KLARIFIKASI SEBELUM MENYIKAPI DAN MENYEBAR INFORMASI

KLARIFIKASI SEBELUM MENYIKAPI DAN MENYEBAR INFORMASI


وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا

dan jika datang suatu perkara berisi (informasi) keamanan (yang menyenangkan) atau hal yang menakutkan, mereka segera menyebarkannya. Padahal, kalau seandainya mereka mengembalikan urusan itu kepada Rasul dan Waliyyul Amr di antara mereka, niscaya akan diketahui hakikat kebenarannya oleh orang yang menggali informasi langsung dari mereka (Rasul dan Waliyyul Amr). Kalaulah tidak karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian, niscaya kalian akan mengikuti Syaithan kecuali sebagian kecil saja (Q.S anNisaa’ ayat 83)

*KISAH YANG MELATARBELAKANGI TURUNNYA AYAT*

Pernah beredar isu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menceraikan para istri beliau. Isu ini berkembang saat Nabi melakukan ilaa’ (bersumpah untuk tidak berhubungan dengan para istri beliau selama sebulan). Nabi selama sebulan tidak memasuki rumah istri mana pun. Beliau menyendiri di ruangan khusus. Ruangan yang penuh kesederhanaan.

Sebagian kaum muslimin sudah meyakini bahwa Nabi telah benar-benar menceraikan para istri beliau. Hal itu terasa sangat menyedihkan bagi mereka. Sesuatu yang terasa berat dirasakan Nabi, turut pula memukul perasaan para Sahabat. Bagi mereka, perasaan sedih yang dirasakan Nabi, lebih dahsyat pengaruhnya dibandingkan berita serangan musuh Ghossan dari Syam.

Padahal, sebenarnya itu sekedar isu. Nabi tidak menceraikan para istrinya. Beliau melakukan ilaa’ sekedar untuk memberi pelajaran kepada para istri, ibunda kaum beriman.

Tetangga Umar bin al-Khoththob yang pertama kali mengetuk pintu rumah Umar. Seorang Sahabat Anshar ini memang selalu bergantian dengan Umar mendatangi majelis Nabi. Jika di suatu hari dia bekerja mencari penghidupan bagi keluarganya, Umarlah yang mendatangi majelis Nabi mendulang ilmu atau perintah-perintah maupun kebijakan penting dari Nabi. Besoknya, giliran Sahabat Anshar ini yang mendatangi majelis Nabi sedangkan Umar bekerja. Bagi yang bisa hadir di majelis Nabi, menyampaikan kepada tetangganya yang tidak bisa hadir. Demikianlah harmoni yang indah tanpa mengabaikan kewajiban pada keluarga dan juga kewajiban menuntut ilmu.

Suatu hari, pintu rumah Umar diketuknya dengan keras, hingga Umar pun bergegas keluar dengan pakaian seadanya. Seorang Sahabat Anshar tetangga Umar ini kemudian berkata: “Telah terjadi peristiwa besar”! Umar bertanya: Apakah pasukan Ghossan datang menyerang? Sahabat Anshar itu berkata: Ini lebih gawat lagi. Nabi shollallahu alaihi wasallam telah menceraikan para istri beliau!

Pasukan Ghossan adalah kaum kafir perwakilan Romawi yang ada di Syam yang berpotensi menyerang kaum muslimin di Madinah. Dalam beberapa hari sebelum itu beredar kabar rencana penyerangan pasukan Ghossan tersebut. Namun ternyata, bagi sebagian Sahabat Nabi, kabar bahwa Nabi menceraikan para istrinya itu lebih dahsyat dibandingkan jika pasukan Ghossan benar-benar menyerang Madinah.

Umar bin al-Khotthob radhiyallahu anhu kemudian bertekad untuk memastikan kebenaran informasi itu. Beliau menempuh cara-cara yang sesuai dengan adab yang baik dan tepat.

Di masjid, Umar melihat banyak wajah-wajah bersedih. Para Sahabat memukul-mukulkan kerikil ke tanah, dalam suasana muram.

Umar mendatangi anaknya yang juga merupakan istri Nabi, yaitu Hafshah radhiyallahu anha. Beliau menasihatinya dengan nasihat yang keras dan berpengaruh. Umar juga bertanya kepada anaknya,”Apakah Nabi menceraikan engkau”? Hafshah menyatakan, “Aku tidak tahu”. Hafshah menjawab demikian sambil berurai air mata.

Umar pun bergegas ingin menemui Nabi. Beliau mengetahui bahwa Nabi berada di suatu ruangan khusus dekat tempat penyimpanan makanan beliau untuk keluarganya. Di luar terlihat ada hamba sahaya Nabi yang bernama Robah sedang berjaga. Umar mengetahui bahwa Nabi berada di tempat yang posisinya di atas.

Umar pun berkata kepada Robah, “Mintakan izin aku untuk bertemu dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam”. Robah hanya memandang ke arah Umar kemudian melihat ke arah Nabi tanpa berucap apa pun. Kembali Umar berkata kepada Robah agar meminta izin untuk menemui Nabi, tapi Robah tidak berucap apa pun.

Pada kali ketiga, Umar kemudian berteriak keras, “Wahai Robah, mintakanlah izin aku untuk bertemu dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku menyangka beliau mengetahui bahwa maksud kedatanganku adalah terkait Hafshah. Demi Allah, jika Nabi memerintahkan kepadaku untuk memenggal leher Hafshah, niscaya aku akan melakukannya!!”. Umar bersiasat berteriak dengan keras demikian agar terdengar Nabi. Nabi pun mendengar teriakan Umar itu. Beliau memberikan isyarat agar Umar dipersilakan masuk ruangan dan naik ke tempat yang di atas.

Tempat itu sangat sederhana. Bukan tangga seperti sekarang yang kita kenal untuk mencapai bagian atasnya. Tapi sekedar pelepah kurma.
Nabi sedang berbaring di atas tikar kasar. Saking kasarnya tikar itu sampai menimbulkan guratan di kulit Nabi yang mulia. Umar pun memandang ke arah tempat penyimpanan makanan. Ternyata yang ada hanya sekadar ukuran 1 sho’ gandum, sekitar 4 kali cidukan 2 telapak tangan manusia normal.

Melihat demikian sederhananya kehidupan Nabi, Umar bin al-Khoththob menangis. Nabi bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Umar?”. Umar menyatakan, “Bagaimana aku tidak menangis melihat keadaan anda, wahai Rasulullah? Tikar yang menjadi alas anda sedemikian kasar hingga mengguratkan bekas di kulit anda. Aku juga melihat persediaan makan yang ada di ruangan ini seperti yang kulihat (hanya sedikit sekali). Padahal anda adalah manusia pilihan yang dicintai Allah. Sebaliknya, para penguasa Romawi dan Persia mereka bermegah-megahan dengan berlimpah harta dunia, sedangkan mereka kaum yang tidak menyembah Allah. Nabi bersabda: “Tidakkah engkau rela wahai putra al-Khoththob, jika kita mendapatkan (kenikmatan) akhirat, sedangkan bagi mereka (kenikmatan) dunia?”. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang disegerakan balasan kebaikannya (hanya untuk) kehidupan dunia”.

Umar menceritakan suasana saat itu. Pada awalnya pada wajah Nabi shollallahu alaihi wasallam terlihat kemarahan. Namun, secara berangsur-angsur kemarahan itu mereda, berubah menjadi keceriaan. Beliau beberapa kali tersenyum dalam perbincangan yang hangat dengan Umar.

Umar berkata kepada Nabi, “Apakah memberatkan anda keadaan para istri anda? Sebenarnya, jika anda menceraikan mereka, sesungguhnya Allah akan bersama anda. Demikian juga para Malaikat: Jibril dan Mikail, aku, Abu Bakr, dan kaum beriman akan bersama anda”.

Subhanallah, ternyata ucapan Umar ini dibenarkan oleh Allah Ta’ala. Allah menurunkan firman-Nya surat atTahrim ayat 3:

...وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ

...dan jika kalian berdua bersekongkol untuk menyakiti Nabi, sesungguhnya Allah adalah pelindungnya. Demikian juga Jibril, orang-orang sholih, dan para Malaikat (lainnya) akan menolongnya (Q.S atTahrim ayat 3)

Kemudian Umar bertanya tentang isu yang berkembang, apakah Nabi telah menceraikan para istri beliau. Nabi menjawab: “Tidak”. Mendengar jawaban itu, Umar bertakbir sebagai ungkapan syukur. Kemudian Umar menyampaikan kepada Nabi bahwa saat tadi ia melihat di masjid banyak wajah murung karena merasa sangat sedih dan menganggap Nabi telah menceraikan para istri beliau. 
“Apakah aku boleh mengkhabarkan berita ini kepada manusia”, tanya Umar. Nabi pun mempersilakan. Umar pun bergegas turun menuju masjid. Sampai di pintu masjid Umar berteriak keras: “Nabi tidaklah menceraikan para istrinya”.

Turunlah firman Allah dalam ayat yang menjadi pembahasan kita kali ini, surat anNisaa’ ayat 83, yang memberikan bimbingan bagi kaum beriman dalam menerima informasi, tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu berkata: Aku termasuk orang yang beristinbath (menggali informasi langsung dari sumbernya/ pihak yang berwenang) seperti yang disebutkan dalam ayat itu.

