DAUROH SAMPIT 10 -12 NOVEMBER 2017

Dauroh Sampit 1439H

۝❝ بِسْـــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــــــــــــْمِ ❝۝
الحمد الله
*⚖DENGAN MENGHARAP RIDHA* *اللَّه عزوجل*
✍ان شآء الله
* MAJELIS TA'LIM IBNU ABBAS SAMPIT KEMBALI AKAN MENYELENGGARAKAN DAUROH ISLAM ILMIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH*
_Yang akan diselenggarakan pada tanggal 21-23 Safar 1439 H / 10-12 November 2017 M_
  In syaa Allah
Bersama : *Al-Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله*
_(redaktur majalah asy-Syari'ah)_
Jadwal/Rangkaian acara
___________________________
Tema pertama *MENJAGA LISAN*
Jum'at 21 Safar 1439 H / 10 November 2017 M
 Sesi 1
*Setelah Sholat Magrib - Isya*
_____________
Lanjutan tema *MENJAGA LISAN*
Sabtu 22 Safar 1439 H / 11 November 2017 M
 Sesi 2
*Pukul 09:30-11:00 WIB*
 Sesi 3
*Setelah Sholat Ashr - 16:30 WIB*
__________________
__________________
Tema Kedua *KETAATAN KEPADA PENGUASA*
Sabtu 22 Safar 1439 H / 11 November 2017 M
 Sesi  1
*Setelah Magrib - Selesai*
_______________
Lanjutan tema *KETAATAN KEPADA PENGUASA*
Ahad 23 Safar 1439 H / 12 November 2017 M
 Sesi  2 
*Pukul 08:30 - 09:30 WIB*
 Sesi  3
*Pukul 10:00 - 11:00 WIB*
__________________
*TERBUKA UNTUK UMUM*
TEMPAT :
Masjid Agung Wahyu Al-Hadi (komp.Islamic center)
Alamat :
 Jl.Jendral Sudirman KM 3 Sampit kotawaringin timur (kalimantan-tengah)
Jangan lupa ajak istri keluarga kerabat dan rekan anda
"Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" *(HR.MUSLIM no 7028)*
Juga Anda dapat mengikuti kajian melalui Radio Al Muwahhidiin Saluran 4
informasi ☎ 0852-4958-0693 / 0852-5215-2997
Dipublikasikan oleh :
•••••••••••••••••••••
WhatsApp an-najiyah forum salafiyyin
 Situs Resmi
Web sampit.salafymedia.com
Web https://forumsalafiyyinsampit01.wordpres.com
Web http://forumsalafiyyinsampit.blogspot.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~

HUKUM ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA YAHUDI DAN NASRANI ADALAH SAUDARA KITA

https://youtu.be/TG0aLbfdN_U

BERIKUT LINK RANGKAIAN DAUROH SAMPIT 14 SYABAN 1438 H

Dauroh Sampit 1438H

 Berikut Audio Rekaman Dauroh Sampit 14-17 Syaban 1438 H/ 11-14 mei 2017
_______________________________
Kamis 14 Syaban 1438H/11 mei 2017 H
1⃣. Muhadhoroh ba'da ashar dangan tema mengapa manhaj salaf 
 Durasi 01:15:54
12,56 MB
➡Link download : Muhadhoroh 1 ba'da ashar

2⃣. Muhadhoroh ba'da magrib dangan tema nasehat tentang ukhuwah dan ta'awun dalam dakwah
Durasi 00:54:41
9,95 MB
➡Link download : Muhadhoroh 2 ba'da magrib

________________________________
Jum'at 15 Syaban 1438H/12 mei 2017 H
3⃣. sesi 1 fiqih puasa ba'da subuh
Durasi 00:54:05
9,33 MB
➡Link download : sesi 1 fiqih puasa
4⃣. sesi 2 fiqih puasa ba'da ashar
Durasi 01:40:05
16,90 MB
➡Link download: Sesi 2 fiqih puasa
5⃣. sesi 3 fiqih puasa ba'da magrib
Durasi 00:30:35
5,43 MB
➡Link download: Sesi 3 fiqih puasa
_______________________________
Sabtu 16 Syaban 1438H/13 mei 2017 H
6⃣. sesi 4 fiqih puasa ba'da subuh
Durasi 00:59:53
10,12 MB
➡Link download: Sesi 4 fiqih puasa
7⃣. sesi 5 fiqih puasa 09:30 wib
Durasi 01:35:23
16,11 MB
➡Link download: Sesi 5 fiqih puasa
8⃣. sesi 6 fiqih puasa ba'da ashar
Durasi 01:32:38
16,19 MB
➡Link download: Sesi 6 fiqih puasa
9⃣. sesi 7 tanya jawab ba'da magrib
Durasi 00:36:05
6,13 MB
➡Link download: Sesi 7 fiqih puasa
_______________________________
Ahad 17 Syaban 1438H/14 mei 2017 H
. sesi utama solusi islam dalam menangkal Komunisme dan Radikalisme 08:00 WIB
Durasi 02:16:54
23,92 MB
➡Link download: Sesi Utama
Link Versi download & streaming
 https://archive.org/details/daurohsampit14syaban1438H
Semoga Bermanfaat Barakallahu fiikum
Forumsalafiyyin SAMPIT

Inilah dakwah

🌹🌺🌻💐 *Dakwah harus Memiliki Keistimewaan*

📝 *_Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin_*

💎 *Asy-Syaikh Muqbil Merintis Dakwah*

Seperti yang dikatakan, asy-Syaikh Muqbil adalah mujaddid di negeri Yaman. Belum pernah ada sejak zaman Abdur Razzaq ash-Shan’ani sampai hari ini, seseorang yang menjalankan dakwah dan memperbaruinya seperti yang dilakukan oleh beliau.

Yaman adalah negeri yang keumuman penduduknya berpemahaman Syiah, Sufi, dan komunis. Membaca dan mempelajari kitab-kitab Sunnah (karya para ulama Ahlus Sunnah) terhitung sebagai dosa dan kesalahan yang tidak diampuni dan tidak dimaafkan. Bahkan, kalau ada yang berani menampakkan sunnah, mereka akan menghalalkan darahnya.

Seorang alim yang bernama Muhammad bin Ibrahim al-Wazir, sebelumnya dihormati dan dimuliakan oleh gurunya. Setelah menampakkan sunnah, sang guru menulis surat khusus yang membantah dan menghabisi keyakinan serta manhajnya. Karena perlakuan zalim dari orang-orang yang memusuhi sunnah, beliau harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu kabilah ke kabilah yang lain, untuk mempertahankan agamanya.

Al-Imam asy-Syaukani
rahimahullah berkata memuji Muhammad bin Ibrahim al-Wazir, “Kalau saja aku katakan bahwa negeri Yaman tidak punya anak yang mulia seperti beliau, itu tidak salah.”

Setelah itu, hidup seorang alim yang bernama Shalih bin Mahdi al-Muqbili dan yang lainnya. Mereka juga mendapatkan penentangan dan gangguan dalam bentuk yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui.

Segala puji hanya milik Allah. Meskipun demikian keadaannya, musuh-musuh Sunnah gagal melakukan usaha. Sunnah Rasulullah dan ilmu para ulama tetaplah tersebar. Allah pun menjayakan ilmu para ulama yang membela Sunnah Rasulullah. Demikianlah yang terjadi hingga masa hidupnya asy-Syaikh Muqbil
rahimahullah .

Beliau mengawali dakwahnya dalam keadaan asing menurut pandangan kerabat maupun penduduk kampungnya. Di antaranya ialah ketika dalam shalat beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, mereka menganggap batal shalatnya.

Ada yang menganggap bahwa beliau membenci ahlu bait Nabi, ketika mendengar beliau mengatakan, “Kuburan al-Hadi (salah satu tokoh Syiah) tidak dapat memberi manfaat dan madarat.”

Yang lain mengatakan bahwa beliau adalah seorang wahabi yang telah berpaling dari ahlu bait Nabi, ketika mendapati beliau membawa Shahih al-Bukhari dan
Shahih Muslim.

Beliau pun bertahan sampai waktu yang Allah kehendaki. Terkadang beliau tinggal di kampung halaman, terkadang di Sana’, dan terkadang di Dzammar. Beliau berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain mengunjungi para penuntut ilmu dan Ahlus Sunnah yang ada. Beliau tidak merasa tenteram kecuali ketika bersama mereka.

Adapun kampung halaman beliau (Dammaj), penduduknya lebih dominan daripada beliau. Seorang penuntut ilmu tidak tahu apa yang harus diperbuat: apakah harus menghadapi mereka yang tidak memahami agama sama sekali, menghadapi fanatisme mazhab, atau menghadapi sikap ekstrem mereka terhadap Syi’ah, dst.

Segala puji bagi Allah, beliau memulai dakwah dengan mengajarkan al-Qur’an. Setelah itu, beliau menyampaikan hadits-hadits Nabi yang menyebutkan keutamaan Yaman, keutamaan ahlul bait, dan keutamaan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, mereka menganggap Ahlus Sunnah tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul baitnya. Hal ini beliau lakukan dalam rangka menerangkan kepada mereka bahwa mereka hanya memfitnah dengan tuduhan yang jahat dan palsu.

Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kecintaan yang syar’i. Mereka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kecintaan yang disyariatkan. Mereka menempatkan beliau sesuai dengan kemuliaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan dan kedudukan yang beliau jelaskan sendiri, sebagaimana dalam hadits,

ﻟَﺎ ﺗُﻄْﺮُﻭﻧِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻃْﺮَﺕْ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻋِﻴﺴَﻰ ﺍﺑْﻦَ
ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪ
ُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan menyanjung Isa bin Maryam
‘alaihissalam. Aku ini hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR . al-Bukhari , dari Ibnu Umar
radhiallahu ‘anhuma )

ﻣَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﺗَﺮْﻓَﻌُﻮﻧِﻲ ﻓَﻮْﻕَ ﻣَﻨْﺰِﻟَﺘِﻲ

“Aku tidak suka kalian menjunjungku melebihi kedudukanku.” (Diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan , dari Abdullah bin Syikhkhir dan Anas bin Malik)

Dalam keadaan terasing, beliau memulai dakwah di Dammaj dari sebuah masjid kecil yang terbuat dari tanah. Kemudian berdatangan beberapa orang penuntut ilmu dari daerah Arhab, Hasyid, Anis, ‘Ans, Shan’a, Ta’iz, Sudan, Mesir, Belgia, dan seterusnya.

Selang beberapa tahun, berkembanglah dakwah ke berbagai penjuru negeri Yaman. Berdatanganlah para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia, seperti Indonesia, Malaysia, Amerika, Perancis, Aljazair, Libya, Somalia, dan negeri lainnya.

