PERINGATAN DARI ACARA TAHUN BARU DAN HURA-HURA PERAYAAN MALAM PERGANTIAN TAHUN


🎙Oleh:
_Al Ustadz Muhammad As Sewed Hafizhahullah_

📅 Tausiyah Pendidikan Anak Saat Bagi Raport Santri | Ahad,15 Rabi'ul Awwal 1437 H - 27 Desember 2015 M l Ma'had Dhiyaus Sunnah Cirebon

🅾 [durasi 03:43- 1,1 MB]



🔌 (TRANSKRIP)

"..Kemudian, selain itu.. berkenaan dengan liburan kita ini berdekatan dengan Tahun Baru, maka sekali lagi saya ingatkan tolong kita kerjasama.. di pondok kita jaga mereka, di rumah tentunya orangtua yang menjaganya....

INI MASA-MASA HURA - HURA...
Orang-orang yang tidak dekat dengan agama, maka mereka memiliki segala macam acara-acara maksiat:  Apakah panggung gembira, atau acara ini... acara bergadang segala macam..

SEHINGGA ANAK - ANAK TIDAK USAH KELUAR RUMAH DI MALAM TAHUN BARU DAN JUGA PARA ORANG TUA MENJAGA MEREKA AGAR TIDAK KEMANA - MANA.. Ramainya jalan GAK MASUK AKAL. MEREKA SEAKAN - AKAN MEMILIKI KELAINAN JIWA....

Karena hari ini dengan hari kemarin gak beda ! Waktunya sama 24 jam, setiap jamnya sama 60 menit. Dibilang malam panjang, dibilang malam...Sama saja!! NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TANGGAL SATU DENGAN TANGGAL DUA SEMBILAN.. NGGAK ADA PERBEDAAN ANTARA TAHUN LALU DENGAN TAHUN YANG AKAN DATANG DALAM BENTUK HARINYA GAK ADA PERBEDAAN..... !

Bahkan yang berbeda adalah umurmu telah bertambah satu tahun. Dan itu na'udzubillah, mendekatkan dirimu kepada KEMATIAN... BUKAN SENANG HARUSNYA. Berarti umur saya sudah berkurang lagi, kemarin baru sekian... sekarang sekian..

Ikhwani fiddiin a'azzakumullah...
Apakah itu patut dirayakan...???
SAMA SEKALI TIDAK ADA SUNNAHNYA, NGGAK ADA ATURANNYA... LAA FIIL KITAB, WA LAA FIIS SUNNAH, WA LAA FII FI'LISH SHAHABAH, WA LAA TABI'IN, WA LAA TABI'IT TABI'IN, WA LA AIMMAH....

Itupun kalau tahunnya tahun baru Islam... APALAGI TAHUN BARU MASEHI, YANG KAITANNYA DENGAN MASIHI, DENGAN AGAMA NASRANI...KAITANNYA DENGAN AGAMA MEREKA.

Tahun Hijryiyah saja tidak dianjurkan untuk dirayakan. NGGAK ADA SUNNAHNYA, Apalagi tahun baru masehi... Namanya masehi...

Ikhwani fiddin a'azzakumullah,
Kaum muslimin yang saya hormati, ikhwan at-thalabah, wa ahan, ikhwanil aba al 'izzah.. INI PERKARA YANG BETUL - BETUL HARUS KITA PERHATIKAN, KAITANNYA DENGAN APA YANG SUDAH KITA BAHAS TADI,YAITU UCAPAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

_"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.."_ [QS. at-Tahrîm/66:6]


••••
💾  JOIN http://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀  www.alfawaaid.net

RITUAL PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK SESAJI/SESAJEN ADALAH KESYIRIKAN

::
🚇 RITUAL PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK SESAJI/SESAJEN ADALAH KESYIRIKAN *:


Masuk Neraka karena Seekor Lalat


Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah Ta'ala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut. Mereka mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.’

Mereka pun mengatakan, ‘Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.’

Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka.

Mereka juga mengatakan kepada lelaki yang kedua, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Ta'ala.’

Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu 'anhu secara mauquf dengan sanad yang sahih)

❗️Perhatikanlah hadits di atas dengan baik!

Tradisi atau ritual penyembelihan binatang adalah ibadah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan Allah Ta'ala, baik dalam hal tujuan, waktu, tempat, maupun niatnya.

Adalah sebuah dosa besar, bahkan dosa terbesar, saat seorang hamba menyembelih hewan untuk selain Allah Ta'ala. Entah untuk memohon bantuan makhluk gaib, harmonisasi manusia dengan alam, meredakan amarah makhluk halus, atau sebab-sebab kesyirikan lainnya.

Menyembelih hewan dalam rangka ritual adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta'ala. Barang siapa melakukannya, Allah Ta'ala akan melaknatnya. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan.

Apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat, ia akan dihukum kekal di dalam neraka. Surga haram baginya. Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang beterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah Ta'ala.

Contoh terbaru adalah ritual penyembelihan korban terkait dengan bencana meletusnya gunung Merapi. Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam.

Ritual yang bernama asli Kuat Maheso Luwung Saji Rojosunya tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhindar dari marabahaya akibat letusan Merapi. Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule.

Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor kerbau bule dan sembilan ayam jago jurik kuning sebagai sesaji untuk makhluk-makhluk halus. Kepala kerbau dan sembilan jago jurik kuning itu rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana.


(*) Judul utama dari tim redaksi channel @ForumBerbagiFaidah

••••
Sumber: https://www.google.co.id/amp/asysyariah.com/tradisi-menyembelih-di-masyarakat/amp/

HENTIKANLAH...ITU

💐📝SAUDARAKU, HENTIKANLAH...ITU MENDATANGKAN KEMURKAAN ALLAH

Duka dan kesedihan berlanjut....

Terbaru kita mendengar berita musibah bencana Tsunami di Anyer Kabupaten Serang Provinsi Banten Indonesia.
Saudaraku....

Kesedihan kita beriringan dengan doa, semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa para korban muslim yang meninggal. Semoga korban yang terluka segera mendapatkan kesembuhan.

Pelajaran berharga yang bisa dilakukan adalah menghindari hal-hal yang dimurkai oleh Allah Ta’ala di masa mendatang. Kita punya kewajiban itu. Saling mengingatkan.

Mari kita tinggalkan semua yang dilarang dan dimurkai oleh Allah, baik itu kekufuran dan kesyirikan, kebid’ahan, ataupun kemaksiatan. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan taufiq kepada kita semua.

Salah satu perbuatan yang dianggap ringan, namun sebenarnya sebuah dosa yang tidak bisa diremehkan, adalah nyanyian dan musik.

