PANDAI DEBAT BUKAN TANDA BERILMU


Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan,

وقد فتن كثير من المتأخرين بهذا فظنوا أن من كثر كلامه وجداله وخصامه في مسائل الدين فهو أعلم ممن ليس كذلك. وهذا جهل محض. وانظر إلى أكابر الصحابة وعلمائهم كأبي بكر وعمر وعلي ومعاذ وابن مسعود وزيد بن ثابت كيف كانوا. كلامهم أقل من كلام ابن عباس وهم أعلم منه وكذلك كلام التابعين أكثر من كلام الصحابة والصحابة أعلم منهم وكذلك تابعوا التابعين كلامهم أكثر من كلام التابعين والتابعون أعلم منهم. فليس العلم بكثرة الرواية ولا بكثرة المقال ولكنه نور يقذف في القلب يفهم به العبد الحق ويميز به بينه وبين الباطل ويعبر عن ذلك بعبارات وجيزة محصلة للمقاصد.

‼️ Banyak dari orang-orang belakangan terjerumus ke dalam kesalahan ini. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicara, debat, dan argumentasi pada masalah agama, maka mereka ini lebih berilmu daripada yang tidak. Ini adalah murni kebodohan.

Lihatlah kepada para senior dan ulama shahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu'adz, Ibnu Mas'ud, dan Zaid bin Tsabit, bagaimana kondisi mereka? Ucapan mereka lebih sedikit daripada ucapan Ibnu Abbas, padahal mereka lebih berilmu daripada Ibnu Abbas.

Begitu pula, ucapan para tabi'in lebih banyak daripada ucapan para shahabat, padahal para shahabat lebih berilmu dari mereka.

Begitu pula, ucapan tabiut tabi'in lebih banyak daripada ucapan para tabi'in, padahal para tabi'in lebih berilmu dari mereka.

Ilmu itu tidak diukur dari banyaknya riwayat atau banyaknya ucapan. Akan tetapi, itu adalah sebuah cahaya yang Allah berikan pada kalbu. Dengannya, seorang hamba bisa mengetahui kebenaran.

Dengan itu juga, dia bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dan dia ungkapkan dengan ungkapan yang ringkas namun menyampaikan maksudnya."

Bayan Fadhli Ilmis Salaf Ibnu Rajab hlm. 57-58 (Tahqiq Muhammad Al Ajmi)

Channel Telegram majalahtashfiyah

Arsip Fawaid Ilmiyah:
https://t.me/fawaidsolo


Turut mempublikasikan:
WA Ilmu Syar'i Tulungagung

Join Channel Telegram:
https://t.me/taklimtulungagung

1 komentar :

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam. [HR. Al-Bukhori, 6018. Muslim, 47]