*Menjaga Kerukunan & Persaudaraan Kaum Muslimin*

Beliau memiliki keinginan yang kuat akan terwujudnya kerukunan dan persatuan pada tubuh kaum muslimin. Dalam salah satu pelajarannya, beliau sampai pada sebuah hadits,

ﺑَﻴْﻨَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻧَﺎﺋِﻢٌ
ﺭَﺃَﻳْﺘُﻨِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٌ ﺗَﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﺎﻧِﺐِ
ﻗَﺼْﺮٍ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻟِﻤَﻦْ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘَﺼْﺮُ؟ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ : ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ
ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ . ﻓَﺬَﻛَﺮْﺕُ ﻏَﻴْﺮَﺗَﻪُ ﻓَﻮَﻟَّﻴْﺖُ ﻣُﺪْﺑِﺮًﺍ ﻓَﺒَﻜَﻰ
ﻋُﻤَﺮُ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃَﻏَﺎﺭُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟

Ketika kami bersama Rasulullah, beliau berkata, “Ketika saya sedang tidur, saya mimpi berada di surga. Saya melihat ada seorang wanita sedang berwudhu di dekat sebuah istana. Lalu saya bertanya, ‘ Milik siapakah istana ini? ’

Mereka berkata, ‘ Milik Umar. ’

Aku teringat kecemburuannya, maka aku segera berbalik pergi.”

Mendengar hal ini, Umar pun menangis sambil berkata, “Wahai Rasulullah, apakah terhadapmu saya cemburu?”
(HR . al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu )

Dari hadits ini, beliau ber istinbath
(mengambil kesimpulan hukum) dan memetik pelajaran, “Hadits ini menerangkan perlunya menjaga perasaan saudaramu di jalan Allah (seakidah).”

*Membenci Hizbiyah*

Kebenciannya terhadap hizbiyah dan bid’ah serta pemeluknya, sangatlah keras. Semua itu hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala . Beliau menerangkan hakekat hizbi dengan mengatakan, “Hizbi adalah semua yang mengajak kepada pemikirannya walaupun menyeru kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Itu hanya kedok atau topeng saja. Hizbiyah itu tidak memiliki batasan waktu. Hizbiyah adalah pemikiran.”

Beliau pernah berkata, “Kalau saja ada jari tanganku yang mengandung hizbiyah, sungguh aku akan memotongnya.”

*Tamayyuz* (Pembedaan)

Beliau seringkali mengulang dalam pelajarannya, “Dakwah itu harus memiliki tamayyuz (pembedaan).”

Orang-orang yang telah menyimpang, meskipun sebelumnya adalah murid, beliau senantiasa memperingatkan umat dari bahaya penyimpangan mereka. Bukan hanya dengan sindiran, namun beliau sebut satu per satu nama mereka.

Sebagian orang menanggapi tindakan beliau ini dengan menyatakan bahwa bisa jadi mereka yang menyimpang masih diharapkan kebaikan dan tobatnya sehingga perlu disikapi dengan lembut. Akan tetapi, beliau
rahimahullah menekankan, “Seseorang itu, kalau dia itu hizbi (menyimpang), tetap akan berada pada penyimpangannya.”

Ternyata benar ucapan beliau. Pada kenyataannya, orang tersebut tidak berubah, bahkan semakin menentang”

Sebagai salah satu contoh, sikap Abul Hasan al-Ma’ribi terhadap al-Ahdal yang mulai tampak penyimpangannya. Abul Hasan ingin bersikap lembut terhadapnya dengan harapan dia kembali kepada kebenaran. Akan tetapi asy-Syaikh Muqbil rahimahullah tidak sependapat. Dan ternyata kebenaran bersama beliau
rahimahullah .

Cukup disayangkan, sekarang ini banyak pihak yang tanpa malu menisbahkan diri sebagai murid asy-Syaikh Muqbil—termasuk di Indonesia— tetapi melupakan cara dakwah beliau rahimahullah ini. Dia menyangka bahwa cukup seseorang diakui menjadi murid kalau sudah pernah belajar atau menguasai pelajaran yang beliau sampaikan, tanpa meneladani sikap, kepribadian, serta manhaj beliau.
Wallahul Musta’an.

*Membenci Ancaman dan Teror Terhadap Kaum Muslimin*

Beliau sangat membenci teror, gangguan keamanan, dan munculnya kegelisahan serta rasa takut kaum muslimin. Disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar
radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ : ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺃَﻥْ ﺃُﻗَﺎﺗِﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺃَﻥَّ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﺍ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ
ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻓَﺈِﺫَﺍ
ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﺼَﻤُﻮﺍ ﻣِﻦِّﻱ ﺩِﻣَﺎﺀَﻫُﻢْ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ
ﺑِﺤَﻖِّ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﺣِﺴَﺎﺑُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka di sisi Allah
subhanahu wa ta’ala.”

Beliau mengambil istinbath bahwa dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kelompok semisal jama’atut takfir yang ada sekarang ini (yang selalu mengafirkan orang lain yang tidak segolongan dengannya) yang menganggap halal darah kaum muslimin. Demikian pula jama’atul jihad (kelompok yang mengaku mujahidin) yang menganggap halal darah kaum muslimin. Demikian pula para tokoh revolusioner yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan tindakan revolusi dan pemberontakan.

Dari Abdullah bin Mas’ud
radhiallahu ‘anhu , Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﺩَﻡُ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻭَﺃَﻧِّﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻠَﺎﺙٍ : ﺍﻟﺜَّﻴِّﺐُ
ﺍﻟﺰَّﺍﻧِﻲ ﻭَﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺑِﺎﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺭِﻙُ ﻟِﺪِﻳﻨِﻪِ ﺍﻟْﻤُﻔَﺎﺭِﻕُ
ﻟِﻠْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ
ِ
“Tidak halal darah seorang muslim yang mengucapkan syahadat Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan aku adalah Rasul Allah, kecuali karena tiga hal: tsayyib (orang yang sudah menikah) berzina, jiwa dengan jiwa (hukum qishash), dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad), memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin).”

Setelah menyebutkan hadits di atas, al-Imam Muslim mengisyaratkan kepada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan menyebutkan sanadnya sampai kepada beliau radhiallahu ‘anha , kemudian menyebutkan hadits yang semakna.

Ketika beliau ditanya tentang para turis, apakah mereka terhitung
mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian dengan negara muslimin)?

Beliau menjawab, “Di antara mereka ada yang datang untuk merusak di negeri kaum muslimin. Ada pula yang menjadi mata-mata. Akan tetapi, melampaui batas (yakni dengan menyerang) terhadap mereka justru hanya menimbulkan kekacauan. Saya tidak menganjurkan hal ini. Demikian pula halnya segala sesuatu yang dapat menimbulkan kekacauan, tidak dibolehkan.

Tindakan membunuh para wisatawan asing adalah suatu kesalahan. Kami tidak tahu kecuali ujungnya adalah yang satu menyerang yang lain. Akhirnya dakwah terbengkalai, begitu pula pendidikan, pertanian, dan perdagangan. Namun, perlu diingat bahwa ini bukan berarti kami ridha dengan (kedatangan) mereka.”

Inilah sikap kaum mukminin. Mereka tidak ingin menimbulkan gangguan keamanan. Berbeda halnya dengan keadaan orang munafik, mereka sangat antusias terhadap hal seperti itu. Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman,

ﻟَّﺌِﻦ ﻟَّﻢۡ ﻳَﻨﺘَﻪِ ﭐﻟۡﻤُﻨَٰﻔِﻘُﻮﻥَ ﻭَﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢ ﻣَّﺮَﺽٞ ﻭَﭐﻟۡﻤُﺮۡﺟِﻔُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﭐﻟۡﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﻟَﻨُﻐۡﺮِﻳَﻨَّﻚَ ﺑِﻬِﻢۡ ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ ﻳُﺠَﺎﻭِﺭُﻭﻧَﻚَ ﻓِﻴﻬَﺎٓ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﻴﻠٗﺎ
٦٠

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali dalam waktu yang sebentar.” (al-Ahzab: 60)

Meresahkan kaum muslimin hukumnya haram menurut syariat. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan -nya (2/720) dan Ahmad dalam Musnad-nya (5/362), dari Abdurrahman bin Abi Laila, bahwa para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita bahwa beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟِﻤُﺴْﻠِﻢٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺮَﻭِّﻉَ ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengagetkan dan membuat takut muslim lainnya.”

Hadits ini sahih dan telah disebutkan oleh asy-Syaikh Muqbil dalam kitabnya, ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fi ash-Shahihain (2/418).

*Tantangan yang Dihadapi*

Sebagaimana yang beliau alami di awal mula merintis dakwah, tekanan dari pihak dekat maupun jauh membuat beliau harus pindah ke satu tempat ke tempat yang lain.

Upaya pembunuhan juga telah dilakukan saat beliau mengawali dakwahnya. Bahkan, ketika dakwah Ahlus Sunnah telah berkembang dan semakin semarak di berbagai kota di Yaman, upaya inipun terus dilakukan oleh musuh-musuh dakwah.

Upaya ini dilakukan baik di markaz beliau di Dammaj maupun ketika beliau mengadakan safari dakwah. Seperti di San’a dan ‘Aden, terjadi upaya pengeboman terhadap beliau. Dengan pertolongan Allah, Allah menyelamatkan beliau dan kaum muslimin.

Upaya-upaya pembunuhan sangat memungkinkan untuk dilakukan, karena di negeri Yaman penduduknya masih bebas memegang senjata api dengan berbagai jenisnya.

Wallahul Musta’an.

📚 http://asysyariah.com/dakwah-harus-memiliki-keistimewaan/📚

🚫✋🏼 _Jangan mencukupkan diri untuk mengambil ilmu melalui internet sehingga lalai menghadiri majelis ilmu. Sangat banyak kebaikan dalam majelis ilmu_
✍🏼`````Turut Mempublikasikan```
*WHATSAP ILMIAH DI ATAS SUNNAH*

Pelajaran TAUHID 54

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5️⃣4️⃣)
—---------------------------------------—
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rohimahullah- menjelaskan:

وَدَلِيلُ الاسْتِعَانَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [سورة الفاتحة الآية: 5] وفي الحديث " إذا استعنت فاستعن بالله" (1) .

“Dan dalil tentang “Isti’anah” adalah firman-Nya:

”Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

[ Al-Fatihah: : 5 ]

Serta, dalam hadits:
”Jika engkau hendak meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.”

〰〰〰
💢 PENJELASAN:
TENTANG PENGERTIAN “ISTI’ANAH”.

Isti’anah artinya meminta pertolongan. [ Syarah Tsalatsatil Ushul hal. 62 ; Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin. ]

🌼 Asy-Syaikh As-Sa’di rohimahullah menjelaskan: “Isti’anah adalah menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala dalam rangka meminta manfaat atau menolak mudharat. Dengan penuh kepercayaan, bahwa Dia mampu mewujudkan hal itu.”

💯 Umat manusia sebagai ciptaan Allah Ta’ala sangat membutuhkan pertolongan-Nya.
Di segala aspek kehidupan, Seorang manusia tak akan mampu melakukan suatu kegiatan tanpa pertolongan-Nya. Bahkan di saat ia beribadah kepada Allah Ta’ala, tetap saja ia membutuhkan-Nya. Sehingga dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mengingatkan kita agar meminta pertolongan kepada-Nya.

🌷 Asy-Syaikh As-Sa’di rohimahullah menjelaskan:
“Penyebutan ‘Isti’anah’ setelah ‘Ibadah’ –padahal ia termasuk dalam ‘Ibadah’- menunjukkan butuhnya seorang hamba kepada pertolongan Allah -Ta’ala-  dalam setiap amal ibadah kepada-Nya.
🔻 Apabila Allah Ta’ala tidak memberikan pertolongan, maka keinginan seorang hamba untuk melaksanakan setiap perintah dan meninggalkan segala larangan tidak akan bisa terwujud.”

📚 [ Lihat ”Tafsir As-Sa’di” ]

〰〰〰
✅ Hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan.

Wallahul Muwaffiq

.........................
🌍 Simak terus pelajaran  Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 53

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5⃣3⃣)
—---------------------------------------—
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rohimahullah- menjelaskan:

وَدَلِيلُ الإِنَابَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ}  [سورة الزمر، الآية: 54]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” [ Az-Zumar : 54 ]

〰〰〰
💢 PENJELASAN:
PENGERTIAN INABAH

Inabah artinya kembali kepada Allah Ta’ala dengan bertaubat. [ Lihat Lisanul Arob (1/775), An-Nihayah (5/123) ]

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan, Bahwa yang namanya Inabah adalah kembali kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan kepada-Nya serta menjauhi kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.

Yang jelas, Inabah sangat dekat maknanya dengan taubat.
[ Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul hal. 61 ]

Macam-macamnya, ada dua;
1- Inabah kepada Rububiyyah Allah.
Yang seperti ini adalah bentuk ibadah seluruh makhluk Allah. Tatkala mereka ditimpa kerugian (musibah dan semisalnya, pen.).

2- Inabah kepada Uluhiyyah Allah.
Yang seperti adalah inabah yang dilakukan oleh wali-wali Nya. Padanya terkandung empat hal;
- Kecintaan kepada Allah,
- Tunduk kepada-Nya,
- Senantiasa siap menghadap Allah,
- Berpaling dari selain-Nya.

Seorang hamba tidak dikatakan sebagai “Munib” kecuali jika keempat hal itu ada padanya.

( Munib adalah orang yang telah berhasil melakukan inabah, pen.)

Walhasil, inabah diperintahkan di dalam ayat yang tadi kita baca bersama.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk menjadi hamba-hamba Nya yang berinabah. Aamiin.

Wallahu a’lamu bisshowab

.........................
🌍 Simak terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 52

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5⃣2⃣)
—---------------------------------------—
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rohimahullah- menjelaskan:

وَدَلِيلُ الْخَشْيَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي}  [سورة البقرة، الآية: 150]

“Dan dalil untuk Khosyyah adalah firman Allah -“Subhanahu waTa’ala”- (artinya):

”Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja).” [ Al-Baqoroh : 150 ]

〰〰〰
💢 PENJELASAN:
〰〰〰
PERBEDAAN “KHOUF” DENGAN “KHOSYYAH”.

🌷 Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan:
🔻“Khosyyah itu lebih khusus daripada khouf, hal itu dikarenakan khosyyah (hanya) dimiliki oleh orang-orang yang mengetahui tentang Allah -’Azza waJalla-.
🔻 Allah -Ta’ala- berfirman:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. [ Fathir:28 ].

🔻 (( Dari sini kita tahu, bahwa “Khosyyah” bukan sekedar rasa takut saja, pen.))
Ia adalah rasa takut yang disertai dengan ilmu pengetahuan (terhadap dzat yang ditakuti, pen.).

🌼 Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إِنِّي أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً»
”Sungguh aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian, dan orang yang paling takut kepada-Nya daripada kalian.”
📎 [ HR. Al-Bukhori no.5063. Dari shahabat Anas bin Malik –rodhiyallahu ‘anhu-.]

🔻 (Sehingga dikatakan) “Khouf” adalah gerakan, sedangkan “Khosyyah” mengandung gerakan yang dilakukan dengan cepat dengan penuh ketenangan.

📌 (Misal) : Orang yang melihat musuh ataupun banjir, dan semisalnya, terbagi menjadi dua keadaan .

1⃣➖ Salah satunya, Melakukan gerakan untuk melarikan diri darinya. Inilah yang disebut dengan “Khouf”.

2⃣➖ Yang kedua, Tetap tenang dan memilih tempat yang tidak bisa dijangkau olehnya. Dan ini yang disebut dengan “Khosyyah”.

📎 [ Lihat kitab “Madarijus Salikin” (1/508) ]

📝 Pada intinya, perbedaan antara “Khouf” dengan “Khosyyah” adalah pada pengetahuan. Orang yang memiliki “Khosyyah”; ia takut pada yang ditakuti berdasarkan pengetahuannya tentang dzat yang ditakuti. Tindakan yang ditempuh juga berdasarkan pengetahuan yang dia miliki.

〰〰〰〰
✅ 💯 Semoga Allah Ta’ala memberikan “Khosyyah” –rasa takut yang disertai ilmu- ini kepada kita. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin.

Wallahu a’lamu bisshowab

.........................
🌍 Simak terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 51

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5⃣1⃣)
—---------------------------------------—

💢 PENJELASAN “ROGHBAH”, “ROHBAH”, DAN “KHUSYU’”
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

〰2⃣ - Tentang pengertian “Khusyu’” (penuh ketundukan).

🔘 Menurut istilah bahasa Arab:
🔰 Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan:
“Khusyu’” pada asal bahasa Arab berarti; “inkhifadh” (merendah), “dzull” (kerendahan), ”Sukun” (ketenangan). [ al-Madaarij (1/516)]

🔻(( Jika ketiga kata itu kita rangkai menjadi kalimat sempurna, maka arti “Khusyu’”: “Merendah dengan penuh kerendahan dan ketenangan.” , Wallahu a’lam. ))

〰〰〰📌 Beda Khusyu’ dengan “Khudhu’”:
Ibnul Atsir rohimahullah menjelaskan,
“Khusyu’” terlihat pada suara dan pandangan. Sedangkan “Khudhu’” terlihat pada anggota tubuh. [An-Nihayah (2/280) ]

🔘 Adapun menurut istilah,
Khusyu’ adalah bangkitnya hati di hadapan Robb-nya dengan penuh ketundukan dan kerendahan. [ al-Madaarij (1/516)]

🌷 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan: “Khusyu’” adalah tunduk dan merendahkan diri karena keagungan Allah Ta’ala, dimana ia telah menerima ketetapan (atau ketentuan)-Nya yang bersifat kauni (kejadian di alam semesta) maupun syar’i (tuntutan syari’at). [ Syarah Tsalatsatil Ushul ]

💯 Pada dasarnya “Khusyu’” adalah sifat terpuji yang semestinya ada pada kaum mukminin. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mukminun (artinya):
”Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman (1). (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya. (2)” [ Al-Mukminun: 1-2 ]
〰〰〰📌
✅ Semoga Allah Ta’ala membantu kita untuk khusyu’ kepada-Nya. Aamiin

-Wallahu a’lamu bisshowab-

.........................
🌍 Simak terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 50

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 5⃣0⃣)
—---------------------------------------—

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rohimahullah- menjelaskan:

ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى: {إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

🔻 Dan dalil untuk Roghbah, Rohbah, dan Khusyu’ adalah firman-Nya –Subhanahu waTa’ala- (artinya):
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan (penuh) harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya : 90 )

〰〰〰
💢 PENJELASAN:

Pembahasan kita kali ini seputar “Rohbah” inSya Allah;

2⃣ Tentang “Rohbah” (penuh cemas) -dengan huruf hijaiyyah “Ha” , di pangkal kerongkongan.

🌷 Ibnul Atsir –rohimahullah- menjelaskan,
“Rohbah” artinya takut dan terkejut.”  (An-Nihayah 2/280)

Hampir mirip dengan “Khouf” namun ada perbedaannya.

✅  Beda “Rohbah” dengan “Khouf”.
🔻 Al-Imam Ibnul Qoyyim –rohimahullah- menjelaskan,
“Rohbah adalah terus berlari menjauhi perkara yang dibenci.” Hal itu berlawanan dengan “Roghbah” (dengan huruf “Ghoin”, pen) yang artinya perginya hati dalam mencari (mendapatkan) perkara yang diinginkan. Antara “Roheb” (penuh cemas) dan “Harob” (lari dengan kecepatan tinggi, pen) ada kesesuaian lafadz dan makna.” (Al-Madarij 1/508)

📌 Lafadz-lafadz yang hampir berdekatan maknanya namun bukan sinonim dalam bahasa Arab; al-Wajal (bergetarnya hati), al-Khouf (rasa takut), al-Khosyyah (rasa takut disertai ilmu), ar-Rohbah (penuh cemas). (Lihat al-Madarij 1/507)

-Wallahu a’lamu bisshowab-

.........................
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 49

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 4⃣9⃣)
—---------------------------------------—

🌴Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rohimahullah- menjelaskan:

ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى: {إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

🔻 Dan dalil untuk Roghbah, Rohbah, dan Khusyu’ adalah firman-Nya –Subhanahu waTa’ala- (artinya):
_“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan (penuh) harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.”_ [ Al-Anbiya : 90 ]

〰〰〰
💢 PENJELASAN:
Pembahasan kita kali ini seputar dalil yang menunjukkan bahwa Roghbah, Rohbah, dan Khusyu’; ketiga perkara itu termasuk ibadah.

🌷 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin _rohimahullah_ menjelaskan:
“Di dalam ayat yang mulia ini Allah –Ta’ala- menyifati hamba-hamba-Nya yang ikhlash , bahwasanya mereka berdoa kepada Allah –Ta’ala- dalam keadaan penuh harap, penuh cemas, dengan diiringi rasa khusyu’.
🔻 Adapun makna doa dalam ayat, mencakup doa ibadah dan doa masalah (permintaan).

📌 Kita bahas satu persatu dari ketiga macam ibadah di atas –insya Allah-.

〰1⃣ - Tentang “Roghbah” (penuh harap).
Ibnul Atsir –rohimahullah- menjelaskan,
“Seseorang dikatakan memiliki “roghbah” jika ia bersemangat untuk mendapatkan sesuatu dalam keadaan sangat mengharapkannya.”  [ An-Nihayah (2/237) ]

〰〰📌 Beda “Roghbah” dengan “Roja`”.
🔻 Al-Imam Ibnul Qoyyim –rohimahullah- menjelaskan,
Beda antara keduanya, “Roja`” adalah keinginan (harapan). Sedangkan “Roghbah” adalah usaha untuk mendapatkannya. (Sehingga dikatakan) “Roghbah” adalah buah dari “Roja`”. Karena seseorang itu, apabila mengharapkan sesuatu ia akan berusaha mencari (mendapatkannya). [ al-Madarij (2/55) ]

-Wallahu a’lamu bisshowab-

.........................
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Pelajaran TAUHID 48

WarisanSalaf.Com:
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 4⃣8⃣)
—---------------------------------------—

💢PENJELASAN:
Tentang: “Ibadah Tawakkal” (bagian 2)

📮 Macam-macam Tawakkal:
〰〰〰〰〰
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menyebutkan empat macam Tawakkal:
〰〰〰
1⃣ Yang Pertama: Tawakkal kepada Allah –Ta’ala-.
Tawakkal yang seperti ini termasuk kesempurnaan iman, bahkan sebagai tanda kebenaran imannya.
✅ Kedudukannya wajib. Karena keimanan tidak dikatakan sempurna kecuali dengannya.

2⃣ Yang Kedua: Tawakkal Sirr (Tawakkal Rahasia).
Adalah menyandarkan diri kepada mayit (orang yang telah meninggal, pen) dalam mendatangkan manfaat atau menolak madhorot. Ini adalah syirik besar.
🔻 Yang demikian itu tidak terjadi kecuali dari orang yang meyakini bahwa mayit memiliki kemampuan rahasia di alam semesta.
🔻Tidak dibedakan keadaan mayitnya, bisa berupa nabi, wali, ataupun thoghut musuh Allah –Ta’ala-.

3⃣ Yang Ketiga: Tawakkal kepada orang lain, Dalam perkara yang diatur oleh orang lain tersebut.
Disertai perasaan bahwa orang lain tersebut memiliki kedudukan lebih tinggi, sedangkan orang yang bertawakkal memiliki kedudukan lebih rendah darinya.
🔻Contohnya: Seseorang bertawakkal kepada pimpinannya dalam mendapatkan upah pencaharian, dan yang semisalnya.

🔻 Jenis ketiga ini termasuk model syirik kecil, disebabkan kuatnya keterikatan hati kepada makhluk, disertai dengan penyandaran diri kepadanya.
🔻 Namun, jika dia bersandar kepada makhluk dalam rangka menjadikannya sebab, (dan dia yakin) Allah –Ta’ala- Yang menentukan perkara itu bisa sampai di tangannya, Itu tidak mengapa.
Jika pengaruh baik dalam mendapatkannya ada pada orang yang bertawakkal.

4⃣ Yang Keempat: Tawakkal kepada orang lain, Dalam perkara yang diatur oleh orang yang bertawakkal.
Dimana ia menunjuk orang lain untuk menggantikannya pada suatu urusan yang boleh untuk diwakilkan.
Yang demikian ini  tidak mengapa berdasarkan dalil dari Al-Qur`an, Sunnah, dan Ijma’.

🔻Nabi Ya’qub –‘alaihissalam- pernah berkata kepada anak-anaknya (artinya):
“Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya.” [ Yusuf: 87 ]

🔻Nabi kita –shollallahu’alaihi wasallam- juga pernah mewakilkan kepada Ali bin Abi Tholib –rodhiyallahu ‘anhu- urusan binatang sembelihan pada Haji Wada’, agar dishodaqohkan kulit beserta mayoritas dagingnya, kemudian agar menyembelih 100 ekor sisanya, setelah sebelumnya nabi -shollallahu 'alaihi wasallam- menyembelih 63 ekor dengan tangannya.
✅ Adapun ijmak (kesepakatan para Ulama`) tentang bolehnya perkara itu dapat diketahui (dari penjelasan mereka) secara umum.

Wallahu a'lamu bisshowab
Bersambung insya Allah,

.........................
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 Dirangkum oleh Al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan Hafizhahullahu Ta'ala.
.........................

#ushultsalatsah
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

MUSIK PERANGKAP SETAN

MUSIK PERANGKAP SETAN

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

| | |

Peperangan demi peperangan yang dikobarkan musuh-musuh Islam, dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perang salib, Bosnia-Herzegovina, hingga yang berskala besar maupun kecil, terbukti menjadi senjata yang “kurang efektif” untuk membasmi umat Islam.

Maka ditempuhlah berbagai cara untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Salah satunya lewat musik.

Perangkap-perangkap setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala kian menjamur. Perangkap yang demikian lihai dan sistematis sehingga tidak sedikit dari kaum muslimin, terkhusus generasi mudanya, terperangkap di dalamnya.

Seiring dengan itu, kelihaiannya telah meninabobokkan mereka dalam kemaksiatan, merusak akal mereka sehingga tidak bisa lagi dipergunakan sebagaimana mestinya, membungkam mulut mereka sehingga tidak lagi menyuarakan yang haq dan mengingkari yang batil. Perangkap yang telah mematikan ilmu mereka dan merusak perilaku mereka.

Siapa yang tidak tertipu dengan perangkap tersebut, jika luarnya penuh taburan bau semerbak, hamparan permadani emas dan perak, minuman yang menghilangkan dahaga, makanan yang berwarna-warni memikat dan segala kebutuhan syahwat terlihat.

Siapa yang akan membayangkan jika di belakang semua ini ada jeratan perangkap yang membinasakan.

Itulah kamuflase kehidupan yang dirancang Iblis dan bala tentaranya serta fatamorgana perjalanan hidup yang bersifat sementara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan:

وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ. إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 168-169)

 

Perangkap Syahwat

Dari sekian perangkap Iblis yang telah melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menghancurkan perilaku kaum muda-mudi, bahkan anak-anak dan orang tua, menyebabkan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, adalah musik serta segala bentuk nyanyian.

Bagaimana pendapat anda yang beriman, jika musik dan nyanyian itu sendiri telah melalaikan dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ditambah dengan wanita telanjang atau setengah telanjang, berhias dengan perhiasan jahiliah menari kesetanan di hadapanmu?

Apakah setelah ini ada orang beriman yang menghalalkan musik dan nyanyian, membolehkan wanita berdendang di hadapan lawan jenis, menghalalkan campur baur lawan jenis, membolehkan mendengar musik?

Jika ada yang membolehkan, maka ketahuilah orang terebut telah masuk perangkap setan dan jeratannya. Tinggalkanlah dia. Selamatkanlah agama dan aqidahmu dari bahaya setan yang berujud manusia.

Perangkap Syubhat

Perangkap setan tidak terbatas pada lingkup membangkitkan syahwat birahi dalam menentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak perangkap lain yang telah dipersiapkan untuk menyesatkan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dari jalan kebenaran.

Bila perangkap syahwat menurutnya tidak membuahkan hasil karena orang yang akan dijebaknya memiliki ilmu, dia akan beralih kepada cara yang lain. Yaitu, merusak ilmunya dengan berbagai manuver pembiasan dan pengkaburan terhadap kebenaran yang telah diketahuinya. Itulah perangkap syubhat.

Selamatlah orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tidak terperangkap dan terjerat di dalamnya.

Dua bentuk perangkap syubhat yang dilakoni setan dalam menjerat mangsanya:

Pertama: Mengaburkan kebenaran sehingga menjadi sesuatu yang samar atau menjadi sebuah kebatilan, dan

Kedua: Mengokohkan kebatilan dengan berbagai penipuan sehingga menjadi agama yang dianut.

Dua hal ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala peringatkan kaum mukminin darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam para pelakunya dalam firman-Nya:

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 42)

Berbagai simbol dan slogan kesesatan yang mengguncangkan aqidah dan meresahkan kaum muslimin kian menyeruak. Tumbuh berkembang bagaikan jamur di musim penghujan, tumbang satu akan bangkit seribu kesesatan setelahnya.

Bisikan Setan

“Tinggalkan Al-Qur`an. Mari menuju musik dan nyanyian, menari, berdansa dan berhura-hura. Riang gembira bersama lantunan musik dan nyanyian biduanita. Menangislah. Bersedihlah. Basahi mulut dengan nyanyian, guyur pipi dengan hujan tangisan. Apakah anda akan meninggalkan kenikmatan yang jelas-jelas di hadapan anda?”

Dengan celotehan ini, tanpa musik semangat beraktivitas menurun dan melemah. Sementara dengan musik justru akan menambah gairah dan semangat dalam semua pekerjaan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia berkata:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

“Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)

Ucapan ini terkait dengan kaum musyrikin yang tidak mau mendengar Al-Qur`an dan mengkajinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.” (Fushshilat: 26)

Apabila Al-Qur`an dibacakan atas orang-orang kafir, mereka ribut dan berbincang-bincang sehingga mereka tidak mendengarnya. Sikap seperti ini termasuk perbuatan meninggalkan Al-Qur`an.

Tidak mengimani dan membenarkannya termasuk perbuatan meninggalkan Al-Qur`an.

Tidak menggali dan memahaminya termasuk perbuatan meninggalkannya.

Tidak mengamalkan dan melaksanakan perintah-perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangannya termasuk perbuatan meninggalkannya.

Berpaling darinya dan cenderung kepada perkara selainnya seperti syair, ucapan, nyanyian, perkara yang sia-sia, berbagai perkataan, (menempuh) jalan yang tidak diambil dari Al-Qur`an, semuanya termasuk sikap meninggalkan Al-Qur`an.

Kita meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Maha Pemberi dan Berkuasa (untuk berbuat) atas segala yang dikehendaki-Nya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari segala yang dibenci-Nya dan membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya.

Yaitu menjaga kitab-Nya, memahaminya dan mengamalkan kandungannya di malam dan siang hari, sesuai dengan jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Pemberi. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/317)

 

Al-Qur`an dan Aqidah, Menenteramkan Hati

Tidak diragukan lagi oleh setiap mukmin akan kedudukan aqidah dan Al-Qur`an dalam hati orang-orang yang beriman.

Al-Qur`an menentramkan, menyejukkan, menyamankan, menyehatkan, membimbing serta berbagai macam kebaikan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan hanya kepada Rabb merekalah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Isra`: 9)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (An-Naml: 77)

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

“Apabila anda ingin mengambil manfaat dari Al-Qur`an, himpunlah hati anda ketika membaca dan mendengarkannya. Pasang telinga anda.

Hadirkan diri anda seperti hadirnya orang yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya ucapan itu tertuju kepada anda, yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(Qaf: 37)

Kesempurnaan pengaruh Al-Qur`an itu didukung adanya pengaruh yang menyampaikan, kesiapan untuk menerima, adanya syarat-syarat terwujudnya pengaruh tersebut, dan hilangnya penghalang-penghalang. (Al-Fawa`id, hal. 9)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan:

“Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang bila dibacakan ayat Allah bertambah iman mereka.” Karena mereka memasang pendengaran mereka, menghadirkan hati mereka untuk mentadabburinya.

Ketika itulah iman mereka bertambah. Karena mentadabburinya termasuk salah satu amalan hati. Juga karena tadabbur mengharuskan untuk meminta penjelasan atas makna yang tidak mereka ketahui.

Atau, mengingat-ingat apa yang mereka lupa. Atau, terwujud dalam hati mereka kecintaan terhadap kebaikan dan besarnya harapan untuk mendapatkan kemuliaan dari Rabb mereka.

Atau, muncul rasa takut dari murka-Nya. Atau, muncul sikap menghindar dari berbagai macam kemaksiatan. Semuanya ini adalah hal-hal yang akan menambah iman mereka. (Tafsir As-Sa’di, hal. 277)

 

Musik dan Nyanyian Menafikan Ketentraman dan Ketenangan yang Hakiki dalam Hati

Musik dan nyanyian di masa sekarang ini bagaikan benalu, atau menjadi sahabat karib yang jika berpisah akan mengguncangkan hidup seseorang.

Di dalam rumah dengan segala macam aktivitasnya, bila tidak diiringi dengan musik dan berbagai bentuk nyanyian, tak ubahnya ruangan yang hampa bak kuburan yang sunyi dan sepi.

Kantor-kantor, toko-toko, kendaraan-kendaraan umum dan pribadi, lapak kaki lima pun tidak ketinggalan.

Ironisnya, pondok-pondok pesantren yang katanya tempat menimba ilmu-ilmu agama juga menjadi ajang suara setan tersebut.

Lebih aneh lagi, rumah-rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala diramaikan dengan keharaman ini.

Demikianlah bila agama disingkirkan serta kepentingan hawa nafsu dan golongan dikedepankan. Ketenangan bukan lagi bersama Al-Qur`an. Kenyamanan bukan lagi dengan aqidah dan kekhusyukan, bukan lagi di majelis ilmu.

Musik dan Nyanyian Haram Hukumnya

Dalil-dalil yang menjelaskan tentang keharaman musik banyak sekali. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullahu dan lainnya telah mengumpulkannya sampai sepuluh hadits. Di antaranya:

1. Hadits Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْمَعَازِفَ … الخ

“Benar-benar akan ada pada umatku kaum yang menghalalkan zina, sutera, dan musik ….” dst1

2. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ

“Dua suara yang dilaknat di dunia dan di akhirat: seruling ketika mendapatkan kenikmatan dan ratapan (suara jeritan) ketika ditimpa musibah.”2

3. Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيَّ -أَوْ حُرِّمَ الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْكُوبَةُ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr, judi, dan suara gendang. Dan segala yang memabukkan adalah haram.”3

Musik dan Nyanyian adalah “Qur`an“ Setan dan Jeratannya

Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan:

“Termasuk tipu daya musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menipu orang-orang yang memiliki sedikit ilmu dan agama, serta dengannya dia menjerat hati-hati orang yang jahil dan ahli kebatilan adalah mendengar siulan, tepuk tangan dan nyanyian-nyanyian dengan alat-alat yang haram.

Yang telah memalingkan hati dari Al-Qur`an dan menjadikannya untuk selalu berbuat kefasikan dan perbuatan-perbuatan maksiat. Semuanya merupakan “qur`an” setan dan hijab yang tebal antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu merupakan siulan homoseks dan para pezina. Dengannya seorang yang fasik mencapai kenikmatan. Itulah tipu daya setan terhadap jiwa-jiwa yang sesat.

Setan berusaha memperindah tipu daya tersebut dan menjadikan manusia terlena karenanya. Dengan mudah, setan menebar berbagai macam syubhat yang menyesatkan sehingga jiwa-jiwa tersebut menyambut segala bisikan itu. Dengan tipu daya setan itulah Al-Qur`an ditinggalkan. (Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatil Lahafan fi Mashayidi Asy-Syaithan, hal. 295)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakanperkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Luqman: 6)

Lahwal hadits yang dimaksud dalam ayat ini adalah nyanyian dan selainnya.

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

“Ayat ini turun terkait dengan nyanyian dan semisalnya.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang ayat ini, beliau berkata:

“Itu adalah nyanyian, Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya.” Beliau mengulanginya tiga kali.

Ikrimah rahimahullahu dalam riwayat Syu’aib bin Yasar berkata:

“Itu adalah nyanyian. Begitu juga pendapat Al-Imam Mujahid t.”(Tahrim Alat Ath-Tharb, karya Al-Imam Al-Albani, hal. 142)

 

Musik dan Nyanyian adalah Syi’ar Pezina, Pemabuk, Homoseks dan Orang Fasik

Al-Imam Malik rahimahullahu ditanya tentang nyanyian yang biasa dilakukan oleh penduduk Madinah.

Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang melakukan hal itu menurut kami adalah orang-orang fasik.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:

“Nyanyian adalah perkataan yang sia-sia, menyerupai kebatilan, sesuatu yang bersifat khayalan. Barangsiapa yang sering melakukannya, dia adalah orang yang tolol dan ditolak persaksiannya.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan di dalam kitabnya Raudhatut Thalibin (11/228) pada bagian kedua: “Dan dia menyanyi dengan sebagian alat musik yang merupakan syi’ar para peminum khamr.”

Abu Ishaq rahimahullahu berkata:

“Tidak sepantasnya bagi orang yang mencium aroma ilmu untuk tidak mengharamkan musik. Yang paling ringan (hukumnya) adalah bahwa (musik) merupakan syi’ar orang-orang fasik dan pemabuk.”

Abdullah bin Ahmad rahimahullahu berkata:

“Aku bertanya kepada ayahku (Al-Imam Ahmad t) tentang nyanyian. Beliau berkata: ‘Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati dan tidak menyenangkanku’.” (Tahrim Alat Ath-Tharb karya Al-Imam Al-Albani rahimahullahu secara ringkas, hal. 299 dan seterusnya)

Wallahu a’lam bish-shawab.

==============================================================

Keterangan:

1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Lihat takhrij haditsnya dalam kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Al-Imam Al-Albani, hal. 38 dan seterusnya.

2 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Lihat takhrij haditsnya dalam kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Al-Imam Albani, hal. 51 dan seterusnya.

3 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Lihat takhrij haditsnya dalam kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Al-Imam Al-Albani, hal. 55 dan seterusnya

==============================================================

Sumber: Majalah Asy Syariah Online

http://forumsalafy.net/kenali-musik-perangkap-setan/

MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( Bag 1-8  )

💨⚡📜💥🔥
*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( Bag 1-8  )*

_“Aku mengenali kejelekan, bukan untuk berbuat jelek. Tapi agar aku bisa terhindar darinya.”_

Definisinya : Kelompok para pengikut Hasan al-Banna. Sangat banyak kritik ilmiah terhadap manhaj mereka. Di antara poin kritik terpenting terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) :

1 Menyepelekan permasalahan Tauhid Ibadah. Padahal itu merupakan permasalahan terpenting dalam Islam, dan tidak sah keislaman seseorang tanpa tauhid ibadah.

2 Mereka diam dan menyetujui manusia atas syirik akbar yang terjadi, berupa doa kepada selain Allah, thawaf di kuburan-kuburan, bernadzar kepada para penghuni kubur dan menyembelih atas nama mereka, … dll.

3 Manhaj IM ini, pendirinya (yaitu Hasan Albanna, pen) adalah seorang penganut shufi, memiliki hubungan kuat dengan paham shufiyyah/sufisme. Yaitu dia telah berbaiat kepada ‘Abdul Wahhab al-Hushafi di atas tarekat sufi Hushafiyyah Syadziliyyah.

4 Menjamurnya bid’ah pada kelompok tersebut. mereka beribadah dengan bid’ah-bid’ah tersebut. Bahkan pendiri kelompok manhaj IM ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir dalam majelis dzikir mereka dan memberikan ampun untuk dosa-dosa mereka yang telah berlalu. Yaitu dalam ucapannya

ﺻﻠﻰ ﺍﻹﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮﺍ .. ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻓﻔﺎﻕ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮﺍ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻣﻊ ﺍﻷﺣﺒﺎﺏ ﻗﺪ ﺣﻀﺮﺍ .. ﻭﺳﺎﻣﺢ ﺍﻟﻜﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻭﺟﺮﻯ

Allah bershalawat kepada sang Cahaya (yakni Nabi Muhammad, pen) yang telah muncul Di alam ini, maka dia melebihi matahari dan bulan Inilah sang Habib (yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersama para habib lainnya TELAH HADIR Dan memberikan maaf kepada semua atas dosa-dosa yang telah lalu dan lewat.

5 Mengajak untuk mendirikan Khilafah. Ajakan ini adalah BID’AH. Karena para rasul dan para pengikutnya tidaklah ditugasi kecuali untuk berdakwah (mengajak) kepada Tauhid. Allah berfirman,

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻻً ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ { ‏[ ﺍﻟﻨﺤﻞ : 36 ‏]

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mendakwahkan : ibadahilah Allah dan jauhilah thaghut. ” (an-Nahl : 36)

6 Tidak ada prinsip al-Wala wa al-Bara di tengah-tengah mereka, atau sangat lemah. Hal ini tampak dengan jelas dari :

dakwah (ajakan) mereka untuk mengadakan pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah.
pernyataan (semboyan/kaedah) sang pendiri kelompok IM :

‏( ﻧَﺘَﻌَﺎﻭَﻥُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍﺗَّﻔَﻘْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻳَﻌْﺬُﺭُ ﺑَﻌْﻀُﻨَﺎ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍِﺧْﺘَﻠَﻔْﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ ‏)

Kita saling bekerja sama dalam perkara yang kita bersepakat padanya, dan kita saling memberikan udzur dalam perkara kita berbeda pendapat di dalamnya.

7 Mereka (IM) sangat tidak suka dan benci terhadap Ahli Tauhid dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salafiyyah. Hal ini tampak jelas dari penilaian mereka terhadap Kerajaan Saudi ‘Arabia yang tegak di atas Tauhid, dan Tauhid dipelajari di sekolah-sekolah, ma’had-ma’had, dan universitas-universitas negeri tersebut. Tampak jelas juga dari aksi pembunuhan yang mereka lakukan terhadap asy-Syaikh Jamilurrahman al-Afghani, karena beliau senantiasa gigih mendakwahkan tauhid, di mana beliau memiliki madrasah yang di situ dipelajari tauhid.

8 Mereka (IM) terus mencari-cari kesalahan-kesalahan pemerintah dan mengomentari kejelekan-kejelekan penguasa – baik itu sesuatu yang benar ataupun dusta – serta menyebarkannya kepada para pemuda yang masih baru. Untuk memprovokasi mereka dan memenuhi hati mereka dengan kedengkian terhadap pemerintah.

9 Hizbiyyah tulen, yang mereka menisbahkan diri padanya dan berloyal penuh demi kelompoknya, serta siap bermusuhan demi membela kelompoknya. Mengambil bai’at untuk kegiatan kelompok Ikhwanul Muslimin, dengan 10 syarat yang disebutkan oleh pendirinya. Dan masih banyak berbagai kritik lain, yang mungkin akan kita jelaskan pada kesempatan lain.

Sumber:
Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-1-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT (Bag 2 )*

       *QUTHBIYYUN*

Mereka adalah sekelompok orang yang sangat senang membaca buku-buku Sayyid Quthb, kemudian mengambil semua yang ada di dalamnya, baik kebenaran maupun kebatilan. *Mereka pun membela Sayyid Quthb apabila ada seorang yang mengkiritiknya, meskipun kebenaran ada pada pihak sang pengkritik* .

Sebagaimana diketahui, bahwa Sayyid Quthb bukan seorang tokoh ilmu agama.

Asalnya dia adalah seorang sastrawan, kemudian dia mengambil madzhab Asy’ariyyah, yang merupakan madzhab Takwil (penyimpangan makna) – sebagaimana para ‘ulama Mesir lainnya –
*Pada Sayyid Quthb terdapat kesalahan-kesalahan FATAL dan BERAT* Maka tampillah tokoh-tokoh besar dari kalangan ‘ulama menjelaskan berbagai kesalahan-kesalahan tersebut.

Tatkala para ‘ulama tersebut menjelaskan berbagai kesalahan Sayyid Quthb, muncullah pembelaan dari para Quthbiyyin dalam bentuk kritik, celaan, dan caci maki terhadap para ‘ulama tersebut. Hasbunallah wa ni’mal wakil .

Prinsip dasar : kondisi para tokoh itu akan bisa diketahui/dinilai berdasarkan al-Haq, bukan al-Haq dinilai berdasarkan para tokoh. Maka wajib atas kita untuk mengambil al-Haq, dan kita beragama untuk Allah dengan al-Haq tersebut. Wajib atas kita meninggalkan setiap orang yang menempuh manhaj yang bid’ah. Kita menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan kita, demikian pula para Khalifah beliau, para shahabat, dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para imam pembawa petunjuk.

Sumber
Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-2-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 3 • )*

     *SURURIYYAH*

Sururiyyah adalah sebuah kaum atau kelompok yang berloyal kepada MUHAMMAD SURUR ZAINAL ‘ABIDIN.

Orang-orang Sururiyyin ini, pada mereka tercampur antara Sunnah dan Bid’ah. Di antara poin kritik terpenting terhadap Sururiyyah :

1 Mencela Pemerintah, membicarakan (membahas) kejelekan-kejelekan pemerintah. Tentu saja hal itu menyebabkan kejelekan, fitnah, dan bahaya. Bahkan yang tampak, mereka itu MENGKAFIRKAN PEMERINTAH. Kesimpulan ini bisa diambil dari sikap-sikap mereka, bukan dari perkataan-perkataan mereka. Karena memang jalan yang mereka tempuh adalah jalannya Khawarij – atau mirip dengannya – Padahal dalil-dalil yang ada mewajibkan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah.
Sementara pemerintah kita di negeri ini adalah muslimin, – walillahil hamd – memutuskan dengan syari’at Allah di mahkamah-mahkamah mereka dan menegakkan hukum-hukum had.
Mengkafirkan mereka (pemerintah) atau mencelanya – yang menyebabkan sikap memberontak dan membangkan terhadap pemerintah – termasuk TINDAK PENGRUSAKAN YANG SANGAT BESAR.

Oleh karena itu : WAJIB untuk WASPADA dari orang-orang yang bermanhaj Sururiyyah ini, atau bahkan BERLEPAS DIRI dari mereka. Lebih-lebih lagi mereka juga telah menyentuh kehormatan para ‘ulama di negeri ini (Saudi ‘Arabia, pen) dengan celaan dan cacian dengan kata-kata kotor, serta menuduh para ‘ulama tersebut dengan tuduhan khianat terhadap agama. Ini merupakan hal yang menunjukkan apa yang tersembunyi di belakangnya.

2 Mereka mengajak untuk berjihad. Namun yang mereka maksud bukan jihad melawan orang kafir.

Tampaknya yang mereka maksud adalah MENENTANG PEMERINTAH. Perlu diketahui, bahwa kita tidak membersihkan pemerintah dari kesalahan, apalagi mengatakan pemerintah maksum.

Namun kita katakan, wajib mentaati pemerintah dan menasehatinya dengan cara tersembunyi. Karena pemerintah itu masih muslimin. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari memberontak kepada pemerintah.

Kecuali apabila terlihat jelas pada pemerintah itu kekufuran yang nyata, yang ada hujjah jelas di sisi Allah dalam hal tersebut.

3 Mereka menyatakan bahwa para ‘ulama di negeri ini (Saudi ‘Arabia) tidak mengerti Fiqhul Waqi’ (kondisi fakta yang ada) Bantahan terhadap mereka : bahwa para mufti dan para qadhi tidaklah berfatwa dalam satu masalah pun, tidak pula memutuskan hukum dalam satu masalah pun kecuali setelah mengetahui waqi’ (fakta/kenyataan)nya yang terkait dengannya, baik sebabnya, tempat bergantungnya hukum, dan akibat-akibatnya.

Barangsiapa beranggapan bahwa para ‘ulama dan para qadhi tersebut tidak memahami waqi, maka dia telah menzhalimi diri sendiri, dan telah mengatakan sesuatu yang tidak boleh dia katakan.

Adapun mengetahui makar-makar para musuh (yakni orang-orang kafir), maka itu di antara keahlian para tentara (intelejen) di setiap negeri.

Sumber: Kitab al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an As-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah, hal. 101~ 113

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-3-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT*

   *JAMA’AH TABLIGH*

Adalah sekelompok orang yang mengikuti Muhammad Ilyas al-Kandahlawi, sang pendiri kelompok ini.
Dia adalah Muhammad Ilyas, kelahiran tahun 1302 H. Dia telah menghafal al-Qur`an, membaca 6 kitab induk hadits dengan BERDASARKAN MANHAJ AD-DIYOBANDI. Bermadzhab Hanafi, BERAQIDAH ASY’ARIYYAH MATURIDIYYAH, dan menempuh shufiyyah dalam hal tarekat.

Tarekat-tarekat yang diakui oleh kelompok ini,

1. Tarekat Nasqsyabandiyyah,
2. Tarekat Sahwardiyyah,
3. Tarekat Qadiriyyah,
4. Tarekat Jisytiyyah

Pendiri kelompok ini, yaitu Muhammad Ilyas tadi, mengambil bai’at Shufiyyah di hadapan Syaikh Rasyid al-Kankawahi. Kemudian dia memperbarui lagi bai’atnya setelah itu kepada Syaikh Rasyid as-Saharanfuri di hadapan asy-Syaikh Ahmad as-Saharan-ghuri, yang telah memberikannya ijazah untuk berbai’at di atas manhaj shufi.

Adalah Muhammad Ilyas duduk dalam kesendirian di sisi kuburan as-Syaikh Nur Muhammad al-Badayuni (muraqibah jisytiyyah, dia dulu keluar dari sisi kuburan ‘Abdul Quddus al-Kankawahi), seorang yang menanamkan padanya paham WIHDATUL WUJUD.

Dia (Muhammad Ilyas, pen) tinggal dan mengajar di Delhi, dan wafat di sana pada tahun 1363 H.

Asy-Syaikh Abul Hasan an-Nadwi melihat, bahwa Syaikh Muhammad Ilyas mengambil cara ini dalam berdakwah ketika dia tidak berdaya menghadapi berbagai cara taqlid dalam membenahi penduduk di daerahnya.

Asy-Syaikh Miyan Muhammad Aslam dari ucapan-ucapan Muhammad Ilyas, bahwa dia telah diberi Kasyaf untuk memilih thariqah ini, yaitu disusupkan ke relung hatinya dalam mimpi tafsir baru terhadap firman Allah Ta’ala :
(artinya) :

“ Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Ayat ini berarti bahwa keluar untuk berdakwah ke jalan Allah tidak akan terwujud dengan tinggal di satu tempat saja. Dengan dalil firman Allah Ta’ala (“dikeluarkan “)! Dan bahwa iman itu akan bertambah dengan keluar berdakwah, dengan dalil firman-Nya (“dan kalian beriman kepada Allah“) setelah Firman-Nya : (“dikeluarkan untuk umat manusia “)

CATATAN KRITIS untuk kisah di atas adalah :

1. al-Qur`an tidak boleh ditafsirkan dengan kasyaf dan mimpi-mimpi ala tharekat shufiyyah, yang itu mayoritasnya – bahkan seluruhnya – adalah berasal dari wahyu syaithan.

2. Tampak dari kisah tersebut, bahwa pendiri kelompok JT ini benar-benar tenggelam dalam paham shufiyyah – dari ujung kaki hingga kepala – bahkan dia telah berbai’at dua kali padanya, terfitnah denga para thaghut shufiyyah. menghabiskan waktunya untuk duduk di sisi kuburan.

3. Pendiri kelompok JT ini ternyata seorang qubury ahli khurafat. Hal ini tampak dari ucapannya, ” duduk dalam kesendirian di sisi kuburan as-Syaikh Nur …dst” dia juga mengatakan tentang orang satunya, ” seorang yang menanamkan padanya paham WIHDATUL WUJUD.” Perbuatan dia beri’tikaf di kuburan orang yang menanamkan padanya paham tersebut merupakan BUKTI YANG SANGAT JELAS bahwa dia juga berpendapat dengan paham tersebut.

4. Para penganut WIHDATUL WUJUD berkeyakinan bahwa Allah menampakkan wujudnya pada wanita yang cantik – wal’iyyadzu billah – . sungguh ini adalah ucapan yang sangat keji!! Semoga Allah berikan kepadanya suatu yang layak baginya, berupa laknat-laknat dan kemurkaan.

MANHAJ DAKWAH JAMA’AH TABLIGH

Tersimpulkan pada 6 perkara, atau 6 prinsip, atau 6 sifat.

1. Merealisasikan Kalimat Thayyibah “Laa ilaah illallah, Muhammad Rasulullah”

2. Shalat yang khusyu’ dan tunduk.

3. Ilmu terhadap fadha’il (keutamaan-keutamaan) amal – bukan masa’il (ilmu tentang aqidah dan hukum) – disertai dengan dzikir.

4. Memuliakan sesama muslim.

5. Membenarkan niat.

6. Dakwah ke jalan Allah dan khuruj fi sabilillah – berdasarkan manhaj jama’ah Tabligh.

Untuk masing-masing dari 6 prinsip – atau sifat – ini memiliki “maksud” dan “keutamaan mencapainya”.
Misalnya, “Lailaaha illallah” maksudnya adalah : Mengeluarkan keyakinan yang rusak dari dalam hati, dan memasukkan keyakinan yang benar terhadap dzat Allah.
Mereka maksudkan dengan itu adalah WIHDATUL WUJUD.

KRITIK- KRITIK TERHADAP JAMA’AH TABLIGH

1. Pendiri kelompok ini tumbuh dalam pendidikan shufiyyah. Bahkan sudah melakukan bai’at dua kali.

2. Pendiri kelompok ini biasa melakukan ribath (berjaga) di kuburan demi mencari kasyaf atau wangsit.

3. Pendiri kelompok ini juga menanti-nanti dalam “al-Muraqah al-Jisytiyyah” di sisi kuburan ‘Abdul Quddus al-Kankawahi, yang orang ini beriman pada aqidah Wihdatul Wujud.

4. “al-Muraqah al-Jisytiyyah” adalah : acara duduk di sisi kuburan selama setengah jam setiap pekan. Dengan menutup kepala dan mengucapkan dzikir, “Allahu Hadhiri, Allahu Nazhiri”!!

Ucapan tersebut – atau amalan tersebut – apabila dilakukan/dipersembahkan untuk Allah, maka itu adalah BID’AH. Namun apabila ketundukan/kekusyu’an itu dilakukan/dipersembahkan untuk sang penghuni kubur, maka itu KESYIRIKAN terhadap Allah.
Kemungkinan kedua inilah yang tampak terlihat.

5. Masjid mereka – yang di masjid itulah bertolak dakwah mereka (Jama’ah Tabligh) – padanya ada empat kuburan pembesar mereka.

6. Pendiri kelompok ini meyakini adanya Kasyaf.

7. Pendiri kelompok ini adalah quburi (pemuja kuburan) dan ahli Khurafat.

8. Orang-orang Jama’ah Tabligh ini beribadah dengan menggunakan dzikir-dzikir bid’ah berdasarkan tarekat sufiyyah, yaitu memisah/memutus-mutus kalimat Tauhid “Lailaaha illallah”.

9. Barangsiapa yang memutus kalimat penafian dari itsbat (penetapan) dalam kalimat Tauhid secara sengaja, yaitu dia sengaja mengatakan (laa Ilaaha) saja (diputus dari kalimat “ilallah”) maka berarti dia kafir. (dan Jama’ah Tabligh terjatuh dalam kesalahan fatal ini, pen).
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri dengan menukilkan dari para ‘ulama.

10. Mereka (Jama’ah Tabligh) membolehkan membawa jimat-jimat yang padanya ada rajah-rajah dan nama-nama yang tidak diketahui, yang mungkin saja itu adalah nama-nama Syaithan. Ini adalah perbuatan yang tidak boleh.

[ dari kitab : al-Fatawa al-Jaliyyah ‘an as-ilah al-Manahij ad-Da’wiyyah; pertanyaan no. 51, hal. 54-56)

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-4-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 5 • )*

HASAN AL-BANNA, Pendiri Kelompok Sesat Ikhwanul Muslimin, adalah SEORANG SUFI TAREKAT HASHAFIYYAH. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang mendominasi dakwah pergerakan-pergerakan di Mesir, gaungnya tidak hanya terdengar di negeri asalnya. Namun “dakwah”-nya telah mendunia, masuk ke penjuru-penjuru negeri di hamparan bumi ini. Termasuk tanah air kita, Indonesia, meski tentu saja dengan nama yang berbeda.

Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa, sehingga sempat mewarnai gerakan-gerakan dakwah di berbagai negara.

Ikhwanul Muslimin, gerakan ini tidak bisa lepas dari sosok pendirinya, Hasan Al-Banna. Dialah gerakan Ikhwanul Muslimin dan Ikhwanul Muslimin adalah dia.
Karismanya benar-benar tertanam di hati pengikut dan simpatisannya, yang kemudian senantiasa mengabadikan gagasan dan pemikiran Al-Banna di medan dakwah sepeninggalnya. Untuk mengetahui lebih dekat hakikat gerakan ini, mari kita simak sejarah singkat Hasan Al-Banna dan berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin.

KELAHIRANNYA
Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa bernama Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah. Ayahnya seorang yang cukup terkenal dan memiliki sejumlah peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi Tartib Musnad Al-Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.

Pendidikannya
Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seorang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan kepemim-pinan Madrasah itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna pun ikut meninggalkan madrasah.

Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, setelah berjanji kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga di madrasah ini adalah awal perkenalannya dengan gerakan-gerakan dakwah melalui sebuah organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk oleh guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna sendiri terpilih sebagai ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut hingga ia bergabung dengan organisasi Man’ul Muharramat.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. Di sinilah ia berkenalan dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia terkagum-kagum dengan majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang didendangkan secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada guru lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-Banna BERGABUNG dengan tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif dan rutin mengamal-kan dzikir-dzikir Ar-Ruzuqiyyah pagi dan petang hari. Tak ketinggalan, ACARA MAULUD Nabi pun RUTIN IA IKUTI : “…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian kami keluar dari masjid dan membuat barisan-barisan. Pimpinan umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan melantunkan sebuah nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring, membuat orang melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)

Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah PERGI BERSAMA TEMAN-TEMAN se-tarekat ke KUBURAN, untuk meng-ingatkan mereka tentang kematian dan hisab (perhitungan amal). Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, bahkan salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut dan berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat kematian nanti.

Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada akhirnya ia BERBAI’AT kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-Syaikh Basyuni Al-’Abd. Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran tarekat itu, sampai-sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut yang berbai’at.”

Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat tersebut. Ia diberi ijazah wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya berteman dengan saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya rutin mengikuti acara AL-HADHRAH di Masjid Taubah setiap malam… Sayyid Abdul Wahhab-pun datang, dialah yang memberikan ijazah di kelompok tarekat Hashafiyyah Syadziliyyah, dan saya mendapat ajaran tarekat ini darinya. Ia juga memberi saya wirid dan amalan tarekat itu.”

Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan sebuah organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah yang diketuai oleh teman lamanya, Ahmad As-Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi sekretarisnya. Al-Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan ini, aku menggantikannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”

Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin dari tahun 1920-1923 M. Di sela-sela masa itu, ia juga ba-nyak membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah yang banyak dipengaruhi pemikiran Mu’ta-zilah. Di sisi lain, iapun suka mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di perpustakaan salafinya.

Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul Ulum, sempat bimbang antara melanjutkan atau menekuni dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya dengan buku Ihya‘ Ulumud-din. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.

Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum. Di sini, ia sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah, sehingga di tengah-tengah aktivitasnya tercetus dalam benaknya, ide untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang duduk di warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk mendak-wahi mereka.

Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul Ulum pada tahun 1927 M.
Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di daerah Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama 19 tahun. Sebelumnya, ia datang ke daerah itu pada tanggal 19 September 1927 dan tinggal di sana selama 40 hari untuk mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia dapati banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua pihak, dan mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari semua kelompok yang ada dan berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada di warung-warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin bertambah jumlah pengikutnya.

PEMBENTUKAN GERAKAN IKHWANUL MUSLIMIN

Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengikutnya mendatangi rumahnya, membai’atnya demi beramal untuk Islam dan sama-sama bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindah ke ibukota Kairo, bersama markas besar Ikhwanul Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk PASUKAN KHUSUS untuk melindungi jamaahnya.

Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk MENCALONKAN dirinya dalam PEMILIHAN UMUM, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri, ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.

WAFATNYA
Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk hadir di kantor pusat organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. Ketika ia hendak naik taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu penerang jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan ambulans. Namun karena pendarahan yang hebat, ajal menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah lembaran kehidupannya.

Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan dakwah yang ia dirikan. Pembaca mungkin berbeda-beda dalam menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata syar’i, menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan mendapatinya sebagai SEJARAH YANG SURAM.

Mengapa? Karena kita melihat, ternyata gerakan tersebut lahir dari sebuah SOSOK yang berlatar belakang ALIRAN SHUFI HASHAFI dengan berbagai KEGIATAN BID’AHNYA, seperti
> bai’at kepada syaikh tarekat dan kepada Al-Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan,
> amalan wirid-wirid Ruzuqiyyah yang diada-adakan,
> dzikir berjamaah,
> maulud Nabi,
> ziarah-ziarah kubur dengan cara bid’ah
> sampai pada praktek politik praktis di atas asas demokrasi.
Gurunyapun campur aduk, dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi. Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan corak gerakan tersebut, sehingga warna-nyapun tidak jelas, buram. Tidak seperti Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan:

“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 33)

Dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-5-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 6 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 1 )
Sekilas, dari sejarah singkat Hasan Al-Banna tampak jati diri gerakan yang didirikannya. Namun itu tidak cukup untuk mengungkap lebih gamblang. Untuk itu perlu kami nukilkan di sini beberapa kesimpulan yang didasari oleh komentar Al-Banna sendiri atau tokoh-tokoh gerakan ini atau simpatisannya.
1 Pertama: MENGGABUNGKAN KELOMPOK-KELOMPOK BID’AH
Tentu pembaca tahu, bahwa bid’ah tercela secara mutlak dalam agama:
“Semua bid’ah itu sesat .” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)

Kata-kata ini senantiasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan dalam pembukaan khutbahnya.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga katakan:
“Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah. ” (HR. Muslim, Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096)

Yakni ridha terhadapnya dan tidak mengingkarinya.
Dan banyak lagi hadits yang lain. Tapi anehnya, Al-Banna justru MENAUNGI kelompok-kelompok bid’ah sebagaimana dia sendiri ungkapkan:
“Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyyah… tarekat sunniyah… hakekat shufiyyah…dan badan politik…” (Majmu’ah Rasa`il, hal. 122)

Ini menggambarkan usaha untuk MENCAMPUR antara al-haq dan al-bathil. Dan ini adalah cara yang batil. Jika memang dakwahnya adalah salafiyyah yang sesungguhnya –dan itulah kebenaran– tidak mungkin dipadukan dengan shufiyyah dengan berbagai bid’ahnya dan praktek politik praktis yang diimpor dari Barat. Karena prinsip ini, maka realita membuktikan bahwa: “Ratusan ribu manusia telah bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin. Mereka dari kelompok yang bermacam-macam, paham yang berbeda-beda. Di antara mereka ada sekelompok Shufi yang menyangka bahwa kelompok ini adalah Shufi gaya baru…,” demikian ungkap Muhammad Quthub dalam bukunya Waqi’una Al-Mu’ashir (hal. 405).

