SAHABAT NABI DI MATA SYIAH


Penulis Al-Ustadz Muhammad Rizal Lc Hafizhahullah


"Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahuwata'ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah ta'ala, Allah ta'ala pun telah meridhai mereka. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shalallahu alaihi wasallam :

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.“ ¹

Bahkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

Syiah Raifidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi 

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta'dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi....” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke 144 yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang . yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12-13, dinukil dari asy-Syi’ah alImamiyah aI-Itsna ‘Asyan‘yah fi Mizam’l Islam, hlm, 89)

2. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata,

“Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orangi al-Miqdad bin al-Aswad. Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al~ Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy'Gyi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya lhsan llahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

3. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata,

“Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah.

Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam.

Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 5 1 9, Muhammad Baqir al-Majlisi)

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar Radiyallahuanhuma dua manusia terbaik setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengkafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. l l 4) wirid laknat untuk keduanya,

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka.... ”² (al-Khuthuth al-'An’dhah, hlm. 1 8, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan Radhiyallahuan telah membunuh istri beliau sendiri Ruqayyah putri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani' Mauqif asy-Syi ’ah minal Ash -hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahuan terhadap putrinya, Ruqayyah Radhiyallahuan huma.

Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan Radhiyallahuan adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenamya mereka telah menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahuan atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran.

Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ‘Aisyah radhiyallahuan huma dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur-na’udzu billah min dzalik-. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57-60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahuan huma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah....” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 1 1, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para lbunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?"

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak bisa mendidik istri-istrinya? “Apakah Allah ta'ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk KhaliI-Nya. Muhammad bin Abdillah shalallahu alaihi wasallam

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “tidaklah Allah
[4/1 4:03 PM] 🛵🌪: Ahlus Sunnah meyakini bahwa Apara sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahuwata'ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah ta'ala, Allah ta'ala pun telah meridhai mereka. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shalallahu alaihi wasallam :

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.“ ¹

Bahkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

Syiah Raiidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta'dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi....” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke 144 yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang . yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12-13, dinukil dari asy-Syi’ah alImamiyah aI-Itsna ‘Asyan‘yah fi Mizam’l Islam, hlm, 89)

2. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata,

“Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orangi al-Miqdad bin al-Aswad. Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al~ Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy'Gyi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya lhsan llahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

3. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata,

“Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah.

Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam.

Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 5 1 9, Muhammad Baqir al-Majlisi)

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar Radiyallahuanhuma dua manusia terbaik setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengkafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. l l 4) wirid laknat untuk keduanya,

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka.... ”² (al-Khuthuth al-'An’dhah, hlm. 1 8, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan Radhiyallahuan telah membunuh istri beliau sendiri Ruqayyah putri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani' Mauqif asy-Syi ’ah minal Ash -hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahuan terhadap putrinya, Ruqayyah Radhiyallahuan huma.

Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan Radhiyallahuan adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenamya mereka telah menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahuan atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran.

Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ‘Aisyah radhiyallahuan huma dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur-na’udzu billah min dzalik-. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57-60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahuan huma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah....” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 1 1, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para lbunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?"

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak bisa mendidik istri-istrinya? “Apakah Allah ta'ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk KhaliI-Nya. Muhammad bin Abdillah shalallahu alaihi wasallam

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “tidaklah Allah menjadikan Aisyah sebagai istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kecuali karena beliau sosok wanita yang baik, karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling baik di antara manusia terbaik. Seandainya Aisyah adalah seorang yang buruk, niscaya tidak pantas menjadi pendamping Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Demikian nukilan-nukilan celaan mereka terhadap para sahabat Radhiyallahuanha. Yang sangat aneh dan sangat menjijikkan, Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, adalah pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (sang pemberani dan pembela agama).

Berikutnya, hari kematian ‘Umar mereka jadikan sebagai hari Iedul Akbar, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari berkah, dan hari bersukaria. (al-Khuthuth al-’An'dhah hlm. 18)

Demikian keji dan kotor mulut mereka. Oleh karena itu, al-lmam Malik bin Anas Rahimahullah berkata,

“Mereka adalah sekelompok orang yang berambisi untuk menghabisi Nabi shalallahu alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya, agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh juga.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

Khatimah

Demikian beberapa kesesatan Syiah Rafidhah. Semua yang telah kita sebutkan adalah pokok-pokok agama yang mereka selisihi. Masih banyak kesesatan mereka yang lain, di antaranya:

• keyakinan tentang imamah,

• kebencian yang sangat besar terhadap para ulama ahlu hadits, seperti al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim,

• pengkafiran seluruh kaum muslimin (Ahlus Sunnah),

• pengagungan terhadap Tanah Karbala (yang mereka yakini sebagai tempat terbunuhnya sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahuanhuma melebihi Tanah Suci Makkah dan Madinah,

• pengagungan terhadap makam yang mereka yakini sebagai makam ‘Ali radhiyallahuanha ,

• pengagungan makam para pemimpin mereka melebihi Ka’bah Baitullah al-Haram, ‘

• penyakralan hari yang mereka anggap sebagai hari terbunuhnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib (hari Asyura, 10 Muharram),

• perayaan hari tersebut besarbesaran.

• syirik dalam peribadatan,

• keyakinan bolehnya nikah kontrak (nikah mut’ah), yaitu akad nikah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk jangka waktu tertentu (sehari, dua hari, atau lebih) tanpa wali, bahkan sangat mengagungkannya, '

• penamaan diri mereka sebagai Jamaah Ahlul Bait yang mengaku mencintai ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ) padahal mereka sangat mencela ahlul bait.

Saudaraku muslim, inilah potret Syiah Rafidhah, sekaligus potret iran sebagai pemujudan Negara Syiah Rafidhah.

Kekufuran yang nyata dari kaum Syiah Rafidhah dan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah tentang kesesatan mereka menunjukkan bahwa kampanye taqrib (penyatuan dan persaudaraan) antara Sunni dan Syiah Rafidhah di Indonesia adalah sebuah makar besar untuk menghancuran negeri ini dan kaum muslimin di dalamnya.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Catatan kaki ¹ HR al-Bukhari no. 3673 dan Muslim (4/1967) no. 2541

² Yang dimaksud kedua putri meraka adalah Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahuanha dan Hafshah Radhiyallahuanha

Sumber : Majalah Asy Syari'ah NO.144/X/1437 H/2016 halaman 37-40

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar...