MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( Bag 1-8  )

💨⚡📜💥🔥
*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( Bag 1-8  )*

_“Aku mengenali kejelekan, bukan untuk berbuat jelek. Tapi agar aku bisa terhindar darinya.”_

Definisinya : Kelompok para pengikut Hasan al-Banna. Sangat banyak kritik ilmiah terhadap manhaj mereka. Di antara poin kritik terpenting terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) :

1 Menyepelekan permasalahan Tauhid Ibadah. Padahal itu merupakan permasalahan terpenting dalam Islam, dan tidak sah keislaman seseorang tanpa tauhid ibadah.

2 Mereka diam dan menyetujui manusia atas syirik akbar yang terjadi, berupa doa kepada selain Allah, thawaf di kuburan-kuburan, bernadzar kepada para penghuni kubur dan menyembelih atas nama mereka, … dll.

3 Manhaj IM ini, pendirinya (yaitu Hasan Albanna, pen) adalah seorang penganut shufi, memiliki hubungan kuat dengan paham shufiyyah/sufisme. Yaitu dia telah berbaiat kepada ‘Abdul Wahhab al-Hushafi di atas tarekat sufi Hushafiyyah Syadziliyyah.

4 Menjamurnya bid’ah pada kelompok tersebut. mereka beribadah dengan bid’ah-bid’ah tersebut. Bahkan pendiri kelompok manhaj IM ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir dalam majelis dzikir mereka dan memberikan ampun untuk dosa-dosa mereka yang telah berlalu. Yaitu dalam ucapannya

ﺻﻠﻰ ﺍﻹﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮﺍ .. ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻓﻔﺎﻕ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮﺍ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻣﻊ ﺍﻷﺣﺒﺎﺏ ﻗﺪ ﺣﻀﺮﺍ .. ﻭﺳﺎﻣﺢ ﺍﻟﻜﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻭﺟﺮﻯ

Allah bershalawat kepada sang Cahaya (yakni Nabi Muhammad, pen) yang telah muncul Di alam ini, maka dia melebihi matahari dan bulan Inilah sang Habib (yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersama para habib lainnya TELAH HADIR Dan memberikan maaf kepada semua atas dosa-dosa yang telah lalu dan lewat.

5 Mengajak untuk mendirikan Khilafah. Ajakan ini adalah BID’AH. Karena para rasul dan para pengikutnya tidaklah ditugasi kecuali untuk berdakwah (mengajak) kepada Tauhid. Allah berfirman,

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻻً ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ { ‏[ ﺍﻟﻨﺤﻞ : 36 ‏]

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mendakwahkan : ibadahilah Allah dan jauhilah thaghut. ” (an-Nahl : 36)

6 Tidak ada prinsip al-Wala wa al-Bara di tengah-tengah mereka, atau sangat lemah. Hal ini tampak dengan jelas dari :

dakwah (ajakan) mereka untuk mengadakan pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah.
pernyataan (semboyan/kaedah) sang pendiri kelompok IM :

‏( ﻧَﺘَﻌَﺎﻭَﻥُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍﺗَّﻔَﻘْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻳَﻌْﺬُﺭُ ﺑَﻌْﻀُﻨَﺎ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍِﺧْﺘَﻠَﻔْﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ ‏)

Kita saling bekerja sama dalam perkara yang kita bersepakat padanya, dan kita saling memberikan udzur dalam perkara kita berbeda pendapat di dalamnya.

7 Mereka (IM) sangat tidak suka dan benci terhadap Ahli Tauhid dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salafiyyah. Hal ini tampak jelas dari penilaian mereka terhadap Kerajaan Saudi ‘Arabia yang tegak di atas Tauhid, dan Tauhid dipelajari di sekolah-sekolah, ma’had-ma’had, dan universitas-universitas negeri tersebut. Tampak jelas juga dari aksi pembunuhan yang mereka lakukan terhadap asy-Syaikh Jamilurrahman al-Afghani, karena beliau senantiasa gigih mendakwahkan tauhid, di mana beliau memiliki madrasah yang di situ dipelajari tauhid.

8 Mereka (IM) terus mencari-cari kesalahan-kesalahan pemerintah dan mengomentari kejelekan-kejelekan penguasa – baik itu sesuatu yang benar ataupun dusta – serta menyebarkannya kepada para pemuda yang masih baru. Untuk memprovokasi mereka dan memenuhi hati mereka dengan kedengkian terhadap pemerintah.

9 Hizbiyyah tulen, yang mereka menisbahkan diri padanya dan berloyal penuh demi kelompoknya, serta siap bermusuhan demi membela kelompoknya. Mengambil bai’at untuk kegiatan kelompok Ikhwanul Muslimin, dengan 10 syarat yang disebutkan oleh pendirinya. Dan masih banyak berbagai kritik lain, yang mungkin akan kita jelaskan pada kesempatan lain.

Sumber:
Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-1-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT (Bag 2 )*

       *QUTHBIYYUN*

Mereka adalah sekelompok orang yang sangat senang membaca buku-buku Sayyid Quthb, kemudian mengambil semua yang ada di dalamnya, baik kebenaran maupun kebatilan. *Mereka pun membela Sayyid Quthb apabila ada seorang yang mengkiritiknya, meskipun kebenaran ada pada pihak sang pengkritik* .

Sebagaimana diketahui, bahwa Sayyid Quthb bukan seorang tokoh ilmu agama.

Asalnya dia adalah seorang sastrawan, kemudian dia mengambil madzhab Asy’ariyyah, yang merupakan madzhab Takwil (penyimpangan makna) – sebagaimana para ‘ulama Mesir lainnya –
*Pada Sayyid Quthb terdapat kesalahan-kesalahan FATAL dan BERAT* Maka tampillah tokoh-tokoh besar dari kalangan ‘ulama menjelaskan berbagai kesalahan-kesalahan tersebut.

Tatkala para ‘ulama tersebut menjelaskan berbagai kesalahan Sayyid Quthb, muncullah pembelaan dari para Quthbiyyin dalam bentuk kritik, celaan, dan caci maki terhadap para ‘ulama tersebut. Hasbunallah wa ni’mal wakil .

Prinsip dasar : kondisi para tokoh itu akan bisa diketahui/dinilai berdasarkan al-Haq, bukan al-Haq dinilai berdasarkan para tokoh. Maka wajib atas kita untuk mengambil al-Haq, dan kita beragama untuk Allah dengan al-Haq tersebut. Wajib atas kita meninggalkan setiap orang yang menempuh manhaj yang bid’ah. Kita menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan kita, demikian pula para Khalifah beliau, para shahabat, dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para imam pembawa petunjuk.

Sumber
Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-2-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 3 • )*

     *SURURIYYAH*

Sururiyyah adalah sebuah kaum atau kelompok yang berloyal kepada MUHAMMAD SURUR ZAINAL ‘ABIDIN.

Orang-orang Sururiyyin ini, pada mereka tercampur antara Sunnah dan Bid’ah. Di antara poin kritik terpenting terhadap Sururiyyah :

1 Mencela Pemerintah, membicarakan (membahas) kejelekan-kejelekan pemerintah. Tentu saja hal itu menyebabkan kejelekan, fitnah, dan bahaya. Bahkan yang tampak, mereka itu MENGKAFIRKAN PEMERINTAH. Kesimpulan ini bisa diambil dari sikap-sikap mereka, bukan dari perkataan-perkataan mereka. Karena memang jalan yang mereka tempuh adalah jalannya Khawarij – atau mirip dengannya – Padahal dalil-dalil yang ada mewajibkan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah.
Sementara pemerintah kita di negeri ini adalah muslimin, – walillahil hamd – memutuskan dengan syari’at Allah di mahkamah-mahkamah mereka dan menegakkan hukum-hukum had.
Mengkafirkan mereka (pemerintah) atau mencelanya – yang menyebabkan sikap memberontak dan membangkan terhadap pemerintah – termasuk TINDAK PENGRUSAKAN YANG SANGAT BESAR.

Oleh karena itu : WAJIB untuk WASPADA dari orang-orang yang bermanhaj Sururiyyah ini, atau bahkan BERLEPAS DIRI dari mereka. Lebih-lebih lagi mereka juga telah menyentuh kehormatan para ‘ulama di negeri ini (Saudi ‘Arabia, pen) dengan celaan dan cacian dengan kata-kata kotor, serta menuduh para ‘ulama tersebut dengan tuduhan khianat terhadap agama. Ini merupakan hal yang menunjukkan apa yang tersembunyi di belakangnya.

2 Mereka mengajak untuk berjihad. Namun yang mereka maksud bukan jihad melawan orang kafir.

Tampaknya yang mereka maksud adalah MENENTANG PEMERINTAH. Perlu diketahui, bahwa kita tidak membersihkan pemerintah dari kesalahan, apalagi mengatakan pemerintah maksum.

Namun kita katakan, wajib mentaati pemerintah dan menasehatinya dengan cara tersembunyi. Karena pemerintah itu masih muslimin. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari memberontak kepada pemerintah.

Kecuali apabila terlihat jelas pada pemerintah itu kekufuran yang nyata, yang ada hujjah jelas di sisi Allah dalam hal tersebut.

3 Mereka menyatakan bahwa para ‘ulama di negeri ini (Saudi ‘Arabia) tidak mengerti Fiqhul Waqi’ (kondisi fakta yang ada) Bantahan terhadap mereka : bahwa para mufti dan para qadhi tidaklah berfatwa dalam satu masalah pun, tidak pula memutuskan hukum dalam satu masalah pun kecuali setelah mengetahui waqi’ (fakta/kenyataan)nya yang terkait dengannya, baik sebabnya, tempat bergantungnya hukum, dan akibat-akibatnya.

Barangsiapa beranggapan bahwa para ‘ulama dan para qadhi tersebut tidak memahami waqi, maka dia telah menzhalimi diri sendiri, dan telah mengatakan sesuatu yang tidak boleh dia katakan.

Adapun mengetahui makar-makar para musuh (yakni orang-orang kafir), maka itu di antara keahlian para tentara (intelejen) di setiap negeri.

Sumber: Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-3-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT*

   *JAMA’AH TABLIGH*

Adalah sekelompok orang yang mengikuti Muhammad Ilyas al-Kandahlawi, sang pendiri kelompok ini.
Dia adalah Muhammad Ilyas, kelahiran tahun 1302 H. Dia telah menghafal al-Qur`an, membaca 6 kitab induk hadits dengan BERDASARKAN MANHAJ AD-DIYOBANDI. Bermadzhab Hanafi, BERAQIDAH ASY’ARIYYAH MATURIDIYYAH, dan menempuh shufiyyah dalam hal tarekat.

Tarekat-tarekat yang diakui oleh kelompok ini,

1. Tarekat Nasqsyabandiyyah,
2. Tarekat Sahwardiyyah,
3. Tarekat Qadiriyyah,
4. Tarekat Jisytiyyah

Pendiri kelompok ini, yaitu Muhammad Ilyas tadi, mengambil bai’at Shufiyyah di hadapan Syaikh Rasyid al-Kankawahi. Kemudian dia memperbarui lagi bai’atnya setelah itu kepada Syaikh Rasyid as-Saharanfuri di hadapan asy-Syaikh Ahmad as-Saharan-ghuri, yang telah memberikannya ijazah untuk berbai’at di atas manhaj shufi.

Adalah Muhammad Ilyas duduk dalam kesendirian di sisi kuburan as-Syaikh Nur Muhammad al-Badayuni (muraqibah jisytiyyah, dia dulu keluar dari sisi kuburan ‘Abdul Quddus al-Kankawahi), seorang yang menanamkan padanya paham WIHDATUL WUJUD.

Dia (Muhammad Ilyas, pen) tinggal dan mengajar di Delhi, dan wafat di sana pada tahun 1363 H.

Asy-Syaikh Abul Hasan an-Nadwi melihat, bahwa Syaikh Muhammad Ilyas mengambil cara ini dalam berdakwah ketika dia tidak berdaya menghadapi berbagai cara taqlid dalam membenahi penduduk di daerahnya.

Asy-Syaikh Miyan Muhammad Aslam dari ucapan-ucapan Muhammad Ilyas, bahwa dia telah diberi Kasyaf untuk memilih thariqah ini, yaitu disusupkan ke relung hatinya dalam mimpi tafsir baru terhadap firman Allah Ta’ala :
(artinya) :

“ Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Ayat ini berarti bahwa keluar untuk berdakwah ke jalan Allah tidak akan terwujud dengan tinggal di satu tempat saja. Dengan dalil firman Allah Ta’ala (“dikeluarkan “)! Dan bahwa iman itu akan bertambah dengan keluar berdakwah, dengan dalil firman-Nya (“dan kalian beriman kepada Allah“) setelah Firman-Nya : (“dikeluarkan untuk umat manusia “)

CATATAN KRITIS untuk kisah di atas adalah :

1. al-Qur`an tidak boleh ditafsirkan dengan kasyaf dan mimpi-mimpi ala tharekat shufiyyah, yang itu mayoritasnya – bahkan seluruhnya – adalah berasal dari wahyu syaithan.

2. Tampak dari kisah tersebut, bahwa pendiri kelompok JT ini benar-benar tenggelam dalam paham shufiyyah – dari ujung kaki hingga kepala – bahkan dia telah berbai’at dua kali padanya, terfitnah denga para thaghut shufiyyah. menghabiskan waktunya untuk duduk di sisi kuburan.

3. Pendiri kelompok JT ini ternyata seorang qubury ahli khurafat. Hal ini tampak dari ucapannya, ” duduk dalam kesendirian di sisi kuburan as-Syaikh Nur …dst” dia juga mengatakan tentang orang satunya, ” seorang yang menanamkan padanya paham WIHDATUL WUJUD.” Perbuatan dia beri’tikaf di kuburan orang yang menanamkan padanya paham tersebut merupakan BUKTI YANG SANGAT JELAS bahwa dia juga berpendapat dengan paham tersebut.

4. Para penganut WIHDATUL WUJUD berkeyakinan bahwa Allah menampakkan wujudnya pada wanita yang cantik – wal’iyyadzu billah – . sungguh ini adalah ucapan yang sangat keji!! Semoga Allah berikan kepadanya suatu yang layak baginya, berupa laknat-laknat dan kemurkaan.

MANHAJ DAKWAH JAMA’AH TABLIGH

Tersimpulkan pada 6 perkara, atau 6 prinsip, atau 6 sifat.

1. Merealisasikan Kalimat Thayyibah “Laa ilaah illallah, Muhammad Rasulullah”

2. Shalat yang khusyu’ dan tunduk.

3. Ilmu terhadap fadha’il (keutamaan-keutamaan) amal – bukan masa’il (ilmu tentang aqidah dan hukum) – disertai dengan dzikir.

4. Memuliakan sesama muslim.

5. Membenarkan niat.

6. Dakwah ke jalan Allah dan khuruj fi sabilillah – berdasarkan manhaj jama’ah Tabligh.

Untuk masing-masing dari 6 prinsip – atau sifat – ini memiliki “maksud” dan “keutamaan mencapainya”.
Misalnya, “Lailaaha illallah” maksudnya adalah : Mengeluarkan keyakinan yang rusak dari dalam hati, dan memasukkan keyakinan yang benar terhadap dzat Allah.
Mereka maksudkan dengan itu adalah WIHDATUL WUJUD.

KRITIK- KRITIK TERHADAP JAMA’AH TABLIGH

1. Pendiri kelompok ini tumbuh dalam pendidikan shufiyyah. Bahkan sudah melakukan bai’at dua kali.

2. Pendiri kelompok ini biasa melakukan ribath (berjaga) di kuburan demi mencari kasyaf atau wangsit.

3. Pendiri kelompok ini juga menanti-nanti dalam “al-Muraqah al-Jisytiyyah” di sisi kuburan ‘Abdul Quddus al-Kankawahi, yang orang ini beriman pada aqidah Wihdatul Wujud.

4. “al-Muraqah al-Jisytiyyah” adalah : acara duduk di sisi kuburan selama setengah jam setiap pekan. Dengan menutup kepala dan mengucapkan dzikir, “Allahu Hadhiri, Allahu Nazhiri”!!

Ucapan tersebut – atau amalan tersebut – apabila dilakukan/dipersembahkan untuk Allah, maka itu adalah BID’AH. Namun apabila ketundukan/kekusyu’an itu dilakukan/dipersembahkan untuk sang penghuni kubur, maka itu KESYIRIKAN terhadap Allah.
Kemungkinan kedua inilah yang tampak terlihat.

5. Masjid mereka – yang di masjid itulah bertolak dakwah mereka (Jama’ah Tabligh) – padanya ada empat kuburan pembesar mereka.

6. Pendiri kelompok ini meyakini adanya Kasyaf.

7. Pendiri kelompok ini adalah quburi (pemuja kuburan) dan ahli Khurafat.

8. Orang-orang Jama’ah Tabligh ini beribadah dengan menggunakan dzikir-dzikir bid’ah berdasarkan tarekat sufiyyah, yaitu memisah/memutus-mutus kalimat Tauhid “Lailaaha illallah”.

9. Barangsiapa yang memutus kalimat penafian dari itsbat (penetapan) dalam kalimat Tauhid secara sengaja, yaitu dia sengaja mengatakan (laa Ilaaha) saja (diputus dari kalimat “ilallah”) maka berarti dia kafir. (dan Jama’ah Tabligh terjatuh dalam kesalahan fatal ini, pen).
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri dengan menukilkan dari para ‘ulama.