Bahkan dengan kelompok SYI’AH-pun BERPELUKAN. Itu terbukti dengan usaha Al-Banna untuk MENYATUKAN antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah. Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehingga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa SUNNAH dan SYI’AH adalah MUSLIMIN, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah POKOK AQIDAH. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan SAMA-SAMA BERSIH. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa DIDEKATKAN.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249~250)

Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat syahadat?
Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib?
Tidakkah dia tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib?
Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya kepada Ali, bukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –?!!
Seandainya hanya ini saja (penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang KEKAFIRAN dan BID’AH Syi’ah.

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

WhatsApp Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-6-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 7 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 2 )
2 Kedua: LEMAHNYA AL-WALA` dan AL-BARA`
Pembaca, tentu anda tahu bahwa Al-Wala` (loyalitas kepada kebenaran) dan Al-Bara` (antipati terhadap kebatilan) merupakan PRINSIP PENTING dalam agama kita, Islam. Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat 449 H) mengatakan: “Dengan itu, (Ahlus Sunnah) seluruhnya bersepakat untuk merendahkan dan menghinakan ahli bid’ah, dan menjauhkan serta menjauhi mereka, dan tidak berteman dan bergaul dengan mereka, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauhi mereka.” (‘Aqidatussalaf Ashabil Hadits, hal. 123, no. 175)

Tapi prinsip ini menjadi LUNTUR dan BENAR-BENAR LUNTUR dalam manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Itu terbukti dari penjelasan di atas. Juga SAMBUTAN HANGATnya terhadap pimpinan aliran Al-Marghiniyyah, sebuah aliran WIHDATUL WUJUD yang menganggap Allah menjadi satu dengan makhluk (lihat Qafilatul Ikhwan Al-Muslimin, 1/259, karya As-Sisi).

Lebih dari itu – dan anda boleh kaget– Al-Banna mengatakan: “Maka saya tetapkan bahwa PERMUSUHAN kita dengan Yahudi BUKAN PERMUSUHAN KARENA AGAMA. Sebab Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dengan mereka. Dan Islam adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat kesukuan. Allah-pun telah memuji mereka dan menjadikan kesepakatan antara kita dengan mereka… dan ketika Allah ingin menyinggung masalah Yahudi, Allah menyinggung mereka dari sisi ekonomi, firman-Nya….” (Al-Ikhwanul Al-Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/409 dinukil dari Al-Maurid, hal. 163~164)

Apa yang pantas kita katakan wahai pembaca. Barangkali tepat kita katakan di sini:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? ” (Al-Baqarah: 85)

Ke mana hafalan Al-Qur`annya? Siapapun yang membaca pasti tahu bahwa Allah telah mengkafirkan Yahudi, mereka membunuh para nabi, mencela Allah, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beberapa kali berusaha membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah ini semua tidak pantas menimbulkan permusuhan antara muslimin dengan Yahudi dalam pandangannya?

Bukti lain tentang lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`, bahwa sebagian PENASEHATnya adalah NASHRANI.
Menurut pengakuan Yusuf Al-Qardhawi, katanya: “Saya tumbuh di sebuah lingkungan yang berkorban untuk Islam. Madrasah ini, yang memimpinnya adalah seorang yang mempunyai ciri khas keseimbangan dalam pemikiran, gerakan, dan hubungannya. Itulah dia Hasan Al-Banna. Orang ini sendiri adalah umat diri sisi ini, di mana dia bisa bergaul dengan semua manusia, sampai-sampai sebagian penasehatnya adalah orang-orang Qibthi –yakni suku bangsa di Mesir yang beragama Nashrani– dan ia masukkan mereka ke dalam departemen politiknya…” (Al-Islam wal Gharb, ma’a Yusuf Al-Qardhawi, hal. 72, dinukil dari Dhalalat Al-Qardhawi, hal. 4))

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

Majmu’ah Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-7-•/📚

*MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( • 8 • )*

Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 3 )
3 Ketiga: TIDAK PERHATIAN TERHADAP AQIDAH
Pembaca, aqidah adalah hidup matinya seorang muslim. Bagi muslim sejati, yang berharga menjadi murah demi membela aqidah. Aqidah adalah segala-galanya, tidak bisa main-main, tidak bisa coba-coba.
Tapi tidak demikian adanya dengan kelompok yang kita bicarakan ini. Itu terbukti dari keterangan di atas, ditambah keadaan Al-Banna sendiri yang TIDAK BERAQIDAH SALAF dalam mengimani Asma`ul Husna dan sifat-sifat Allah. Salah jalan, ia terangkan aqidah salaf tapi ternyata itu aqidah khalaf (yang datang belakangan dan menyelisihi salaf).
Ungkapnya: “Adapun Salaf, mereka mengatakan: Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan kami serahkan keterangan tentang maksudnya kepada Allah tabaraka wa ta’ala , sehingga mereka menetapkan sifat Al-Yad (tangan) dan Al-’Ain (mata)… Semua itu dengan MAKNA yang TIDAK KITA KETAHUI, dan kita SERAHKAN kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya…” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 292, 324)

Tauhid Al-Asma` dan Sifat, adalah salah satu dari tiga unsur penting dalam ilmu-ilmu tentang Allah
Ta’ala . Intinya adalah mengimani nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya sebagaimana Allah
Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur`an atau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits yang shahih.
Aqidah Ahlussunnah dalam hal ini tergambar dalam jawaban Imam kota Madinah saat itu, Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbuhi
rahimahullah , ketika ditanya oleh seseorang: “Allah naik di atas ‘Arsy-Nya, bagaimana di atas itu?” Dengan bercucuran keringat karena kaget, beliau menjawab: “Naik di atas itu DIKETAHUI maknanya. Caranya tidak diketahui. Iman dengannya adalah wajib. Dan bertanya tentang itu adalah BID’AH!”

Ucapan Al-Imam Malik ini minimalnya mengandung empat hal:
1. Naik di atas itu diketahui maknanya: Demikian pula nama, sifat dan perbuatan Allah yang lain seperti, murka, cinta, melihat, dan sebagainya. Semuanya diketahui maknanya, dan semua itu dengan bahasa Arab yang bisa dimengerti.

2. Tapi caranya tidak diketahui: yakni kaifiyyah, cara dan seperti apa tidaklah diketahui, karena Allah
‘Azza wa Jalla tidak memberi-tahukan perincian tentang hal ini. Demikian pula sifat-sifat yang lain.

3. Iman dengannya adalah wajib: karena Allah memberitakannya dalam Al-Qur`an dan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam haditsnya yang shahih.

4. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah: yakni bertanya tentang tata caranya dan seperti apa sifat-sifat tersebut adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh generasi awal. Mereka beriman apa adanya, karena Allah Ta’ala tidak pernah memberitakan perincian tata caranya. Berbeda dengan ahli bid’ah yang melakukan takyif yakni mereka-reka kaifiyyah sifat tersebut, atau bertanya untuk mencari tahu dengan pertanyaan: Bagaimana?

Dengan penjelasan di atas, maka ucapan Hasan Al-Banna: …”Semua itu dengan MAKNA yang TIDAK KITA KETAHUI, dan kita serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya”, adalah ucapan yang MENYELISIHI kebenaran. Dan ini tentu BUKAN MANHAJ SALAF. Bahkan ini adalah manhaj Ahlut Tafwidh atau Al-Mufawwidhah, yang menganggap ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah itu bagaikan huruf muqaththa’ah, yakni huruf-huruf di awal surat seperti alif lam mim, yang tidak diketahui maknanya.

Madzhab ini SANGAT BERBAHAYA, yang konsekuensinya adalah menganggap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya bodoh, karena mereka tidak mengetahui makna ayat-ayat itu.

Oleh karenanya, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa:
“Al-Mufawwidhah termasuk SEJAHAT-JAHAT ahli bid’ah.” (lihat Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyyah, 1/201~205, dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 71)

Bukti lain, ia HADIR di salah satu sarang kesyirikan terbesar di Mesir yaitu kuburan Sayyidah Zainab, lalu memberikan wejangan di sana, tetapi sama sekali TIDAK menyinggung kesyirikan-kesyirikan di sekitar kuburan itu (lihat buku Qafilatul Ikhwan, 1/192).

Jika anda heran, maka akan lebih heran lagi ketika dia mengatakan: “Dan berdoa apabila diiringi dengan tawassul kepada Allah Ta’ala dengan perantara seseorang dari makhluk-Nya, adalah perbedaan pendapat yang sifatnya furu’ (cabang) dalam hal tata cara berdoa dan BUKAN termasuk perkara aqidah.” (Majmu’ Rasa`il karya Al-Banna, hal. 270)

Pembaca, jika anda mengikuti kajian-kajian majalah kesayangan ini, pada dua edisi sebelumnya dalam Rubrik Aqidah akan anda dapati pembahasan tentang tawassul. Tawassul (menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk menyampaikan doa kepada Allah) telah dibahas panjang lebar oleh ulama dan SANGAT ERAT kaitannya dengan AQIDAH. Di antara tawassul itu ada yang sampai kepada derajat syirik akbar, adapula yang bid’ah.

Dari sisi ini, bisa pembaca bandingkan antara nilai aqidah menurut para ulama dan menurut Hasan Al-Banna.

dikutip dari http://asysyariah.com/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin/

Majmu’ah Manhajul Anbiya

📚 http://www.manhajul-anbiya.net/mengenal-kelompok-dan-tokoh-sesat-•-8-•/📚

🚫✋🏼_Jangan mencukupkan diri untuk mengambil ilmu melalui internet sehingga lalai menghadiri majelis ilmu. Sangat banyak kebaikan dalam majelis ilmu_
✍🏼`````Turut Mempublikasikan```
*WHATSAP ILMIAH DI ATAS SUNNAH*