Saudaraku, mari simak sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam berikut ini. Anda boleh tidak menerima ucapan dan kalimat saya, namun jangan tolak sabda junjungan kita bersama, teladan termulia, Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

✅Hadits pertama:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ إِذَا ظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ

Dari Imron bin Hushain –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Pada umat ini akan ada yang mengalami adzab (dari Allah) berupa ditenggelamkan ke dalam tanah, diubah wujud fisiknya, dan dilempari dengan bebatuan dari atas. Seorang laki-laki muslim berkata: Wahai Rasulullah, kapankah itu akan terjadi? Nabi bersabda: Jika sudah tersebar *para penyanyi, alat-alat musik*, dan khamr banyak diminum (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahih)

✅Hadits kedua:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا اسْتَحَلَّتْ أُمَّتِي خَمْسًا فَعَلَيْهِمُ الدَّمَارُ، إِذَا ظَهَرَ التَّلَاعُنُ، وَشَرِبُوا الْخُمُورَ، وَلَبِسُوا الْحَرِيرَ، وَاتَّخِذُوا الْقِيَانَ، وَاكْتَفَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ

 Dari Anas (bin Malik) –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika umatku telah menghalalkan 5 hal, mereka akan mendapat kebinasaan. Yaitu, jika sikap saling melaknat (dan mencela) telah nampak (dan tersebar), mereka meminum khamr, (para lelaki) memakai sutera, *dan mereka (banyak) memanfaatkan para penyanyi*, serta kaum lelaki merasa cukup dengan lelaki dan kaum wanita merasa cukup dengan wanita (merebaknya LGBT, homoseksual dan lesbian, pent)(H.R al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman, dinyatakan hasan li ghoyrihi oleh Syaikh al-Albaniy)

✅Hadits ketiga:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْمُغَنِّيَاتِ وَعَنْ شِرَائِهِنَّ وَعَنْ كَسْبِهِنَّ وَعَنْ أَكْلِ أَثْمَانِهِنَّ

Dari Abu Umamah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang dari menjual penyanyi. Beliau melarang pula dari membelinya (nyanyian), penghasilan darinya, dan memakan harga akibat perbuatannya (menyanyi) (H.R Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy).

Semoga ketiga hadits ini yang diriwayatkan dari 3 Sahabat Nabi yang berbeda, cukup sebagai nasihat bagi kita.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiq, rahmat, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.
Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….
Kita tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Bahkan kita mohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari itu semua.
Selain doa yang kita panjatkan, tentu ada upaya yang harus ditempuh oleh orang tua dalam membimbing anaknya. Kita harus mengetahui bimbingan syariat dalam hal ini. Sembari memohon pertolongan dan taufik dari Allah ‘azza wa jalla, kita akan menelaah masalah ini melalui kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.
Dalam poin pembahasan Tarbiyatuhum ‘ala Mahabbatil ‘Ulama wa Wulatil Amr dijelaskan bahwa di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu adalah mendidik anak-anak untuk mencintai ulama dan pemimpin negerinya.
Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham atau dinar, tetapi sematamata mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang melimpah dari warisan tersebut.
Di samping itu, apabila orang tua menanamkan pada diri anak sikap keraguan terhadap para ulama dan ilmu mereka, tidak menghormati mereka, serta menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan anak, semua ini akan menimbulkan bahaya besar bagi umat. Sebab, ilmu diambil dari para ulama, begitu juga syariat Islam diambil dari jalan mereka pula. Sikap yang demikian kadangkala akan membawa kehancuran bagi syariat Islam.
Ketika anak tumbuh dewasa kelak, dia akan mencari orang yang akan diambil ilmunya. Dia tidak akan mengambil dari para ulama, karena sudah dibuat ragu terhadap para ulama dan ilmu mereka. Mereka akan mengambil ilmu dari para ulama sesat dan orang-orang yang berpemikiran menyimpang. Akhirnya, anak akan menjadi alat untuk merusak masyarakat.
Adapun ulil amri adalah orang-orang yang menangani segala urusan rakyat, menegakkan syariat, memelihara stabilitas keamanan, serta menjaga persatuan kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ
        “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan taatilah ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)
Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah para ulama dan penguasa. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di berbagai forum melakukan ghibah dan namimah terhadap penguasa. Mereka menyingkap dan mengungkap kesalahan-kesalahan mereka. Padahal kalau dia mau melihat kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri, niscaya lebih banyak daripada kesalahan penguasa yang dia ungkapkan. Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa jika dia memberitakan semua yang didengarnya.
Amat disayangkan pula, anak-anak duduk di majelis yang semacam ini. Mereka menyerap ucapan seperti ini dan tumbuh dewasa di atas kebencian terhadap para ulama dan penguasanya. Semua ini akan menjadi sebab timbulnya kerusakan, munculnya tuduhan bid’ah atau fasik terhadap ulama dan penguasa tanpa dilandasi ilmu.
Seringkali ucapan yang dinukil tentang ulama dan penguasa tersebut adalah kedustaan dan kebohongan, tanpa ada hujah dan bukti. Itu semata-mata propaganda musuh Islam dan musuh akidah yang murni ini.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah berkata, “Bukan merupakan manhaj salaf, perbuatan menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebut-nyebutnya di atas mimbar. Ini akan menyeret pada penentangan serta keengganan untuk mendengar dan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan tersebut juga akan menyebabkan sikap memberontak yang amat berbahaya dan sama sekali tak ada manfaatnya.
“Jalan yang ditempuh oleh para salaf adalah menasihati penguasa secara empat mata, menulis surat kepada mereka, atau menyampaikannya melalui para ulama yang dapat menyampaikan hal itu kepada penguasa, sehingga ulama tersebut bisa mengarahkan sang penguasa pada kebaikan.” (al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqah bainal Hakim wal Mahkum, hlm. 22)
Manhaj salaf dalam menyikapi kesalahan penguasa adalah tidak mengingkari kemungkaran penguasa secara terbuka, tidak pula menyebarkan kesalahan-kesalahan penguasa di hadapan banyak orang. Sebab tindakan tersebut bisa menyeret pada berbagai hal buruk yang lebih besar, dan berujung pemberontakan kepada penguasa.
Pernah ada yang bertanya kepada Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, “Mengapa Anda tidak menemui Utsman untuk menasihatinya?”
Usamah pun menjawab, “Apakah kalian anggap aku ini harus memperdengarkan kepada kalian jika aku menasihatinya? Sungguh, aku telah menasihatinya empat mata. Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka (secara terang-terangan, -ed.) suatu perkara!” (Dikeluarkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, 36/117, 21784, al-Bukhari no. 3267, Muslim no. 2989; dan lafadz ini dalam riwayat Muslim)
Diterangkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh Usamah, beliau tidak ingin membuka pintu mujaharah (terang-terangan) mengingkari penguasa, karena mengkhawatirkan berbagai dampak buruknya. Beliau justru bersikap lemah-lembut dan menasihatinya secara diam-diam.
Sebab, nasihat dengan cara seperti ini lebih layak diterima.” (Dinukil dalam Fathul Bari, 13/67, 7098)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Ada orang-orang yang setiap majelisnya berisi pembicaraan jelek terhadap penguasa, menjatuhkan kehormatan mereka, menyebarkan keburukan dan kesalahan mereka, tanpa memedulikan sama sekali berbagai kebaikan dan kebenaran yang ada pada penguasa tersebut. Tidak diragukan lagi, melakukan cara-cara seperti ini dan menjatuhkan kehormatan penguasa tidak akan menambah apa-apa selain memperberat masalah.
“Cara seperti ini tidak bisa memberikan solusi dan tidak melenyapkan kezaliman. Ia justru hanya menambah musibah bagi suatu negeri, menimbulkan kebencian dan antipati terhadap pemerintah, serta memunculkan keengganan untuk melaksanakan perintah penguasa yang seharusnya wajib ditaati.”
“Tidaklah kita ragukan bahwa terkadang pemerintah melakukan hal-hal yang negatif atau berbuat kesalahan, seperti halnya anak Adam yang lainnya. Setiap anak Adam pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah yang banyak bertobat (sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Kita pun tidak menyangsikan bahwa kita tidak boleh mendiamkan seorang pun yang berbuat kesalahan. Semestinya kita menunaikan kewajiban nasihat bagi Allah ‘azza wa jalla, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah muslimin, serta bagi seluruh kaum muslimin sesuai kemampuan kita.”
“Apabila kita melihat kesalahan penguasa, kita sampaikan secara langsung, baik melalui lisan maupun tulisan yang ditujukan kepada mereka (bukan dengan mengumbar aib mereka di hadapan khalayak, di mimbar-mimbar atau media massa), menasihati mereka dengan menempuh jalan yang paling dekat untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka dan menerangkan kesalahan mereka. Kemudian kita beri nasihat, kita ingatkan kewajiban mereka agar menunaikan dengan sempurna hak orang-orang yang ada di bawah kekuasaan mereka dan menghentikan kezaliman mereka terhadap rakyatnya.” (Wujubu Tha’atis Sulthan fi Ghairi Ma’shiyatir Rahman, hlm.23—24)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullahmenerangkan, “Membicarakan aib penguasa adalah perbuatan ghibah dan namimah, di mana keduanya adalah keharaman terbesar setelah syirik. Apalagi jika ghibah atau namimah itu ditujukan pada ulama dan penguasa, ini lebih parah lagi. Sebab, bisa menyeret pada berbagai kerusakan: memecah-belah persatuan, buruk sangka terhadap pemerintah, dan menumbuhkan pesimisme serta keputusasaan pada diri rakyat.” (al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah, hlm. 60)
Tentang masalah ini, para ulama Ahlus Sunnah—baik yang terdahulu maupun sekarang—berdalil dengan hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:
  1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
        مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَالْجَمَاعَةَشِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barang siapa melihat pada penguasanya sesuatu yang dia benci, hendaknya dia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jamaah (penguasa) satu jengkal saja lalu dia mati, matinya seperti mati orang jahiliah.”[1]
  1. Dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي السُّلْطَانِ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِفَإِنْسَمِعَ مِنْهُ فَذَلِكَ، وَإِ كَانَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah dia sampaikan secara terbuka. Hendaknya dia gamit tangan penguasa itu (untuk menasihatinya secara diam-diam). Jika penguasa itu mau mendengar (nasihatnya –pen.), itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajibannya.”[2]
  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,
نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا :قَالَ رَسُولُ اللهِ: لاَتَسُبُّواأُمَرَاءَكُمْ، وَ تَغُشُّوهُمْ، وَ تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ، وَاصْبِرُوا فَإِنَّالْأَمْرَقَرِيبٌ
“Dahulu kami dilarang oleh para tokoh kami dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan mengkhianati mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat’.”[3]
  1. Dari Ziyad al-‘Ad i , beliau menceritakan, “Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang saat itu sedang berkhutbah sembari mengenakan pakaian sutra.
Abu Bilal berkata, ‘Coba kalian lihat pimpinan kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasik!’
Abu Bakrah pun menyahut, ‘Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ
Barang siapa menghinakan penguasa Allah di dunia, niscaya Allah akan hinakan dia.”[4]
Demikian ini adalah pengajaran dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap hamba, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ditanamkan kepada anak-anaknya.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
(Diterjemahkan dari kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah, karya ‘Abdus Salam bin ‘Abdillah as-Sulaiman, hlm.39—42, oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)
[1] HR. al-Imam Ahmad (4/290)(2487), al-Imam al-Bukhari (7053,7143), dan al-Imam Muslim (1849)(55).
[2] HR. al-Imam Ahmad (24/48-49)(15333) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/507)(1096).
[3] HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/474)(1015) dan al-Baihaqi dalam al-Jami’ li Syu’abil Iman (10/27) (7117).
[4] HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (34/79)(20433), at-Tirmidzi (2224) dan lafadz ini dalam riwayat beliau. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

SEBUAH RENUNGAN, PERAYAAN TAHUN BARU

Ditulis Oleh: Al Ustadz Qomar ZA, Lc.

Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?

Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, bebarapa umat melakukan. Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari.

Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah. Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.

Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.  *[Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]*

Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih]. Di samping majusi, ternya orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.

Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. *[Bida’ Hauliiyyah]*

Tidak menutup kemungkinan masih ada umat-umat lain yang juga merayakan awal tahun atau tahun baru, sebagaimana disebutkan beberapa sumber. Yang jelas, siapa mereka?, tentu, bukan muslimin, bahkan Majusi penyembah api nasrani penyembah Yesus dan Yahudi penyembah Uzair.

Jadi siapa yang anda ikuti dalam perayaan tahun baru ini?

🌏 Kunjungi Selengkapnya || http://forumsalafy.net/sebuah-renungan-perayaan-tahun-baru/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

KETENARAN ADALAH UJIAN YANG SANGAT BERAT DIRASAKAN OLEH ORANG-ORANG BESAR

💐🌷🌻🌹 KETENARAN ADALAH UJIAN YANG SANGAT BERAT DIRASAKAN OLEH ORANG-ORANG BESAR

Suatu hari Ishaq bin Hanbal menemui keponakannya yaitu al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dalam keadaan beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, maka pamannya berkata kepada beliau, "Wahai anak saudaraku, kenapa engkau bersedih?!" Maka beliau mengangkat kepalanya dan menjawab:

يا عم، طوبى لمن أخمل الله ذكره.

"Wahai pamanku, beruntunglah bagi siapa saja yang Allah menjadikan dirinya tidak terkenal."