10. Mereka (Jama’ah Tabligh) membolehkan membawa jimat-jimat yang padanya ada rajah-rajah dan nama-nama yang tidak diketahui, yang mungkin saja itu adalah nama-nama Syaithan. Ini adalah perbuatan yang tidak boleh.

[ dari kitab : al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an as-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah; pertanyaan no. 51, hal. 54-56)

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-4-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 5 • )*

HASAN AL-BANNA, Pendiri Kelompok Sesat Ikhwanul Muslimin, adalah SEORANG SUFI TAREKAT HASHAFIYYAH. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang mendominasi dakwah pergerakan-pergerakan di Mesir, gaungnya tidak hanya terdengar di negeri asalnya. Namun “dakwah”-nya telah mendunia, masuk ke penjuru-penjuru negeri di hamparan bumi ini. Termasuk tanah air kita, Indonesia, meski tentu saja dengan nama yang berbeda.

Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa, sehingga sempat mewarnai gerakan-gerakan dakwah di berbagai negara.

Ikhwanul Muslimin, gerakan ini tidak bisa lepas dari sosok pendirinya, Hasan Al-Banna. Dialah gerakan Ikhwanul Muslimin dan Ikhwanul Muslimin adalah dia.
Karismanya benar-benar tertanam di hati pengikut dan simpatisannya, yang kemudian senantiasa mengabadikan gagasan dan pemikiran Al-Banna di medan dakwah sepeninggalnya. Untuk mengetahui lebih dekat hakikat gerakan ini, mari kita simak sejarah singkat Hasan Al-Banna dan berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin.

KELAHIRANNYA
Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa bernama Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah. Ayahnya seorang yang cukup terkenal dan memiliki sejumlah peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi Tartib Musnad Al-Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.

Pendidikannya
Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seorang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan kepemim-pinan Madrasah itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna pun ikut meninggalkan madrasah.

Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, setelah berjanji kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga di madrasah ini adalah awal perkenalannya dengan gerakan-gerakan dakwah melalui sebuah organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk oleh guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna sendiri terpilih sebagai ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut hingga ia bergabung dengan organisasi Man’ul Muharramat.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. Di sinilah ia berkenalan dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia terkagum-kagum dengan majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang didendangkan secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada guru lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-Banna BERGABUNG dengan tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif dan rutin mengamal-kan dzikir-dzikir Ar-Ruzuqiyyah pagi dan petang hari. Tak ketinggalan, ACARA MAULUD Nabi pun RUTIN IA IKUTI : “…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian kami keluar dari masjid dan membuat barisan-barisan. Pimpinan umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan melantunkan sebuah nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring, membuat orang melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)

Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah PERGI BERSAMA TEMAN-TEMAN se-tarekat ke KUBURAN, untuk meng-ingatkan mereka tentang kematian dan hisab (perhitungan amal). Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, bahkan salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut dan berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat kematian nanti.

Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada akhirnya ia BERBAI’AT kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-Syaikh Basyuni Al-’Abd. Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran tarekat itu, sampai-sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut yang berbai’at.”

Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat tersebut. Ia diberi ijazah wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya berteman dengan saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya rutin mengikuti acara AL-HADHRAH di Masjid Taubah setiap malam… Sayyid Abdul Wahhab-pun datang, dialah yang memberikan ijazah di kelompok tarekat Hashafiyyah Syadziliyyah, dan saya mendapat ajaran tarekat ini darinya. Ia juga memberi saya wirid dan amalan tarekat itu.”

Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan sebuah organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah yang diketuai oleh teman lamanya, Ahmad As-Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi sekretarisnya. Al-Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan ini, aku menggantikannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”

Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin dari tahun 1920-1923 M. Di sela-sela masa itu, ia juga ba-nyak membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah yang banyak dipengaruhi pemikiran Mu’ta-zilah. Di sisi lain, iapun suka mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di perpustakaan salafinya.

Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul Ulum, sempat bimbang antara melanjutkan atau menekuni dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya dengan buku Ihya‘ Ulumud-din. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.

Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum. Di sini, ia sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah, sehingga di tengah-tengah aktivitasnya tercetus dalam benaknya, ide untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang duduk di warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk mendak-wahi mereka.

Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul Ulum pada tahun 1927 M.
Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di daerah Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama 19 tahun. Sebelumnya, ia datang ke daerah itu pada tanggal 19 September 1927 dan tinggal di sana selama 40 hari untuk mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia dapati banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua pihak, dan mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari semua kelompok yang ada dan berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada di warung-warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin bertambah jumlah pengikutnya.

PEMBENTUKAN GERAKAN IKHWANUL MUSLIMIN

Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengikutnya mendatangi rumahnya, membai’atnya demi beramal untuk Islam dan sama-sama bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindah ke ibukota Kairo, bersama markas besar Ikhwanul Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk PASUKAN KHUSUS untuk melindungi jamaahnya.

Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk MENCALONKAN dirinya dalam PEMILIHAN UMUM, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri, ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.

WAFATNYA
Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk hadir di kantor pusat organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. Ketika ia hendak naik taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu penerang jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan ambulans. Namun karena pendarahan yang hebat, ajal menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah lembaran kehidupannya.

Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan dakwah yang ia dirikan. Pembaca mungkin berbeda-beda dalam menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata syar’i, menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan mendapatinya sebagai SEJARAH YANG SURAM.

Mengapa? Karena kita melihat, ternyata gerakan tersebut lahir dari sebuah SOSOK yang berlatar belakang ALIRAN SHUFI HASHAFI dengan berbagai KEGIATAN BID’AHNYA, seperti
> bai’at kepada syaikh tarekat dan kepada Al-Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan,
> amalan wirid-wirid Ruzuqiyyah yang diada-adakan,
> dzikir berjamaah,
> maulud Nabi,
> ziarah-ziarah kubur dengan cara bid’ah
> sampai pada praktek politik praktis di atas asas demokrasi.
Gurunyapun campur aduk, dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi. Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan corak gerakan tersebut, sehingga warna-nyapun tidak jelas, buram. Tidak seperti Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan:

“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 33)

Dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-5-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 6 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 1 )
Sekilas, dari sejarah singkat Hasan Al-Banna tampak jati diri gerakan yang didirikannya. Namun itu tidak cukup untuk mengungkap lebih gamblang. Untuk itu perlu kami nukilkan di sini beberapa kesimpulan yang didasari oleh komentar Al-Banna sendiri atau tokoh-tokoh gerakan ini atau simpatisannya.
1 Pertama: MENGGABUNGKAN KELOMPOK-KELOMPOK BID’AH
Tentu pembaca tahu, bahwa bid’ah tercela secara mutlak dalam agama:
“Semua bid’ah itu sesat .” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)

Kata-kata ini senantiasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan dalam pembukaan khutbahnya.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga katakan:
“Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah. ” (HR. Muslim, Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096)

Yakni ridha terhadapnya dan tidak mengingkarinya.
Dan banyak lagi hadits yang lain. Tapi anehnya, Al-Banna justru MENAUNGI kelompok-kelompok bid’ah sebagaimana dia sendiri ungkapkan:
“Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyyah… tarekat sunniyah… hakekat shufiyyah…dan badan politik…” (Majmu’ah Rasa`il, hal. 122)

Ini menggambarkan usaha untuk MENCAMPUR antara al-haq dan al-bathil. Dan ini adalah cara yang batil. Jika memang dakwahnya adalah salafiyyah yang sesungguhnya –dan itulah kebenaran– tidak mungkin dipadukan dengan shufiyyah dengan berbagai bid’ahnya dan praktek politik praktis yang diimpor dari Barat. Karena prinsip ini, maka realita membuktikan bahwa: “Ratusan ribu manusia telah bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin. Mereka dari kelompok yang bermacam-macam, paham yang berbeda-beda. Di antara mereka ada sekelompok Shufi yang menyangka bahwa kelompok ini adalah Shufi gaya baru…,” demikian ungkap Muhammad Quthub dalam bukunya Waqi’una Al-Mu’ashir (hal. 405).

Bahkan dengan kelompok SYI’AH-pun BERPELUKAN. Itu terbukti dengan usaha Al-Banna untuk MENYATUKAN antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah. Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehingga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa SUNNAH dan SYI’AH adalah MUSLIMIN, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah POKOK AQIDAH. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan SAMA-SAMA BERSIH. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa DIDEKATKAN.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249~250)

Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat syahadat?
Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib?
Tidakkah dia tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib?
Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya kepada Ali, bukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –?!!
Seandainya hanya ini saja (penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang KEKAFIRAN dan BID’AH Syi’ah.

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-6-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 7 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 2 )
2 Kedua: LEMAHNYA AL-WALA` dan AL-BARA`
Pembaca, tentu anda tahu bahwa Al-Wala` (loyalitas kepada kebenaran) dan Al-Bara` (antipati terhadap kebatilan) merupakan PRINSIP PENTING dalam agama kita, Islam. Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat 449 H) mengatakan: “Dengan itu, (Ahlus Sunnah) seluruhnya bersepakat untuk merendahkan dan menghinakan ahli bid’ah, dan menjauhkan serta menjauhi mereka, dan tidak berteman dan bergaul dengan mereka, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauhi mereka.” (‘Aqidatussalaf Ashabil Hadits, hal. 123, no. 175)

Tapi prinsip ini menjadi LUNTUR dan BENAR-BENAR LUNTUR dalam manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Itu terbukti dari penjelasan di atas. Juga SAMBUTAN HANGATnya terhadap pimpinan aliran Al-Marghiniyyah, sebuah aliran WIHDATUL WUJUD yang menganggap Allah menjadi satu dengan makhluk (lihat Qafilatul Ikhwan Al-Muslimin, 1/259, karya As-Sisi).

Lebih dari itu – dan anda boleh kaget– Al-Banna mengatakan: “Maka saya tetapkan bahwa PERMUSUHAN kita dengan Yahudi BUKAN PERMUSUHAN KARENA AGAMA. Sebab Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dengan mereka. Dan Islam adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat kesukuan. Allah-pun telah memuji mereka dan menjadikan kesepakatan antara kita dengan mereka… dan ketika Allah ingin menyinggung masalah Yahudi, Allah menyinggung mereka dari sisi ekonomi, firman-Nya….” (Al-Ikhwanul Al-Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/409 dinukil dari Al-Maurid, hal. 163~164)

Apa yang pantas kita katakan wahai pembaca. Barangkali tepat kita katakan di sini:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? ” (Al-Baqarah: 85)

Ke mana hafalan Al-Qur`annya? Siapapun yang membaca pasti tahu bahwa Allah telah mengkafirkan Yahudi, mereka membunuh para nabi, mencela Allah, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beberapa kali berusaha membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah ini semua tidak pantas menimbulkan permusuhan antara muslimin dengan Yahudi dalam pandangannya?

Bukti lain tentang lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`, bahwa sebagian PENASEHATnya adalah NASHRANI.
Menurut pengakuan Yusuf Al-Qardhawi, katanya: “Saya tumbuh di sebuah lingkungan yang berkorban untuk Islam. Madrasah ini, yang memimpinnya adalah seorang yang mempunyai ciri khas keseimbangan dalam pemikiran, gerakan, dan hubungannya. Itulah dia Hasan Al-Banna. Orang ini sendiri adalah umat diri sisi ini, di mana dia bisa bergaul dengan semua manusia, sampai-sampai sebagian penasehatnya adalah orang-orang Qibthi –yakni suku bangsa di Mesir yang beragama Nashrani– dan ia masukkan mereka ke dalam departemen politiknya…” (Al-Islam wal Gharb, ma’a Yusuf Al-Qardhawi, hal. 72, dinukil dari Dhalalat Al-Qardhawi, hal. 4))

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

Majmu’ah Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-7-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 8 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 3 )
3 Ketiga: TIDAK PERHATIAN TERHADAP AQIDAH
Pembaca, aqidah adalah hidup matinya seorang muslim. Bagi muslim sejati, yang berharga menjadi murah demi membela aqidah. Aqidah adalah segala-galanya, tidak bisa main-main, tidak bisa coba-coba.
Tapi tidak demikian adanya dengan kelompok yang kita bicarakan ini. Itu terbukti dari keterangan di atas, ditambah keadaan Al-Banna sendiri yang TIDAK BERAQIDAH SALAF dalam mengimani Asma`ul Husna dan sifat-sifat Allah. Salah jalan, ia terangkan aqidah salaf tapi ternyata itu aqidah khalaf (yang datang belakangan dan menyelisihi salaf).
Ungkapnya: “Adapun Salaf, mereka mengatakan: Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan kami serahkan keterangan tentang maksudnya kepada Allah tabaraka wa ta’ala , sehingga mereka menetapkan sifat Al-Yad (tangan) dan Al-’Ain (mata)… Semua itu dengan MAKNA yang TIDAK KITA KETAHUI, dan kita SERAHKAN kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya…” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 292, 324)

Tauhid Al-Asma` dan Sifat, adalah salah satu dari tiga unsur penting dalam ilmu-ilmu tentang Allah
Ta’ala . Intinya adalah mengimani nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya sebagaimana Allah
Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur`an atau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits yang shahih.
Aqidah Ahlussunnah dalam hal ini tergambar dalam jawaban Imam kota Madinah saat itu, Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbuhi
rahimahullah , ketika ditanya oleh seseorang: “Allah naik di atas ‘Arsy-Nya, bagaimana di atas itu?” Dengan bercucuran keringat karena kaget, beliau menjawab: “Naik di atas itu DIKETAHUI maknanya. Caranya tidak diketahui. Iman dengannya adalah wajib. Dan bertanya tentang itu adalah BID’AH!”