Kisah perjuangan Umar dalam menggali informasi yang benar bahwa Nabi tidak menceraikan istri beliau tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Khusus hadits yang menyebutkan bahwa kisah itu melatarbelakangi turunnya surat anNisaa’ ayat 83, terdapat dalam Shahih Muslim Kitabut Tholaq.

Adab Islamiy yang Terkandung dalam Ayat

Sungguh ajaran Islam benar-benar selalu relevan untuk berbagai zaman. Baik di masa dulu, sekarang, atau pun di masa yang akan datang. Allah mengajarkan kepada kaum beriman untuk bersikap bijak dan selektif dalam menerima informasi.

Jangan gegabah dalam menerima informasi. Pastikan dulu kebenarannya. Jangan sampai kita menyebarkan berita yang tidak benar, menyebabkan sesal kemudian.
Kalau dulu, informasi yang berkembang adalah seputar kemenangan pasukan kaum muslimin dalam pertempuran, atau hal-hal yang menakutkan semisal rencana serangan musuh atau kekalahan pasukan. Segelintir kaum muslimin ada yang tergesa-gesa. Sedikit mendengar info, segera menyebarkan. Padahal seharusnya informasi semacam itu harus diklarifikasi dulu oleh pihak berwenang, kemudian diputuskan, apakah layak disebar atau tidak. Perlu dipertimbangkan, maslahat dan mudharatnya.

Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu menjadi teladan indah dalam kondisi semacam ini. Beberapa sikap dan teladan Umar dalam kisah yang telah dikemukakan di atas, di antaranya:

Pertama: Tidak langsung mempercayai informasi yang beredar, sebelum memastikan kebenarannya. Sejak mendengar info dari tetangganya, Umar tidak langsung mempercayainya.

Kedua: Mendatangi pihak-pihak yang terlibat langsung atau berwenang. Umar mendatangi anaknya untuk memberikan nasihat sekaligus bertanya apakah benar Nabi menceraikannya. Hafshah menjawab tidak tahu. Kemudian Umar bergegas menuju tempat Nabi shollallahu alaihi wasallam.

Ketiga: Menjaga adab dalam mengklarifikasi berita tersebut. Umar memohon izin untuk menemui Nabi.  Setelah bertemu dengan Nabi, Umar tidak langsung bertanya. Beliau menceritakan hal-hal yang membuat Nabi senang, bahkan memberikan dukungan apa pun kebijakan Nabi.

Keempat: Tidak menyebarkan informasi yang benar itu hingga mendapat izin dari pihak yang berwenang. Umar tidak langsung menyebarkan informasi kecuali setelah mendapat izin dari Nabi shollallahu alaihi wasallam.


Kerusakan yang Ditimbulkan Akibat Menyebar Berita Palsu (Hoax)

Di zaman kita ini, urgensi sikap bijak dalam menerima berita itu semakin besar. Karena informasi demikian mudah tersebar secara masif dalam waktu singkat. Semua pihak dengan berbagai latar belakang bisa menulis. Berbagai media bisa digunakan, baik situs web, blog, ataupun facebook, instagram, whatsapp, dan sebagainya. Topik pembahasannya juga semakin berkembang, sesuai perkembangan zaman.

Perkembangan teknologi pengolahan citra digital juga sering dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk menebar mudharat.  Foto dan video diedit dan diolah sedemikian rupa sehingga seakan-akan membuktikan bahwa berita itu benar. Padahal itu sekedar potongan foto yang dipasangkan dengan potongan foto lain, dan diberi keterangan (caption) yang meyakinkan.

Di masa kita saat ini kesalahan dalam menyebar berita, seperti info hoax, akan menimbulkan pengaruh kerusakan yang lebih besar. Kalau di masa Nabi, kekeliruan info bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya, sekedar akan menimbulkan pengaruh sedih bagi kaum muslimin. Namun, di masa kita ini berita hoax yang viral, bisa menyebabkan hilangnya nyawa, rusak dan hancurnya harta benda.

Sebagai contoh, kejadian miris yang terjadi pada Maret 2017 lalu di desa Amawang kecamatan Sadaniang Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat. Seorang kakek berusia 53 tahun yang ingin mengunjungi cucunya, harus meregang nyawa. Gara-gara isu penculikan anak yang akan diambil organ tubuhnya. Saat sang kakek bingung mencari rumah anak perempuannya, orang-orang curiga. Meluasnya isu penculikan anak yang hoax (palsu) semakin menguatkan kecurigaan itu. Tanpa banyak tanya, warga mengeroyok kakek malang itu hingga tewas. Padahal sebenarnya berita penculikan itu tidaklah benar. Namun, semuanya sudah terlambat. Orang tak bersalah menjadi korban dari sikap membabi buta tanpa klarifikasi kebenaran berita.

Di kecamatan Kandanghaur Indramayu Jawa Barat, pernah terjadi perbuatan anarkis massa dari 3 desa menghancurkan puluhan rumah di desa Curug. Hal itu dilatarbelakangi informasi yang beredar di facebook tentang kematian seorang pemuda yang dikabarkan meninggal karena dikeroyok oleh warga desa Curug. Padahal sebenarnya, menurut Kapolres Indramayu, pemuda itu meninggal karena kecelakaan tunggal saat berada di desa Curug.

Kalaupun tidak menimbulkan kerugian materiil, tidak sedikit pihak dirugikan oleh tersebarnya berita hoax. Bisa jadi seseorang difitnah dan dituduh melakukan suatu perbuatan, padahal sama sekali tidak dilakukannya. Sungguh besar dosa orang yang memfitnah orang beriman dengan tuduhan melakukan suatu perbuatan buruk padahal hal itu tidak pernah dikerjakannya.

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

dan orang-orang yang menyakiti kaum beriman laki-laki dan wanita padahal tidak ada kesalahan mereka perbuat, maka orang tersebut telah mengada-adakan kedustaan dan mendapat dosa yang jelas (Q.S al-Ahzab ayat 58)

Semoga Allah Ta’ala melindungi dan memperbaiki keadaan kaum muslimin....

(Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله)

<< artikel pernah dimuat di majalah Qonitah edisi 33, rubrik Tadabbur Quran >>

*Ayo Join dan Share*:

Faedah:
t.me/Riyadhus_Salafiyyin

Poster dan Video:
instagram.com/galerifaedah
mobile.twitter.com/galerifaedah
t.me/galerifaedah

Kunjungi:
www.riyadhussalafiyyin.com

Dauroh Islam Ilmiyah januari 2019

Dauroh Sampit 1440H

Hadirilah !

Dengan mengharap Ridho Allah 'Azza wa Jalla
Kajian Islam Ilmiyah
Ahlussunnah Wal Jama'ah di Kota Sampit

In syaa Allah bersama,
Al-Ustadz Abdurrahman Lombok Hafidzhahullah
(Pengasuh Ponpes Imam Syafi'i, Desa Pungka Sumbawa Besar)
(Gratis  untuk umum, Muslim dan Muslimah)
dengan tema:
"Waspada perusak hati"
    Hari / Tanggal : Sabtu 20 Jumadal Ula 1440 H / 26 Januari 2019
    Waktu : - Sesi 1 
                    Pukul 08.30 - 09.30 WIB
                 - Sesi 2
                   Pukul 10.00 - 11.30 WIB
                 - Sesi 3
                   Pukul 16.00 - 17.00 WIB
                 - Sesi 4
                   Ba'da Magrib - Selesai
    Tempat : Gedung Tahfizul Qur'an An-Najiyah, Jl. Arjuno, No.36 Sampit 


"Menjaga Hidayah Dimasa Penuh Fitnah"
    Hari / Tanggal : Ahad 21 Jumadal Ula 1440 H / 27 Januari 2019
    Waktu : - Sesi 1
                    Ba'da ashar - 17.00 WIB
                 - Sesi 2
                   Ba'da Magrib - Selesai
    Tempat : Masjid An-Najiyah, Jl. Bumi Raya 1, Gg. Bumi Palapa Sampit - Kalteng

"Tausiyah Umum"
    Hari / Tanggal : Ahad 21 Jumadal Ula 1440 H / 27 Januari 2019
    Peresmian masjid An-Najiyah
    Waktu : 08.30 - Selesai
    Tempat : Masjid An-Najiyah, Jl. Bumi Raya 1, Gg. Bumi Palapa Sampit - Kalteng
"Live Streaming di www.forumsalafiyyinsampit.com"
Penyelenggara :
Majelis Ta'lim Ibnu Abbas Sampit
Informasi : 0852 4958 0693

Didukung Oleh :

Radio Rasyid
Radio RII








Jangan lupa ajak istri, keluarga, kerabat dan rekan anda..
"Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR.Muslim no.2699) 

PROBLEMATIKA UMAT

https://problematikaumat.com/khomaeni-dalang-teror-dunia/

KEBODOHAN LAHAN SUBUR TERORISME

Kebodohan dalam hal agama, yaitu tak (memahami) memahami  Islam dengan baik dan benar, akan menggiring ke lembah bencana. Betapa tidak,? kebodohan yang ada pada seseorang akan menyeretnya berperilaku dan bersikap menyalahi agama Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam la bisa menjadi penentang al-haq, meremehkan kebenaran.