📚 Al-Jarh wat Ta’dil, jilid 1 hlm. 306 dan Thabaqat al-Hanabilah, jilid 1 hlm. 12

🌍 Sumber || https://twitter.com/alrohaily1437/status/880527512438222848

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

DIANTARA DAMPAK BURUK KEMAKSIATAN


┏📜📚📖━━━━━━━━━━━━━━┓
 Majmu'ah Riyadhussalafiyyin
┗━━━━━━━━━━━━━━📖📚📜┛

📜 DIANTARA DAMPAK BURUK KEMAKSIATAN

▪ Anggapan buruk terhadap kemaksiatan menjadi lenyap dari dalam hati, hingga menjadi sebuah kebiasaan baginya. Perhatian seluruh manusia terhadap dirinya dan pembicaraan mereka tentang dirinya tidak lagi dianggap buruk bagi dirinya. (*)

▪ Dan ini di sisi para pelaku maksiat merupakan puncak keterbukaan dan sempurnanya kelezatan.(**)
Sampai-sampai salah seorang dari mereka merasa bangga dengan kemaksiatan, dan dia menceritakan kemaksiatan tersebut kepada orang yang tidak mengetahui bahwa dia melakukannya. Maka dia mengatakan, "Wahai Fulan, aku telah melakukan ini dan itu."

⚠ Manusia semisal ini tidaklah diampuni dan jalan taubat telah tersumbat bagi mereka, serta secara umum telah tertutup pintu-pintu taubat bagi mereka. Seperti sabda Nabi ﷺ :

"كل أمتي معافىً إلا المجاهرين. وإنّ من الإجهار أن يستر الله على العبد، ثم يُصبِح يفضَح نفسه، ويقول: يا فلان عملتُ يوم كذا وكذا: كذا وكذا، فيهتك نفسَه، وقد بات يستره ربه"

[[ Setiap ummatku akan diampuni kecuali mujahirin (orang yang terang-terangan bermaksiat). Termasuk bentuk terang-terangan adalah Alloh telah menutupi seorang hamba, kemudian di pagi hari membongkar dirinya sendiri. Dia mengatakan, "Wahai Fulan, pada hari ini dan pada hari itu aku telah melakukan ini dan itu." Sehingga dia menyingkap dirinya sendiri padahal sungguh dia bermalam dalam keadaan Robbnya telah menutupinya.]]

📗 (Diriiwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim)

📚 Ad-Da'u wad Dawa' hal. 89 - 90, harya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rohimahulloh.


➖ ➖ ➖ ➖ ➖
📝 Catatan Kaki :
(*) tidak lagi merasa malu berbuat maksiat dihadapan manusia, demikian pula meskipun manusia membicarakan kemaksiatan-kemaksiatan dirinya.

(**) merasakan kesenangan dan kelezatan dengan berbuat maksiat secara terbuka dihadapan banyak orang.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
أنه ينسلخ من القلب استقباحُها، فتصير له عادةً، فلا يَستقبح من نفسه رؤيةَ الناس له، ولا كلامَهم فيه.
وهذا عند أرباب الفسوق هو غاية التهتّك وتمام اللذة، حتّى يفتخر أحدهم بالمعصية، ويحدّث بها من لم يعلم أنه عملها، فيقول: يا فلان عملتُ كذا وكذا!
وهذا الضرب من الناس لا يُعافَون، وتسدّ عليهم طريق التوبة، وتغلق عنهم أبوابها في الغالب، كما قال النبي- صلى الله عليه وسلم -: "كل أمتي معافىً إلا المجاهرين. وإنّ من الإجهار أن يستر الله على العبد، ثم يُصبِح يفضَح نفسه، ويقول: يا فلان عملتُ يوم كذا وكذا: كذا وكذا، فيهتك
نفسَه، وقد بات يستره ربه" (رواه البخاري ومسلم)

📑 Ustadz Muhammad Rofi حفظه الله

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
🕌 “Tetap hadir di majelis ilmu syar'i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan barokah lebih banyak dan lebih besar, insyaa Allah.”

📲 Ayo Join dan Share :
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 Fawaaid: t.me/Riyadhus_Salafiyyin

🖼 Poster dan Video:
▶️ instagram.com/galerifaedah
▶ mobile.twitter.com/galerifaedah
▶ telegram.me/galerifaedahz

MENCUKUPIKAH WUDHU' SA'AT MANDI

💦KAIDAH MANDI YANG MENCUKUPI DARI WUDHU

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

❓Pertanyaan:
Apakah mandi mencukupi dari wudhu?

Syaikh: Mandi dari apa
?

Penanya: Mandi seperti mandi Jumat

☝️Jawab Syaikh: Mandi Jumat tidak mencukupi karena mandi Jumat tidak mengangkat hadats. Adapun mandi junub, maka mencukupi dari wudhu. Dalil tentang mandi janabah mencukupi dari wudhu adalah firman Allah ta'ala: "Dan jika kamu  junub, maka mandilah (al-Maidah: 6)
Pada ayat tersebut tidak disebutkan wudhu.

✏️Berkata al-Imam Ibnu Baz: Adapun mandi Jumat, maka jika dia berkehendak, berwudhu sebelumnya dan jika dia berkehendak, dia berwudhu setelahnya. Sehingga tidak cukup mandi semata, bahkan harus berwudhu sebelum atau setelah mandi

📚Majmu' Fatawa Ibnu Baz 29/94

💻🔍
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=120308
📱📡AL-UKHUWWAH

📁http://bit.ly/Al-Ukhuwwah
JOIN:
Http://tlgrm.me/anNajiyahBali

🇸🇦
وسئل أيضا رحمه الله
هل الغسل يجزئ عن الوضوء؟ الشيخ: الغسل من ماذا؟ السائل: الغسل كغسل الجمعة.
فأجاب:غسل الجمعة لا؛ لأن غسل الجمعة ليس عن حدث، أما غسل الجنابة فيجزي عن الوضوء، والدليل على أنه يجزئ عن الوضوء قول الله تبارك وتعالى: {وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا} [المائدة:6] ولم يذكر الوضوء.

 وقال الإمام ابن باز: أما غسل الجمعة فإن شاء توضأ قبله، وإن شاء توضأ بعده، ولا يكفي الغسل وحده، بل لا بد من وضوء قبله أو بعده.
(مجموع فتاوى ابن باز- 29/ 94)

WUDHU'

🍃📕 JANGAN TERBURU-BURU DALAM BERWUDHU` 📒🍃
(Berikut ini ancamannya jika ada anggota tubuh yang masih kering)

➖➖➖➖

📝 Shahabat Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu, menceritakan;

🌷 Bahwa pada satu waktu, beliau pulang bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersama shahabat yang lain dari kota Mekkah menuju kota Madinah.

🌻 Di tengah perjalanan, tatkala di dapati sebuah oasis, sebagian shahabat tergesa-gesa melaksanakan sholat Ashar. Sampai-sampai wudhu` mereka pun terlalu cepat.

☑️ Tatkala rombongan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyusul mereka. Ternyata didapati tumit-tumit mereka masih kering belum tersentuh air wudhu`.

‼️ Saat itulah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan mereka dengan suara keras:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ !!!  أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ!

🔥 “Kebinasaan dari api Neraka bagi tumit-tumit itu !!! Sempurnakanlah wudhu` kalian !.”

🔘 Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam sempat mengulanginya dua kali sampai tiga kali. Sebagaimana disebutkan dalam Shohih Al-Bukhori no.163.

