KEBODOHAN LAHAN SUBUR TERORISME

Kebodohan dalam hal agama, yaitu tak (memahami) memahami  Islam dengan baik dan benar, akan menggiring ke lembah bencana. Betapa tidak,? kebodohan yang ada pada seseorang akan menyeretnya berperilaku dan bersikap menyalahi agama Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam la bisa menjadi penentang al-haq, meremehkan kebenaran.

           "Jika demikian adanya, inilah sumbu bagi tersulutnya kebinasaan. Allah ta'ala mengingatkan hal ini,

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang
pedih." (an-Nur: 63)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
"Dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa pun yang menentang/menyelisihi perintahku." (HR. Ahmad
2/50, 92)

     "Mengapa menyelisihi perintah Rasul shalallahu alaihi wasallam ? Sebab, ia tidak berilmu tentang perintah dan bimbingan beliau shalallahu alaihi wasallam.
         
           "Kebodohan yang melekat di masyarakat Islam bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya terorisme. Kekurangpahaman sebagian kaum muslimin terhadap ajaran lslam yang sebenarnya bakal menjadi celah menyusupnya paham-paham sempalan.

          "Di antara sebab terseretnya manusia dalam pusaran paham sempalan adalah kebodohan dalam memaknai ayat atau
hadits. Penafsiran terhadap satu ayat atau hadits tidak didasarkan pada kaidah baku sebagaimana dituntunkan oleh para ulama salaf, yaitu para sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini, dan para ulama yang mengikuti jejak mereka.

           "Di sisi lain, masyarakat muslim terlalu jauh dari bimbingan ilmu Islam sehingga tidak mampu memilah mana
ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah.

 "Lengkaplah sudah dua sisi kebodohan. Dari satu sisi, pendakwah tidak tahu penafsiran yang benar tentang ayat atau
hadits. Di sisi lain, yang menerima dakwah juga tak memiliki bekal untuk menyaring ajaran-ajaran yang tidak benar.

         "Radikalisme dan Terorisme Muncul karena Kebodohan terhadap Ajaran Islam


        "Betapa banyak anak muda yang masih polos dijejali paham ekstre dan radikal. Dengan kehampaan ilmu agama yang ada pada mereka, dipiculah semangat berperang. Doktrin ekstrem dengan kemasan jihad disuntik kepada mereka. Akhirnya, daya tempur melibaas musuh meluap-luap. Sapa yang tak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai musuh atau kaki tangan kaum kafir. sikap ekstrem ini berujung pada pengkafiran serta tindakan teror.

Demikianlah sifat dasar yang melekat pada kelompok-kelompok radikal-teroris. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan tentang kelompok teroris Khawarij.

   “Pada akhir zaman akan keluar satu kaum yang muda belia usianya dan pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan manusia terbaik. Mereka rajin membaca al-Qur'an, tetapa tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari tubuh buruannya’ (HR. al-Bukhari no. 3611 dan Muslim no. 1 066)

"Mereka rajin membaca al-Qur'an. tetapi tidak bisa memahami dengan benar ayat-ayat yang mereka baca. akibatnya apa yang mereka baca tak bisa menembus hati sehingga tidak bisa memahami dengan baik dan benar apa yang mereka baca. apalagi mengamalkannya. Secara bertahap mereka tergiring untuk keluar dari ketentuan-ketentuan Islam yang indah. Mereka terjatuh pada penyimpangan dalam keadaan merasa yakin di atas kebenaran. yakin kalau sedang memperjuangkan Islam.

Kondisi mereka tak ubahnya seperti yang disebutkan dalam firman Allah ta'ala yang artinya ,


Katakanlah. “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka Itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 103-105)

Seorang pakar tafsir terkemuka, Ibnu Katsir Rahimahullah (wafat tahun 774 H), menyebutkan pendapat Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahuanha dari adh-Dhahhak Rahimahullah bahwa ayat ini berlaku untuk kaum Khawarij. Kemudian beliau menggarisbawahi bahwa ayat di atas bersifat lebih umum, yaitu mencakup Yahudi, Nasrani, kaum Khawarij, dan semua pihak yang beribadah kepada Allah ta'ala dengan cara yang salah, sementara dia meyakini berada di atas kebenaran dan amalannya diterima. Padahal dia dalam kondisi salah dan amalannya tertolak. (Tafsir Ibnu Katsir)

Beberapa Contoh Kebodohan Teroris

Contoh pertama, salah satu doktrin yang melekat pada kaum radikal adalah kritik terhadap kesalahan-kesalahan pemerintah yang dilakukan melalui media terbuka, demonstrasi, mimbar orasi, khotbah, agitasi politik, tabligh akbar, dan semisalnya.

Sejatinya, cara-cara tersebut merupakan provokasi yang menyulut emosi dan amarah rakyat terhadap pemerintahnya. Namun, kaum radikal teroris meyakini cara tersebut adalah bentuk jihad yang paling utama. Mereka merasa sedang mengamalkan hadits,

“Jihad yang paling utama adalah nasihat yang adil di hadapan penguasa yang jahat." (HR. Abu Dawud no. 4344, at-Tirmidzi no. 2174, dan Ibnu Majah no. 4011)

Para ulama Salafi menjelaskan bahwa makna hadits di atas adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim dengan berbicara langsung di hadapannya atau melalui surat tertutup yang disampaikan langsung kepadanya. Jadi, maknanya bukan disampaikan di hadapan umum atau secara terbuka di media atau mimbar bebas. Nasihat tersebut disampaikan secara tertutup, berdasarkan ilmu, penuh hikmah, dan santun.

Yang memperjelas prinsip penting ini adalah hadits,

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa dalam suatu urusan, janganlah ia sampaikan secara terbuka. Namun, hendaknya dia pegang tangannya (ditemui langsung) dan menyendiri dengannya. Jika penguasa tersebut mau menerima nasihat darinya, itulah yang diharapkan. Jika tidak mau, dengan itu sang penasihat telah menunaikan kewajibannya. ” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1097)

Perhatikan kesalahan fatal kaum teroris ini. Mereka jatuh dalam kesalahan karena salah memahami dan salah menerapkan hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam Sebab utama kesalahan besar ini adalah kebodohan. Akibatnya, kelompok teroris sering memprovokasi rakyat untuk membenci pemerintahnya. Selanjutnya, banyak pihak mulai berani merongrong kewibawaan pemerintah.

Contoh kedua. dengan sangat mudah kaum teroris menjatuhkan vonis kafir kepada pemerintah muslim. Mengapa? Karena mereka salah memahami ayat,

“Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan. mereka adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

Kelanpok teroris Khawarij memvonis pemerintah muslim telah kafir karena menilai bahwa pemerintah tidak lagi berhukum dengan hukum Allah. Padahal orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tidak bisa serta-merta difonis kafir. Ada banyak perincian yang harus dipahami terkait tafsir ayat tersebut. (Lihat pembahasan makna yang benar tentang makna ayat ini pada hlm. 62)

Akan tetapi. demikianlah keadaannya. Kaum teroris Khawarij bahkan telah menerapkan ayat tersebut kepada salah satu pemerintahan terbaik, yaitu pemerintahan Amirul Mukminin 'Ali bin Abu Thalib Radhiyallahuanha . Jika salah satu pemerintah terbaik telah divonis kafir oleh kaum teroris Khawarij berdasarkan ayat tersebut. lantas bagaimana halnya dengan pemerintah sekarang?!