           "Jika demikian adanya, inilah sumbu bagi tersulutnya kebinasaan. Allah ta'ala mengingatkan hal ini,

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang
pedih." (an-Nur: 63)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
"Dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa pun yang menentang/menyelisihi perintahku." (HR. Ahmad
2/50, 92)

     "Mengapa menyelisihi perintah Rasul shalallahu alaihi wasallam ? Sebab, ia tidak berilmu tentang perintah dan bimbingan beliau shalallahu alaihi wasallam.
         
           "Kebodohan yang melekat di masyarakat Islam bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya terorisme. Kekurangpahaman sebagian kaum muslimin terhadap ajaran lslam yang sebenarnya bakal menjadi celah menyusupnya paham-paham sempalan.

          "Di antara sebab terseretnya manusia dalam pusaran paham sempalan adalah kebodohan dalam memaknai ayat atau
hadits. Penafsiran terhadap satu ayat atau hadits tidak didasarkan pada kaidah baku sebagaimana dituntunkan oleh para ulama salaf, yaitu para sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini, dan para ulama yang mengikuti jejak mereka.

           "Di sisi lain, masyarakat muslim terlalu jauh dari bimbingan ilmu Islam sehingga tidak mampu memilah mana
ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah.

 "Lengkaplah sudah dua sisi kebodohan. Dari satu sisi, pendakwah tidak tahu penafsiran yang benar tentang ayat atau
hadits. Di sisi lain, yang menerima dakwah juga tak memiliki bekal untuk menyaring ajaran-ajaran yang tidak benar.

         "Radikalisme dan Terorisme Muncul karena Kebodohan terhadap Ajaran Islam


        "Betapa banyak anak muda yang masih polos dijejali paham ekstre dan radikal. Dengan kehampaan ilmu agama yang ada pada mereka, dipiculah semangat berperang. Doktrin ekstrem dengan kemasan jihad disuntik kepada mereka. Akhirnya, daya tempur melibaas musuh meluap-luap. Sapa yang tak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai musuh atau kaki tangan kaum kafir. sikap ekstrem ini berujung pada pengkafiran serta tindakan teror.

Demikianlah sifat dasar yang melekat pada kelompok-kelompok radikal-teroris. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan tentang kelompok teroris Khawarij.

   “Pada akhir zaman akan keluar satu kaum yang muda belia usianya dan pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan manusia terbaik. Mereka rajin membaca al-Qur'an, tetapa tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari tubuh buruannya’ (HR. al-Bukhari no. 3611 dan Muslim no. 1 066)

"Mereka rajin membaca al-Qur'an. tetapi tidak bisa memahami dengan benar ayat-ayat yang mereka baca. akibatnya apa yang mereka baca tak bisa menembus hati sehingga tidak bisa memahami dengan baik dan benar apa yang mereka baca. apalagi mengamalkannya. Secara bertahap mereka tergiring untuk keluar dari ketentuan-ketentuan Islam yang indah. Mereka terjatuh pada penyimpangan dalam keadaan merasa yakin di atas kebenaran. yakin kalau sedang memperjuangkan Islam.

Kondisi mereka tak ubahnya seperti yang disebutkan dalam firman Allah ta'ala yang artinya ,


Katakanlah. “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka Itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 103-105)

Seorang pakar tafsir terkemuka, Ibnu Katsir Rahimahullah (wafat tahun 774 H), menyebutkan pendapat Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahuanha dari adh-Dhahhak Rahimahullah bahwa ayat ini berlaku untuk kaum Khawarij. Kemudian beliau menggarisbawahi bahwa ayat di atas bersifat lebih umum, yaitu mencakup Yahudi, Nasrani, kaum Khawarij, dan semua pihak yang beribadah kepada Allah ta'ala dengan cara yang salah, sementara dia meyakini berada di atas kebenaran dan amalannya diterima. Padahal dia dalam kondisi salah dan amalannya tertolak. (Tafsir Ibnu Katsir)

Beberapa Contoh Kebodohan Teroris

Contoh pertama, salah satu doktrin yang melekat pada kaum radikal adalah kritik terhadap kesalahan-kesalahan pemerintah yang dilakukan melalui media terbuka, demonstrasi, mimbar orasi, khotbah, agitasi politik, tabligh akbar, dan semisalnya.

Sejatinya, cara-cara tersebut merupakan provokasi yang menyulut emosi dan amarah rakyat terhadap pemerintahnya. Namun, kaum radikal teroris meyakini cara tersebut adalah bentuk jihad yang paling utama. Mereka merasa sedang mengamalkan hadits,

“Jihad yang paling utama adalah nasihat yang adil di hadapan penguasa yang jahat." (HR. Abu Dawud no. 4344, at-Tirmidzi no. 2174, dan Ibnu Majah no. 4011)

Para ulama Salafi menjelaskan bahwa makna hadits di atas adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim dengan berbicara langsung di hadapannya atau melalui surat tertutup yang disampaikan langsung kepadanya. Jadi, maknanya bukan disampaikan di hadapan umum atau secara terbuka di media atau mimbar bebas. Nasihat tersebut disampaikan secara tertutup, berdasarkan ilmu, penuh hikmah, dan santun.

Yang memperjelas prinsip penting ini adalah hadits,

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa dalam suatu urusan, janganlah ia sampaikan secara terbuka. Namun, hendaknya dia pegang tangannya (ditemui langsung) dan menyendiri dengannya. Jika penguasa tersebut mau menerima nasihat darinya, itulah yang diharapkan. Jika tidak mau, dengan itu sang penasihat telah menunaikan kewajibannya. ” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1097)

Perhatikan kesalahan fatal kaum teroris ini. Mereka jatuh dalam kesalahan karena salah memahami dan salah menerapkan hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam Sebab utama kesalahan besar ini adalah kebodohan. Akibatnya, kelompok teroris sering memprovokasi rakyat untuk membenci pemerintahnya. Selanjutnya, banyak pihak mulai berani merongrong kewibawaan pemerintah.

Contoh kedua. dengan sangat mudah kaum teroris menjatuhkan vonis kafir kepada pemerintah muslim. Mengapa? Karena mereka salah memahami ayat,

“Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan. mereka adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

Kelanpok teroris Khawarij memvonis pemerintah muslim telah kafir karena menilai bahwa pemerintah tidak lagi berhukum dengan hukum Allah. Padahal orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tidak bisa serta-merta difonis kafir. Ada banyak perincian yang harus dipahami terkait tafsir ayat tersebut. (Lihat pembahasan makna yang benar tentang makna ayat ini pada hlm. 62)

Akan tetapi. demikianlah keadaannya. Kaum teroris Khawarij bahkan telah menerapkan ayat tersebut kepada salah satu pemerintahan terbaik, yaitu pemerintahan Amirul Mukminin 'Ali bin Abu Thalib Radhiyallahuanha . Jika salah satu pemerintah terbaik telah divonis kafir oleh kaum teroris Khawarij berdasarkan ayat tersebut. lantas bagaimana halnya dengan pemerintah sekarang?!

Karena pemerintah telah dinyatakan kafir. segala perlawanan terhadap pemerintah tersebut adalah sah menurut kaum teroris. Bahkan, mereka meyakininya sebagai jihad Dengan demikian-masih menurut mereka- berbagai aksi teror. baik berupa bom bunuh diri. peledakan. pembunuhan terhadap aparat pemerintah. dll.. adalah perbuatan yang legal. Akibatnya. muncul kekacauan dalam masyarakat, stabilitas pertahanan dan keamanan negara pun terganggu lagi, kaum teroris Khawarij itu juga tak mengerti hukum-hukum jihad. Di antaranya, mereka tidak paham bahwa jihad dalam lslam tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok dengan cara sporadis. Jihad harus dilakukan bersama pemerintah kaum muslimin dan dalam komando mereka.

Jihad adalah amalan mulia dalam Islam. Hanya saja, untuk melaksanakannya tidak cukup semata berbekal semangat membela Islam, namun harus berbekal ilmu dan kesiapan iman. (Lihat pembahasan tentang jihad yang benar pada hlm. 7 16)

Selanjutnya, kaum teroris mengklaim aksi-aksi terornya sebagai jihad. Padahal tindakan mereka sangat jauh dari gambaran dan aturan jihad Islam yang benar. Mereka juga serampangan membunuh ketika melaksanakan “jihad”nya (baca: aksi teror).

Contoh keempat, kaum teroris juga bodoh dan tidak mengerti bahwa tidak semua orang kafir itu boleh dibunuh. Dalam aturan syariat Islam ada klasifikasi orang-orang kafir dan ketentuan kapan orang kafir boleh diperangi. (lihat pembahasan pada artikel “Meluruskan Kesalahan Jihad Versi Kaum Teroris”)

Islam adalah agama rahmatan lil “alamin. Bahkan, syariat jihad itu sendiri merupakan salah satu bukti nyata misi rahmatan lil “alamin tersebut. Namun, keindahan syariat jihad menjadi tercemar dan terkesan buruk karena tindakan kelompok-kelompok radikal-teroris.

Itulah kebodohan mereka. Sesungguhnya akal mereka itu dangkal. Tidak bisa memahami ayat atau hadits dengan pemahaman yang benar.

Karena itu, teramat penting untuk membenahi pemahaman kaum muslimin dengan memberikan ilmu agama yang benar sesuai dengan tuntunan para ulama salaf (para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam dan yang mengikuti mereka).