🔵 Semoga kita bisa berhati-hati dalam berwudhu`. Tidak terburu-buru, tenang, dan membasuh setiap anggota tubuh yang wajib di basuh. _Aamiin_

Wallahul Muwaffiq


🌍 Sumber Rujukan: Shahih Al-Bukhori hadits no.60, 96, & 163 dan Shahih Muslim hadits no. (241)-26, (241)-27]
📝 Dikirim oleh: al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafizhahullah

#fawaidumum #wudhu
〰〰➰〰〰
🍊 Update Ilmu agama bersama Warisan Salaf di: Website I Telegram I Twitter I Google Plus I Youtube I SMS Tausiyah
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Faedah Hadits Ringkas

🍃Silsilah amalan berpahala melimpah ke-9 : Siapakah calon penghuni Surga dan apa amalanya?  Siapakah calon prnghuni Neraka dan apa amalanya?

✅Dari Harits bin Wahbin radhiallahu 'anhu, Beliau berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ((ألا أُخبِركم بأهل الجنة؟ كل ضَعيف مُتَضَعِّف، لو أقْسَمَ على الله لاَبَرَّهُ. ألا أخبركم بأهل النار؟ كل عتلٍ جواظٍ مستكبرٍ)) متفق عليه.

"Saya mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda :

" Maukah kalian kuberitahukan tentang penghuni surga ? Yaitu setiap orang yang lemah dan diremehkan oleh manusia, kalau dia (meminta) bersumpah  atas nama Allah pastilah Allah mengabulkannya,  Maukah kalian kuberitahukan tentang penghuni neraka? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kasar serta sombong".( Muttafaqun Alaihi).

✅Berkata Syeikh Utsaimin rahimahullah:

 هذه من علامات أهل الجنة؛ أن الإنسان يكون ضعيفاً متضعفاً، أي: لا يهتم بمنصبه أو جاهه، أو يسعى إلى علو المنازل في الدنيا، ولكنه ضعيف في نفسه متضعف، يميل إلى الخمول وإلى عدم الظهور؛ لأنه يرى أن المهم أن يكون له جاه عند الله عز وجل، لا أن يكون شريفاً في قومه أو ذا عظمة فيهم.كله أن يكون عند الله سبحانه وتعالى ذا منزلة كبيرة عالية.

✏Dan ini termasuk dari ciri-ciri penghuni surga: Seorang muslim yang lemah serta diremehkan manusia, yang tidak memperdulikan kedudukan dan jabatan, atau tidak berambisi meraih jabatan yang tinggi didunia,  jiwanya merunduk rendah hati ( tidak suka popularitas), sesungguhnya dia melihat dan yang menjadi tujuan utamanya adalah meraih kedudukan  disisi Allah Ta'ala, Bukan sama sekali tujuanya kehormatan  ditengah kaumnya atau keagungan disisi mereka.
Semua tujuan tertuju pada Allah Ta'ala yg memiliki kedudukan, kebesaran serta kemuliaan

هذه علامات أهل النار.
((عتل)) : يعني أنه غليظ جاف، قلبه حجر والعياذ بالله؛ كالحجارة أو أشد قسوة.
 ((جواظ مستكبر)) الجواظ فيه تفاسير متعددة، قيل إنه الجموع المنوع، يعني الذي يجمع المال ويمنع ما يجب فيه.

والظاهر أن الجواظ هو الرجل الذي لا يصبر، فجواظ يعني جزوع لا يصبرعلى شيء، ويرى أنه في قمة أعلى من أن يمسه شيء

✏Dan ini termasuk ciri-ciri penghuni neraka :

Kata "Utullin: maknanya seorang yg bengis lagi kasar, hatinya membatu, seperti batu bahkan lebih keras lagi, kita berlindung kepada Allah dari hati seperti ini,

Kata " Jawwaadzhin mustakbirin : Aljawwaadzhu ada beberapa penafsiran, dikatakan maknaya adalah " Aljumu' Almanu' yakni orang yg suka menumpuk harta tapi engggan menunaikan kewajiban padanya,

Secara dhahir yg dimaksud " Aljawwaadzu" yaitu lelaki yang tidak sabar, sehingga kata jawwaadzhun artinya orang yang tidak bisa bersabar pada sesuatu,
Dia merasa dirinya berada dipuncak yg paling tinggi yg tiada bisa dijamah oleh sesuatu apapun.

_📚Akhukum Fillah Ustadz Abu Amina Aljawiy_ *حفظه الله*
_Dipondok Yatim Non Yatim Annashihah Cepu dikutip dari Syarah Riyadhus Shalihin Ibnu Utsaimin Rahimahumullah._

🌐  *Ayo Join dan Share* : http://t.me/pesantren_salaf_online

DIANTARA HAL-HAL YANG DIHARAMKAN ATAS KAUM MUSLIMIN KETIKA HARI RAYA NON MUSLIM

💥⚠⛔🔥 DIANTARA HAL-HAL YANG DIHARAMKAN ATAS KAUM MUSLIMIN KETIKA HARI RAYA NON MUSLIM

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin _rahimahullah_ berkata:

واحتفال النصارى بميلاد المسيح عليه الصلاة والسلام هو لهم، ولكن لا يجوز للمسلمين أن يشاركوهم في أعيادهم، ولا أن يهدوا لهم هدية وقت أعيادهم، ولا ينبغي أن يقبلوا هداياهم وقت أعيادهم، ولا أن يبيعوا عليهم شيئا يستعينون به على الاحتفال بأعيادهم، كل هذا لا يصح، لأنه رضا بما كانوا عليه لو أن الإنسان فعله، والرضا بالكفر وأعياد الكفر محرم على المسلمين.

"Perayaan kaum Nasrani terhadap kelahiran al-Masih (Isa) alaihis shalatu was salam adalah untuk mereka. Kaum muslimin tidak boleh ikut serta dalam hari raya mereka, tidak boleh memberi hadiah kepada mereka ketika hari raya mereka, tidak sepantasnya menerima hadiah dari mereka ketika hari raya mereka, dan tidak boleh menjual kepada mereka sesuatu yang akan mereka gunakan untuk membantu perayaan hari raya mereka.

Ini semua tidak benar. Sebab, apabila seseorang melakukan hal-hal di atas, berarti menunjukkan keridhaan terhadap keyakinan mereka. Padahal ridha terhadap kekafiran dan perayaan kekafiran haram hukumnya atas kaum muslimin."

🌍 Sumber || https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=99903

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

HAKIKAT ZUHUD

✋🏻💐🌹📢 HAKIKAT ZUHUD

✍🏻 Al-Fudhail bin Iyadh _rahimahullah_ berkata:

“Pokok zuhud adalah keridhaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.”

