari memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari api neraka. Sebab, seseorang tidak bisa menjamin dirinya selamat dari azab, apa pun amalannya.

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa untuk dibaca pada akhir setiap shalat sebelum salam, baik shalat fardhu atau nafilah, sebagaimana yang tersampaikan lewat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الَحْمْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahhud akhir, hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (yaitu); dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

 ‘Ibadurrahman tidaklah teperdaya dan silau dengan iman, amal saleh, dan ibadah mereka yang banyak. Mereka juga tidak tertipu oleh qiyamul lail yang mereka lakukan hingga dengan percaya diri mengatakan, “Kami pantas masuk surga dengan kelebihan yang ada pada kami.” Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dungu, ahlul bid’ah dan kesesatan, yang merasa yakin masuk surga.

Becerminlah kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul, yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka tidak merasa aman dengan diri-diri

mereka.

Seorang tabi’in, Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan menimpa diri-diri mereka.”

Demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dia tidak merasa aman terhadap dirinya, tidak bangga diri dan membanggakan amalnya.

Kata al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Tidaklah khawatir dari kemunafikan, kecuali seorang mukmin. Tidak ada yang merasa aman dari tertimpa kemunafikan, kecuali seorang munafik.”

Sungguh, kita tidak merasa aman dengan diri kita.

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

        “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Perbanyaklah berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا

        “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan kalbu kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.” (Ali Imran: 8)

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan kalbu, tetap kokohkanlah kalbu kami di atas agama-Mu.”

Tidak ada jaminan bagi kita hingga bisa merasa aman dari azab. Siapa kita bila dibandingkan dengan sahabat mulia, Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Meski telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja Umar merasa takut akan nasibnya. Karena itu, menjelang wafatnya beliau berkata,

        وَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي طِلاَعَ الْأَرْضِ ذَهَبًا لَافْتَدَيْتُ بِهِ مْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ أَرَاهُ

“Demi Allah,seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya aku akan jadikan tebusanku dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”

Bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tidak takut, sementara azab neraka demikian pedih.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦

        “Sesungguhnya neraka itu sejelek-jelek tempat menetap dan tempat berdiam.” (al-Furqan: 66)

Apabila neraka merupakan tempat yang demikian buruk, jangan tanya tentang nasib penghuninya. Neraka adalah rumah abadi bagi orang-orang kafir, tempat azab yang pedih yang tidak sanggup kita bayangkan.

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

        “Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Di atasnya ada para malaikat (penyiksa) yang keras, kasar, dan kaku. Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jangan dikira api neraka sama dengan api di dunia. Api dunia hanyalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam (manusia) ini adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843, ini adalah lafadz riwayat Muslim)

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْرَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًافَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِنَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِي الصَّيْفِفَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ

Neraka mengeluh kepada Rabbnya dengan berkata, “Duhai Rabbku, sebagian aku melahap sebagian yang lain.”

Allah pun mengizinkan neraka untuk bernapas dua kali; satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Panas yang sangat yang kalian dapatkan dan dingin yang sangat yang kalian dapatkan (itu dari napas neraka). (HR. al-Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 615 & 617, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢  كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ ٣٣

        “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seakan-akan bunga api yang terlontar itu berupa iringan unta yang berwarna kuning.” (al-Mursalat: 32—33)

Ya Allah, lindungi kami dari api neraka-Mu!

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Repost : https://asysyariah.com

Baca selengkapnya »


Hukum menggunakan pasta gigi, obat tetes telinga dan obat tetes mata bagi orang yang berpuasa , , , ,


Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

ما حكم استعمال معجون الأسنان، وقطرة الأذن، وقطرة الأنف، وقطرة العين للصائم ؟ وإذا وجد الصائم طعمها في حلقه فماذا يصنع؟

Apa hukum menggunakan pasta gigi, tetes telinga, tetes hidung, dan tetes mata bagi orang yang berpuasa?
Dan bagaimana bila ia mendapati rasanya masuk di kerongkongannya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

تنظيف الأسنان بالمعجون لا يفطر به الصائم كالسواك، وعليه التحرز من ذهاب شيء منه إلى جوفه، فإن غلبة شيء من ذلك بدون قصد فلا قضاء عليه.

Membersihkan gigi dengan pasta (odol) tidaklah membatalkan puasa sebagaimana dengan siwak. Namun wajib menjaga diri agar tidak ada sesuatu yang masuk ke dalam kerongkongannya. Apabila ada sesuatu yang tertelan tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya.

وهكذا قطرة العين والأذن لا يفطر بهما الصائم في أصح قولي العلماء. فإن وجد طعم القطور في حلقه، فالقضاء أحوط ولا يجب؛ لأنهما ليسا منفذين للطعام والشراب

Demikian juga dengan tetes mata dan telinga. Keduanya tidaklah membatalkan puasa menurut pendapat yang paling benar diantara dua pendapat para ‘ulama. Namun bila ia mendapati rasa tetesan-tetesan tersebut ada di kerongkongannya, maka mengqadha itu lebih hati-hati tetapi tidak wajib. Karena telinga dan mata bukanlah saluran untuk makanan dan minuman.

أما القطرة في الأنف فلا تجوز لأن الأنف منفذ

Adapun tetesan ke dalam hidung maka tidak boleh, karena hidung merupakan saluran (menuju kerongkongan). 

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وبالغ في الإستنشاق إلا أن تكون صائما

Berdalam-dalamlah ketika beristinsyak kecuali bila engkau sedang berpuasa.”(1)

وعلى من فعل ذلك القضاء لهذا الحديث، وما جاء في معناه إن وجد طعمها في حلقه

Sehingga wajib qadha bagi siapa saja yang melakukan hal tersebut dan apa yang semakna dengannya berdasarkan hadits ini, bila ia mendapati rasanya telah masuk di dalam kerongkongannya.



WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

Baca selengkapnya »


INILAH SUMBER KEBAIKAN DAN KEBURUKAN


INILAH SUMBER KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta'ala berkata,

"Setiap kebaikan di dunia, maka sebabnya ialah mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, serta menta'ati Rasul-Nya ﷺ.

Dan setiap kejelekan di alam semesta ini, munculnya fitnah, musibah, kemarau panjang, dan dikuasainya musuh dan berbagai mala petaka yang lainnya, maka  penyebabnya adalah penyelisihan terhadap Rasul ﷺ, dan menyeru kepada selain Allah (kesyirikan)."

Sumber:
Jaami'ur Rasaail (15/25)

قَال شيْخ الٳِسْلام ابن تيمية رَحِمَه الله تَعالَى:

"كُلّ صَلاح فِي الأرْض فَسَببُه تَوحيد الله و عِبادتِه ، و طَاعة رَسوله ﷺ.

 وَكلّ شرّ في العَالمِ و فِتنةٍ و بلاءٍ و قحط و تسلٍيط عدوٍ و غير ذلك ؛ فَسببُه مُخالفة الرّسول ﷺ ، و الدّعوة إلَى غَير اللِه."

جامع الرسائل (15/25)

kunjungi website kami :



WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
Join Channel Ⓚ①Ⓣ

Dengarkan [ VERSI BARU! ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia

Baca selengkapnya »


DI MASA WABAH CORONA: LEBIH AFDHOL TARAWIH DI AKHIR MALAM ATAU LANGSUNG BA'DA SHOLAT ISYA? , , ,


DI MASA WABAH CORONA: LEBIH AFDHOL TARAWIH DI AKHIR MALAM ATAU LANGSUNG BA'DA SHOLAT ISYA?

Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc hafizhahullah

Pertanyaan:

Bismillah tanya ustadz, dalam kondisi wabah Corona saat ini, kita sholat tarawih di mana ? Di rumah atau masjid ? Kalau di rumah mana yang lebih afdhol bagi kami, shalat tarawih di akhir malam atau langsung ba’da shalat Isya’ ?

Jawaban:

الحمد لله والصلاۃ و السلام علی رسول ﷲ

Terkait dengan shalat tarawih di masa wabah Corona, shalatlah tarawih di rumah masing-masing, baik sendiri atau berjamaah bersama keluarga.

Taati perintah pemerintah, Waliyyul Amr, ikutilah himbauan pemerintah untuk shalat di rumah di masa wabah corona, dan ini termasuk udzur untuk tidak shalat berjamaah lima waktu di masjid, apalagi tarawih.

Terkait shalat tarawih di rumah, anda bisa melakukan dengan berjamaah atau sendiri, bisa di awal waktu setelah anda berjamaah shalat isya, atau di pertengahan malam atau di akhir malam. Semua pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Tentu ini salah satu kemudahan dalam shalat malam, baik dari sisi waktunya; bisa awal, tengah atau akhir, dan dari sisi berjamaah atau sendiri.


Adapun mana yang paling afdhol di awal malam atau di akhir malam?

Jika anda mampu untuk bangun di akhir malam dan melakukannya di sepertiga malam terakhir, maka inilah yang afdhol bagi anda dan keluarga anda. Setelah shalat isya berjamaah hendaknya anda tidur di awal waktu, untuk bangun di akhir malam.

Namun apabila anda khawatir tidak bisa shalat di akhir malam, maka shalatlah setelah isya, sebelum anda tidur bersama keluarga dan anak-anak anda.

Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepada Abu Hurairah untuk shalat witir sebelum tidur. Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata:

أوصاني خليلي ﷺ بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام” متفق عليه.

"Kekasihku (yakni Nabi) ﷺ mewasiatkan tiga perkara kepadaku; berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha dan agar aku shalat witir sebelum aku tidur".(Muttafaqun ‘Alaihi).

Sebagian para ulama diantaranya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mencoba menyebutkan alasan dibalik wasiat Nabi ﷺ kepada Abu Hurairah untuk shalat witir sebelum tidur, disebutkan karena Abu Hurairah telah menghabiskan awal waktunya dengan ilmu, mengulang-ulang hadits yang beliau hafalkan dari Nabi shollallohu’alaihi, oleh karenanya Rasulullah ﷺ berwasiat kepada Abu Hurairah untuk shalat witir sebelum tidur.

- Walhasil, shalat malam di awal waktu adalah bagi yang khawatir kesulitan bangun di akhir malam. 

- Adapun bagi yang punya harapan untuk bangun di akhir malam, yang afdhol baginya adalah shalat di akhir malam sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

فعن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: (من خاف أن لا يقوم آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة، وذلك أفضل) رواه مسلم.

"Dari shahabat Jabir Radhiyallahu’anhu: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam maka shalat witirlah di awal malam, dan siapa yang berharap bangun di akhir malam maka shalat witirlah di akhirnya, karena shalat di akhir malam dipersaksikan, dan itu lebih afdhol (utama)." (HR. Muslim)

Semoga Alloh Ta’ala memudahkan kita semua untuk mengisi bulan Ramadhan dengan amalan sholih. Perbanyaklah doa agar Alloh selamatkan kaum muslimin dari segala kejelekan, di dunia dan di akhirat.

Sumber: problematikaumat.com/tarawih-akhir-malam-di-masa-wabah-corona/

••••

Baca selengkapnya »


SHALAT SUNNAH RAWATIB KETIKA SAFAR , ,


SHALAT SUNNAH RAWATIB KETIKA SAFAR

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, 

وكان من هديه في سفره الاقتصار على الفرض ولم يحفظ عنه أنه صلى سنة الصلاة قبلها ولا بعدها إلا ما كان من الوتر وسنة الفجر فإنه لم يكن ليدعهما حضرا ولا سفرا

"Termasuk petunjuk Nabi Muhammad ﷺ ketika safar adalah hanya mengerjakan shalat wajib. Tidak ditemui riwayat bahwa beliau mengerjakan shalat qabliyah atau ba'diyah selain shalat witir dan qabliyah subuh. Sebab Nabi sama sekali tidak pernah meninggalkan witir dan qabliyah subuh saat safar maupun ketika mukim." (Zaadul Ma'ad, I/473)

Ditambah lagi, ada alasan yang cukup logis yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tentang hal ini. Beliau menuturkan, 

إن الله سبحانه وتعالى خفف عن المسافر في الرباعية شطرها فلو شرع له الركعتان قبلها أو بعدها لكان الإتمام أولى به

"Sesungguhnya Allah sudah memberikan keringanan shalat yang empat raka'at jadi dua raka'at untuk musafir. Kalau seandainya disyari'atkan dua raka'at sunnah qabliyah atau ba'diyah maka tentunya menyempurnakan shalat wajib jadi empat raka'at lebih utama dilakukan." (Zaadul Ma'ad, I/316)

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah berkata

الأولى تركها في السفر إلا سنة الفجر تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، فيصلي سنة الفجر معها، أما سنة الظهر والمغرب والعشاء والعصر أفضل تركها

"Yang utamanya tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib kecuali qabliyah subuh dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ dengan ia mengerjakan shalat sunnah sebelum subuh. Adapun sunnah rawatib zhuhr, maghrib, 'isya, dan ashar yang lebih afdalnya tidak dikerjakan." (Fatawa Nuur 'alad Darb, X/381) 

Semoga manfaat.

-- Ma'had Darus Salaf @ Bontang [ Kutai Timur ]
-- Hari Ahadi, (05:09) 14 Sya'ban 1440 / 21 April 2019
_______

Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala.
_______

https://t.me/nasehatetam
www.nasehatetam.net

Baca selengkapnya »


TUJUH PEMBAHASAN RINGAN SEPUTAR SHALAT QABLIYAH SUBUH , , ,


TUJUH PEMBAHASAN RINGAN SEPUTAR SHALAT QABLIYAH SUBUH 

Karena berulangnya setiap hari ibadah ini, maka untuk pengingat bagi kami pribadi maupun yang lainnya, disusunlah tulisan ini. Semoga bisa diambil sedikit manfaatnya.

MOTIVASI UNTUK SELALU MELAKSANAKAN DUA RAKA'AT SEBELUM SUBUH

Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan, 

ركعتَا الفجرِ خيرٌ من الدُّنيا وما فيها

"Dua raka'at sunnah sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya." HR. Muslim (725)

Menerangkan hadits ini, Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin mengatakan, 

الدُّنيا منذ خُلقت إلى قيام الساعة بما فيها مِن كُلِّ الزَّخارف مِن ذَهَبٍ وفضَّةٍ ومَتَاعٍ وقُصور ومراكب وغير ذلك، هاتان الرَّكعتان خيرٌ مِن الدُّنيا وما فيها؛ لأنَّ هاتين الرَّكعتين باقيتان والدُّنيا زائلة.

"Dunia semenjak dia diciptakan hingga hari kiamat dengan segala macam perhiasan yang ada padanya seperti emas, perak, istana-istana, beragam macam kendaraan, dan lain sebagainya maka dua raka'at sebelum shalat subuh ini jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Karena (pahala) dua raka'at ini akan kekal sedangkan dunia akan hancur." (Asy-Syarh Al-Mumti', IV/70)

Karena keutamaannya yang sangat besar, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat ini. 

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengisahkan tentang Nabi Muhammad ﷺ,

لم يكُنِ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على شيءٍ مِن النوافلِ أَشدَّ تعاهُدًا منْه على رَكعتَي الفجرِ

"Tidaklah ada shalat sunnah yang lebih dijaga oleh Nabi Muhammad ﷺ yang melebihi dua raka'at sebelum subuh." HR. Al-Bukhari (1169) dan Muslim (724)

Pada riwayat lain dengan lafazh, 

ولم يكُن يَدَعُهما أبدًا

"Nabi tidak pernah meninggalkan dua raka'at itu sekalipun." HR. Al-Bukhari (1159)

KAPAN MULAI BOLEH MENGERJAKAN SHALAT INI

Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, 

ركعتا الفجر مثل صلاة الفجر فلا تصلى سنة الفجر إلا بعد طلوع الفجر.

"Dua raka'at sebelum subuh sebagaimana halnya shalat subuh. Tidak boleh mengerjakan qabliyah subuh kecuali saat fajar telah terbit." (Majmu' Fatawa wa Rasa'il, XIV/276)

Waktu fajar terbit artinya saat waktu subuh masuk. Karena masuknya waktu subuh ialah ketika fajar terbit. Jadi saat sudah dipastikan masuk waktu subuh saat itulah seseorang boleh mengerjakan shalat qabliyah subuh.

YANG SUNNAH UNTUK DIBACA SETELAH MEMBACA AL-FATIHAH 

Ada dua sunnah di sini; 

Raka'at pertama Al-Kafirun raka'at kedua Al-Ikhlas (HR. Muslim, 726 dari Abu Hurairah)

ATAU

Raka'at pertama Al-Baqarah ayat 136,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Katakanlah (hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya'."

dan raka'at kedua Ali Imran ayat 52,

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.'

Didasari dengan (HR. Muslim, 727 dari Ibnu Abbas). 

Yang paling utama ialah berganti-gantian dalam menerapkan dua sunnah ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, 

وَمِنْ تَمَامِ السُّنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا: أَنْ يُفْعَلَ هَذَا تَارَةً وَهَذَا تَارَةً وَهَذَا

"Bentuk paling sempurna dalam sunnahnya [ ketika ada riwayat shahih yang berbeda-beda] ialah dengan menerapkan ini di satu waktu dan menerapkan satunya di waktu yang lain." (Majmu' Al Fatawa, XXII/67)

Jika misalnya, waktu cukup mepet dengan iqamah, tidak masalah bila mencukupkan dengan surah Al-Fatihah saja. 

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, 

لا حرج أن تقتصر على الفاتحة في ركعتي الفجر.

"Tidak masalah bila seseorang mencukupkan dengan Al-Fatihah saja pada dua raka'at qabliyah subuh." (Majmu' Fatawa wa Rasa'il, XIII/155)

PADA SHALAT INI YANG UTAMANYA ADALAH TIDAK PANJANG 

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan, 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ ، حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ ؟! 

"Nabi Muhammad ﷺ biasa mengerjakan shalat sunnah dua raka'at sebelum subuh dengan cepat. Sampai-sampai aku mengatakan, 'Apakah beliau ada membaca Al-Fatihah?!'" HR. Al-Bukhari (1165) dan Muslim (724)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, 

‏الإنسان الذي يصلي سنة الفجر بسرعة أفضل من الذي يصليها بطول قراءة وطول ركوع وسجود؛ لأن هذا هو السنة فهو أحسن، 

"Orang yang mengerjakan shalat qabliyah subuh dengan cepat lebih utama daripada yang mengerjakannya dengan bacaan yang panjang serta rukuk dan sujud yang lama. Karena demikianlah memang sunnahnya sehingga ia lebih baik." (Syarah Al-Kafiyah Asy-Syafiyah, I/369)

KAN LEBIH LAMA LEBIH BAIK? 

Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, 

لو أراد أحد أن يُطيل رَكعتي سُنَّة الفجر بالقراءة والرُّكوع والسُّجود، لكونه وقتاً فاضلاً  بين الأذان والإِقامة لا يُرَدُّ الدُّعاء فيه، قلنا: خالفتَ الصَّواب؛ لأن النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يُخفِّف

"Jika ada seseorang yang ingin memperpanjang bacaan, rukuk, dan sujud pada qabliyah subuh dengan alasan itu waktu yang punya keutamaan yang terletak antara adzan dan qamat sehingga doa tidak tertolak, kami katakan, 'Kamu menyelisihi yang benar. Sebab nabi ﷺ beliau mengerjakan shalat ini dengan cepat'." (Asy-Syarh Al-Mumti', I/407)

JIKA KESIANGAN DAN TIDAK SEMPAT MELAKSANAKANNYA 

Karena bangun sedikit terlambat, saat datang ke masjid orang-orang sedang mengerjakan shalat subuh dan ia pun langsung bergabung bersama jamaah. Lantas kapan mengerjakan qabliyah-nya? 

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menerangkan, 

يخير بين أدائها بعد الصلاة أو تأجيلها إلى ما بعد ارتفاع الشمس؛ لأن السنة قد ثبتت عن النبي - صلى الله عليه وسلم - بالأمرين جميعا. لكن تأجيلها أفضل إلى ما بعد ارتفاع الشمس

"Dia bisa memilih antara; 
- mengerjakannya langsung sehabis melaksanakan shalat subuh¹ atau
- dia tunda hingga matahari mulai naik.² 
Karena shahih dari sunnah nabi ﷺ kedua hal ini sekaligus. Tapi menundanya hingga matahari naik lebih utama." (Majmu' Fatawa wa Maqalat, XI/373)

Yang beliau maksudkan dengan saat matahari mulai naik ialah awal waktu dhuha, yaitu ± 15 menit setelah waktu syuruq. 

¹ SHAHIH (Shahih Sunan At-Tirmidzi, I/133) HR. At-Tirmidzi (422)
² SHAHIH (Shahih Sunan At-Tirmidzi, I/133) HR. At-Tirmidzi (424)

BILA KESIANGAN DAN WAKTU SHALAT SUBUH SUDAH HABIS

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz mengatakan, 

يبدأ بسنة الفجر ثم يصلي الفريضة كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم لما نام هو وأصحابه في بعض الأسفار عن صلاة الفجر.

"Dia shalat qabliyah lebih dulu kemudian baru mengerjakan shalat subuhnya. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau saat tertidur dari mengerjakan shalat subuh." (Majmu' Fatawa wa Maqalat, XI/377)

Ini yang bisa dihimpun. Wallahu waliyyut taufiiq.

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi, (23:17) 23 Dzulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019


Mari ikut berdakwah dengan turut serta membagikan artikel ini, asalkan ikhlas insyaallah dapat pahala.


https://t.me/nasehatetam
www.nasehatetam.net

Baca selengkapnya »


PEMBATAL-PEMBATAL PUASA YANG PALING BANYAK DITANYAKAN TENTANG (HUKUM) NYA , ,


PEMBATAL-PEMBATAL PUASA YANG PALING BANYAK DITANYAKAN TENTANG (HUKUM) NYA


1. SUPPOSITORIA (OBAT BERBENTUK PELURU YANG DIMASUKKAN KE DALAM ANUS ATAU YANG SEMISALNYA)
Tidak membatalkan puasa. [Menurut pendapat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.]

2. TETES MATA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh].

3. CELAK
Tidak membatalkan puasa
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin].

4. TETES TELINGA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh]

5. TETES HIDUNG
Jika sampai masuk ke lambung maka membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]
Adapun asy-Syaikh Ibnu Baz berpendapat tetes hidung TIDAK BOLEH bagi orang yang berpuasa. Dan barangsiapa yang mendapati rasanya di tenggorokannya,  maka wajib baginya untuk mengqodho' (yakni batal puasanya).

6. SPRAYER (SEMPROT) ASMA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz, aay-Syaikh Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah rahimahumulloh].

7. SUNTIKAN NUTRISI
Membatalkan puasa. Adapun suntikan otot, pembuluh darah atau kulit maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

8. SUNTIK PENICILLIN
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

9. SUNTIKAN INSULIN BAGI PENDERITA DIABETES
Tidak membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah].

10. SUNTIK BIUS (ANAESTESI) PADA GIGI, MENAMBAL DAN MEMBERSIHKANNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh].

11. MENGHIRUP BUKHUR (ASAP GAHARU) DENGAN SENGAJA DALAM KEADAAN TAHU
Membatalkan puasa.
Adapun sekedar mencium aroma bukhur tanpa sengaja menghirupnya, maka TIDAK membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

12. MEMAKAI MINYAK WANGI DAN MENGHIRUPNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

13. PELEMBAB BIBIR
Tidak membatalkan puasa,
Dengan syarat tidak ada yg tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

14. MAKE-UP​
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

15. MUNTAH DENGAN SENGAJA
Membatalkan puasa.
Adapun jika tidak sengaja maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

16. EPISTAKSIS (MIMISAN), CABUT GERAHAM DISERTAI KELUARNYA DARAH
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

17. DIAMBIL DARAH UNTUK DIPERIKSA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

18. IHTILAM (MIMPI BASAH)
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

19. BERENANG DAN MENYELAM
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

20. OBAT KUMUR (SEMISAL LISTERINE​)
Tidak membatalkan puasa.
Dengan syarat tidak ada yang tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

21. SIWAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

22. PASTA GIGI (GOSOK GIGI)
Tidak membatalkan puasa selama tidak sampai Ke lambung.
(Akan tetapi) yang lebih baik utama tidak menggunakannya, karena memiliki pengaruh (rasa) yang kuat.

23. MENELAN DAHAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].
adapun asy Syaikh ibnu Baz rahimahulloh berpendapat dahak/riak (النخامة) tidak boleh ditelan dan wajib dibuang (tambahan dari pent).

24. MENCICIPI MAKANAN
Tidak membatalkan puasa,
akan tetapi tidak boleh menelannya, dan tidak melakukannya kecuali memang dibutuhkan.

25. KOYO NIKOTIN
Membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah]



Alih Bahasa : Al-Ustadz Syafi'i al Idrus Hafizhahullah
Dari : "Tanbiihaat Syahri Ramadhon" | Faidah dari Majmu'ah Manaabir al-Kitab was Sunnah dengan sedikit perubahan | Forum Ahlussunnah Ngawi


https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
www.alfawaaid.net

Baca selengkapnya »