Mengapa ayat dan hadits harus dipahami sesuai dengan penmahaman para ulama salaf? Karena!

1. Al-Qur'an dan hadits datang dengan bahasa mereka (para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam) Sudah tentu mereka lebih memahami maksud-maksud keduanya.

2. Mereka adalah para murid Nabi shalallahu alaihi wasallam yang belajar makna dan tafsir al-Qur'an secara langsung kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.

3. Mereka adalah generasi terbaik dalam hal cara beriman, cara berakidah, akhlak dan ibadah, serta dakwah dan perjuangannya.

Oleh sebab itu Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan.

“Generasi terbaik adalah generasi ku (yaitu generasi para sahabat beliau shalallahu alaihi wasallam), kemudian generasi yang datang berikutnya (generasi tabi'in), kemudian yang datang berikutnya (generasi tabi'ut tabi'in). " (HR. al-Bukhari)

4. Prinsip-prinsip beragama dan cara mereka memahami al-Quran dan hadits telah dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran untuk generasi sesudah mereka.

Inilah yang dikatakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam ketika menjawab satu-satunya kelompok yang selamat dari ancaman neraka diantara 73 kelompok yang berpecah belah,

“Mereka adalah orang-orang yang (prinsip-prinsipnya) berada di atas prinsip-prinsipku dan para sahabatku pada hari ini.”

Maka dari itu, sudah semestinya bagi siapa yang menginginkan akidah yang lurus dan cara memahami al-Qur'an yang benar untuk mengikuti jejak generasi terbaik tersebut dan tidak mendatangkan tafsir-tafsir baru yang dibuat-buat oleh generasi sesudahnya. Wallahu a'Iam.


  • Majalah Asy-Syari'ah Edisi KHUSUS/O2/1439 H/2017 M halaman 3-6

AKHIR PERJALANAN ORANG YANG BERTAKWA

Orang yang bertakwa adalah gambaran sejati dari sosok pendamba surga. Ketika berada di dunia, ia selalu beramal shalih untuk menggapai tujuannya tersebut. Perbuatan-perbuatan dosa pun senantiasa dijauhi karena takut akan menyeretnya terjatuh ke dalam neraka. Segala kesulitan, musibah dan bencana ia hadapi dengan penuh rasa sabar. Maka ketika di akhirat, Allah pun membimbingnya untuk dapat meraih apa yang selama ini ia harapkan dan Allah menyelamatkannya dari apa yang selama ini ia takutkan. Ketika banyak dari umat manusia berjatuhan dari atas sirath, Allah shubhanahu wata'ala menolong mereka untuk dapat terhindar dari adzab neraka dan Allah membawa mereka semakin dekat menuju surga.

Qantharah Jembatan Menuju Surga

  "Di antara perkara yang akan didapati oleh kaum mukminin setelah melewati sirath adalah adanya qantharah. Secara bahasa, kata qantharah bermakna jembatan berbentuk melengkung yang melewati sungai. Di atas qantharah tersebut akan terjadi qishash (pembalasan) antar sesama kaum mukminin sebelum dimasukkan ke dalam surga.
Rasulullah bersabda (artinya),

 "Kaum mukminin selamat dari neraka (berhasil melewati sirath), maka mereka ditahan di atas jembatan antara surga dan neraka. Kemudian diadakan pembalasan bagi sebagian mereka kepada sebagian lainnya atas kezhaliman-kezhaliman terjadi di antara mereka ketika di dunia, sampai apabila mereka telah bersih (dari kezhaliman tersebut) mereka dizinkan untuk masuk ke dalam surga ".
(HR. al-Bukhari no. 2440 dari shahabat Abu Sa'id al-Khudri )

 "Sebagian ulama menyatakan bahwa qantharah adalah bagian ujung dari sirath yang membentang di atas neraka. Sedangkan sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa qantharah adalah
jembatan yang berbeda, hanya saja jembatan ini dikhususkan bagi kaum mukminin dan tidak ada yang akan terjatuh darinya ke dalam neraka.

Bagaimana Terjadinya Qishash?

Allah akan mengambil pahala dari orang yng berbuat zhalim lalu diberikan kepada orang yang dizhalim. Rasulullah bersabda (artinya),

"Barangsiapa yang memiliki kezhalinan kepada saudaranyam maka Satu hendaknya ia meminta maaf atasnya, karena nanti tidak akan ada dinar ataupun dirham. (Minta maaflah) sebelum diambil pahala-pahala kebaikan untuk saudaranya yang dizhalimi). Apabila dia sudah tidak memiliki kebaikan maka akan diambilkan dosa dari saudararya (yang dizhalimí kemudian dibebankan kepadanya."
(HR. al-Bukhari no. 6534 dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanha)

"Namun qishash di atas qantharah tersebut dilakukan bagi kaum mukminin yang Allah telahmengetahuibahwa amal kebaikan mereka tidak akan habis apabila telah diambil untuk membalas kezhaliman mereka, sebagaimana penukilan al-Hafizh Ibnu Hajar dari al-Imam al-Qurthuby . Dengan kata lain, mereka adalah kaum mukminin yang kebaikannya lebih banyak dibandingkan dosa dan kezhaliman yang mereka lakukan.

 "Al-Hafizh lbnu Hajar asy-Syafi'i Rahimahullah berkata, "Dan bisa jadi ashabul a'raf (orang-orang yang kebaikannya Sama banyak dengan dosa dan kezhalimannya) termasuk di antara mereka (yang mengalami qishash)."

Adapun kaum mukminin yang dosa dan kezhalimannya lebih banyak daripada kebaikannya maka mereka tidak akan sampai keqantharah. Mereka telah terjatuh ketika meniti sirath dan terjerumus kedalam neraka, walaupun pada akhirnya mereka akan keluar insyaaAllah dengan adanya syafa'at para maikat, para nabi, serta orang-orang shalih dan juga karena rahmat Allah ta'ala kepada mereka.

"Demikian pula orang-orang yang telah dijamin masuk ke dalam surga tanpa hisap dan tanpa adzab. mereka juga tidak akan
mengalami qishash diatas qantharah. (lihat Fathul Bari 11/485).

"Qishash di atas qantharah ini menunjukkan betapa sempurnanya keadilan Allah ta'ala di mana seorang mukmin yang sudah ditetapkan bahwa ia berhak masuk ke dalam surga sekalipun masih harus "membayar" atas kezhaliman yang telah dilakukanya. Qishash ini adalah qishash kedua.

 "Adapun qishash pertama maka telah berlalu dalam pembahasan mengenai keadaan manusia di padang mahsyar Qishash di atas qantharah tidak seperti qishash di padang mahsyar yang dapat menjadi penentu apakah seseorang diadzab di neraka ataukah tidak. Namun qishash yang kedua ini lebih burtujuan untuk menghilangkan rasa amarah, dengki dan dendam yang ada di dalam hati-hati manusia disebabkan adanya kezhaliman yang terjadi di antara mereka selama di dunia, yang pada akhirnya orang yang diqishash akan tetap masuk ke dalam surga tanpa diadzab. Maka qishash ini merupakan proses pensucian terhada hati manusia sebelum mereka dimasukkan ke dalam surga. Allah berfirma (artinya), "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka. sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan- dipan."(al-Hljir 47, lihat Syarah al-Aqidah al-Washittyyah karya asy-Syaikh al Utsaimin 2/163-164)

"Setelah dilakukan qishash, maka Allah ta'ala akan membawa mereka semakin dekat menuju surga.

"Surga Memiliki Delapan Pintu"

 "Surga yang di dalamnya terdapat
berbagai kenikmatan, telah Allah  ciptakan delapan pintu untuk masuk kedalamnya. Masing-masing pintu tersebut akan dimasuki oleh orang-orang yang berhak memasukinya sesuai dengan jenis amal shalih yang telah dilakukannya ketika
di dunia.

Rasulullah bersabda (artinya),
"Surga memiliki delapan pintu, salah satu pintu tersebut dinamakan ar-Rayyan. Tidak akan masuk melewatinya melainkan orang-orang yang berpuasa." (HR. al-Bukhari 3084 dan Muslim 1152 dari shahabat Sahl bin Sa'ad Radhiyallahuanha)

"Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda (artinya), "Barangsiapa yang berinfak dengan dua perkara apapun di jalan Allah maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, Wahai hamba Allah, inilah kebaikan. Maka barangsiapa yang termasuk orang-orang yang banyak menegakkan shalat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan barangsiapa yang mengerjakan jihad maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, dan barangsiapa yang gemar bersedekah maka dia akan dipanggil dari pintu shadaqah, dan barangsiapa yang rajin berpuasa maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan. Maka shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, Wahai Rasulullah, tidak ada kesulitan bagi orang yang dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Maka apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu-pintu tersebut?, Rasulullah pun menjawab, Ya. Dan aku berharap engkau
termasuk di atara mereka' (HR. al-Bukhari no. 3666 dan Muslim no. 1027 dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanha).

pintu-pintu surga adalah pintu-pintu yang sangat lebar. Lebar pintu surga dapat tergambar dari sabda Rasulullah berikut (artinya), "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh jarak antara dua sisi salah satu dari pintu-pintu surga adalah seperti jarak dari Mekah ke Hajar atau Hajar ke Mekah." (HR. al-Bukhari no. 4435 dan Muslim no. 194 dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanha)

"Al-Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa Hajar adalah nama suatu kota besar yang merupakan bagian dari negeri Bahrain pada zaman tersebut (lihat Syarah Shahíh Muslim 3/69). "Suatu rentang jarak yang sangat jauh yang apabila diukur maka mencapai 1600 km lebih.

Di Hadapan Pintu Surga

"Setelah melalui perjalanan panjang dan berbagai macam peristiwa, akhirnya kaum mukminin dihadapkan kepada negeri keselamatan yang menjadi tujuan mereka yaitu surga. Mereka datang dengan berkelompok-kelompok sebagaimana dalam firman Allah ta'ala yang artinya )
"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan dibawa ke dalam surga dengan berkelompok-kelompok" (az-Zumar: 73)

"Namun ketika mereka telah sampai di depan surga, bukan berarti mereka dapat langsung memasukinya. Mereka mendapati pintu surga masih tertutup dihadapan mereka. Pintu-pintu tersebut hanya dapat terbuka dengan syafa'at dari Rasulullah Beliau akan datang lalu meminta malaikat penjaga untuk membukanya. Itulah salah satu jenis syafa'at yang dikhususkan bagi beliau. Rasulullah bersabda, :

"Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat kemudian aku meminta untuk dibukakan (pintu tersebut). Maka malaikat
penjaga bertanya, Siapa engkau?, Aku menjawab, Muhammad, dia pun berkata, Untukmu aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu bagi siapapun sebelummu." (HR. Muslim no. 197 dari shahabat Anas bin Malik Radhiyallahuanha).

"Hal ini sebagai salah satu bentuk pemuliaan Allah bagi Rasulullah pada hari kiamat. Demikian pula umat beliau , Allah liakan mereka dengan dipersilahkan untuk memasuki surga sebelum umat-umat yang lainnya. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya (artinya), "Kita adalah umat yang terakhir, (namun menjadi) umat pertama pada hari kiamat. Serta kita adalah umat yang pertama masuk ke dalam surga." (HR. Muslim no. 855 dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanha).

"Setelah terbukanya pintu surga maka ia akan tetap terbuka selama-lamanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam bnul Qoyyimketika menjelaskan firman Allah ta'ala yang artinya,:

"Surga ada yang pintu-pintunya terbuka  bagi mereka" (Shad: 50)

Lebih lanjut bnul Qayyim menjelaskan bahwa keadaan pintu, surga yang selalu terbuka menunjukkan, beberapa perkara, di antaranya:

1, Para malaikat masuk menemui mereka di setiap waktu dengan membawa hadiah dan pemberian dari Allah ta'ala. "Demikian pula perkara-perkara yang menyenangkan hati mereka didatangkan kepada mereka setiap waktu.

2. Surga adalah negeri yang aman sehingga mereka tidak butuh untuk menutup pintu di sana, seperti yang biasa merekalakukan ketika di dunia. (Hadil Arwah hal. 106).

"Semoga Allah memasukkan kita dalam surga-Nya."  Aamiin.

Penulis: Ustadz Abu Ahmad Hafizhahullah


Sumber : || Buletin Al-Ilmu Edisi 36 AKIDAH 2018M

SAHABAT NABI DI MATA SYIAH


Penulis Al-Ustadz Muhammad Rizal Lc Hafizhahullah


"Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahuwata'ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah ta'ala, Allah ta'ala pun telah meridhai mereka. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shalallahu alaihi wasallam :

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.“ ¹

Bahkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

Syiah Raifidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi 

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta'dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi....” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke 144 yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang . yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12-13, dinukil dari asy-Syi’ah alImamiyah aI-Itsna ‘Asyan‘yah fi Mizam’l Islam, hlm, 89)

2. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata,

“Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orangi al-Miqdad bin al-Aswad. Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al~ Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy'Gyi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya lhsan llahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

3. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata,

“Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah.

Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam.

Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 5 1 9, Muhammad Baqir al-Majlisi)

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar Radiyallahuanhuma dua manusia terbaik setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengkafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. l l 4) wirid laknat untuk keduanya,

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka.... ”² (al-Khuthuth al-'An’dhah, hlm. 1 8, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan Radhiyallahuan telah membunuh istri beliau sendiri Ruqayyah putri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani' Mauqif asy-Syi ’ah minal Ash -hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahuan terhadap putrinya, Ruqayyah Radhiyallahuan huma.

Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan Radhiyallahuan adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenamya mereka telah menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahuan atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran.

Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ‘Aisyah radhiyallahuan huma dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur-na’udzu billah min dzalik-. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57-60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahuan huma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah....” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 1 1, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para lbunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?"

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak bisa mendidik istri-istrinya? “Apakah Allah ta'ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk KhaliI-Nya. Muhammad bin Abdillah shalallahu alaihi wasallam

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “tidaklah Allah
[4/1 4:03 PM] 🛵🌪: Ahlus Sunnah meyakini bahwa Apara sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahuwata'ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah ta'ala, Allah ta'ala pun telah meridhai mereka. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shalallahu alaihi wasallam :

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.“ ¹

Bahkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

Syiah Raiidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta'dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi....” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke 144 yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang . yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12-13, dinukil dari asy-Syi’ah alImamiyah aI-Itsna ‘Asyan‘yah fi Mizam’l Islam, hlm, 89)

2. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata,

“Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orangi al-Miqdad bin al-Aswad. Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al~ Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy'Gyi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya lhsan llahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi'ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

3. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata,

“Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah.

Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam.

Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 5 1 9, Muhammad Baqir al-Majlisi)

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar Radiyallahuanhuma dua manusia terbaik setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengkafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. l l 4) wirid laknat untuk keduanya,

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka.... ”² (al-Khuthuth al-'An’dhah, hlm. 1 8, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan Radhiyallahuan telah membunuh istri beliau sendiri Ruqayyah putri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani' Mauqif asy-Syi ’ah minal Ash -hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahuan terhadap putrinya, Ruqayyah Radhiyallahuan huma.

Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan Radhiyallahuan adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenamya mereka telah menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahuan atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran.

Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ‘Aisyah radhiyallahuan huma dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur-na’udzu billah min dzalik-. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57-60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahuan huma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah....” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 1 1, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para lbunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?"

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak bisa mendidik istri-istrinya? “Apakah Allah ta'ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk KhaliI-Nya. Muhammad bin Abdillah shalallahu alaihi wasallam

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “tidaklah Allah menjadikan Aisyah sebagai istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kecuali karena beliau sosok wanita yang baik, karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling baik di antara manusia terbaik. Seandainya Aisyah adalah seorang yang buruk, niscaya tidak pantas menjadi pendamping Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Demikian nukilan-nukilan celaan mereka terhadap para sahabat Radhiyallahuanha. Yang sangat aneh dan sangat menjijikkan, Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, adalah pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (sang pemberani dan pembela agama).

Berikutnya, hari kematian ‘Umar mereka jadikan sebagai hari Iedul Akbar, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari berkah, dan hari bersukaria. (al-Khuthuth al-’An'dhah hlm. 18)

Demikian keji dan kotor mulut mereka. Oleh karena itu, al-lmam Malik bin Anas Rahimahullah berkata,

“Mereka adalah sekelompok orang yang berambisi untuk menghabisi Nabi shalallahu alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya, agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh juga.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

Khatimah

Demikian beberapa kesesatan Syiah Rafidhah. Semua yang telah kita sebutkan adalah pokok-pokok agama yang mereka selisihi. Masih banyak kesesatan mereka yang lain, di antaranya:

• keyakinan tentang imamah,

• kebencian yang sangat besar terhadap para ulama ahlu hadits, seperti al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim,

• pengkafiran seluruh kaum muslimin (Ahlus Sunnah),

• pengagungan terhadap Tanah Karbala (yang mereka yakini sebagai tempat terbunuhnya sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahuanhuma melebihi Tanah Suci Makkah dan Madinah,

• pengagungan terhadap makam yang mereka yakini sebagai makam ‘Ali radhiyallahuanha ,

• pengagungan makam para pemimpin mereka melebihi Ka’bah Baitullah al-Haram, ‘

• penyakralan hari yang mereka anggap sebagai hari terbunuhnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib (hari Asyura, 10 Muharram),

• perayaan hari tersebut besarbesaran.

• syirik dalam peribadatan,

• keyakinan bolehnya nikah kontrak (nikah mut’ah), yaitu akad nikah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk jangka waktu tertentu (sehari, dua hari, atau lebih) tanpa wali, bahkan sangat mengagungkannya, '

• penamaan diri mereka sebagai Jamaah Ahlul Bait yang mengaku mencintai ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ) padahal mereka sangat mencela ahlul bait.

Saudaraku muslim, inilah potret Syiah Rafidhah, sekaligus potret iran sebagai pemujudan Negara Syiah Rafidhah.

Kekufuran yang nyata dari kaum Syiah Rafidhah dan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah tentang kesesatan mereka menunjukkan bahwa kampanye taqrib (penyatuan dan persaudaraan) antara Sunni dan Syiah Rafidhah di Indonesia adalah sebuah makar besar untuk menghancuran negeri ini dan kaum muslimin di dalamnya.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Catatan kaki ¹ HR al-Bukhari no. 3673 dan Muslim (4/1967) no. 2541

² Yang dimaksud kedua putri meraka adalah Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahuanha dan Hafshah Radhiyallahuanha

Sumber : Majalah Asy Syari'ah NO.144/X/1437 H/2016 halaman 37-40

AL-QUR'AN SEBAGAI OBAT DAN RAHMAT

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Hafizhahullah

"Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian." (al-lsra': 82)


Para pembaca rahimakumullah, pernahkah Anda mendengar sosok yang bernama al-Fudhail bin lyadh Rahimahullah, 

"Beliau adalah seorang ulama besar di zamannya dan ahli ibadah. Untaian nasehat dan petuahnya penuh dengan hikmah. 

Dikisahkan bahwa dahulu beliau adalah seorang penjahat yang sangat ditakuti. Beliau senang merampok siapa saja yang melewati tempat persembunyiannya. 

"Sebab taubat beliau bermula dari hasrat beliau kepada seorang wanita. Ketika menaiki sebuah tembok untuk melampiaskan nafsunya kepada si wanita tersebut, tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca ayat al-Qur'an,

 "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (al-Hadid: 16)

Tatkala mendengar ayat ini, al-Fudhail bin Iyadh Rahimahullah lantas berujar, "Tentu wahai Rabbku, sekarang sudah datang waktunya!" 

"Akhirnya beliau pun kembali. Lalu pada malam hari beliau bersembunyi di sebuah reruntuhan bangunan. Pada saat itulah ada serombongan orang yang hendak lewat dl sekitar tempat itu. Sebagian mereka mengatakan, ”Kita lanjutkan perjalanan kita." Sebagian yang lain mengatakan, "Kita tunggu sampai pagi hari saja. Sungguh al Fudhail nanti akan mencegat dan merampok kita kalau kita teruskan perjalanan ini." 

Mendengar percakapan mereka, al Fudhail mengatakan, "Akupun berpikir, malam hari aku bergelimang dengan kemaksiatan, sementara kaum muslimin di daerah ini takut kepadaku. Aku merasa bahwa tidaklah Allah menggiringku kepada mereka melainkan agar aku segera berhenti dari kejahatanku ini. Ya Allah, sungguh aku bertaubat kepadaMu. Aku akan wujudkan taubatku dengan menjalani hidup di dekat al-Baitul Haram." (Siyar A'lamin Nubala', [8/4231]

Para pembaca, salah satu pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini adalah bahwa al-Qur'an memang benar-benar sebagai obat. Penyakit hati berupa kemaksiatan dan kejahatan yang selama ini menjangkiti beliau, hilang seketika -dengan izin Allah setelah mendengar ayat al-Qur'an dibacakan. 

"Dijelaskan oleh al-lmam Ibnu Katsir Rahimahullah bahwa al-Qur'an bisa menghilangkan berbagai penyakit hati berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan kecenderungan menuruti hawa nafsu. Al-Qur'an menyembuhkan itu semua. (Tafsir Ibnu Katsir, [5/1 1 2])

"Dengan Al-Qur'an, orang yang gemar melakukan maksiat akan sembuh dan berganti menjadi orang yang taat. Bahkan penyakit kekufuran dan kesyirikan akan sirna dengan sebab hidayah yang terkandung dalam Al-Qur’an. 

Salah seorang shahabat Nabi yang bernama Jubair bin Muth'im Radiyallahuan menceritakan pengalamannya ketika benih keimanan mulai tumbuh di dalam jiwanya. 

 "Beliau Radiyallahuan berkata, "Aku pernah mendengar Nabi membaca surat Ath-Thur ketika shalat maghrib. Ketika bacaan beliau sampai pada ayat (artinya), _"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri}? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu ataukah mereka yang berkuasa?" (ath-Thur:35-37)

💦Aku (Jubair bin Muth'im) berkata, "Hampir-hampir hatiku ini terbang." Dalam riwayat lain disebutkan, "Pada saat itulah pertama kalinya keimanan bersemi di hatiku." (HR. al-Bukhari no. 4476)

Saat mendengar bacaan al-Qur'an: penyakit kesyirikan pada diri Jubair bin Muth'im berangsur hilang. Allah ta'ala memberikan hidayah kepadanya melalui obat al-Qur'an yang berisi nasehat, peringatan dan petunjuk kepada kebenaran. 


Selain Obat Hati, Al-Our'an Juga Sebagai Obat Jasmani

Obat yang terkandung dalam al-Qur'an bersifat umum, baik obat penyakit hati (kalbu) maupun obat penyakit badan (fisik). 

"Al-Qur'an adalah obat dari penyakit hati ‘ berupa syubhat (kerancuan memahami agama), kebodohan, pemikiran yang rusak. penyimpangan, maupun niatan-niatan dan tendensi yang jelek Hal ini karena di dalam aI-Qur'an terdapat llmu, di mana segala syubhat dan kebodohan akan hilang karenanya. 

Di dalam aI-Qur'an juga terdapat nasehat dan peringatan, yang dengannya bisa menghilangkan segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah subhanahu wata'ala. 

Selain itu, al-Qur'an juga sebagal obat dari penyakit yang menyerang jasmani (Lihat Taisirul Karimir Rahman hal 465)

Al-lmam lbnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah mengatakan, "Al-Qur'an merupakan obat penyembuh yang sempurna dari segala penyakit hati dan badan, serta penyakit yang berkaitan dengan perkara dunia maupun akhirat tidak setiap orang diberi kemampuan dan taufik untuk bisa berobat dengan al-Qur'an ini. Apabila orang yang sakit menggunakan al-Qur'an sebagai obatnya dengan cara yang baik dan meletakkannya pada rasa sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan menerima dengan sepenuhnya, kokoh keyakinannya, dan memenuhi syarat-syaratnya, maka penyakit itu tidak akan bisa menyerang dia selamanya. 

Bagaimana mungkin suatu penyakit mampu menghadapi Kalamullah, yang jika diturunkan kepada gunung saja mampu menghancurkannya atau diturunkan kepada bumi bisa membelahnya? 

..."Sehingga tidak ada satu penyakitpun, baik penyakit hati maupun penyakit badan kecuali dalam al Qur'an pasti ada cara dan petunjuk untuk mengobatinya dan sebab-sebab kesembuhannya, serta penjagaan dari penyakit bagi orang yang Allah berikan karunia pemahaman terhadap kitab-Nya.’ (Zaadul Ma'ad, [4/ 352])

"Di antara bukti bahwa al-Qur'an juga sebagai obat jasmani adalah sebagai mana peristiwa yang diceritakan oleh Abu Said al-Khudri Radiyallahuan berikut,

 >"Dahulu beberapa orang shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang safar. Ketika singgah di sebuah perkampungan Arab, mereka hendak bertamu, penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu mereka.

• Kemudian penduduk tersebut mengatakan, "Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah?", ini karena pemimpin kampung tersengat hewan berbisa. Ia berharap ada di antara rombongan shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam tersebut yang berkenan untuk mengobatinya. 

"Salah seorang shahabat berkata, "Ya, ada!", lalu ia mendatangi pemimpin kampung tersebut dan meruqyahnya dengan membaca surat al-Fatihah. Pemimpin kampung itupun sembuh, dan memberikan upah berupa kambing (dalam sebuah riwayat sebanyak 30 ekor) dan susu. 

Teman-temannya bertanya kepadanya, "Apakah kamu pandai meruqyah?", Ia berkata, "Aku tidaklah meruqyah kecuali hanya dengan membaca surat al-Fatihah." Mereka berkata, "Kita tidak usah membicarakan sedikitpun tentang hal ini sampai kita jumpai atau kita tanyakan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam." 

"Tatkala tiba di Madinah, mereka menyampaikan kisah yang mereka alami kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Beliau shalallahu alaihi wasallam pun bersabda, "bagaimana ia bisa tahu bahwa surat al-Fatihah adalah ruqyuh? Bagilah kambing tersebut dan berikan untukku bagiannya!" (HR. al-Bukhari no. 5007, Muslim no.2201)

Al-Our'an Sebagai Rahmat

"Al-Qur'an adalah sebagai rahmat, di dalamnya terkandung penjelasan sebab-sebab dan sarana untuk menggapai rahmat Allah ta'al. Kapan saja seorang hamba melakukan sebab-sebab tersebut maka dia akan memperoleh kemenangan dengan mendapatkan rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan cepat atau lambat. (Taisirul Karimir Rahman hal.465)

"Al-lmam asy-Syaukani Rahimahullah mengatakan, 'Al-Qur'an sebagai rahmat bagi kaum mukminin karena di dalamnya terkandung ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang mencakup seluruh perkara yang akan mendatangkan kebaikan agama maupun dunia. Di samping itu, membaca al-Qur'an dan mentadabburmya akan mendatangkan pahala besar, yang ini merupakan sebab datangnya rahmat Allah, ampunan dan keridhaan-Nya." (Fathul Qadlr, [4/ 346]) 

"Al-lmam al-Qurthubi Rahimahullah Juga menjelaskan, bahwa al-Qur'an sebagai rahmat bagi kaum mukminin terwujud dalam bentuk terlepasnya mereka dari kesusahan, dibersihkan dari segala kekurangan. serta dihapuskan dari berbagai dosa, di samping pahala berlipat bagi siapa saja yang membacanya. 