● Beliau rahimahullah mengatakan juga:

“Qana’ah adalah zuhud, yaitu rasa cukup. Barang siapa merealisasikan keyakinan, percaya penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala urusannya, ridha terhadap pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk sembari berharap dan takut (kepada Allah), lalu hal menghalanginya untuk mencari dunia dengan cara-cara yang makruh; dia telah merealisasikan hakikat zuhud terhadap dunia. Ia pun menjadi orang yang paling berkecukupan. Jika ia tidak memiliki harta dunia sedikit pun, sebagaimana ucapan Ammar:

‘Cukuplah kematian menjadi penasihat.
Cukuplah keyakinan sebagai kecukupan.
Cukuplah ibadah sebagai kesibukan’.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam hlm. 392)

🌏 Sumber || http://asysyariah.com/hakikat-zuhud/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

DAUROH SAMPIT DAN PT. STP3 SERUYAN

Dauroh Sampit 1440H

[] Audio Kajian Islam Ilmiah SAMPIT DAN PT. STP3 SERUYAN 08- 09 Des. 2018 M
[] Disampaikan oleh: Al-Ustadz Saiful Bahri Hafizhahumullah (pengasuh pondok pesantren Al-Manshuroh mujur kota Cilacap)
TEMA KE 1
"KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA UNTUK KETAATAN KEPADA ALLAH"
[▶️] Sesi 1
Durasi - 00:50:31
14.4MB
[] Unduh di:
Sesi pertama
[▶️] Sesi 2
Durasi - 01:06:39
15.2MB
[] Unduh di:
Sesi Kedua
TEMA KE 2
"TANDA-TANDA HARI KIAMAT DAN CIRI UMAT AKHIR ZAMAN"
[▶️]
Durasi - 01:31:21
15.6MB
[] Unduh di:
Tema kedua
TEMA KE 3
"MENCARI REZEKI YANG HALAL DAN BAIK"
[▶️] Sesi 1
Durasi - 00:49:59
14.3MB
[] Unduh di:
Sesi pertama
[▶️] Sesi 2
Durasi 00:43:12
14.8MB
[] Unduh di :
Sesi kedua
Selengkapnya di : Dauroh PT. STP 3
Untuk Streaming dan Download Dengarkan di AUDIO DAUROH SAMPIT DAN PT. STP 3 SERUYAN
sumber chanel
AN-NAJIYA
Forum Salafiyyin Sampit

SUMBER KERUSAKAN DALAM AGAMA

SUMBER KERUSAKAN DALAM AGAMA

‘Ali bin Qasim Hanasy _rahimahullah_ mengatakan,
“Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan:

1). Tingkatan tertinggi, yaitu para ulama kibar
Mereka mengetahui yang benar dan yang batil. Jika mereka berbeda pendapat, tidak akan muncul fitnah (kerusakan) dari perselisihan tersebut, karena mereka mengetahui ilmu yang dimiliki oleh pihak yang lain.

2). Tingkatan terendah, yaitu orang awam yang berada di atas fitrah
Mereka tidak lari dari kebenaran. Mereka hanya mengikuti orang yang mereka jadikan panutan. Jika panutan mereka berada di atas kebenaran, mereka pun serupa. Ketika panutan mereka berada di atas kebatilan, demikian pula keadaan mereka.

3). Tingkatan pertengahan
Inilah sumber keburukan dan asal munculnya fitnah (kerusakan) dalam agama. Ilmu mereka belum mapan sehingga tidak termasuk tingkatan pertama. Akan tetapi, mereka juga tidak meninggalkan ilmu sehingga tidak tergolong tingkatan terendah.
Ketika melihat seseorang yang termasuk tingkatan pertama mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menyelisihi keyakinan mereka yang keliru, mereka lemparkan panah-panah kecaman terhadapnya dan menyalahkannya dengan segala ucapan yang buruk.
Dengan berbagai pemalsuan yang batil, mereka mengubah fitrah tingkatan yang terendah sehingga tidak mau menerima kebenaran. Saat itulah, muncul fitnah (kerusakan) yang besar dalam agama.”
(al-Badru ath-Thali’ karya asy-Syaukani, 1/473)


Sumber || http://asysyariah.com/sumber-kerusakan-dalam-agama/
WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy



Cara-cara Batil Penegakan Daulah Islamiyah

 22 RAJAB 1439/7 APRIL 2018 HAYATUNAMUSLIM TINGGALKAN KOMENTAR

Tema Khilafah Islamiyah ternyata memiliki daya tarik cukup besar. Isu ini terbukti mampu menimbulkan sentimen tersendiri di kalangan kaum muslimin. Banyak yang semangatnya tergugah dan kemudian ramai-ramai berjuang agar Khilafah Islam kembali berdiri. Namun sayang, perjuangan mereka jauh dari tuntunan syariat. Akhirnya, kegagalan demi kegagalan yang mereka raih. Yang lebih tragis, tak sedikit darah kaum muslimin tertumpah akibat perjuangan mereka yang hanya bermodal semangat itu. Ketika kaum muslimin, terkhusus para aktivisnya, telah menjauhi dan meninggalkan metode dan cara yang ditempuh oleh para nabi dan generasi Salaful Ummah di dalam mengatasi problematika umat dalam upaya mewujudkan Daulah Islamiyah, tak pelak lagi mereka akan mengikuti ra’yu dan hawa nafsu. Karena tidak ada lagi setelah al-Haq yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Salaful Ummah, kecuali kesesatan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ

“Maka apakah setelah al-haq itu kecuali kesesatan?” (Yunus: 32)

Dengan cara yang mereka tempuh ini, justru mengantarkan umat ini kepada kehancuran dan perpecahan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutlah dia, dan janganlah kalian mengikuti as-Subul (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Hal itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kalian bertakwa.” (al-An’am: 153) Di antara cara-cara sesat yang mereka tempuh antara lain: Penyelesaian problem umat melalui jalur politik dengan ikut terjun langsung atau tidak langsung dalam panggung politik dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Di antara mereka ada yang beralasan bahwa tidak mungkin Daulah Islamiyah akan terwujud kecuali dengan cara merebut kekuasaan melalui jalur politik, yaitu dengan memperbanyak perolehan suara dukungan dan kursi jabatan dalam pemerintahan. Jadi, dengan banyaknya dukungan dan kursi di pemerintahan, syariat Islam bisa diterapkan. Walaupun dalam pelaksanaannya, mereka rela untuk mengadopsi dan menerapkan sistem politik Barat (kufur) yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Islam. Mereka sanggup untuk berdusta dengan menyebarkan isu-isu negatif terhadap lawan politiknya. Bila perlu, mereka pun sanggup untuk mencampakkan prinsip-prisip Islam yang paling utama dalam rangka untuk memuluskan ambisi mereka, baik melalui acara ‘kontrak politik’ atau yang semisalnya. Bahkan, tidak jarang mereka pun sanggup untuk berdusta atas nama Ulama Ahlus Sunnah dengan mencuplik fatwa-fatwa para ulama tersebut dan mengaplikasikannya tidak pada tempatnya. Cara ini lebih banyak dipraktikkan oleh kelompok al-Ikhwanul Muslimun. Sebagian kelompok lagi beralasan bahwa melalui politik ini akan bisa direalisasikan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, yaitu dengan menekan dan memaksa mereka menerapkan hukum syariat Islam dan meninggalkan segala hukum selain hukum Islam. Walaupun sepintas lalu mereka tampak ‘menghindarkan diri’ untuk terjun langsung ke panggung politik demokrasi seperti halnya kelompok pertama, namun ternyata mereka menerapkan cara-cara Khawarij di dalam melaksanakan aktivitas politiknya. Yaitu melalui berbagai macam orasi politik yang penuh dengan provokasi, atau dengan berbagai aksi demonstrasi dengan menggiring anak muda-mudi sebagaimana digiringnya gerombolan kambing oleh penggembalanya. Kemudian mereka menamakan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan kritik dan kontrol serta koreksi terhadap penguasa, atau terkadang mereka mengistilahkannya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Yang ternyata tindakan mereka tersebut justru mendatangkan kehinaan bagi kaum muslimin serta ketidakstabilan bagi kehidupan umat Islam, baik sebagai pribadi muslim ataupun sebagai warga negara di banyak negeri. Dengan ini, semakin pupuslah harapan terwujudnya Daulah Islamiyah. Cara ini lebih banyak dimainkan oleh kelompok Hizbut Tahrir.

