[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 1⃣7⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🔰( Beberapa doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam )

___________________________

6⃣ Bacaan:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, وَتَبَارَكَ اسْمُكَ, وَتَعَالَى جَدُّكَ, وَ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (ثَلَاثًا), اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا (ثَلَاثًا)

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Maha Tinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (3 kali), Allah Maha Besar (3 kali).” (HR. Abu Dawud no. 775 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

🔑💡Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat malam (tahajud).

7⃣ Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.”

(HR. Muslim no. 1357 dan yang selainnya dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma)

📎📄 Doa ini diucapkan seorang sahabat ketika beristiftah, maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam setelah menanyakan siapa pengucapnya, beliau bersabda, “Aku merasa kagum dengan doa tersebut! Dibukakan untuk doa tersebut ☁🚪🌺pintu-pintu langit.”

8⃣ Bacaan:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi diberkahi di dalamnya.”

(HR. Muslim no. 1356 dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu)

🔊🌈 Doa ini diucapkan seorang sahabat yang lain ketika beristiftah, maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku melihat dua belas malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang akan mengangkat doa tersebut.”

9⃣ Bacaan:

اللُّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Penegak (yang menjaga dan memelihara) langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. 🌕🌏⚡ Dan hanya milik-Mu lah segala pujian, hanya milik-Mu lah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah Raja langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. 🔆🌿 Hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, ucapan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, Muhammad itu benar dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi). Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan hanya karena-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan.🌴🍃 Engkau adalah Dzat yang Terdahulu, dan Engkau adalah Dzat yang Paling Akhir, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

(HR. Al-Bukhari no. 1120 dan Muslim no. 1805 dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, lafadz yang dibawakan adalah lafadz Al-Bukhari)

🔎📣 Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat tahajjud.

🔟 Bacaan:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَئِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

(HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah radhiyallahuanha)

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkannya dalam shalat lail (shalat malam).

1⃣1⃣ Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ (عَشْرًا)، الْحَمْدُ لِلهِ (عَشْرًا)، سُبْحَانَ اللهِ (عَشْرًا), لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ (عَشْرًا)، أَسْتَغْفِرُ اللهَ (عَشْراً).
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي (عَشْرًا).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيْقِ يَوْمَ الْحِسَابِ (عَشْرًا)

Allah Maha Besar (10 kali). Segala puji bagi Allah (10 kali). Mahasuci Allah (10 kali), tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (10 kali), aku memohon ampun kepada Allah (10 kali).
(kemudian membaca) Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku. (10 kali)
(kemudian diteruskan dengan membaca) Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan).

(HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah radhiyallahuanha, dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, 1/267 )

🔐🚫 Doa-doa istiftah di atas tidak digabungkan saat dibaca, karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam ketika ditanya Abu Hurairah radhiyallahuanhu tentang bacaan istiftah beliau, beliau menjawab dengan bacaan:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ….

Beliau tidaklah menyebut doa istiftah yang lain setelah itu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menggabungkan doa-doa istiftah yang ada.

(Asy-Syarhul Mumti’, 3/52)

🔹(Insya Allah bersambung)🔹

📥Sumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Kamis 03 Dzulhijjah 1436H/17 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 1⃣8⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🍃...Isti’adzah...🍃

🌿 Isti’adzah yaitu bersandar kepada Allah Subhanahuwata'ala dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

☁ Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahuwata'ala terlebih dahulu dengan mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat) dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiyallahuanhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

💈Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menambah dengan:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”

(HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

▫Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan kadang-kadang.

🎨 Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dengan dalil hadits Al-Musi’u Shalatuhu, di mana dalam hadits tersebut tidak disebutkan ta’awudz.

(Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

📋📊 Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi.

(Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

🔎💪🏻Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

📚🔊Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz kecuali menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

⚠ Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat.

🌺📄 Sedangkan hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz ataupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya.

❗⚠ Maka yang lebih hati-hati adalah mencukupkan dengan apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, yaitu isti’adzah hanya dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an dalam rakaat pertama saja.”

(Nailul Authar, 2/39)

▫Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Adalah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.”

(HR. Muslim no. 1355)

📃🚦 Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Demikian pula tidak disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Sehingga diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama.
Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama.

(Nailul Authar, 2/136)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit dari rakaat yang kedua???, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

🍂🌾 Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi beliau menyelinginya dengan dzikir.

☑❗Maka qiraah dalam shalat seperti satu qiraah apabila yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah, atau tasbih, atau tahlil, atau shalawat kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , dan yang semisalnya.

🌓🌈 Adapula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan yang lainnya dari ahlul ilmi, dengan dalil firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

🔹(Insya Allah bersambung)🔹

📥Sumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

🚨...NOTE...🚨

Catatan kaki 🐾 belum tersedia di website, silahkan meruju' ke majalah asy syariah edisi 59 .

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Jum'at 04 Dzulhijjah 1436H/18 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 1⃣9⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🔐Rahasia isti’adzah

🍂🍃 Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Di antaranya sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor yang diucapkan oleh seseorang, ketika mengucapkan/membaca kalamullah.

🌺 Juga merupakan isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Subhanahuwata'ala, serta pengakuan bahwa Allah Subhanahuwata'ala-lah yang memiliki kekuasaan, sementara hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak, serta tak ada yang mampu menolak dan mencegahnya kecuali Allah Subhanahuwata'ala yang menciptakannya.

💫💥 Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

⚪ Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)

☁⚡Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak maka dia menjadi seorang syahid. Sementara orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir.

💢☔ Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak maka dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

🔎💡Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat Yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

✒Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya.

💈🚲 Karena pada saat itu ia dalam keadaan berdiri beribadah kepada Rabbnya yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

▫Abu Hurairah radhiyallahuanhu menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan.🔊 Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata,💬 ‘Ingatlah ini, 💭 ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.”

(HR. Al-Bukhari no. 608)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

🔹(Insya Allah bersambung)🔹

📥Sumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

🚨...NOTE...🚨

Catatan kaki 🐾 belum tersedia di website, silahkan meruju' ke majalah asy syariah edisi 59 .

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Sabtu 05 Dzulhijjah 1436H/19 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 2⃣0⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🌕🔐🔎 Isti’adzah

💡Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah Subhanahuwata'ala dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

📌📄Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahuwata'ala terlebih dahulu dengan mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat) dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiyallahuanhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

🔰Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menambah dengan:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”

(HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

✒ Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.

🎨 Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz.

(Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

📝 Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

👉🏻Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

▫Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan,
“Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama.

🍃 Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

🌾🌴 Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat.

💎 Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya.

🔐⚠ Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.”

(Nailul Authar, 2/39)

Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Adalah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.”

(HR. Muslim no. 1355)

❗💡Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua.

🔇Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama.

(Nailul Authar, 2/136)

✒Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.)
adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

▫Bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir.

🌵Dengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah Subhanahuwata'ala, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , dan yang semisalnya.

📎✏ Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi yang lainnya, dengan dalil firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

🔹(Insya Allah bersambung)🔹

📥Sumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-6/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 06 Dzulhijjah 1436H/20 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 2⃣1⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🔐🚪🌷 Rahasia isti’adzah

📦 Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Subhanahuwata'ala, dan pengakuan bahwa Allah Subhanahuwata'ala -lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata ataupun tidak nampak.

☁⛅ Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah Subhanahuwata'ala yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia.

⚪ Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)

🚀⛵ Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

⛔🔥Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

✒ Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Rabbnya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was 🔥💫 setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

 Abu Hurairah radhiyallahuanhu menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.”

 (HR. Al-Bukhari no. 608). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

🔹(Insya Allah bersambung)🔹

📥Sumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-6/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Senin 07 Dzulhijjah 1436H/21 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 2⃣2⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🔊🌻 Bacaan Basmalah

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik radhiyallahuanhu yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah.

🐾 Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas radhiyallahuanhu, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ و َعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِـ { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ}

“Sesungguhnya Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar radhiyallahuanhu, membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

(HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)

🔳 Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar radhiyallahuanhu tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan.

(Subulus Salam 2/191)

💦💎 Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr.

(Fathul Bari, 2/294)

🔳 Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Makna hadits ini adalah Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiyallahuanhum, mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim.”
(Sunan At-Tirmidzi, 1/156)

🔎🎨 Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml?

🔑💡 Insya Allah pembaca bisa melihat keterangannya pada artikel: Apakah Basmalah Termasuk Ayat dari Surah Al-Fatihah?
Kami (penulis) dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.

🔳 Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata,

“Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam —di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya radhiyallahuanhu—dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan.

📣 Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

🎓⏳ Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.

🔳 Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair radhiyallahuanhum, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan.

(Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-7/

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Selasa 08 Dzulhijjah 1436H/22 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 2⃣3⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🔎📎 📃Membaca al-Fatihah ayat demi ayat

🍃 Setelah membaca basmalah, mulailah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca surah al-Fatihah yang beliau baca ayat demi ayat.

🚦Beliau Shalallahu'alaihi wa sallam berhenti setiap satu ayat, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahuanhu ketika ditanya tentang bacaan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam . Ummu Salamah radhiyallahuanha menjawab, “Adalah beliau memotong bacaan ayat demi ayat ….”

(HR. Ahmad 6/302, hadits ini shahih bi dzatihi bila tidak ada ‘an’anah1 Ibnu Juraij, namun hadits ini memiliki mutaba’ah)

🔰Terkadang Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca:

dengan memendekkan lafadz ﭞ (dibaca مَلِكِ) dan pada kesempatan lain beliau n memanjangkannya (dibaca مَالِكِ).

🔊Dua bacaan ini, kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, shahih mutawatir dalam qira’ah sab’ah.

(Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/32)

🌓Membaca al-Fatihah Merupakan Rukun shalat
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

(HR. al-Bukhari no. 756 dan Muslim no. 872)

🍂 Hadits ini menunjukkan tidak teranggapnya shalat orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah, sehingga membacanya dalam shalat merupakan amalan rukun.

📚🎨 Yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka. Ibnul Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari Umar ibnul Khaththab, Utsman ibnu Abil Ash, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Khawwat ibnu Jubair, az-Zuhri, Ibnu ‘Aun, al-Auza’i, Malik, Ibnul Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.

💽 Dihiyakatkan pula pendapat ini dari ats-Tsauri dan Dawud. Mereka berdalil dengan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang sahih.

☎ Adapun Abu Hanifah berpendapat membaca al-Fatihah tidak wajib, tetapi sunnah saja. Di riwayat lain, beliau menyatakan bahwa membaca al-Fatihah wajib namun bukan syarat.
Seandainya seseorang membaca selain al-Fatihah niscaya sudah mencukupi.

💈Adapun hadits yang dijadikan argumen oleh jumhur yang mengatakan rukun, mereka menjawab bahwa yang ditiadakan adalah kesempurnaan shalat. Jadi, maksudnya adalah orang yang tidak membaca al-Fatihah tidak shalat dengan sempurna.
Akan tetapi, makna ini menyelisihi hakikat, zahir, yang langsung dipahami oleh benak. Oleh karena itu, yang kuat menurut penulis, al-Fatihah ini harus dibaca dalam setiap rakaat shalat, sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf (ulama belakangan, red.).

(al-Majmu’ 3/283—284, al-Minhaj 4/323)

✒ Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Fatihah hanya wajib dibaca dalam dua rakaat yang awal dan tidak wajib pada rakaat berikutnya. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, yang benar al-Fatihah wajib dibaca pada seluruh rakaat.

⏳🔐 Yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam kepada orang yang keliru shalatnya, setelah mengajarinya shalat yang benar. Di antara yang diajarkan adalah membaca al-Fatihah. Beliau Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلّهَا
“Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu seluruhnya.”

🐾 Catatan Kaki:

1⃣ Periwayatan dengan menggunakan kata ‘an (dari) sehingga tidak jelas apakah perawi mendengar langsung atau tidak, sedangkan Ibnu Juraij seorang mudallis ( perawi yang suka menggelapkan hadits).

2⃣ Rukun merupakan amalan shalat yang bila ditinggalkan karena sengaja ataupun tidak, shalat tersebut batal, tidak sah.

📥Sumber:

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-8/
____________________________
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 13 Dzulhijjah 1436H/27 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ابو ريحن: ~ Bagian 2⃣4⃣ ~

🌀🔑📚 Sifat Shalat Nabi

📝 Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

🌺🌕☁ Keutamaan al-Fatihah

🔘Dalam sebuah hadits disebutkan:

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ؛ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: اقْرَؤُوْا: يَقُوْلُ الْعَبْدُ: { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ} يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: حَمَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقولُ الْعَبْدُ: { ﭛ ﭜ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭞ ﭟ ﭠ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَجَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ} قَالَ: فَهذِهِ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: {ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ} قَالَ: فَهَؤُلاَءِ لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Aku membagi (3) shalat (4) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua. 🍃 Separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya.”

🔘Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah oleh kalian!” Si hamba berkata, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Hamba berkata, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah Subhanahuwata'ala berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” 🍂 Si hamba berkata, “Yang menguasai hari pembalasan.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Si hamba berkata, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.”🌿 Si hamba berkata, “Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan apa yang ia minta.”

(HR. Muslim no. 876)

▫Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sungguh Abdullah bin Ziyad bin Sulaiman, seorang pendusta, meriwayatkan dengan tambahan pada awal hadits
“Apabila hamba itu membaca ‘Bismillahir rahmanir rahim,’ Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku telah mengingat-Ku.” Karena itu, ulama bersepakat mendustakan tambahan ini.”

(Majmu’ Fatawa, 22/423)

🔘Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda tentang al-Fatihah ini:

مَا أَنْزَلَ اللهُ k فِي التَّوْرَاةِ وَلاَ فِي الْإِنْجِيْلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي…

“Allah tidak menurunkan dalam Taurat dan tidak pula dalam Injil yang semisal Ummul Qur’an, dan dia adalah tujuh ayat yang berulang-ulang (5)….”

(HR. an-Nasa’i no. 914, at-Tirmidzi no. 3125, dan Ahmad 5/114, dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)

📌📜 Orang yang belum bisa menghafalnya harus mempelajari dan terus berupaya menghafalkannya.

⌚ Bila waktu telah mendesak, misalnya waktu shalat hampir habis, sementara ia belum juga dapat menghafalkan al-Fatihah, ia membaca apa yang dihafalnya dari Al-Qur’an.🔰Ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (yang telah kau hafal).”

 (HR. al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

🔓Bila ia sama sekali tidak memiliki hafalan Al-Qur’an, ia mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

(HR. Ahmad 4/353, 356, 382, Abu Dawud no. 832, dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

🔹Insya Allah bersambung🔹

🐾 Catatan kaki

(3) Maksudnya, membagi dari sisi makna. Bagian pertama adalah pujian kepada Allah Subhanahuwata'ala, pemuliaan, sanjungan, dan penyerahan urusan kepada-Nya. Bagian kedua adalah permohonan, ketundukan, dan perasaan butuh.

(4)Yang dimaksud adalah al-Fatihah. Al-Fatihah dinamakan shalat, karena shalat tidak sah kecuali dengan membaca al-Fatihah.

(5) Berulang-ulang dibaca setiap shalat

📥Sumber:

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-8/

#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
📚 Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 14 Dzulhijjah 1436H/28 September 2015M

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...