Ucapan Al-Imam Malik ini minimalnya mengandung empat hal:
1. Naik di atas itu diketahui maknanya: Demikian pula nama, sifat dan perbuatan Allah yang lain seperti, murka, cinta, melihat, dan sebagainya. Semuanya diketahui maknanya, dan semua itu dengan bahasa Arab yang bisa dimengerti.

2. Tapi caranya tidak diketahui: yakni kaifiyyah, cara dan seperti apa tidaklah diketahui, karena Allah
‘Azza wa Jalla tidak memberi-tahukan perincian tentang hal ini. Demikian pula sifat-sifat yang lain.

3. Iman dengannya adalah wajib: karena Allah memberitakannya dalam Al-Qur`an dan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam haditsnya yang shahih.

4. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah: yakni bertanya tentang tata caranya dan seperti apa sifat-sifat tersebut adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh generasi awal. Mereka beriman apa adanya, karena Allah Ta’ala tidak pernah memberitakan perincian tata caranya. Berbeda dengan ahli bid’ah yang melakukan takyif yakni mereka-reka kaifiyyah sifat tersebut, atau bertanya untuk mencari tahu dengan pertanyaan: Bagaimana?

Dengan penjelasan di atas, maka ucapan Hasan Al-Banna: …”Semua itu dengan MAKNA yang TIDAK KITA KETAHUI, dan kita serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya”, adalah ucapan yang MENYELISIHI kebenaran. Dan ini tentu BUKAN MANHAJ SALAF. Bahkan ini adalah manhaj Ahlut Tafwidh atau Al-Mufawwidhah, yang menganggap ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah itu bagaikan huruf muqaththa’ah, yakni huruf-huruf di awal surat seperti alif lam mim, yang tidak diketahui maknanya.

Madzhab ini SANGAT BERBAHAYA, yang konsekuensinya adalah menganggap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya bodoh, karena mereka tidak mengetahui makna ayat-ayat itu.

Oleh karenanya, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa:
“Al-Mufawwidhah termasuk SEJAHAT-JAHAT ahli bid’ah.” (lihat Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyyah, 1/201~205, dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 71)

Bukti lain, ia HADIR di salah satu sarang kesyirikan terbesar di Mesir yaitu kuburan Sayyidah Zainab, lalu memberikan wejangan di sana, tetapi sama sekali TIDAK menyinggung kesyirikan-kesyirikan di sekitar kuburan itu (lihat buku Qafilatul Ikhwan, 1/192).

Jika anda heran, maka akan lebih heran lagi ketika dia mengatakan: “Dan berdoa apabila diiringi dengan tawassul kepada Allah Ta’ala dengan perantara seseorang dari makhluk-Nya, adalah perbedaan pendapat yang sifatnya furu’ (cabang) dalam hal tata cara berdoa dan BUKAN termasuk perkara aqidah.” (Majmu’ Rasa`il karya Al-Banna, hal. 270)

Pembaca, jika anda mengikuti kajian-kajian majalah kesayangan ini, pada dua edisi sebelumnya dalam Rubrik Aqidah akan anda dapati pembahasan tentang tawassul. Tawassul (menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk menyampaikan doa kepada Allah) telah dibahas panjang lebar oleh ulama dan SANGAT ERAT kaitannya dengan AQIDAH. Di antara tawassul itu ada yang sampai kepada derajat syirik akbar, adapula yang bid’ah.

Dari sisi ini, bisa pembaca bandingkan antara nilai aqidah menurut para ulama dan menurut Hasan Al-Banna.

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

Majmu’ah Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-8-•/📚

🚫✋🏼_Jangan mencukupkan diri untuk mengambil ilmu melalui internet sehingga lalai menghadiri majelis ilmu. Sangat banyak kebaikan dalam majelis ilmu_
✍🏼`````Turut Mempublikasikan```
*WHATSAP ILMIAH DI ATAS SUNNAH*

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...