Maka dari itu, Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Ikhwanul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyah yang berhasil kalian wujudkan dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib dakwah. Di Aljazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan darah dan perpecahan. Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyah yang berhasil kalian dirikan, di mana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri tersebut. Namun, apa yang terjadi setelah itu? Wakil Presidennya adalah seorang Nasrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nasrani. Atau mungkin kalian menganggap itu sebagai kesuksesan di panggung politik di negeri Sudan, ketika kalian berhasil ‘mengorbitkan’ salah satu pembesar kalian di negeri tersebut dan memegang salah satu tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri itu, yaitu Hasan at-Turabi. Apakah orang seperti dia yang kalian banggakan, orang yang berakidah dan berpemikiran sesat?! Simak salah satu ucapan dia, “Aku ingin berkata bahwa dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu, boleh bagi seorang muslim—sebagaimana boleh pula bagi seorang Nasrani—untuk mengganti agamanya.”[1] Kami pun mengatakan kepada kelompok Hizbut Tahrir dengan pernyataan yang sama. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan keberhasilan kepada kalian sementara kalian menempuh cara-cara Khawarij yang telah dikecam keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sekian banyak haditsnya? Di mana prinsip dan dakwah kalian—wahai Hizbut Tahrir—dibanding manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan nasihat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari sahabat ‘Iyadh bin Ghunm: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa, jangan dilakukan secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). Namun, hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi. Jika ia (penguasa itu) menerima nasihat tersebut, itulah yang diharapkan. Namun, jika tidak mau menerimanya, berarti ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096)
Jenis cara batil yang kedua adalah melalui tindakan atau gerakan kudeta/ revolusi terhadap penguasa yang sah, dengan alasan mereka telah kafir karena tidak menerapkan hukum/syariat Islam dalam praktik kenegaraannya. Kelompok pergerakan ini cenderung menamakan tindakan teror dan kudeta yang mereka lakukan dengan nama jihad, yang pada hakikatnya justru tindakan tersebut membuat kabur dan tercemarnya nama harum jihad itu sendiri. Mereka melakukan pengeboman di tempat-tempat umum sehingga tak pelak lagi warga sipil menjadi korban. Bahkan, tak jarang di tengah-tengah mereka didapati sebagian umat Islam yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa.

Cara-cara seperti ini lebih banyak diperankan oleh kelompok-kelompok radikal semacam Jamaah Islamiyah, demikian juga Usamah bin Laden—salah satu tokoh Khawarij masa kini—dengan al-Qaeda-nya beserta para pengikutnya dari kalangan pemuda yang tidak memiliki bekal ilmu syar’i dan cenderung melandasi sikapnya di atas emosi.

 Cara-cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu bentuk pengaruh pemikiran-pemikiran sesat dari tokoh-tokoh mereka, seperti: Abul A’la al-Maududi Dia menyatakan, “…Mungkin telah jelas bagi anda semua dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kita bahwa tujuan kita yang paling tinggi yang kita perjuangkan adalah: *MENGADAKAN GERAKAN PENGGULINGAN KEPEMIMPINAN.*

 Yang saya maksudkan dengan itu adalah untuk membersihkan dunia ini dari kekotoran para pemimpin yang fasiq dan jahat. Dengan demikian, kita bisa menegakkan imamah yang baik dan terbimbing. Itulah usaha dan perjuangan yang bisa menyampaikan ke sana. Itu adalah cara yang lebih berhasil untuk mencapai keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharapkan wajah-Nya yang mulia di dunia dan akhirat.” (al-Ususul Akhlaqiyyah lil Harakah al-Islamiyah, hlm. 16) Al-Maududi juga berkata,

“Kalau seseorang ingin membersihkan bumi ini dan menukar kejahatan dengan kebaikan… tidak cukup bagi mereka hanya dengan berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengagungkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta menyuruh mereka untuk berakhlak mulia. Akan tetapi, mereka harus mengumpulkan beberapa unsur (kekuatan) manusia yang saleh sebanyak mungkin, kemudian dibentuk (sebagai suatu kekuatan) untuk merebut kepemimpinan dunia dari orang-orang yang kini sedang memegangnya dan mengadakan revolusi.” (al-Ususul Akhlaqiyah lil Harakah al-Islamiyah, hlm. 17—18) Sayyid Quthb Pernyataan Sayyid Quthb dalam beberapa karyanya yang mengarahkan dan menggiring umat ini untuk menyikap lingkungan dan masyarakat serta pemerintahan muslim sebagai lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan yang kafir dan jahiliah. Pemikiran ini berujung kepada tindakan kudeta dan penggulingan kekuasaan sebagai bentuk metode penyelesaian problema umat demi terwujudnya Khilafah Islamiyah. Metode berpikir seperti tersebut di atas disuarakan pula oleh tokoh-tokoh mereka yang lainnya seperti Sa’id Hawwa, Abdullah ‘Azzam, Salman al-‘Audah, Dr. Safar al-Hawali, dan lain-lain.

[2] Buku-buku dan karya-karya mereka telah tersebar luas di negeri ini, yang cukup punya andil besar dalam menggiring para pemuda khususnya untuk berpemikiran radikal serta memilih cara-cara kekerasan untuk mengatasi problematika umat ini dan menggapai angan yang mereka canangkan. Karena itu, wajib bagi semua pihak dari kalangan muslimin untuk berhati-hati dan tidak mengonsumsi buku fitnah karya tokoh-tokoh Khawarij.

Demikian juga buku-buku kelompok Syi’ah Rafidhah yang juga syarat dengan berbagai provokasi kepada umat ini untuk melakukan berbagai aksi dan tindakan teror terhadap penguasa. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik-Nya kepada pemerintah kita agar mereka bisa mencegah peredaran buku-buku sesat dan menyesatkan tersebut di tengah-tengah umat, demi terwujudnya stabilitas keamanan umat Islam di negeri ini. Khilafah Islamiyah Bukan Tujuan Utama Dakwah Para Nabi Dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bagi kita, bahwa banyak dari kalangan aktivis pergerakan-pergerakan Islam yang menyatakan bahwa permasalahan Daulah Islamiyah merupakan permasalahan yang penting, bahkan terpenting dalam masalah agama dan kehidupan. Dari situ muncul beberapa pertanyaan besar yang harus diketahui jawabannya oleh setiap muslim, yaitu:

Apakah penegakan Daulah Islamiyah adalah fardhu ‘ain (kewajiban atas setiap pribadi muslim) yang harus dipusatkan atau dikosentrasikan pikiran, waktu, dan tenaga umat ini untuk mewujudkannya? Kemudian:

Benarkah bahwa tujuan utama dakwah para nabi adalah penegakan Daulah Islamiyah? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak penjelasan para ulama besar Islam berikut ini. Al-Imam Abul Hasan al-Mawardi berkata di dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyah, “…

Jika telah pasti tentang wajibnya (penegakan) al-Imamah (kepemerintahan/kepemimpinan), tingkat kewajibannya adalah fardhu kifayah, seperti kewajiban jihad dan menuntut ilmu.” Sebelumnya, beliau juga berkata, “Al-Imamah ditegakkan sebagai sarana untuk melanjutkan khilafatun nubuwwah dalam rangka menjaga agama dan pengaturan urusan dunia yang penegakannya adalah wajib secara ijma’, bagi pihak yang berwenang dalam urusan tersebut.” (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 5—6) Imamul Haramain menyatakan bahwa permasalahan al-Imamah merupakan jenis permasalahan furu’. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 5—6) Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata,

“Maka dari itu, Anda melihat pernyataan mereka (para ulama) tentang permasalahan al-Imamah bahwasanya ia tergolong permasalahan furu’, tidak lebih sebatas wasilah (sarana) yang berfungsi sebagai pelindung terhadap agama dan politik (di) dunia, yang dalil tentang kewajibannya masih diperselisihkan apakah dalil ‘aqli ataukah dalil syar’i….

Bagaimanapun, jenis permasalahan yang seperti ini kondisinya, yang masih diperselisihkan tentang posisi dalil yang mewajibkannya, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa masalah al-Imamah ini merupakan puncak tujuan agama yang paling hakiki?”

Demikian jawaban dari pertanyaan pertama. Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua, mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

“Sesungguhnya pihak-pihak yang berpendapat bahwa permasalahan al- Imamah merupakan satu tuntutan yang paling penting dalam hukum Islam dan merupakan permasalahan umat yang paling utama (mulia) adalah suatu kedustaan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun dari kalangan Syi’ah (itu sendiri). Bahkan, pendapat tersebut terkategorikan sebagai suatu kekufuran, sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah permasalahan yang jauh lebih penting daripada permasalahan al-Imamah. Hal ini merupakan masalah yang diketahui secara pasti dalam dienul Islam.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 1/16) Kemudian beliau melanjutkan,

“…Seandainya demikian (yakni kalau seandainya al-Imamah merupakan tujuan utama dakwah para nabi, pent), (mestinya) wajib atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan (hal ini) kepada umatnya sepeninggal beliau, sebagaimana beliau telah menjelaskan kepada umat ini tentang permasalahan shalat, shaum (puasa), zakat, haji, dan telah menentukan perkara iman dan tauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta iman pada hari akhir. Suatu hal yang diketahui bahwa penjelasan tentang al-Imamah di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tidak seperti penjelasan tentang perkara-perkara ushul (prinsip) tersebut… Juga tentunya di antara perkara yang diketahui bahwa suatu tuntutan terpenting dalam agama ini, maka penjelasannya di dalam al-Qur’an akan jauh lebih besar dibandingkan masalah-masalah lain. Demikian juga penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang permasalahan (al-Imamah) tersebut akan lebih diutamakan dibandingkan permasalahan-permasalahan lainnya. Sementara itu, al-Qur’an dipenuhi dengan penyebutan (dalil-dalil) tentang tauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tanda-tanda kebesaran-Nya, tentang (iman) kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir. Dan tentang kisah-kisah (umat terdahulu), tentang perintah dan larangan, hukum-hukum had dan warisan. Sangat berbeda sekali dengan permasalahan al-Imamah. Bagaimana mungkin al-Qur’an akan dipenuhi dengan selain permasalahan-permasalahan yang penting dan mulia?” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 1/16) Setelah kita membaca penjelasan ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, lalu coba kita bandingkan dengan ucapan al-Maududi, yang menyatakan bahwa: Permasalahan al-Imamah adalah inti permasalahan dalam kehidupan kemanusiaan dan merupakan pokok dasar dan paling mendasar. Puncak tujuan agama yang paling hakiki adalah penegakan struktur al- Imamah (kepemerintahan) yang salihah dan rasyidah. (Permasalahan al-Imamah) adalah tujuan utama tugas para nabi.

Menanggapi hal itu, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya permasalahan yang terpenting adalah permasalahan yang dibawa oleh seluruh para nabi–alaihimush shalatu was salaamyaitu permasalahan tauhid dan iman, sebagaimana telah Allah simpulkan dalam firman-Nya,

 وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (dengan tugas menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah (saja) dan jauhilah oleh kalian thagut.” (an-Nahl: 36)

 وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

 “Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul-pun kecuali pasti kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian semuanya (hanya) kepada-Ku.” (al- Anbiya’: 25)

 وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

 “Sungguh telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) yang sebelummu (bahwa) jika engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu dan niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Inilah permasalahan yang terpenting yang karenanya terjadi permusuhan antara para nabi dengan umat mereka, dan karenanya ditenggelamkan pihakpihak yang telah ditenggelamkan…

Sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada Allah (tauhid), serta pemurnian agama hanya untuk-Nya… Sebagaimana firman Allah,

 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ “

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

 الٓرۚ كِتَٰبٌ أُحۡكِمَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتۡ مِن لَّدُنۡ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ١ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۚ إِنَّنِي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ “

Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.” (Hud: 1-2) Demikian tulisan ini kami sajikan sebagai bentuk nasihat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh

[1] Ucapan ini dinyatakan di Universitas Khurthum, seperti dinukil oleh Ahmad bin Malik dalam ash-Sharimul Maslul fi Raddi ‘ala At-Turabi Syaatimir Rasul, hlm. 12.
[2] Tiga tokoh terakhir ini yang banyak berpengaruh dan sangat dikagumi oleh seorang teroris muda berasal dari Indonesia, bernama Imam Samudra.

http://luqmanbaabduh.com/cara-batil-penegakan-daulah-islamiyah/