Karena pemerintah telah dinyatakan kafir. segala perlawanan terhadap pemerintah tersebut adalah sah menurut kaum teroris. Bahkan, mereka meyakininya sebagai jihad Dengan demikian-masih menurut mereka- berbagai aksi teror. baik berupa bom bunuh diri. peledakan. pembunuhan terhadap aparat pemerintah. dll.. adalah perbuatan yang legal. Akibatnya. muncul kekacauan dalam masyarakat, stabilitas pertahanan dan keamanan negara pun terganggu lagi, kaum teroris Khawarij itu juga tak mengerti hukum-hukum jihad. Di antaranya, mereka tidak paham bahwa jihad dalam lslam tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok dengan cara sporadis. Jihad harus dilakukan bersama pemerintah kaum muslimin dan dalam komando mereka.

Jihad adalah amalan mulia dalam Islam. Hanya saja, untuk melaksanakannya tidak cukup semata berbekal semangat membela Islam, namun harus berbekal ilmu dan kesiapan iman. (Lihat pembahasan tentang jihad yang benar pada hlm. 7 16)

Selanjutnya, kaum teroris mengklaim aksi-aksi terornya sebagai jihad. Padahal tindakan mereka sangat jauh dari gambaran dan aturan jihad Islam yang benar. Mereka juga serampangan membunuh ketika melaksanakan “jihad”nya (baca: aksi teror).

Contoh keempat, kaum teroris juga bodoh dan tidak mengerti bahwa tidak semua orang kafir itu boleh dibunuh. Dalam aturan syariat Islam ada klasifikasi orang-orang kafir dan ketentuan kapan orang kafir boleh diperangi. (lihat pembahasan pada artikel “Meluruskan Kesalahan Jihad Versi Kaum Teroris”)

Islam adalah agama rahmatan lil “alamin. Bahkan, syariat jihad itu sendiri merupakan salah satu bukti nyata misi rahmatan lil “alamin tersebut. Namun, keindahan syariat jihad menjadi tercemar dan terkesan buruk karena tindakan kelompok-kelompok radikal-teroris.

Itulah kebodohan mereka. Sesungguhnya akal mereka itu dangkal. Tidak bisa memahami ayat atau hadits dengan pemahaman yang benar.

Karena itu, teramat penting untuk membenahi pemahaman kaum muslimin dengan memberikan ilmu agama yang benar sesuai dengan tuntunan para ulama salaf (para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam dan yang mengikuti mereka).

Mengapa ayat dan hadits harus dipahami sesuai dengan penmahaman para ulama salaf? Karena!

1. Al-Qur'an dan hadits datang dengan bahasa mereka (para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam) Sudah tentu mereka lebih memahami maksud-maksud keduanya.

2. Mereka adalah para murid Nabi shalallahu alaihi wasallam yang belajar makna dan tafsir al-Qur'an secara langsung kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.

3. Mereka adalah generasi terbaik dalam hal cara beriman, cara berakidah, akhlak dan ibadah, serta dakwah dan perjuangannya.

Oleh sebab itu Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan.

“Generasi terbaik adalah generasi ku (yaitu generasi para sahabat beliau shalallahu alaihi wasallam), kemudian generasi yang datang berikutnya (generasi tabi'in), kemudian yang datang berikutnya (generasi tabi'ut tabi'in). " (HR. al-Bukhari)

4. Prinsip-prinsip beragama dan cara mereka memahami al-Quran dan hadits telah dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran untuk generasi sesudah mereka.

Inilah yang dikatakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam ketika menjawab satu-satunya kelompok yang selamat dari ancaman neraka diantara 73 kelompok yang berpecah belah,

“Mereka adalah orang-orang yang (prinsip-prinsipnya) berada di atas prinsip-prinsipku dan para sahabatku pada hari ini.”

Maka dari itu, sudah semestinya bagi siapa yang menginginkan akidah yang lurus dan cara memahami al-Qur'an yang benar untuk mengikuti jejak generasi terbaik tersebut dan tidak mendatangkan tafsir-tafsir baru yang dibuat-buat oleh generasi sesudahnya. Wallahu a'Iam.


  • Majalah Asy-Syari'ah Edisi KHUSUS/O2/1439 H/2017 M halaman 3-6

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...