🔑Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (al-Qur'an}, maka dia Mendapatkan satu pahala. Satu pahala tersebut akan dilipatgandakan menjadi Sepuluh kali. Aku tidak mengatakan 'Alif Laam Miim' satu huruf akan tetapi 'Alif' satu huruf 'Laam' satu huruf, dan 'Miim’ satu huruf" (HR. at-Tirmidzi no. 2835) (Lihat Tafsir al-Qurthubi, [10/ 320])

 Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

"Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya al-Qur'an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya."  (HR. Muslim no. 1337)

Al-Qur'an sebagai pemberi syafa‘at bagi orang yang membacanya. Tidak hanya sebatas membaca saja, namun juga diiringi dengan pengamalan, yaitu mengamalkan kandungan al-Qur'an dengan sebaik‘ baiknya. lnilah salah satu wujud al-Qur'an sebagai rahmat bagi kaum mukminin. 

Wallahu a'Iam bishshawab.


~~~~~~~~Selesai~~~~~~~


📚Sumber : || Buletin Al Ilmu edisi 05 (tafsir) 2018 M

WA📱 AN-NAJIYAH forum salafiyyin

🚇APAKAH KHAWARIJ ADALAH ORANG YANG MEMBERONTAK PENGUASA YANG ADIL SAJA? KALAU MEMBERONTAK KEPADA PENGUASA ZALIM BUKAN KHAWARIJ? ‎


❱ Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullahu ta'ala:

[ Pertanyaan ]

Apa pendapat anda terhadap orang yang mengatakan: “Sesungguhnya khawarij itu adalah mereka yang memberontak kepada penguasa yang adil saja. Adapun orang yang memberontak kepada penguasa yang zalim maka ia bukan khawarij?”

[ Jawaban ]

Abdul Malik bin Marwan adalah penguasa yang zalim, dan membunuh Abdullah bin Zubair, dan (salah satu) amirnya menghancurkan Ka'bah. Dalam keadaan Abdullah bin Umar tetap membaiatnya setelah kejadian itu semua, dan semua sahabat yang ada ketika itu juga membaiatnya.

Demi Allah, (Abdul Malik bin Marwan) zalim, semoga Allah merahmatinya, ia punya kebaikan-kebaikan, amalan-amalan yang baik, ia telah menaklukkan negeri-negeri kafir, dia juga berjihad. Akan tetapi demi Allah ia adalah penguasa zalim.

Dalam keadaan Rasulullah [ﷺ] mengajarkan, mengajarkan, mengajarkan, nash-nash dalam shahihain dan yang lainnya:
▸ “Taatilah mereka (Penguasa) selama mereka menunaikan shalat. Kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya.” Beliau mengatakan: “Taatilah mereka selama mereka menunaikan shalat di tengah-tengah kalian.” Para sahabat berkata: “Tidakkah kita melawan mereka (penguasa) dengan pedang-pedang kita?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka menunaikan shalat di tengah kalian.”

√ - Walaupun penguasanya jahat, bersamaan dengan itu Rasulullah [ﷺ] memerintahkan untuk bersabar menghadapi mereka dan tidak membolehkan memberontak melawan mereka.
√ - Dan yang memecah belah ketaatan kepada mereka, memecah belah kaum muslimin, maka wajib untuk dibunuh, walaupun penguasanya itu penguasa yang jahat.

((🔥)) Ini adalah pemahaman khawarij,

yang mengatakan:
✘ - “Tidaklah dikatakan khawarij, kecuali yang memberontak kepada penguasa yang adil.”
✘ - Menurut mereka, Ali radhiyallahu'anhu itu bukanlah penguasa yang adil, Utsman Bin Affan radhiyallahu'anhu bukanlah penguasa yang adil. Dan yang memuliakan sayyid Qutub memandang, kalau Utsman itu bukan penguasa yang adil, walaupun mereka pura-pura menutupinya. Kalau tidak demikian, bagaimana bisa mereka memuliakan Sayid Qutub yang telah mencela keadilan Utsman dengan merendahkan kekhilafahan beliau.

((🔥)) Dan dia tidak merendahkan (Shahabat Nabi, red) kecuali karena sebab kekufuran, karena memang dia adalah seorang takfiriy, bahkan gembong takfiri ?!!

Maka ia tidak bisa terang-terangan mengkafirkan Utsman dan rafidhah, dalam keadaan ia mengumpulkan pemikiran khawarij dan rafidhah, membawa bendera khawarij, bendera rafidhah dan bendera lainnya. Maka dia menjadikan Utsman radhiuallahu'anhu sebagai penguasa yang jahat yang kita berontak, Ali radhiyallahu'anhu juga penguasa yang jahat yang boleh kita berontak. Demikian seterusnya.

((🔥)) Dan Dzul Khuwaishiroh, kalian lihat bagaimana ia mencela keadilan Rasulullah [ﷺ], maka masalahnya tidak lagi memiliki timbangan. Adil menurutmu tidak tergolong adil menurut orang yang memberontak kepadanya.

√ - Kalau demikian, jalan keluarnya, sesungguhnya selama penguasa itu masih ada dalam lingkaran Islam (kita dilarang memberontak, -pent). Perkara ini telah digariskan oleh Rasulullah [ﷺ], walaupun penguasanya jahat, zalim, selama masih ada dalam lingkaran Islam, selama menunaikan shalat, maka dilarang memberontak kepadanya.

Kalian pahami ini? Ini adalah keputusan Allah dan keputusan Rasulullah [ﷺ]. Bukan keputusan orang-orang bodoh.

📚[Sumber Fatawa Fil Aqidah wal Manhaj halaqah kedua]

 Url: http://bit.ly/Fw400104
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

📲. Share >> http://telegram.me/KEUTAMAANILMU

// Sumber: @ForumSalafy - Alih bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary -hafizhahullah- {https://goo.gl/tp9S3H} / Dari: Majmu'ah Qanat al-Imamain / Dari: Rabee•Net {https://goo.gl/iSBfMT}

HUKUM MEMPERDENGARKAN SYAIR ILMU DI PESTA PERNIKAHAN

Hukum Memperdengarkan Syair Ilmu di Pesta Pernikahan


Asy-Syaikh 'Ubaid al-Jabiri ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ditanya,
"Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, wahai Syaikh kami, ini adalah soal yang kedua:
Penanya (muslimah) dari Perancis mengatakan,
"Bolehkah memperdengarkan bait-bait syair di resepsi pernikahan, misalnya Manzhumah al-Qahthani, Ibnul Qayyim, dan yang selainnya, agar bisa diambil faidahnya, sebagai ganti dari alat-alat musik yang diharamkan dan nasyid-nasyid yang diberi label sebagai nasyid islami?"


▫️ Beliau ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ menjawab,
"Wahai putriku, syair-syair ini adalah mau'izhah(nasihat); sedangkan para ahli tahqiq dari kalangan ahlussunnah menjelaskan bahwa pesta-pesta dan resepsi pernikahan (di dalamnya ditampakkan) kebahagiaan dan kegembiraan, sehingga tidak disyariatkan pemberian mau'izhah di dalamnya; penjelasan ini terdapat di dalam pendapat sejumlah ahli tahqiq.

Jadi tidak disyariatkan mau'izhah di dalam walimatul 'urs, karena tidak dinukilkan dari Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bahwa beliau memberikan mau'izhah di dalamnya. Dan yang disyariatkan, yang disebutkan di dalam as-Sunnah adalah para wanita menabuh rebana. Ini adalah rukhshah (keringanan) di dalam pesta pernikahan. Dan rebana ini boleh didengar seluruh hadirin, laki-laki maupun perempuan, (meskipun suara rebananya mungkin) mencapai luar tempat resepsi.

 Tidak ada larangan dalam hal ini.
Kemudian bila yang mendendangkan nasyid mubah (yang diiring rebana) ini adalah wanita-wanita yang sudah mencapai usia baligh atau mendekati baligh, mereka wajib merendahkan suara sebatas tempat walimah, dan suara rebana harus mengalahkan suara mereka. Namun bila yang mendendangkan nasyid adalah anak-anak perempuan -sebagian ulama mengatakan 'di bawah usia 7 tahun', dan ada pendapat, '9 tahun'- tidak mengapa bila kaum Adam mendengarnya.
Kemudian harus diperhatikan, tidak boleh menghidupkan malam seluruhnya hanya untuk memperdengarkan nasyid. Nasyid di pernikahan itu tujuannya adalah untuk menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan selama satu, dua, atau tiga jam saja. Adapun yang dipraktekkan orang-orang di masa kita ini menghidupkan seluruh malam , menyewa apa yang mereka istilahkan dengan kelompok ad-daqqaqah, sebagiannya menyebutnya ath-thaqqaqah (penyanyi diiringi grup musik tradisional Arab yang terdiri dari rebana dan semacam tamborin-pen), atau sebutan lainnya, ini keliru.
Cukup satu atau dua orang menabuh rebana sekadar sebagai pemberitahuan (adanya walimatul urs). Dan yang jauh lebih dibenci, lebih jelek daripada thaqqaqah ini adalah engkau menyewa penyanyi, misalkan fulanah atau 'allanah untuk tampil di konser dari sebelum waktu isya sampai subuh! Kemudian terkadang pertunjukan diteruskan setelah subuh! Ini termasuk kesalahan yang keji dan kemungkaran yang menimpa kebanyakan kaum muslimin. Kami memohon ampunan dan keselamatan bagi kami dan kalian semuanya di dalam agama, dunia, dan akhirat.
----------------------------------------------------
🔹 ﺣﻜﻢ ﻭﺿﻊ ﻣﻨﻈﻮﻣﺎﺕ ﻓﻲ ﺣﻔﻼﺕ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ
ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺠﺎﺑﺮﻱ - ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ -
🔸 ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ :
ﺟﺰﺍﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ ﺷﻴﺨﻨﺎ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ؛
ﺗﻘﻮﻝ ﺍﻟﺴﺎﺋﻠﺔ ﻣﻦ ﻓﺮﻧﺴﺎ : ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻓﻲ ﺣﻔﻞ ﺯﻭﺍﺝ ﻭﺿﻊ ﻣﻨﻈﻮﻣﺎﺕ؛ ﻣﺜﻞ ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﻘﺤﻄﺎﻧﻲ، ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ، ﻟﻼﺳﺘﻔﺎﺩﺓ ﺑﺪﻟًﺎ ﻣﻦ ﻭﺿﻊ ﺍﻟﻤﻌﺎﺯﻑ ﺍﻟﻤﺤﺮَّﻣﺔ ﻭﺍﻷﻧﺎﺷﻴﺪ ﺍﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ﺑﺎﻹﺳﻼﻣﻴﺔ؟
🔸 ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ :
ﻳﺎ ﺑﻨﺘﻲ ﻫﺬﻩ ﻣﻮﺍﻋﻆ، ﻭﺍﻟﻤﺤﻘِّﻘﻮﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴُّﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻥَّ ﺣﻔﻼﺕ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ، ﺍﻟﻌﺮﻭﺳﺎﺕ؛ ﻫﺬﻩ ﻓﺮﺡ ﻭﺳﺮﻭﺭ ﻓﻼ ﺗُﺸﺮﻉ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﻮﻋﻈﺔ؛ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺟﻤﻠﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﻘِّﻘﻴﻦ، ﻓﻼ ﺗُﺸﺮﻉ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﻮﻋﻈﺔ، ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻟﻢ ﻳُﻨﻘﻞ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻭﻋﻆ، ﻭﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻪ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺿﺮﺏ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻑ، ﻫﺬﺍ ﻣُﺮَﺧَّﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﻌُﺮﻭﺳﺎﺕ، ﻭﺍﻟﺪُّﻑ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺴﻤﻌﻪ ﺍﻟﻜﻞ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺧﺎﺭﺝ ﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﺤﻔﻞ؛ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ، ﺛﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻨﺸﺪﺍﺕ ﺑﺎﻟﻐﺎﺕ ﺃﻭ ﻗﺮﻳﺒًﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺎﺕ؛ ﻓﻴﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺮﻥ ﺃﺻﻮﺍﺗﻬﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﻜﺎﻧﻬﻦ، ﻭﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻐﻄِّﻲ ﺍﻟﺪُّﻑ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻮﺍﺗﻬﻦ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﻴﺎﺕ ﺻﻐﻴﺮﺍﺕ - ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺴﺒﻊ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺘﺴﻊ - ﻓﻼ ﻣﺎﻧﻊ ﺃﻥ ﻳﺴﻤﻌﻬﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ .
🔻 ﺛﻢَّ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻛﻠﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻪ ﺇﻋﻼﻥ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ ﻟﻤﺪﺓ ﺳﺎﻋﺔ ﺃﻭ ﺳﺎﻋﺘﻴﻦ ﺃﻭ ﺛﻼﺙ، ﻭﻣﺎ ﺩَﺭَﺝَ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻣﻦ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻛﻠﻪ، ﻭﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻣﻦ ﻳﺴﻤﻮﻧﻬﺎ ﺍﻟﺪَّﻗﺎﻗﺔ، ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ
ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻴﻬﺎ

ﻟﻄﻘﺎﻗﺔ، ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺎﺕ؛ ﻫﺬﺍ ﺧﻄﺄ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻭﺍﺣﺪﻩ ﺃﻭ ﺍﺛﻨﺘﺎﻥ ﺗﻀﺮﺑﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻑ ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻪ ﺍﻹﻋﻼﻥ
، ﻭﺍ
ﻷﺷﺪ
ﻓﻀﺎﻋﺔ ﻭﺷﻨﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﺴﺘﺄﺟﺮ ﻣﻄﺮﺑﺔ؛ ﻣﺜﻞ : ﻓﻼﻧﺔ ﻭﻋﻠَّﺎﻧﺔ ﺗٌﺤﻴﻲ ﺍﻟﺤﻔﻞ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭ ﻗﺪ ﻳﺴﺘﻤﺮ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺠﺮ ! ﻫﺬﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﺍﻟﻔﺎﺣﺸﺔ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﺑُﻠِﻲَ ﺑﻬﺎ ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻭﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﺎ ﻭﻟﻜﻢ ﺟﻤﻴﻌًﺎ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻭﺍﻟﺪُّﻧﻴﺎ ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ .
http://ar.miraath.net/fatwah/7794
•┈┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈┈•
ﻗﻨﺎﺓ : ﺍﻟﺪﺭ ﺍﻟﻤﻨﺜﻮﺭ " ﻟﻸﺧﻮﺍﺕ ﻓﻘﻂ "
‏( ﻗﻨﺎﺓ ﺳﻠﻔﻴﺔ ﺧﺎﺻﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻘﻂ ، ﺗُﻌﻨﻰٰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎﻳﻬﻢ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﺔ )
https://goo.gl/Mb5ywI
bit.ly/majalahqonitah

JANGANLAH MEMBERIKAN PERWALIAN KEPADA KAUM YANG ALLAH MURKAI

💐📝
❓Pertanyaan:

Apakah makna firman Allah Ta’ala:

لاَ تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Janganlah kalian memberikan perwalian kepada kaum yang Allah murkai

Apakah makna memberikan perwalian kepada mereka? Apakah maksud perwalian itu artinya pergi bercengkrama, berbincang, dan tertawa bersama mereka?

📋💡Jawaban al-Lajnah ad-Daaimah:

Allah Ta’ala melarang kaum beriman untuk memberikan perwalian kepada Yahudi dan kaum kafir lain berupa perwalian cinta, persaudaraan, dan sikap menolong (pembelaan). Juga dilarang menjadikan mereka sebagai teman dekat. Meskipun mereka tidak memerangi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

{ لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ }
Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling mencintai orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka adalah ayah, anak, saudara, atau kerabat mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tetapkan iman dalam hati mereka dan Allah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya (Q.S al-Mujaadilah ayat 22)

Allah Ta’ala juga berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ }

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan seseorang yang bukan dari kalian (tidak beriman) sebagai teman dekat (tempat menyampaikan rahasia). Mereka selalu berusaha menimpakan kesusahan kepada kalian. Mereka senang jika kalian mendapat hal yang memberatkan. Telah nampak permusuhan dari lisan mereka. Sedangkan yang disembunyikan dalam dada mereka lebih besar. Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kalian jika kalian mau memikirkan (Q.S Ali Imran ayat 118)

{ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ }

(Apakah pantas) Kalian mencintai mereka sedangkan mereka tidak mencintai kalian....

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, tidaklah memudharatkan kalian tipu daya mereka sedikitpun. Sesungguhnya Allah (pengetahuan dan kekuasaan-Nya) meliputi perbuatan mereka (Q.S Ali Imran ayat 119-120)

Demikian juga nash-nash al-Quran dan Sunnah yang semakna dengannya. Allah Ta’ala tidaklah melarang kaum beriman untuk membalas kebaikan orang kafir yang tidak memerangi atau saling bertukar manfaat mubah dengan mereka berupa jual beli atau menerima hadiah. Allah Ta’ala berfirman:

{ لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ }

Allah tidaklah melarang kalian berbuat baik dan bersikap adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kalian dalam agama dan tidak mengusir kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.

 { إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ }

Hanyalah yang dilarang oleh Allah adalah kalian memberikan perwalian kepada orang-orang (kafir) yang memerangi kalian dalam agama, mengusir kalian atau menolong orang lain untuk mengusir kalian. Barangsiapa yang memberikan perwalian kepada mereka, maka itu adalah orang-orang yang dzhalim (Q.S al-Mumtahanah ayat 8-9)

(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 4246, pertanyaan ke-8 (2/64-65))

🇸🇦Lafadz Asli:

السؤال: ما معنى قوله تعالى: { لاَ تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ } وما معنى الولاية معهم؟ وهل تكون الولاية أن تذهب إليهم وتحدثهم وتكلمهم وتضحك معهم؟
الجواب: نهى الله تعالى المؤمنين أن يوالوا اليهود وغيرهم من الكفار ولاء ود ومحبة وإخاء ونصرة، وأن يتخذوهم بطانة ولو كانوا غير محاربين للمسلمين؛ قال تعالى: { لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ } الآية، وقال: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ }{ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ } إلى أن قال سبحانه: { وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ } وما في معناها من نصوص الكتاب والسنة، ولم ينه الله تعالى المؤمنين عن مقابلة معروف غير الحربيين بالمعروف أو تبادل المنافع المباحة معهم من بيع وشراء وقبول الهدايا والهبات، قال تعالى: { لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ }  { إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ }

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom