๐Ÿ“—PENJELASAN MACAM-MACAM WALIMAH

Walimah adalah sebutan untuk undangan makan. Secara bahasa walimah menurut Ibnul A’robiy adalah berkumpulnya orang-orang untuk makanan yang dihidangkan dalam suasana kegembiraan. Definisi ini dinisbatkan kepada asy-Syafi’i dan para Sahabatnya, Ibnu Abdil Bar dari para Ahli Bahasa (Arab) (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab karya anNawawiy (16/393)).

Walimah itu ada 3 macam:

1⃣Walimah yang terkait dengan syariat, karena ada perintah khusus untuk mengerjakannya. Maka ini adalah Sunnah.

Contoh : Walimah Urs (pernikahan) dan walimah yang terkait dengan kelahiran, yaitu ‘aqiqoh.

Konotasi kata walimah secara asal adalah utk hidangan makanan pada pernikahan.

Nabi memerintahkan kepada Abdurrohman bin Auf untuk menyelenggarakan walimah setelah beliau menikah:
ุฃَูˆْู„ِู…ْ ูˆَู„َูˆْ ุจِุดَุงุฉٍ

Adakan walimah meski dengan seekor kambing (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Memang walimah tidak terkait dengan keabsahan pernikahan. Artinya, jika karena suatu sebab hanya akad nikah namun tidak ada walimah maka yang demikian pernikahannya tetap sah. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu Fatwa al-Lajnah ad-Daimah.

Tentang aqiqah, Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan:

ุงู„ْุบُู„َุงู…ُ ู…ُุฑْุชَู‡َู†ٌ ุจِุนَู‚ِูŠู‚َุชِู‡ِ ูŠُุฐْุจَุญُ ุนَู†ْู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ุณَّุงุจِุนِ ูˆَูŠُุณَู…َّู‰ ูˆَูŠُุญْู„َู‚ُ ุฑَุฃْุณُู‡ُ

Anak (yang baru lahir) tergadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh (kelahiran), diberi nama, dan dipotong rambutnya (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah)

2⃣Walimah yang tidak terkait dengan syariat, hanya adat.

Maka yang demikian boleh dilaksanakan selama:

a) Tidak memberatkan
b) Tidak ada keyakinan tertentu bahwa walimah itu bisa menyebabkan hal tertentu (menolak musibah, dsb).
c) Orang yang meninggalkan atau tidak mengerjakannya tidak dicela.
d) Tidak ada acara-acara pendukung di dalamnya yang mengandung kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan.
e) Tidak dijadikan sebagai sunnah (kebiasaan terus menerus dan dijadikan syiar

Contoh walimah yang tidak terkait dengan syariat ini adalah: walimah untuk yang menempati rumah baru. Selama tidak diiringi keyakinan yang batil bahwa walimah itu bisa mencegah datangnya keburukan dan tidak dijadikan sebagai hal yang terkait syariat, maka tidak mengapa. Tapi kalau itu dijadikan sebagai sunnah, sehingga kalau menempati rumah baru kemudian tidak ada walimah-nya terasa tidak afdhal, maka yang demikian tidak boleh.

Terdapat Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan dalam hal ini:

ู„ู‚ุฏ ุงู†ุชู‚ู„ู†ุง ุฅู„ู‰ ุจูŠุช ุฌุฏูŠุฏ ูˆู†ุฑูŠุฏ ุฃู† ู†ุนุฏ ูˆู„ูŠู…ุฉ ุจู‚ุตุฏ ุงู„ุชุนุฑูŠู ุจุงู„ู…ู†ุฒู„ ูˆุฌู…ุน ุงู„ุฌูŠุฑุงู† ูˆุงู„ุฃู‚ุงุฑุจ ูˆุงู„ุฃุตุฏู‚ุงุก، ูู…ุง ุญูƒู… ุฐู„ูƒ ؟ ู„ุง ุจุฃุณ ุจุนู…ู„ ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ุจู…ู†ุงุณุจุฉ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ููŠ ุจูŠุช ุฌุฏูŠุฏ ู„ุฌู…ุน ุงู„ุฃุตุฏู‚ุงุก ูˆุงู„ุฃู‚ุงุฑุจ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู‡ุฐุง ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ูุฑุญ ูˆุงู„ุณุฑูˆุฑ، ุฃู…ุง ุฅู† ุตุงุญุจ ุฐู„ูƒ ุงุนุชู‚ุงุฏ ุฃู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ุชุฏูุน ุดุฑ ุงู„ุฌู†، ูู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ، ู„ุฃู†ู‡ ุดุฑูƒ ูˆุงุนุชู‚ุงุฏ ูุงุณุฏ، ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ุนุงุฏุงุช ูู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ .

Pertanyaan:
Kami telah berpindah ke rumah baru. Kami ingin mempersiapkan walimah dengan tujuan mengenalkan rumah baru dan mengumpulkan tetangga-tetangga, saudara, dan teman-teman. Apa hukum yang demikian?

Jawaban:

Tidak mengapa mengadakan walimah karena menempati rumah baru dengan mengumpulkan teman dan kaum kerabat jika hal ini termasuk memberikan kegembiraan. Sedangkan orang yang meyakini bahwa walimah ini bisa mencegah keburukan Jin, maka amalan ini tidak diperbolehkan. Karena itu adalah kesyirikan dan i’tiqod yang buruk. Adapun jika termasuk hal yang terkait adat (bukan ibadah, pent) maka yang demikian tidak mengapa (al-Muntaqa min Fataawa al-Fauzan (94/16)).

Contoh lain walimah yang masuk kategori ini adalah walimatul khitan. Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fataawa membolehkannya.

Demikian juga dengan walimah yang diadakan oleh seseorang yang baru mendapatkan keselamatan dari musibah.

Terdapat Fatwa Syaikh Ibn Sholih al-Utsaimin rahimahullah dalam hal tersebut:

ุงู„ุณุคุงู„
 ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ! ู…ุง ุญูƒู… ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ูˆู„ูŠู…ุฉ ุจู…ู†ุงุณุจุฉ ุณู„ุงู…ุฉ ุงู„ุดุฎุต ู…ู† ุงู„ุญุงุฏุซ؟
ุงู„ุฌูˆุงุจ
 ู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฅุฐุง ุณู„ู… ู…ู† ุญุงุฏุซ ุฃู† ูŠุตู†ุน ุทุนุงู…ุงً ูˆูŠูˆุฒุนู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ูู‚ุฑุงุก ุดูƒุฑุงً ู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู†ุนู…ุฉ, ูˆู„ู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ูƒุนุจ ุจู† ู…ุงู„ูƒ : (ุฅู† ู…ู† ุชูˆุจุชูŠ ุฃู† ุฃู†ุฎู„ุน ู…ู† ู…ุงู„ูŠ ุตุฏู‚ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡). ูˆุฃู…ุง ุฃู† ูŠุตู†ุน ุทุนุงู… ูˆูŠุฏุนู‰ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุฃุญุจุงุจ ูˆุงู„ุฃู‚ุงุฑุจ ูˆุงู„ุฌูŠุฑุงู† ูู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ุจู‚ุฑุจุฉ، ูˆู„ูƒู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจุจุฏุนุฉ؛ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุชุฎุฐ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุนุจุงุฏุฉ، ูˆู„ูƒู†ู‡ ู…ู† ุจุงุจ ุงู„ูุฑุญ، ูู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ .
Pertanyaan:
Fadhilatusy Syaikh ! Apa hukum menegakkan walimah karena keselamatan seseorang dari suatu kecelakaan?

Jawaban:
Tidak mengapa bagi seseorang jika selamat dari suatu kecelakaan untuk membuat makanan dan membagikannya kepada fakir miskin sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala atas kenikmatan tersebut. (Sahabat Nabi) Ka’ab bin Malik berkata: Sesungguhnya termasuk bagian dari taubatku adalah aku menyerahkan hartaku sebagai shodaqoh kepada Allah dan RasulNya. Adapun membuat makanan dan mengundang orang-orang tercinta, karib kerabat, dan tetangga maka ini bukanlah qurbah (ibadah). Hal ini bukan bid’ah. Karena ia tidak menjadikannya sebagai ibadah. Tetapi karena bergembira. Maka yang demikian tidak mengapa (Liqo’ al-Baab al-Maftuh (102/7)).

Contoh lain walimah yang masuk kategori ini adalah walimah karena baru pulang dari safar. Ungkapan syukur karena diberi keselamatan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan:

ูˆู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ู…ุง ูŠูุนู„ู‡ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ุนู†ุฏ ุงู„ู‚ุฏูˆู… ู…ู† ุงู„ุณูุฑ ูŠุฏุนูˆ ุฃู‚ุงุฑุจู‡ ูˆุฌูŠุฑุงู†ู‡ ุดูƒุฑุง ู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุณู„ุงู…ุฉ ูุฅู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ุฅุฐุง ู‚ุฏู… ู…ู† ุณูุฑ ู†ุญุฑ ุฌุฒูˆุฑุง ูˆุฏุนุง ุงู„ู†ุงุณ ู„ุฐู„ูƒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู…

Dan semisal dengan itu adalah apa yang dilakukan sebagian orang ketika baru datang dari safar mengundang para kerabat dan tetangga sebagai bentuk syukur kepada Allah karena diberi keselamatan. Karena Nabi alaihishholaatu was salaam jika beliau pulang dari safar beliau menyembelih unta dan mengundang manusia untuk hidangan itu (Nuurun alad Darb, kaset no 837).

3⃣Walimah yang terlarang.

Contoh: walimah yang diadakan dalam suasana duka meninggalnya seseorang. Para Sahabat Nabi menganggapnya sebagai niyahah (meratap).

ุนَู†ْ ุฌَุฑِูŠุฑِ ุจْู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ْุจَุฌَู„ِูŠِّ ู‚َุงู„َ ูƒُู†َّุง ู†َุฑَู‰ ุงู„ِุงุฌْุชِู…َุงุนَ ุฅِู„َู‰ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْู…َูŠِّุชِ ูˆَุตَู†ْุนَุฉَ ุงู„ุทَّุนَุงู…ِ ู…ِู†ْ ุงู„ู†ِّูŠَุงุญَุฉِ

Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy beliau berkata: Kami menganggap berkumpulnya orang-orang di tempat keluarga mayit dan mereka membuatkan makanan adalah termasuk meratap (niyahah)(riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

ูˆَุฃَูƒْุฑَู‡ُ ุงู„ู†ِّูŠَุงุญَุฉَ ุนู„ู‰ ุงู„ْู…َูŠِّุชِ ุจَุนْุฏَ ู…َูˆْุชِู‡ِ ูˆَุฃَู†ْ ุชَู†ْุฏُุจَู‡ُ ุงู„ู†َّุงุฆِุญَุฉُ ุนู„ู‰ ุงู„ِุงู†ْูِุฑَุงุฏِ ู„َูƒِู†ْ ูŠُุนَุฒَّู‰ ุจِู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนุฒ ูˆุฌู„ ู…ู† ุงู„ุตَّุจْุฑِ ูˆَุงู„ِุงุณْุชِุฑْุฌَุงุนِ ูˆَุฃَูƒْุฑَู‡ُ ุงู„ْู…َุฃْุชَู…َ ูˆَู‡ِูŠَ ุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉُ ูˆَุฅِู†ْ ู„ู… ูŠَูƒُู†ْ ู„ู‡ู… ุจُูƒَุงุกٌ ูุฅู† ุฐู„ูƒ ูŠُุฌَุฏِّุฏُ ุงู„ْุญُุฒْู†َ

Saya membenci meratapi mayit setelah kematiannya dan aku tidak suka untuk menganggap baik bagi orang yang meratap dibiarkan sendiri. Akan tetapi semestinya dilakukan takziyah terhadapnya (dikuatkan hatinya) sesuai dengan yang Allah perintahkan berupa kesabaran dan istirja’ (mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilahi rooji’un). Dan saya tidak menyukai al-Ma’tam, yaitu berkumpulnya orang-orang (di tempat mayit) meskipun di sana tidak ada tangisan. Karena yang demikian akan memperbaharui perasaan sedih (al-Umm (1/279)).

Walimah pada dasarnya dilakukan dalam suasana kegembiraan, bukan karena duka cita.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam walimah adalah jangan hanya mengundang orang kaya saja, tapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah orang-orang fakir/ miskin.

ุดَุฑُّ ุงู„ุทَّุนَุงู…ِ ุทَุนَุงู…ُ ุงู„ْูˆَู„ِูŠู…َุฉِ ูŠُุฏْุนَู‰ ู„َู‡َุง ุงู„ْุฃَุบْู†ِูŠَุงุกُ ูˆَูŠُุชْุฑَูƒُ ุงู„ْูُู‚َุฑَุงุกُ

Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang diundang padanya adalah para orang kaya dan ditinggalkan orang-orang fakirnya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ท๐Ÿ”ถ๐Ÿ”น๐Ÿ”น
WA al-I'tishom


๐Ÿ“ข๐Ÿ‘๐Ÿป REVISI LINK UNDUHAN
๐Ÿ“€ AUDIO DAURAH BALIKPAPAN
-------------------------------------------
๐ŸŒ… ~ tuk ISLAM Rahmatan Lil 'alamin BUKAN Islam Nusantara ~
๐Ÿ’บ Pemateri:
Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah
(Pimpinan PonPes As-Salafy Jember Jatim)
๐Ÿ“† Sabtu - Ahad, 26-27 Dzulhijjah 1436 H ll 10-11 Oktober 2015 ll
๐Ÿ“Œ Masjid Zaadul Ma'aad ll Ma'had Ibnul Qoyyim ll Balikpapan - Kalimantan Timur
1⃣ Sesi 1 durasi (1:02:23)=10.7 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/mNQIOG
2⃣ Sesi 2 durasi (52:38)=9.03 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/j0IM6q
3⃣ Sesi 3 durasi (1:19:28) = 13.6 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/yvCiNr
4⃣ Sesi 4 durasi (31:31) = 5.4 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/lSLKwA
5⃣ Sesi: 5 (Durasi 1:02:23)= 10.7 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/n2Y2L5

6⃣ Sesi: 6 (Durasi 52:38)= 9.03 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/39PhFT

7⃣ Sesi 7 Durasi (1:17:22)= 13.3 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/iuPng9

8⃣ Sesi 8 Tanya Jawab Durasi (16:44)= 2.9 MB
๐Ÿ“ฅ Link https://goo.gl/ZxJ8Kj

••••••••••••••••••••
๐ŸŒ ๐Ÿ“ Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~


~ Bagian 2⃣8⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐ŸŒพ๐ŸŒบ๐ŸŒ• Al-Fatihah Lebih Penting daripada Doa Istiftah

❓Ditanyakan kepada al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah tentang makmum yang mendapati imam hampir ruku’, apakah ia membaca al-Fatihah atau membaca doa istiftah? Apabila imam telah ruku’ sementara ia belum selesai membaca al-Fatihah, apa yang harus dilakukannya?

๐Ÿ’ก๐Ÿ”† Samahatusy Syaikh menjawab, “Membaca istiftah adalah sunnah, sedangkan membaca al-Fatihah hukumnya wajib bagi makmum, menurut pendapat yang benar.

๐Ÿ”Œ Apabila engkau khawatir luput dari membaca al-Fatihah, mulailah dengan membaca al-Fatihah. Ketika imam ruku’ sebelum engkau menyempurnakan bacaan al-Fatihah, ruku’lah bersama imam dan gugur darimu kewajiban membaca al-Fatihah yang tersisa.

๐Ÿ”˜ Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam:

ุฅِู†َّู…َุง ุฌُุนِู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ู„ِูŠُุคْุชَู…َّ ุจِู‡ِ ูَู„ุงَ ุชَุฎْุชَู„ِูُูˆْุง ุนَู„َูŠْู‡ِ، ูَุฅِุฐَุง ูƒَุจَّุฑَ ูَูƒَุจِّุฑُูˆْุง ูˆَุฅِุฐَุง ุฑَูƒَุนَ ูَุงุฑْูƒَุนُูˆْุง

“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Oleh karena itu, janganlah kalian berbeda/ketinggalan darinya. Apabila ia bertakbir, ikutlah bertakbir. Apabila ia ruku’, ruku’lah kalian.”

๐Ÿ‘†๐ŸปHadits ini muttafaqun alaihi.” (Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/243—244)

⚠⚠⚠ Peringatan

๐Ÿ’Ž Yang sunnah bagi makmum adalah membaca dengan samar (cukup ia dengar untuk dirinya sendiri/tidak memperdengarkannya kepada orang lain).

๐Ÿ”Š⏳ Demikian pula ketika membaca zikir-zikir dan doa-doa di dalam shalat. Tidak ada dalil yang membolehkan membaca dengan suara keras/jahr. Selain itu, apabila ia menjahrkan bacaannya niscaya akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat di sekitarnya.

(Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/238)

๐Ÿ”นBersambung insya Allah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-10/

#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Jum'at 19 Dzulhijjah 1436H/02 Oktober 2015M Jam 09:08 wib



~ Bagian 2⃣7⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ’ก⌚๐Ÿšจ Keadaan Masbuk Terkait dengan Kewajiban Membaca al-Fatihah

๐Ÿƒ Apabila orang yang masbuk dalam shalat berjamaah mendapati imam masih berdiri, ia membaca al-Fatihah karena hukumnya ❗⚠ wajib baginya.

⌛ Namun, apabila ia mendapati imam telah ruku’, ia bertakbir kemudian ruku’, tanpa membaca al-Fatihah. Saat imam bangkit dari ruku’, ia pun mengikutinya.

๐ŸŒพDengan ini, ia terhitung beroleh rakaat shalat tersebut walaupun ia tidak membaca al-Fatihah, karena keadaannya sebagai masbuk yang mendapati imam telah ruku’ menggugurkan kewajibannya untuk membaca al-Fatihah.

⛅ Demikian pula apabila orang yang masbuk ini sempat mendapati imam masih berdiri untuk membaca surah dalam Al-Qur’an, namun tidak memungkinkan baginya menyelesaikan bacaan al-Fatihah karena imam ternyata telah ruku’.

๐Ÿš€Ia pun bertakbir dan ikut ruku’ bersama imam. Adapun al-Fatihah yang belum selesai dibacanya telah gugur darinya. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abu Bakrah radhiyallahuanhu dalam Shahih al-Bukhari berikut ini.

ุฃَู†َّู‡ُ ุงู†ْุชَู‡َู‰ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฑَุงูƒِุนٌ ูَุฑَูƒَุนَ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุตِู„َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّูِّ، ูَุฐَูƒَุฑَ ุฐَู„ِูƒَ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ n ูَู‚َุงู„َ: ุฒَุงุฏَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ุญِุฑْุตًุง ูˆَู„ุงَ ุชَุนُุฏْ

“Ia sampai ke Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam (ketika masuk ke masjid) dalam keadaan Nabi sedang ruku’. Ia pun ruku sebelum sampai ke dalam shaf (1). Lalu diceritakan hal itu kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam . Beliau pun bersabda, ‘Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu (2)’.” (HR. al-Bukhari no. 783)

๐ŸšชKetika Abu Bakrah radhiyallahuanhu masuk ke dalam shalat berjamaah, ia tidak mendapati qiyam (berdiri untuk membaca surah) karena imam telah ruku’, padahal qiyam merupakan saat dibacanya al-Fatihah.

๐Ÿ‚ Berarti, gugur darinya kewajiban membaca al-Fatihah karena telah berlalu tempatnya.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/69—70)

๐Ÿ”Š Kita katakan kewajibannya gugur karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah radhiyallahuanhu menambah satu rakaat dari shalatnya tersebut.

๐Ÿ”ฐArtinya, Abu Bakrah teranggap beroleh rakaat pertama yang didapatkannya dalam keadaan imam telah ruku’ dan ia sendiri sempat ruku’ bersama imam. Inilah pendapat yang rajih (kuat) menurut kami.

๐Ÿ’ก๐Ÿ”ฆ Dalam masalah ini ada pendapat yang lain, yaitu ketika masbuk tidak mendapatkan al-Fatihah sama sekali ataupun tidak sempurna membacanya, ia tidak teranggap mendapatkan satu rakaat dalam shalat.

๐Ÿ‘“ Pendapat ini dipegangi oleh sebagian muta’akhirin (orang-orang yang belakangan) seperti al-Imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/67—69) dan yang lainnya—semoga Allah Subhanahuwata'ala merahmati mereka semua—.

๐Ÿ”‘Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah Al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

“Ulama berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Yang rajih, makmum (3) wajib membacanya berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam :

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

(Muttafaqun alaihi)

๐Ÿ”˜Juga sabda beliau Shalallahu'alaihi wa sallam :
ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‚ْุฑَุคُูˆْู†َ ุฎَู„ْูَ ุฅِู…َุงู…ِูƒُู…ْ؟ ู‚َุงู„ُูˆุง: ู†َุนَู…ْ. ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِู‡َุง

”Tampaknya di antara kalian ada yang membaca di belakang imam kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami melakukannya, wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Jangan kalian lakukan hal itu selain pada Fatihatul Kitab, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.”

(HR. Abu Dawud dan selainnya dengan sanad yang hasan)

๐Ÿ’ŽJika imam tidak diam dalam shalat jahriah maka makmum membaca al-Fatihah ini walaupun dalam keadaan imam sedang membaca Al-Qur’an. Setelahnya, dia diam agar bisa mengamalkan dua hadits yang disebutkan di atas.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ”“ Apabila makmum lupa atau tidak tahu tentang wajibnya membaca al-Fatihah, gugur darinya kewajiban tersebut, seperti orang yang masuk dalam jamaah dalam keadaan imam sedang ruku’, ia ruku’ bersama imam dan ia mendapat satu rakaat bersama imam, menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat ulama.

๐ŸŽจ Ini adalah pendapat mayoritas ahlul ilmi berdasarkan hadits Abu Bakrah ats-Tsaqafi radhiyallahuanhu.

๐Ÿ“ฃ Disebutkan bahwa beliau radhiyallahuanhu mendatangi masjid dalam keadaan Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam sedang ruku’. Ia pun ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, kemudian berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf.

๐Ÿ“ Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam pun bersabda kepadanya setelah mengucapkan salam dari shalat beliau:

ุฒَุงุฏَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ุญِุฑْุตًุง ูˆَู„ุงَ ุชَุนُุฏْ

“Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu.”

๐ŸŒป Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah radhiyallahuanhu mengganti rakaat tersebut. Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya.

๐Ÿ”˜Adapun hadits:

ู‚ِุฑَุกَุฉُ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ ู‚ِุฑَุงุกَุฉٌ ู„ِู…َู†ْ ุฎَู„ْูَู‡ُ

“Bacaan imam adalah bacaan bagi orang yang di belakangnya.”

๐Ÿšซadalah hadits dhaif yang tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya. Hal ini telah diperingatkan oleh ulama hadits.

๐ŸŒ“ Seandainya hadits ini sahih, dia ditempatkan sebagai hadits umum yang dikhususkan dengan perintah membaca al-Fatihah (yakni selain al-Fatihah maka bacaan imam adalah bacaan makmum). Wabillahi at-taufiq.”

(Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/226—227)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿพ Catatan Kaki:

(1) Sebelum bergabung dalam shaf, Abu Bakrah radhiyallahuanhu telah bertakbiratul ihram, lalu ruku’ dan berjalan masuk ke dalam shaf dalam keadaan ruku’.

(2) Dengan terburu-buru ingin bergabung dengan shaf/tidak ingin ketinggalan rakaat, kemudian melakukan ruku’ sebelum sampai ke dalam shaf lalu berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf.

(Fathul Bari, 2/347)

(3) Adapun bagi imam dan munfarid (yang shalat sendirian), membaca al-Fatihah adalah amalan rukun, menurut jumhur ahlul ilmi. Dia tidak bisa gugur sama sekali selama keduanya mampu/bisa membacanya.

(Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/236)

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-10/

#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Jum'at 19 Dzulhijjah 1436H/02 Oktober 2015M Jam 04:50


~ Bagian 2⃣6⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________
๐ŸŽจ๐Ÿ“Ž๐Ÿ“„ Perbedaan Pendapat tentang Bacaan al-Fatihah bagi Makmum

๐Ÿ“ถ Perbedaan ini bisa kita simpulkan secara ringkas menjadi tiga pendapat.

1⃣ Hukumnya wajib atas setiap orang yang shalat, baik sebagai imam, makmum maupun shalat sendirian, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

↪ Asal peniadaan ini adalah peniadaan sahnya shalat, bukan peniadaan kesempurnaan shalat. ☑Artinya, shalatnya tidak sah.

๐Ÿ’ฌ๐Ÿ“š Ini adalah mazhab al-Imam asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, al-Imam al-Bukhari, dan ahli hadits selain beliau. Bahkan, al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah membuat tulisan khusus untuk menguatkan pendapat ini.

✏ Mereka memberinya judul al-Qira’ah Khalfal Imam. Pendapat ini dipegangi juga oleh sebagian imam dakwah di masa ini, seperti al-Imam Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz, al-Imam Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, guru kami yang mulia al-Imam asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i, dan yang lainnya—semoga Allah l merahmati mereka semuanya—.

๐Ÿ”Ž⌛ Ini adalah makna yang tampak dari hadits-hadits yang ada. Akan tetapi, dalam masalah makmum yang masbuk (terlambat) mereka terbagi menjadi dua pandangan sebagaimana akan diterangkan, insya Allah.
(al-Muhalla 2/266—273, asy-Syarhul Kabir 1/491—493, at-Tahdzib 2/98—99, al-Majmu’ 3/285, asy-Syarhul Mumti’ 3/296-302)

2⃣ Hukumnya wajib atas imam maupun orang yang shalat sendirian. Adapun makmum, dia dicukupi dengan bacaan imamnya, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah.

๐ŸŒพAkan tetapi, disenangi bagi makmum untuk membacanya pada saat imam berhenti sebentar setelah membaca al-Fatihah. Jika imam mengeraskan bacaannya, makmum wajib mendengarkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahuawata'ala:

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (al-A’raf: 204)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุฅِู…َุงู…ٌ ูَู‚ِุฑَุงุกَุชُู‡ُ ู„َู‡ُ ู‚ِุฑَุงุกَุฉٌ
“Barangsiapa memiliki imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.”

(al-Kafi fi Fiqhil Imam Ahmad ibni Hanbal 1/156—157, Bada’iush Shana’i 1/358—359, al-Mabsuth 1/183—184, Syarhu Ma’anil Atsar 1/278—285)

3⃣ Hukumnya wajib atas makmum dalam shalat sirriyah. Adapun dalam shalat jahriyah, tidak wajib, bahkan dia hendaknya diam untuk mendengarkan bacaan imamnya.
Ini merupakan pendapat al-Imam Malik, yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan yang lainnya.

✒Syaikhul Islam dalam Majmu’ul Fatawa (23/266—330) memberikan keterangan-keterangan yang indah dan ilmiah untuk menguatkan pendapat ini.
Pendapat ini juga dipegangi oleh beberapa imam dakwah di masa ini, seperti ✅al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani,
✅asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibnu Ibrahim Alu asy-Syaikh,
✅asy-Syaikh Abdur Rahman ibnu Nashir as-Sa’di, dan yang lainnya—semoga Allah Subhanahuwata'ala merahmati mereka semuanya—.

(al-Mudawwanah 1/163—160, Mawahibul Jalil 1/518, at-Tamhid 3/173—198, Hasyiatul ‘Adawi 1/228)

๐Ÿš€⛵ Namun, yang rajih sebagaimana yang telah disebutkan, adalah membaca al-Fatihah wajib bagi imam, makmum dan munfarid, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah, kecuali masbuk.

๐Ÿ”ฐSeandainya tidak ada hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahuanh yang dibawakan di atas(1) niscaya pendapat yang kuat adalah yang membedakan atau merinci antara shalat sirriyah dan jahriyah, ⏩ sehingga apabila seorang makmum telah mendengar bacaan al-Fatihah dari imamnya maka gugur kewajibannya membaca al-Fatihah, karena dia mendengarkan dan mengaminkan.

๐Ÿ”“๐Ÿ’กNamun kita tidak bisa memegangi pendapat ini karena ada hadits Ubadah radhiyallahuanhu yang merupakan nash dalam masalah ini.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/70)

๐Ÿ”น(insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ‘ฃCatatan Kaki:

(1) Yaitu hadits:

ูƒُู†َّุง ุฎَู„ْูَ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูِูŠ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ูَู‚َุฑَุฃ َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ูَุซَู‚ُู„َุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉُ ูَู„َู…َّุง ูَุฑِุบَ، ู‚َุงู„َ : ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‚ْุฑَุคُูˆْู†َ ุฎَู„ْูَ ุฅِู…َุงู…ِูƒُู…ْ؟ ู‚ُู„ْู†َุง : ู†َุนَู…ْ ู‡َุฐًّุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ. ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„ุงَ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุจِู‡َุง

❗☑ Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaihi disebutkan dengan lafadz:

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِุฃُู…ِّ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah).”

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-9/
#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Rabu 17 dzulhijjah 1436H/30 September 2015M Jam 18:25


Dititipi Beli Barang, Ambil Untung.
=========================

♻Soal_:
Jika kita dititipi seseorang untuk membelikan barang dan ketika kita membeli barang tersebut kita mendapatkan potongan harga karena kita biasa menjual barang tersebut jika ada pesanan. Bolehkah kita mengambil untung dan memberi harga kepada si penitip dengan harga jual di pasaran?

✅Jawaban:_
Jika posisi kita adalah wakil (hanya diminta untuk membelikan), tidak boleh mengambil keuntungan dan diskon harus kembali kepada yang meminta tolong. Jika kita adalah pedagang, tidak masalah mencari untung atau diberi harga pasar dan diskon untuk kita.

Jika kita adalah seorang makelar, tergantung kesepakatan dengan yg meminta tolong. Bisa jadi, kita hanya diberi upah atas jasa kita, maka harga sesuai pasaran dan diskon kembali kepada dia; Atau kita diberi keleluasaan untuk mencari untung, maka kita bisa mencari barang dengan harga di bawah pasar plus diskon untuk kita. Wallahu a’lam.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 105 : Majalah Islam AsySyariah - http://asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-105/


✏grup radio al-itishom smg


[15:00 29/09/2015] Admin 5: ~ Bagian 2⃣5⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________
๐Ÿ”Ž๐Ÿ“„๐Ÿšจ Membaca al-Fatihah Wajib bagi Imam, Makmum, dan Orang yang Shalat Sendirian

๐Ÿ“Š Surah al-Fatihah wajib dibaca oleh imam, makmum, dan munfarid (orang yang shalat sendirian), baik shalat yang dilakukan itu dalam bacaannya sirr maupun jahr. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahuanhu berikut.

ูƒُู†َّุง ุฎَู„ْูَ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ n ูِูŠ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ูَู‚َุฑَุฃَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ูَุซَู‚ُู„َุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉُ ูَู„َู…َّุง ูَุฑِุบَ، ู‚َุงู„َ: ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‚ْุฑَุคُูˆْู†َ ุฎَู„ْูَ ุฅِู…َุงู…ِูƒُู…ْ؟ ู‚ُู„ْู†َุง: ู†َุนَู…ْ ู‡َุฐًّุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ. ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„ุงَ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุจِู‡َุง

“Kami pernah shalat fajar di belakang Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca bacaan.

☁ Lantas tampak sulit bacaan beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, ‘Tampaknya di antara kalian ada yang membaca di belakang imam kalian?’ Kami menjawab, ‘Ya, kami melakukannya, wahai Rasulullah.’ Beliau pun bersabda, ‘Jangan kalian lakukan hal itu, kecuali pada Fatihatul Kitab, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya’.”

(HR. Ahmad 5/316, Abu Dawud no. 823, at-Tirmidzi no. 31, dan Ibnu Hibban no. 1785. Al-Bukhari mensahihkannya dalam Juz Qira’ah Khalfal Imam dan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla [2/266]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam at-Talkhis [1/379] mengatakan, “Disahihkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Daraquthni, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi.”)

▫Anas bin Malik radhiyallahuanhu mengabarkan:

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุจِุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ูَู„َู…َّุง ู‚َุถَู‰ ุตَู„ุงَุชَู‡ُ ุฃَู‚ْุจَู„َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุจِูˆَุฌْู‡ِู‡ِ ูَู‚َุงู„َ: ุฃَุชَู‚ْุฑَุกُูˆْู†َ ููŠِ ุตَู„ุงَุชِูƒُู…ْ ุฎَู„ْูَ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ ูˆَุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ؟ ูَุณَูƒَุชُูˆْุง، ูَู‚َุงู„َู‡َุง ุซَู„ุงَุซَ ู…َุฑَّุงุชٍ. ูَู‚َุงู„َ ู‚َุงุฆِู„ٌ ูˆَู‚َุงู„َ ู‚َุงุฆِู„ُูˆْู†َ: ุฅِู†َّุง ู„َู†َูْุนَู„ُ. ู‚َุงู„َ: ูَู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆْุง، ู„ِูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ูِูŠ ู†َูْุณِู‡َ
Bahwasanya Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam shalat mengimami para sahabat beliau. Tatkala selesai shalat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada mereka seraya berkata, “Apakah kalian membaca bacaan Al-Qur’an dalam shalat kalian di belakang imam dalam keadaan imam sedang membaca?” Mereka terdiam. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali, maka berkatalah seseorang dan berkatalah orang-orang, “Sungguh kami melakukannya.” Beliau berkata, “Jangan kalian lakukan hal tersebut. Hendaklah salah seorang dari kalian membaca Fatihatul Kitab dalam hatinya/untuknya sendiri.”

(HR. Abu Ya’la 5/87. Guru kami, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah, menyatakan dalam al-Jami’ ash-Shahih 2/97, “Hadits ini hasan.”)

๐Ÿ‚ Hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya menunjukkan wajibnya membaca al-Fatihah bagi imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian (munfarid).
๐Ÿƒ Adapun sebagian hadits yang berseberangan dengan hadits di atas dinyatakan oleh kebanyakan ulama hadits sebagai hadits yang ma’lul (berpenyakit) ataupun syadz (ganjil/menyelisihi periwayatan orang yang lebih tsiqah).

๐ŸŽจ Walaupun menurut sebagian ulama yang lain, hadits-hadits tersebut bisa dikuatkan sehingga menjadi hujjah di sisi mereka. Di antaranya seperti hadits
Abu Qilabah radhiyallahuanhu dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam :

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุฅِู…َุงู…ٌ ูَู‚ِุฑَุงุกَุฉُ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ ู„َู‡ُ
 ู‚ِุฑَุงุกَุฉٌ

“Siapa yang memiliki imam maka bacaan imam adalah bacaannya.”

(HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra 2/160, ad-Daraquthni 1/323 & 326, dan selainnya)

▫Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadits di atas memiliki dua illat (penyakit).

❗Pertama: Syu’bah, ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Abu Awanah, dan sekelompok penghafal hadits meriwayatkannya dari Musa bin Abi Aisyah, dari Abdullah bin Syaddad secara mursal.

❗Kedua: Hadits ini tidak sahih secara marfu’ (tidak sahih sampainya kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam) .

๐Ÿ”๐Ÿ”‘ Yang dikenal, hadits ini mauquf (terhenti hingga sahabat). (Jami’ul Fiqh Ibnil Qayyim, 2/293)
Al-Hafizh rahimahullah berkata dalam at-Talkhish (1/380), “Hadits ini memiliki beberapa jalan dari sekelompok sahabat, namun semuanya ma’lulah/berpenyakit.

๐Ÿ“š Adapun hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahuanhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan sahabat lalu menerangkan kepada mereka tentang sunnah mereka serta mengajarkan shalat kepada mereka, lantas beliau bersabda:

ุฅِุฐَุง ุตَู„َّูŠْุชُู…ْ ูَุฃَู‚ِูŠْู…ُูˆْุง ุตُูُูˆْูَูƒُู…ْ ุซُู…َّ ู„ِูŠُุคَู…َّูƒُู…ْ ุฃُุญَุฏُูƒُู…ْ ูَุฅِุฐَุง ูƒَุจَّุฑَ ูَูƒَุจِّุฑُูˆْุง، ูˆَุฅِุฐَุง ู‚َุฑَุฃَ ูَุฃَู†ْุตِุชُูˆุง

“Apabila kalian shalat maka tegakkan/luruskan shaf-shaf kalian, kemudian hendaknya salah seorang dari kalian mengimami. Bila imam itu bertakbir maka bertakbirlah kalian dan bila ia membaca (al-Fatihah) maka diamlah.”

 (HR. Muslim no. 903)

▫An-Nawawi rahimahullaj mengatakan, “Ketahuilah, tambahan lafadz ูˆَุฅِุฐَุง ู‚َุฑَุฃَ ูَุฃَู†ْุตِุชُูˆุง diperselisihkan kesahihannya oleh para penghafal hadits. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra dari Abu Dawud as-Sijistani bahwa lafadz ini tidaklah mahfuzh.

๐ŸŒพDemikian pula al-Baihaqi meriwayatkannya dari Yahya bin Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, ad-Daraquthni, dan al-Hafizh Abu Ali an-Naisaburi, guru al-Hakim Abu Abdillah. Al-Baihaqi mengatakan, “Abu Ali al-Hafizh berkata, ‘Lafadz ini tidaklah mahfuzh.’ Sulaiman at-Taimi telah menyelisihi seluruh murid Qatadah. Sepakatnya para penghafal tersebut dalam mendhaifkan tambahan itu lebih dikedepankan daripada pensahihan al-Imam Muslim.”

(al-Minhaj, 4/343—344)

๐Ÿ”ฐGuru kami, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah, mengatakan,

“Urusannya sebagaimana yang dikatakan oleh para penghafal hadits tentang lafadz tambahan tersebut, seperti yang dinukilkan an-Nawawi dari mereka—semoga Allah Subhanahuwata'ala merahmati mereka—, yaitu bahwa Sulaiman at-Taimi telah syadz (ganjil/bersendiri) dalam tambahan tersebut. Wallahu a’lam.”

(al-Ilzamat wat Tatabbu’ lil Imam ad-Daraquthni, Dirasah wa Tahqiq, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i, hlm. 171)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-9/
#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Selasa 16 Dzulhijjah 1436H/30 September 2015M Jam 15:00wib
[18:25 30/09/2015] Admin 5: ~ Bagian 2⃣6⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________
๐ŸŽจ๐Ÿ“Ž๐Ÿ“„ Perbedaan Pendapat tentang Bacaan al-Fatihah bagi Makmum

๐Ÿ“ถ Perbedaan ini bisa kita simpulkan secara ringkas menjadi tiga pendapat.

1⃣ Hukumnya wajib atas setiap orang yang shalat, baik sebagai imam, makmum maupun shalat sendirian, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

↪ Asal peniadaan ini adalah peniadaan sahnya shalat, bukan peniadaan kesempurnaan shalat. ☑Artinya, shalatnya tidak sah.

๐Ÿ’ฌ๐Ÿ“š Ini adalah mazhab al-Imam asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, al-Imam al-Bukhari, dan ahli hadits selain beliau. Bahkan, al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah membuat tulisan khusus untuk menguatkan pendapat ini.

✏ Mereka memberinya judul al-Qira’ah Khalfal Imam. Pendapat ini dipegangi juga oleh sebagian imam dakwah di masa ini, seperti al-Imam Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz, al-Imam Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, guru kami yang mulia al-Imam asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i, dan yang lainnya—semoga Allah l merahmati mereka semuanya—.

๐Ÿ”Ž⌛ Ini adalah makna yang tampak dari hadits-hadits yang ada. Akan tetapi, dalam masalah makmum yang masbuk (terlambat) mereka terbagi menjadi dua pandangan sebagaimana akan diterangkan, insya Allah.
(al-Muhalla 2/266—273, asy-Syarhul Kabir 1/491—493, at-Tahdzib 2/98—99, al-Majmu’ 3/285, asy-Syarhul Mumti’ 3/296-302)

2⃣ Hukumnya wajib atas imam maupun orang yang shalat sendirian. Adapun makmum, dia dicukupi dengan bacaan imamnya, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah.

๐ŸŒพAkan tetapi, disenangi bagi makmum untuk membacanya pada saat imam berhenti sebentar setelah membaca al-Fatihah. Jika imam mengeraskan bacaannya, makmum wajib mendengarkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahuawata'ala:

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (al-A’raf: 204)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุฅِู…َุงู…ٌ ูَู‚ِุฑَุงุกَุชُู‡ُ ู„َู‡ُ ู‚ِุฑَุงุกَุฉٌ
“Barangsiapa memiliki imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.”

(al-Kafi fi Fiqhil Imam Ahmad ibni Hanbal 1/156—157, Bada’iush Shana’i 1/358—359, al-Mabsuth 1/183—184, Syarhu Ma’anil Atsar 1/278—285)

3⃣ Hukumnya wajib atas makmum dalam shalat sirriyah. Adapun dalam shalat jahriyah, tidak wajib, bahkan dia hendaknya diam untuk mendengarkan bacaan imamnya.
Ini merupakan pendapat al-Imam Malik, yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan yang lainnya.

✒Syaikhul Islam dalam Majmu’ul Fatawa (23/266—330) memberikan keterangan-keterangan yang indah dan ilmiah untuk menguatkan pendapat ini.
Pendapat ini juga dipegangi oleh beberapa imam dakwah di masa ini, seperti ✅al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani,
✅asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibnu Ibrahim Alu asy-Syaikh,
✅asy-Syaikh Abdur Rahman ibnu Nashir as-Sa’di, dan yang lainnya—semoga Allah Subhanahuwata'ala merahmati mereka semuanya—.

(al-Mudawwanah 1/163—160, Mawahibul Jalil 1/518, at-Tamhid 3/173—198, Hasyiatul ‘Adawi 1/228)

๐Ÿš€⛵ Namun, yang rajih sebagaimana yang telah disebutkan, adalah membaca al-Fatihah wajib bagi imam, makmum dan munfarid, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah, kecuali masbuk.

๐Ÿ”ฐSeandainya tidak ada hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahuanh yang dibawakan di atas(1) niscaya pendapat yang kuat adalah yang membedakan atau merinci antara shalat sirriyah dan jahriyah, ⏩ sehingga apabila seorang makmum telah mendengar bacaan al-Fatihah dari imamnya maka gugur kewajibannya membaca al-Fatihah, karena dia mendengarkan dan mengaminkan.

๐Ÿ”“๐Ÿ’กNamun kita tidak bisa memegangi pendapat ini karena ada hadits Ubadah radhiyallahuanhu yang merupakan nash dalam masalah ini.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/70)

๐Ÿ”น(insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ‘ฃCatatan Kaki:

(1) Yaitu hadits:

ูƒُู†َّุง ุฎَู„ْูَ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูِูŠ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ูَู‚َุฑَุฃ َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ูَุซَู‚ُู„َุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉُ ูَู„َู…َّุง ูَุฑِุบَ، ู‚َุงู„َ : ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‚ْุฑَุคُูˆْู†َ ุฎَู„ْูَ ุฅِู…َุงู…ِูƒُู…ْ؟ ู‚ُู„ْู†َุง : ู†َุนَู…ْ ู‡َุฐًّุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ. ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„ุงَ ูŠَู‚ْุฑَุฃُ ุจِู‡َุง

❗☑ Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaihi disebutkan dengan lafadz:

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِุฃُู…ِّ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah).”

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-9/
#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Rabu 17 dzulhijjah 1436H/30 September 2015M Jam 18:25
[4:55 02/10/2015] Admin 5: ~ Bagian 2⃣7⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ’ก⌚๐Ÿšจ Keadaan Masbuk Terkait dengan Kewajiban Membaca al-Fatihah

๐Ÿƒ Apabila orang yang masbuk dalam shalat berjamaah mendapati imam masih berdiri, ia membaca al-Fatihah karena hukumnya ❗⚠ wajib baginya.

⌛ Namun, apabila ia mendapati imam telah ruku’, ia bertakbir kemudian ruku’, tanpa membaca al-Fatihah. Saat imam bangkit dari ruku’, ia pun mengikutinya.

๐ŸŒพDengan ini, ia terhitung beroleh rakaat shalat tersebut walaupun ia tidak membaca al-Fatihah, karena keadaannya sebagai masbuk yang mendapati imam telah ruku’ menggugurkan kewajibannya untuk membaca al-Fatihah.

⛅ Demikian pula apabila orang yang masbuk ini sempat mendapati imam masih berdiri untuk membaca surah dalam Al-Qur’an, namun tidak memungkinkan baginya menyelesaikan bacaan al-Fatihah karena imam ternyata telah ruku’.

๐Ÿš€Ia pun bertakbir dan ikut ruku’ bersama imam. Adapun al-Fatihah yang belum selesai dibacanya telah gugur darinya. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abu Bakrah radhiyallahuanhu dalam Shahih al-Bukhari berikut ini.

ุฃَู†َّู‡ُ ุงู†ْุชَู‡َู‰ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฑَุงูƒِุนٌ ูَุฑَูƒَุนَ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุตِู„َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّูِّ، ูَุฐَูƒَุฑَ ุฐَู„ِูƒَ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ n ูَู‚َุงู„َ: ุฒَุงุฏَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ุญِุฑْุตًุง ูˆَู„ุงَ ุชَุนُุฏْ

“Ia sampai ke Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam (ketika masuk ke masjid) dalam keadaan Nabi sedang ruku’. Ia pun ruku sebelum sampai ke dalam shaf (1). Lalu diceritakan hal itu kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam . Beliau pun bersabda, ‘Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu (2)’.” (HR. al-Bukhari no. 783)

๐ŸšชKetika Abu Bakrah radhiyallahuanhu masuk ke dalam shalat berjamaah, ia tidak mendapati qiyam (berdiri untuk membaca surah) karena imam telah ruku’, padahal qiyam merupakan saat dibacanya al-Fatihah.

๐Ÿ‚ Berarti, gugur darinya kewajiban membaca al-Fatihah karena telah berlalu tempatnya.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/69—70)

๐Ÿ”Š Kita katakan kewajibannya gugur karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah radhiyallahuanhu menambah satu rakaat dari shalatnya tersebut.

๐Ÿ”ฐArtinya, Abu Bakrah teranggap beroleh rakaat pertama yang didapatkannya dalam keadaan imam telah ruku’ dan ia sendiri sempat ruku’ bersama imam. Inilah pendapat yang rajih (kuat) menurut kami.

๐Ÿ’ก๐Ÿ”ฆ Dalam masalah ini ada pendapat yang lain, yaitu ketika masbuk tidak mendapatkan al-Fatihah sama sekali ataupun tidak sempurna membacanya, ia tidak teranggap mendapatkan satu rakaat dalam shalat.

๐Ÿ‘“ Pendapat ini dipegangi oleh sebagian muta’akhirin (orang-orang yang belakangan) seperti al-Imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/67—69) dan yang lainnya—semoga Allah Subhanahuwata'ala merahmati mereka semua—.

๐Ÿ”‘Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah Al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

“Ulama berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Yang rajih, makmum (3) wajib membacanya berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam :

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

(Muttafaqun alaihi)

๐Ÿ”˜Juga sabda beliau Shalallahu'alaihi wa sallam :
ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‚ْุฑَุคُูˆْู†َ ุฎَู„ْูَ ุฅِู…َุงู…ِูƒُู…ْ؟ ู‚َุงู„ُูˆุง: ู†َุนَู…ْ. ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِู‡َุง

”Tampaknya di antara kalian ada yang membaca di belakang imam kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami melakukannya, wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Jangan kalian lakukan hal itu selain pada Fatihatul Kitab, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.”

(HR. Abu Dawud dan selainnya dengan sanad yang hasan)

๐Ÿ’ŽJika imam tidak diam dalam shalat jahriah maka makmum membaca al-Fatihah ini walaupun dalam keadaan imam sedang membaca Al-Qur’an. Setelahnya, dia diam agar bisa mengamalkan dua hadits yang disebutkan di atas.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ”“ Apabila makmum lupa atau tidak tahu tentang wajibnya membaca al-Fatihah, gugur darinya kewajiban tersebut, seperti orang yang masuk dalam jamaah dalam keadaan imam sedang ruku’, ia ruku’ bersama imam dan ia mendapat satu rakaat bersama imam, menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat ulama.

๐ŸŽจ Ini adalah pendapat mayoritas ahlul ilmi berdasarkan hadits Abu Bakrah ats-Tsaqafi radhiyallahuanhu.

๐Ÿ“ฃ Disebutkan bahwa beliau radhiyallahuanhu mendatangi masjid dalam keadaan Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam sedang ruku’. Ia pun ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, kemudian berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf.

๐Ÿ“ Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam pun bersabda kepadanya setelah mengucapkan salam dari shalat beliau:

ุฒَุงุฏَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ุญِุฑْุตًุง ูˆَู„ุงَ ุชَุนُุฏْ

“Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu.”

๐ŸŒป Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah radhiyallahuanhu mengganti rakaat tersebut. Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya.

๐Ÿ”˜Adapun hadits:

ู‚ِุฑَุกَุฉُ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ِ ู‚ِุฑَุงุกَุฉٌ ู„ِู…َู†ْ ุฎَู„ْูَู‡ُ

“Bacaan imam adalah bacaan bagi orang yang di belakangnya.”

๐Ÿšซadalah hadits dhaif yang tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya. Hal ini telah diperingatkan oleh ulama hadits.

๐ŸŒ“ Seandainya hadits ini sahih, dia ditempatkan sebagai hadits umum yang dikhususkan dengan perintah membaca al-Fatihah (yakni selain al-Fatihah maka bacaan imam adalah bacaan makmum). Wabillahi at-taufiq.”

(Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/226—227)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿพ Catatan Kaki:

(1) Sebelum bergabung dalam shaf, Abu Bakrah radhiyallahuanhu telah bertakbiratul ihram, lalu ruku’ dan berjalan masuk ke dalam shaf dalam keadaan ruku’.

(2) Dengan terburu-buru ingin bergabung dengan shaf/tidak ingin ketinggalan rakaat, kemudian melakukan ruku’ sebelum sampai ke dalam shaf lalu berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf.

(Fathul Bari, 2/347)

(3) Adapun bagi imam dan munfarid (yang shalat sendirian), membaca al-Fatihah adalah amalan rukun, menurut jumhur ahlul ilmi. Dia tidak bisa gugur sama sekali selama keduanya mampu/bisa membacanya.

(Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/236)

๐Ÿ“ฌSumber:

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-10/

#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Jum'at 19 Dzulhijjah 1436H/02 Oktober 2015M Jam 04:50


[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣7⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ”ฐ( Beberapa doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam )

___________________________

6⃣ Bacaan:
ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ, ูˆَุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงุณْู…ُูƒَ, ูˆَุชَุนَุงู„َู‰ ุฌَุฏُّูƒَ, ูˆَ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุบَูŠْุฑُูƒَ، ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (ุซَู„َุงุซًุง), ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑ ูƒَุจِูŠْุฑًุง (ุซَู„َุงุซًุง)

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Maha Tinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (3 kali), Allah Maha Besar (3 kali).” (HR. Abu Dawud no. 775 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

๐Ÿ”‘๐Ÿ’กRasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat malam (tahajud).

7⃣ Bacaan:

ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูƒَุจِูŠْุฑًุง، ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ูƒَุซِูŠْุฑًุง، ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุจُูƒْุฑَุฉً ูˆَุฃَุตِูŠْู„ุงً

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.”

(HR. Muslim no. 1357 dan yang selainnya dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma)

๐Ÿ“Ž๐Ÿ“„ Doa ini diucapkan seorang sahabat ketika beristiftah, maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam setelah menanyakan siapa pengucapnya, beliau bersabda, “Aku merasa kagum dengan doa tersebut! Dibukakan untuk doa tersebut ☁๐Ÿšช๐ŸŒบpintu-pintu langit.”

8⃣ Bacaan:

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ุญَู…ْุฏًุง ูƒَุซِูŠْุฑًุง ุทَูŠِّุจًุง ู…ُุจَุงุฑَูƒًุง ูِูŠْู‡ِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi diberkahi di dalamnya.”

(HR. Muslim no. 1356 dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu)

๐Ÿ”Š๐ŸŒˆ Doa ini diucapkan seorang sahabat yang lain ketika beristiftah, maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku melihat dua belas malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang akan mengangkat doa tersebut.”

9⃣ Bacaan:

ุงู„ู„ُّู‡ُู…َّ ู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ، ุฃَู†ْุชَ ู‚َูŠِّู…ُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู…َู†ْ ูِูŠْู‡ِู†َّ، ูˆَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ، ู„َูƒَ ู…ُู„ْูƒُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู…َู†ْ ูِูŠู‡ِู†َّ، ูˆَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ุฃَู†ْุชَ ู†ُูˆْุฑُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ، ูˆَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ุฃَู†ْุชَ ู…َู„ِูƒُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ، ูˆَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْุญَู‚ُّ، ูˆَูˆَุนْุฏُูƒَ ุญَู‚ٌّ، ูˆَู„ِู‚َุงุคُูƒَ ุญَู‚ٌّ، ูˆَู‚َูˆْู„ُูƒَ ุญَู‚ٌّ، ูˆَุงู„ْุฌَู†َّุฉُ ุญَู‚ٌّ، ูˆَุงู„ู†َّุงุฑُ ุญَู‚ٌّ، ูˆَุงู„ู†َّุจِูŠُّูˆْู†َ ุญَู‚ٌّ، ูˆَู…ُุญَู…ّุฏٌ ุญَู‚ٌّ، ูˆَุงู„ุณَّุงุนَุฉُ ุญَู‚ٌّ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู„َูƒَ ุฃَุณْู„َู…ْุชُ، ูˆَุจِูƒَ ุขู…َู†ْุชُ، ูˆَุนَู„َูŠْูƒَ ุชَูˆَูƒَّู„ْุชُ، ูˆَุฅِู„َูŠْูƒَ ุฃَู†َุจْุชُ، ูˆَุจِูƒَ ุฎَุงุตَู…ْุชُ، ูˆَุฅِู„َูŠْูƒَ ุญَุงูƒَู…ْุชُ، ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ู…َุง ู‚َุฏَّู…ْุชُ ูˆَู…َุง ุฃَุฎَّุฑْุชُ ูˆَู…َุง ุฃَุณْุฑَุฑْุชُ ูˆَู…َุง ุฃَุนْู„َู†ْุชُ، ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْู…ُู‚َุฏِّู…ُ ูˆَุฃَู†ْุชَ ุงู„ْู…ُุคَุฎِّุฑُ, ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ، ูˆَู„ุงَ ุญَูˆْู„َ ูˆَ ู„ุงَ ู‚ُูˆَّุฉَ ุฅِู„ุงَّ ุจِุงู„ู„ู‡ِ

“Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Penegak (yang menjaga dan memelihara) langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. ๐ŸŒ•๐ŸŒ⚡ Dan hanya milik-Mu lah segala pujian, hanya milik-Mu lah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah Raja langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. ๐Ÿ”†๐ŸŒฟ Hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, ucapan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, Muhammad itu benar dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi). Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan hanya karena-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan.๐ŸŒด๐Ÿƒ Engkau adalah Dzat yang Terdahulu, dan Engkau adalah Dzat yang Paling Akhir, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

(HR. Al-Bukhari no. 1120 dan Muslim no. 1805 dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, lafadz yang dibawakan adalah lafadz Al-Bukhari)

๐Ÿ”Ž๐Ÿ“ฃ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat tahajjud.

๐Ÿ”Ÿ Bacaan:

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฑَุจَّ ุฌِุจْุฑَุฆِูŠْู„َ ูˆَู…ِูŠْูƒَุงุฆِูŠْู„َ ูˆَุฅِุณْุฑَุงูِูŠْู„َ، ูَุงุทِุฑَ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ، ุนَุงู„ِู…َ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉِ، ุฃَู†ْุชَ ุชَุญْูƒُู…ُ ุจَูŠْู†َ ุนِุจَุงุฏِูƒَ ูِูŠู…َุง ูƒุงَู†ُูˆْุง ูِูŠْู‡ِ ูŠَุฎْุชَู„ِูُูˆْู†َ، ุงู‡ْุฏِู†ِูŠ ู„ِู…َุง ุงุฎْุชُู„ِูَ ูِูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَู‚ِّ ุจِุฅِุฐْู†ِูƒَ، ุฅِู†َّูƒَ ุชَู‡ْุฏِูŠ ู…َู†ْ ุชَุดَุงุกُ ุฅِู„َู‰ ุตِุฑَุงุทٍ ู…ُุณْุชَู‚ِูŠْู…ٍ

“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

(HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah radhiyallahuanha)

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkannya dalam shalat lail (shalat malam).

1⃣1⃣ Bacaan:

ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ (ุนَุดْุฑًุง)، ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ (ุนَุดْุฑًุง)، ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ (ุนَุดْุฑًุง), ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (ุนَุดْุฑًุง)، ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ (ุนَุดْุฑุงً).
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ، ูˆَุงู‡ْุฏِู†ِูŠ، ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†ِูŠ، ูˆَุนَุงูِู†ِูŠ (ุนَุดْุฑًุง).
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ุถِّูŠْู‚ِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุญِุณَุงุจِ (ุนَุดْุฑًุง)

Allah Maha Besar (10 kali). Segala puji bagi Allah (10 kali). Mahasuci Allah (10 kali), tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (10 kali), aku memohon ampun kepada Allah (10 kali).
(kemudian membaca) Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku. (10 kali)
(kemudian diteruskan dengan membaca) Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan).

(HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah radhiyallahuanha, dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, 1/267 )

๐Ÿ”๐Ÿšซ Doa-doa istiftah di atas tidak digabungkan saat dibaca, karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam ketika ditanya Abu Hurairah radhiyallahuanhu tentang bacaan istiftah beliau, beliau menjawab dengan bacaan:

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจุงَุนِุฏْ ุจَูŠْู†ِูŠ ูˆَุจَูŠْู†َ ุฎَุทَุงูŠَุงูŠَ….

Beliau tidaklah menyebut doa istiftah yang lain setelah itu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menggabungkan doa-doa istiftah yang ada.

(Asy-Syarhul Mumti’, 3/52)

๐Ÿ”น(Insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Kamis 03 Dzulhijjah 1436H/17 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣8⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿƒ...Isti’adzah...๐Ÿƒ

๐ŸŒฟ Isti’adzah yaitu bersandar kepada Allah Subhanahuwata'ala dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

☁ Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahuwata'ala terlebih dahulu dengan mengucapkan:

ุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠْู…ِ، ู…ِู†ْ ู‡َู…ْุฒِู‡ِ ูˆَู†َูْุฎِู‡ِ ูˆَู†َูْุซِู‡ِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat) dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiyallahuanhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

๐Ÿ’ˆTerkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menambah dengan:

ุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุณَّู…ِูŠْุนِ ุงู„ْุนَู„ِูŠْู…ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠู…ِ، ู…ِู†ْ ู‡َู…ْุฒِู‡ِ ูˆَู†َูْุฎِู‡ِ ูˆَู†َูْุซِู‡ِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”

(HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

▫Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan kadang-kadang.

๐ŸŽจ Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dengan dalil hadits Al-Musi’u Shalatuhu, di mana dalam hadits tersebut tidak disebutkan ta’awudz.

(Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

๐Ÿ“‹๐Ÿ“Š Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi.

(Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

๐Ÿ”Ž๐Ÿ’ช๐ŸปPendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

๐Ÿ“š๐Ÿ”ŠAl-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz kecuali menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

⚠ Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat.

๐ŸŒบ๐Ÿ“„ Sedangkan hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz ataupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya.

❗⚠ Maka yang lebih hati-hati adalah mencukupkan dengan apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, yaitu isti’adzah hanya dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an dalam rakaat pertama saja.”

(Nailul Authar, 2/39)

▫Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุฅِุฐَุง ู†َู‡َุถَ ูِูŠ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ ุงูْุชَุชَุญَ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉِ ุจِุงู„ْุญَู…ْุฏِ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุณْูƒُุชْ

“Adalah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.”

(HR. Muslim no. 1355)

๐Ÿ“ƒ๐Ÿšฆ Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Demikian pula tidak disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Sehingga diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama.
Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama.

(Nailul Authar, 2/136)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ n ูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ู†َู‡َุถَ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ، ุงุณْุชَูْุชَุญَ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉَ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุณْูƒُุชْ

“Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit dari rakaat yang kedua???, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

๐Ÿ‚๐ŸŒพ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi beliau menyelinginya dengan dzikir.

☑❗Maka qiraah dalam shalat seperti satu qiraah apabila yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah, atau tasbih, atau tahlil, atau shalawat kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , dan yang semisalnya.

๐ŸŒ“๐ŸŒˆ Adapula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan yang lainnya dari ahlul ilmi, dengan dalil firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

๐Ÿ”น(Insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

๐Ÿšจ...NOTE...๐Ÿšจ

Catatan kaki ๐Ÿพ belum tersedia di website, silahkan meruju' ke majalah asy syariah edisi 59 .

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Jum'at 04 Dzulhijjah 1436H/18 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣9⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ”Rahasia isti’adzah

๐Ÿ‚๐Ÿƒ Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Di antaranya sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor yang diucapkan oleh seseorang, ketika mengucapkan/membaca kalamullah.

๐ŸŒบ Juga merupakan isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Subhanahuwata'ala, serta pengakuan bahwa Allah Subhanahuwata'ala-lah yang memiliki kekuasaan, sementara hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak, serta tak ada yang mampu menolak dan mencegahnya kecuali Allah Subhanahuwata'ala yang menciptakannya.

๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ฅ Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

⚪ Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)

☁⚡Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak maka dia menjadi seorang syahid. Sementara orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir.

๐Ÿ’ข☔ Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak maka dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

๐Ÿ”Ž๐Ÿ’กTatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat Yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

✒Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya.

๐Ÿ’ˆ๐Ÿšฒ Karena pada saat itu ia dalam keadaan berdiri beribadah kepada Rabbnya yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

▫Abu Hurairah radhiyallahuanhu menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ุฅِุฐَุง ู†ُูˆْุฏِูŠَ ู„ِู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฃَุฏْุจَุฑَ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ ูˆَู„َู‡ُ ุถُุฑَุงุทٌ ุญَุชَّู‰ ู„ุงَ ูŠَุณْู…َุนُ ุงู„ุชَّุฃْุฐِูŠْู†َ، ูَุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ู†ِّุฏَุงุก ุฃَู‚ْุจَู„َ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุซَูˆَّุจَ ุจِุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฃَุฏْุจَุฑَ، ุญَุชู‰َّ ุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ุชَّุซْูˆِูŠْุจَ ุฃَู‚ْุจَู„َ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฎْุทُุฑَ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…َุฑْุกِ ูˆَู†َูْุณِู‡ِ ูŠَู‚ُูˆْู„ُ: ุงُุฐْูƒُุฑْ ูƒَุฐَุง، ุงُุฐْูƒُุฑْ ูƒَุฐَุง -ู„ِู…َุง ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูŠَุฐْูƒُุฑُ– ุญَุชَّู‰ ูŠَุธِู„َّ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ู„ุงَ ูŠَุฏْุฑِูŠ ูƒَู…ْ ุตَู„َّู‰

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan.๐Ÿ”Š Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata,๐Ÿ’ฌ ‘Ingatlah ini, ๐Ÿ’ญ ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.”

(HR. Al-Bukhari no. 608)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

๐Ÿ”น(Insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

๐Ÿšจ...NOTE...๐Ÿšจ

Catatan kaki ๐Ÿพ belum tersedia di website, silahkan meruju' ke majalah asy syariah edisi 59 .

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Sabtu 05 Dzulhijjah 1436H/19 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 2⃣0⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐ŸŒ•๐Ÿ”๐Ÿ”Ž Isti’adzah

๐Ÿ’กIsti’adzah adalah bersandar kepada Allah Subhanahuwata'ala dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“„Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahuwata'ala terlebih dahulu dengan mengucapkan:

ุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠْู…ِ، ู…ِู†ْ ู‡َู…ْุฒِู‡ِ ูˆَู†َูْุฎِู‡ِ ูˆَู†َูْุซِู‡ِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat) dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”

(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiyallahuanhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

๐Ÿ”ฐTerkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menambah dengan:

ุฃَุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุณَّู…ِูŠْุนِ ุงู„ْุนَู„ِูŠْู…ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠู…ِ، ู…ِู†ْ ู‡َู…ْุฒِู‡ِ ูˆَู†َูْุฎِู‡ِ ูˆَู†َูْุซِู‡ِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”

(HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

✒ Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.

๐ŸŽจ Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz.

(Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

๐Ÿ“ Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

๐Ÿ‘‰๐ŸปPendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

▫Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan,
“Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama.

๐Ÿƒ Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.”

(An-Nahl: 98)

๐ŸŒพ๐ŸŒด Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat.

๐Ÿ’Ž Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya.

๐Ÿ”⚠ Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.”

(Nailul Authar, 2/39)

Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุฅِุฐَุง ู†َู‡َุถَ ูِูŠ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ ุงูْุชَุชَุญَ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉِ ุจِุงู„ْุญَู…ْุฏِ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุณْูƒُุชْ
“Adalah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.”

(HR. Muslim no. 1355)

❗๐Ÿ’กHadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua.

๐Ÿ”‡Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama.

(Nailul Authar, 2/136)

✒Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.)
adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ n ูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ู†َู‡َุถَ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ، ุงุณْุชَูْุชَุญَ ุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉَ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุณْูƒُุชْ

“Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

▫Bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir.

๐ŸŒตDengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah Subhanahuwata'ala, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , dan yang semisalnya.

๐Ÿ“Ž✏ Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi yang lainnya, dengan dalil firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

๐Ÿ”น(Insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-6/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 06 Dzulhijjah 1436H/20 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 2⃣1⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ”๐Ÿšช๐ŸŒท Rahasia isti’adzah

๐Ÿ“ฆ Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Subhanahuwata'ala, dan pengakuan bahwa Allah Subhanahuwata'ala -lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata ataupun tidak nampak.

☁⛅ Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah Subhanahuwata'ala yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia.

⚪ Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)

๐Ÿš€⛵ Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

⛔๐Ÿ”ฅTatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

✒ Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Rabbnya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ’ซ setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

 Abu Hurairah radhiyallahuanhu menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ุฅِุฐَุง ู†ُูˆْุฏِูŠَ ู„ِู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฃَุฏْุจَุฑَ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ ูˆَู„َู‡ُ ุถُุฑَุงุทٌ ุญَุชَّู‰ ู„ุงَ ูŠَุณْู…َุนُ ุงู„ุชَّุฃْุฐِูŠْู†َ، ูَุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ู†ِّุฏَุงุก ุฃَู‚ْุจَู„َ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุซَูˆَّุจَ ุจِุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฃَุฏْุจَุฑَ، ุญَุชู‰َّ ุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ุชَّุซْูˆِูŠْุจَ ุฃَู‚ْุจَู„َ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฎْุทُุฑَ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…َุฑْุกِ ูˆَู†َูْุณِู‡ِ ูŠَู‚ُูˆْู„ُ: ุงُุฐْูƒُุฑْ ูƒَุฐَุง، ุงُุฐْูƒُุฑْ ูƒَุฐَุง -ู„ِู…َุง ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูŠَุฐْูƒُุฑُ– ุญَุชَّู‰ ูŠَุธِู„َّ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ู„ุงَ ูŠَุฏْุฑِูŠ ูƒَู…ْ ุตَู„َّู‰

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.”

 (HR. Al-Bukhari no. 608). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

๐Ÿ”น(Insya Allah bersambung)๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-6/


#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Senin 07 Dzulhijjah 1436H/21 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 2⃣2⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ”Š๐ŸŒป Bacaan Basmalah

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik radhiyallahuanhu yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah.

๐Ÿพ Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas radhiyallahuanhu, ia berkata:

ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ูˆَุฃَุจَุง ุจَูƒْุฑٍ ูˆ َุนُู…َุฑَ ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูْุชَุชِุญُูˆู†َ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ุจِู€ { ๏ญ– ๏ญ— ๏ญ˜ ๏ญ™}

“Sesungguhnya Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar radhiyallahuanhu, membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

(HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)

๐Ÿ”ณ Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar radhiyallahuanhu tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan.

(Subulus Salam 2/191)

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’Ž Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr.

(Fathul Bari, 2/294)

๐Ÿ”ณ Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Makna hadits ini adalah Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiyallahuanhum, mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim.”
(Sunan At-Tirmidzi, 1/156)

๐Ÿ”Ž๐ŸŽจ Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml?

๐Ÿ”‘๐Ÿ’ก Insya Allah pembaca bisa melihat keterangannya pada artikel: Apakah Basmalah Termasuk Ayat dari Surah Al-Fatihah?
Kami (penulis) dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.

๐Ÿ”ณ Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata,

“Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam —di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya radhiyallahuanhu—dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan.

๐Ÿ“ฃ Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

๐ŸŽ“⏳ Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.

๐Ÿ”ณ Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair radhiyallahuanhum, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan.

(Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-7/

#sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Selasa 08 Dzulhijjah 1436H/22 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 2⃣3⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ”Ž๐Ÿ“Ž ๐Ÿ“ƒMembaca al-Fatihah ayat demi ayat

๐Ÿƒ Setelah membaca basmalah, mulailah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca surah al-Fatihah yang beliau baca ayat demi ayat.

๐ŸšฆBeliau Shalallahu'alaihi wa sallam berhenti setiap satu ayat, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahuanhu ketika ditanya tentang bacaan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam . Ummu Salamah radhiyallahuanha menjawab, “Adalah beliau memotong bacaan ayat demi ayat ….”

(HR. Ahmad 6/302, hadits ini shahih bi dzatihi bila tidak ada ‘an’anah1 Ibnu Juraij, namun hadits ini memiliki mutaba’ah)

๐Ÿ”ฐTerkadang Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca:

dengan memendekkan lafadz ๏ญž (dibaca ู…َู„ِูƒِ) dan pada kesempatan lain beliau n memanjangkannya (dibaca ู…َุงู„ِูƒِ).

๐Ÿ”ŠDua bacaan ini, kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, shahih mutawatir dalam qira’ah sab’ah.

(Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/32)

๐ŸŒ“Membaca al-Fatihah Merupakan Rukun shalat
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ู„ุงَ ุตَู„ุงَุฉَ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَู‚ْุฑَุฃْ ุจِูَุงุชِุญَุฉِ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

(HR. al-Bukhari no. 756 dan Muslim no. 872)

๐Ÿ‚ Hadits ini menunjukkan tidak teranggapnya shalat orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah, sehingga membacanya dalam shalat merupakan amalan rukun.

๐Ÿ“š๐ŸŽจ Yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka. Ibnul Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari Umar ibnul Khaththab, Utsman ibnu Abil Ash, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Khawwat ibnu Jubair, az-Zuhri, Ibnu ‘Aun, al-Auza’i, Malik, Ibnul Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.

๐Ÿ’ฝ Dihiyakatkan pula pendapat ini dari ats-Tsauri dan Dawud. Mereka berdalil dengan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang sahih.

☎ Adapun Abu Hanifah berpendapat membaca al-Fatihah tidak wajib, tetapi sunnah saja. Di riwayat lain, beliau menyatakan bahwa membaca al-Fatihah wajib namun bukan syarat.
Seandainya seseorang membaca selain al-Fatihah niscaya sudah mencukupi.

๐Ÿ’ˆAdapun hadits yang dijadikan argumen oleh jumhur yang mengatakan rukun, mereka menjawab bahwa yang ditiadakan adalah kesempurnaan shalat. Jadi, maksudnya adalah orang yang tidak membaca al-Fatihah tidak shalat dengan sempurna.
Akan tetapi, makna ini menyelisihi hakikat, zahir, yang langsung dipahami oleh benak. Oleh karena itu, yang kuat menurut penulis, al-Fatihah ini harus dibaca dalam setiap rakaat shalat, sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf (ulama belakangan, red.).

(al-Majmu’ 3/283—284, al-Minhaj 4/323)

✒ Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Fatihah hanya wajib dibaca dalam dua rakaat yang awal dan tidak wajib pada rakaat berikutnya. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, yang benar al-Fatihah wajib dibaca pada seluruh rakaat.

⏳๐Ÿ” Yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam kepada orang yang keliru shalatnya, setelah mengajarinya shalat yang benar. Di antara yang diajarkan adalah membaca al-Fatihah. Beliau Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ุซُู…َّ ุงูْุนَู„ْ ุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ุตَู„ุงَุชِูƒَ ูƒُู„ّู‡َุง
“Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu seluruhnya.”

๐Ÿพ Catatan Kaki:

1⃣ Periwayatan dengan menggunakan kata ‘an (dari) sehingga tidak jelas apakah perawi mendengar langsung atau tidak, sedangkan Ibnu Juraij seorang mudallis ( perawi yang suka menggelapkan hadits).

2⃣ Rukun merupakan amalan shalat yang bila ditinggalkan karena sengaja ataupun tidak, shalat tersebut batal, tidak sah.

๐Ÿ“ฅSumber:

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-8/
____________________________
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 13 Dzulhijjah 1436H/27 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 2⃣4⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐ŸŒบ๐ŸŒ•☁ Keutamaan al-Fatihah

๐Ÿ”˜Dalam sebuah hadits disebutkan:

ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰: ู‚َุณَู…ْุชُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ุจَูŠْู†ِูŠ ูˆَุจَูŠْู†َ ุนَุจْุฏِูŠ ู†ِุตْูَูŠْู†ِ؛ ูَู†ِุตْูُู‡َุง ู„ِูŠ ูˆَู†ِุตْูُู‡َุง ู„ِุนَุจْุฏِูŠ، ูˆَู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…َุง ุณَุฃَู„َ. ูˆَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n: ุงู‚ْุฑَุคُูˆْุง: ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ: { ๏ญ– ๏ญ— ๏ญ˜ ๏ญ™} ูŠَู‚ُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: ุญَู…َّุฏَู†ِูŠ ุนَุจْุฏِูŠ. ูˆَูŠَู‚ูˆู„ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ: { ๏ญ› ๏ญœ}. ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: ุฃَุซْู†َู‰ ุนَู„َูŠَّ ุนَุจْุฏِูŠ. ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ: { ๏ญž ๏ญŸ ๏ญ }. ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: ู…َุฌَّุฏَู†ِูŠ ุนَุจْุฏِูŠ. ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ: { ๏ญข ๏ญฃ ๏ญค ๏ญฅ} ู‚َุงู„َ: ูَู‡ุฐِู‡ِ ุจَูŠْู†ِูŠ ูˆَุจَูŠْู†َ ุนَุจْุฏِูŠ ูˆَู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…َุง ุณَุฃَู„َ. ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ: {๏ญง ๏ญจ ๏ญฉ ๏ญช ๏ญซ ๏ญฌ ๏ญญ ๏ญฎ ๏ญฏ ๏ญฐ ๏ญฑ ๏ญฒ ๏ญณ} ู‚َุงู„َ: ูَู‡َุคُู„ุงَุกِ ู„ِุนَุจْุฏِูŠ، ูˆَู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…َุง ุณَุฃَู„َ

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Aku membagi (3) shalat (4) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua. ๐Ÿƒ Separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya.”

๐Ÿ”˜Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah oleh kalian!” Si hamba berkata, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Hamba berkata, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah Subhanahuwata'ala berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” ๐Ÿ‚ Si hamba berkata, “Yang menguasai hari pembalasan.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Si hamba berkata, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.”๐ŸŒฟ Si hamba berkata, “Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan apa yang ia minta.”

(HR. Muslim no. 876)

▫Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sungguh Abdullah bin Ziyad bin Sulaiman, seorang pendusta, meriwayatkan dengan tambahan pada awal hadits
“Apabila hamba itu membaca ‘Bismillahir rahmanir rahim,’ Allah Subhanahuwata'ala berfirman, “Hamba-Ku telah mengingat-Ku.” Karena itu, ulama bersepakat mendustakan tambahan ini.”

(Majmu’ Fatawa, 22/423)

๐Ÿ”˜Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda tentang al-Fatihah ini:

ู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ k ูِูŠ ุงู„ุชَّูˆْุฑَุงุฉِ ูˆَู„ุงَ ูِูŠ ุงู„ْุฅِู†ْุฌِูŠْู„ِ ู…ِุซْู„َ ุฃُู…ِّ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ูˆَู‡ِูŠَ ุงู„ุณَّุจْุนُ ุงู„ْู…َุซَุงู†ِูŠ…

“Allah tidak menurunkan dalam Taurat dan tidak pula dalam Injil yang semisal Ummul Qur’an, dan dia adalah tujuh ayat yang berulang-ulang (5)….”

(HR. an-Nasa’i no. 914, at-Tirmidzi no. 3125, dan Ahmad 5/114, dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“œ Orang yang belum bisa menghafalnya harus mempelajari dan terus berupaya menghafalkannya.

⌚ Bila waktu telah mendesak, misalnya waktu shalat hampir habis, sementara ia belum juga dapat menghafalkan al-Fatihah, ia membaca apa yang dihafalnya dari Al-Qur’an.๐Ÿ”ฐIni berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:

ุงู‚ْุฑَุฃْ ู…َุง ุชَูŠَุณَّุฑَ ู…َุนَูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ

“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (yang telah kau hafal).”

 (HR. al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

๐Ÿ”“Bila ia sama sekali tidak memiliki hafalan Al-Qur’an, ia mengucapkan:

ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ، ูˆَู„ุงَ ุญَูˆْู„َ ูˆَู„ุงَ ู‚ُูˆَّุฉَ ุฅِู„ุงَّ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ْุนَู„ِูŠِّ ุงู„ْุนَุธِูŠْู…ِ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

(HR. Ahmad 4/353, 356, 382, Abu Dawud no. 832, dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

๐Ÿ”นInsya Allah bersambung๐Ÿ”น

๐Ÿพ Catatan kaki

(3) Maksudnya, membagi dari sisi makna. Bagian pertama adalah pujian kepada Allah Subhanahuwata'ala, pemuliaan, sanjungan, dan penyerahan urusan kepada-Nya. Bagian kedua adalah permohonan, ketundukan, dan perasaan butuh.

(4)Yang dimaksud adalah al-Fatihah. Al-Fatihah dinamakan shalat, karena shalat tidak sah kecuali dengan membaca al-Fatihah.

(5) Berulang-ulang dibaca setiap shalat

๐Ÿ“ฅSumber:

http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-ke-8/

#sifat-sholat-nabi
____________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Ahad 14 Dzulhijjah 1436H/28 September 2015M


~ Bagian 1⃣6⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ“š๐Ÿƒ Beberapa doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

1⃣ Bacaan:

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจุงَุนِุฏْ ุจَูŠْู†ِูŠ ูˆَุจَูŠْู†َ ุฎَุทَุงูŠَุงูŠَ ูƒَู…َุง ุจุงَุนَุฏْุชَ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…َุดْุฑِู‚ِ ูˆَุงู„ْู…َุบْุฑِุจِ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู†َู‚ِّู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุฎَุทَุงูŠَุงูŠَ ูƒَู…َุง ูŠُู†َู‚َّู‰ ุงู„ุซَّูˆْุจُ ุงู„ْุฃَุจْูŠَุถُ ู…ِู†َ ุงู„ุฏَّู†َุณِ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุบْุณِู„ْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุฎَุทَุงูŠَุงูŠَ ุจِุงู„ْู…َุงุกِ ูˆَุงู„ุซَّู„ْุฌِ ูˆَุงู„ْุจَุฑَุฏِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, hujan es, dan air dingin.”

(HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 1353, dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu)

๐ŸŒบ๐Ÿ’ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu.


2⃣ ๐Ÿ‘“ Bacaan:
ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ِู„َّุฐِูŠْ ูَุทَุฑَ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠْูًุง ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ، ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠْ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ، ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَู„َู…ِูŠْู†َ، ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุจِุฐู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุง ุฃَูˆَّู„ُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْู…َู„ِูƒُ ู„ุงَ ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ، ุฃَู†ْุชَ ุฑَุจِّูŠ ูˆَุฃَู†َุง ุนَุจْุฏُูƒَ، ุธَู„َู…ْุชُ ู†َูْุณِูŠ ูˆَุงุนْุชَุฑَูْุชُ ุจِุฐَู†ْุจِูŠ، ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ุฐَู†ْุจِูŠ ุฌَู…ِูŠْุนًุง ุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠَุบْูِุฑُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆْุจَ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ. ูˆَุงู‡ْุฏِู†ِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِ ุงู„ْุฃَุฎْู„ุงَู‚ِ، ู„ุงَ ูŠَู‡ْุฏِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِู‡َุง ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ. ูˆَุงุตْุฑِูْ ุนَู†ِّูŠ ุณَูŠِّุฆَู‡َุง, ู„ุงَ ูŠَุตْุฑِูُ ุนَู†ِّูŠ ุณَูŠِّุฆَู‡َุง ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ. ู„َุจَّูŠْูƒَ ูˆَุณَุนْุฏَูŠْูƒَ، ูˆَุงู„ْุฎَูŠْุฑُ ูƒُู„ُّู‡ُ ูِูŠ ูŠَุฏَูŠْูƒَ، ูˆَุงู„ุดَّุฑُّ ู„َูŠْุณَ ุฅِู„َูŠْูƒَ، ุฃَู†َุง ุจِูƒَ ูˆَุฅِู„َูŠْูƒَ، ุชَุจَุงุฑَูƒْุชَ ูˆَุชَุนَุงู„َูŠْุชَ، ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆْุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus mengarah kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau. Labbaika (aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu) dan sa’daik (terus bersiap menerima perintah-Mu dan terus mengikuti agama-Mu yang Engkau ridhai). Kebaikan itu seluruhnya berada pada kedua tangan-Mu, dan kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu. Aku berlindung, bersandar kepada-Mu dan Aku memohon taufik pada-Mu. Mahasuci Engkau lagi Mahatinggi. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

(HR. Muslim no. 1809 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu)

๐Ÿ’ฌ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu dan shalat nafilah. Ini menyelisihi pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa doa istiftah ini dibaca dalam shalat lail (tahajud), seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi rahimahullah dalam Musnad-Nya (23) dan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/51) mengatakan, “Yang benar, doa istiftah ini hanyalah diucapkan beliau Shalallahu'alaihi wa sallam dalam qiyamul lail.” Namun pendapat yang benar sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Ashlu Shifah Shalatin Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , 1/249)

3⃣ Bacaan:

ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ِู„َّุฐِูŠْ ูَุทَุฑَ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠْูًุง ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ. ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠ, ูˆَู†ُุณُูƒِูŠْ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَู„َู…ِูŠْู†َ، ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ، ูˆَุฃَู†َุง ุฃَูˆَّู„ُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْู…َู„ِูƒُ ู„ุงَ ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ ุณُุจْุญุงَู†َูƒَ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan aku lurus, condong kepada al-haq lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Ya Allah, Engkau adalah Raja tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Mahasuci Engkau dan sepenuh pujian kepada-Mu.”

(HR. An-Nasa’i no. 898 dari Muhammad bin Maslamah radhiyallahuanhu. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 821)

4⃣ Bacaan:

ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ِู„َّุฐِูŠْ ูَุทَุฑَ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠْูًุง ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ. ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠْ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَู„َู…ِูŠْู†َ، ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ. ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงู‡ْุฏِู†ِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ِ ูˆَุฃَุญْุณَู†ِ ุงู„ْุฃَุฎْู„ุงَู‚ِ، ู„ุงَ ูŠَู‡ْุฏِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِู‡َุง ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ. ูˆَู‚ِู†ِูŠ ุณَูŠِّุฆَ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ِ ูˆَุณَูŠِّุฆَ ุงู„ْุฃَุฎْู„ุงَู‚ِ، ู„ุงَ ูŠَู‚ِูŠ ุณَูŠِّุฆَู‡َุง ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْุชَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus condong kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku kepada amalan yang terbaik dan akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada amalan dan akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari amal yang buruk dan akhlak yang jelek, tidak ada yang dapat menjaga dari amal dan akhlak yang buruk kecuali Engkau.”

(HR. An-Nasa’i no. 896 dari Jabir radhiyallahuanhu. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 820)

5⃣ Bacaan:
ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ، ูˆَุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงุณْู…ُูƒَ، ูˆَุชَุนَุงู„َู‰ ุฌَุฏُّูƒَ، ูˆَู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุบَูŠْุฑُูƒَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.”

(HR. Abu Dawud no. 776, An-Nasa‘i no. 899, dan selain keduanya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda yang maknanya, “Ucapan yang paling dicintai oleh Allah adalah seorang hamba mengucapkan: ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ…

(Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam At-Tauhid, 2/123. Juga diriwayatkan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, 488/849, dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Ash-Shahihah no. 2939)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

___________________________
Catatan kaki belum tersedia di website, silahkan meruju' ke majalah asy syariah

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

#Sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Rabu 02 Dzulhijjah 1436H/16 September 2015M

๐Ÿ“ bagi pembaca Yang memiliki majalah asy syariah edisi 59 tolong dituliskan catatan kakinya sebelum di sebarkan, atau kirim ke admin TIC di nomor 0857-7123-2111

Jazakumullahukhoiron


[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~Bagian 1⃣~

======================

๐ŸŒ€๐Ÿ”๐Ÿ™Œ Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

☝Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam.
๐Ÿ‘‹ Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam dan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

๐Ÿ“š Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam dalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

๐Ÿ‘‰ Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

๐Ÿ”‘ (1) Niat

Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ู†ِّูŠَّุงุชِ ูˆَุฅِู†َّู…َุง ู„ِูƒُู„ِّ ุงู…ْุฑِุฆٍ ู…َุง ู†َูˆَู‰

“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.”

(HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

✒ Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Niat adalah maksud. Maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang hendak dikerjakan dan sifat shalat yang wajib ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardhu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.”

(Raudhatuth Thalibin, 1/243-244)

⚠ Sudah berulang kali disebutkan bahwa niat tidak boleh dilafadzkan. Sehingga seseorang tidak boleh menyatakan sebelum shalatnya, “Nawaitu an ushalliya lillahi ta’ala kadza raka’atin mustaqbilal qiblah…” (Aku berniat mengerjakan shalat karena Allah Subhanahuwata'ala sebanyak sekian rakaat dalam keadaan menghadap kiblat…).

⛔ Melafadzkan niat tidak ada asalnya dalam As-Sunnah. Tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam yang membolehkan melafadzkan niat. Tidak ada pula seorang tabi’in pun yang menganggapnya baik.

๐Ÿ“š Demikian pula para imam yang empat. Sementara kita maklumi bahwa yang namanya kebaikan adalah mengikuti bimbingan As-Salafush Shalih.

๐Ÿ”‡ Ada kesalahpahaman dari sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ucapan beliau, dalam masalah haji,

“Apabila seseorang berihram dan telah berniat dengan hatinya, maka ia tidak diharuskan menyebut niat itu dengan lisannya. Haji itu tidak seperti shalat, di mana tidak shahih penunaiannya terkecuali dengan nathq

(pelafadzan dengan lisan).”

๐Ÿ“‹ Maka hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-’Aziz Syarhul Wajiz yang dikenal dengan nama Syarhul Kabir (1/470):

“Jumhur ulama kalangan Syafi’iyyah berkata: ‘Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Allah Subhanahuwata'ala meridhainya– tidaklah memaksudkan dengan ucapannya tersebut adanya pelafadzan niat dengan lisan (tatkala hendak mengerjakan shalat). Yang beliau maksudkan adalah takbir (yaitu takbiratul ihram, pen.), karena dengan takbir tersebut sahlah shalat yang dikerjakan. Sementara dalam haji, seseorang menjadi muhrim walaupun tanpa ada pelafadzan.”

✒ Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bila Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali.

๐Ÿ“ž Beliau juga tidak mengatakan, ‘Aku tunaikan untuk Allah Subhanahuwata'ala shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum’.

๐Ÿ‘‰ Demikian pula ucapan ada’an atau qadha’an ataupun fardhal waqti.

๐Ÿ”ฅ Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, baik dengan sanad yang shahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (tidak bersambung). Bahkan tidak ada nukilan dari para sahabat, demikian pula tabi’in maupun imam yang empat, tak seorang pun dari mereka yang menganggap baik hal ini.

๐Ÿ’ข Hanya saja sebagian mutaakhirin (orang-orang belakangan) keliru memahami ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –semoga Allah Subhanahuwata'ala meridhainya– tentang shalat. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan zikir.”

๐Ÿ”“ Mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud adalah ucapan niat seseorang yang hendak shalat. Padahal yang dimaksudkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan zikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram.

❓Bagaimana mungkin Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyukai perkara yang tidak dilakukan Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam dalam satu shalat pun, begitu pula para khalifah beliau dan para sahabat yang lain? Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf saja dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan penuh ketundukan dan penerimaan.

❌ Karena, tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari sang pembawa syariat Shalallahu'alaihi wa sallam. (Zaadul Ma’ad, 1/201)

๐Ÿ”นInsya Allah Bersambung๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฌ Sumber :

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-1/

____________
๐Ÿ“š WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~Bagian 2⃣~

======================

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ™Œ Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿ”‘ (2) Takbiratul ihram

๐Ÿ”ณ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan mengucapkan:

Allahu Akbar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiyallahuanha berikut ini:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ูŠَุณْุชَูْุชِุญُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ุจِุงู„ุชَّูƒْุจِูŠْุฑِ ูˆَุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉِ ุจِุงู„ْุญَู…ْุฏِ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ، ูˆَูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ุฑَูƒَุนَ ู„َู…ْ ูŠُุดْุฎِุตْ ุฑَุฃْุณَู‡ُ ูˆَู„َู…ْ ูŠُุตَูˆِّุจْู‡ُ ูˆَู„َูƒِู†ْ ุจَูŠْู†َ ุฐَู„ِูƒَ، ูˆَูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ุฑَูَุนَ ุฑَุฃْุณَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุฑُّูƒُูˆุนِ ู„َู…ْ ูŠَุณْุฌُุฏْ ุญَุชَّู‰ ูŠَุณْุชَูˆِูŠَ ู‚َุงุฆِู…ًุง، ูˆَูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ุฑَูَุนَ ุฑَุฃْุณَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّุฌْุฏَุฉِ ู„َู…ْ ูŠَุณْุฌُุฏْ ุญَุชَّู‰ ูŠَุณْุชَูˆِูŠَ ุฌَุงู„ِุณًุง. ูˆَูƒุงَู†َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุฑَูƒْุนَุชَูŠْู†ِ ุงู„ุชَّุญِูŠَّุฉَ، ูˆَูƒَุงู†َ ูŠَูุฑِุดُ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุงู„ูŠُุณْุฑَู‰ ูˆَูŠَู†ْุตِุจُ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุงู„ْูŠُู…ْู†َู‰، ูˆَูƒุงَู†َ ูŠَู†ู‡َู‰ ุนَู† ุนُู‚ْุจَุฉِ ุงู„ุดَّูŠุทَุงู†ِ ูˆَูŠَู†ْู‡َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَูْุชَุฑِุดَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ุฐِุฑَุงุนَูŠู‡ِ ุงูْุชِุฑَุงุดَ ุงู„ุณَّุจُุนِ ูˆَูƒَุงู†َ ูŠَุฎْุชِู…ُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ุจِุงู„ุชَّุณْู„ِูŠู…ِ

“Adalah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Apabila ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya. Apabila bangkit dari ruku’, beliau tidak sujud sampai beliau berdiri lurus. Dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga beliau tegak duduknya. Pada setiap dua rakaat beliau membaca tahiyat. Beliau membentangkan kakinya yang kiri dan menegakkan (telapak) kakinya yang kanan. Beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan melarang seseorang membentangkan kedua lengan bawahnya seperti binatang buas membentangkannya (yakni meletakkan lengan di lantai ketika sujud). Dan beliau menutup shalat dengan salam.”

(HR. Muslim no. 1110)

๐Ÿ“š Hadits ini memiliki jalan lain, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Yusuf bin Ya’qub, ia berkata:

Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Budail telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah radhiyallahuanha:

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ n ูƒَุงู†َ ูŠَูْุชَุชِุญُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ุจِุงู„ุชَّูƒْุจِูŠْุฑِ ูˆَุงู„ْู‚ِุฑَุงุกَุฉِ ุจِู€(ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَู„َู…ِูŠْู†َ)

“Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

๐Ÿ’พ Hadits lain yang menunjukkan amalan ini adalah hadits Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahuanhu, ia berkata:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุฅِุฐَุง ู‚َุงู…َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตّู„َุงุฉِ ุงุณْุชَู‚ْุจَู„َ ุงู„ْู‚ِุจْู„َุฉَ ูˆَุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَู‚َุงู„َ: ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ

“Bila Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakan shalat, beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan berkata: ‘Allahu Akbar’.”

(HR. Ibnu Majah no. 803 dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

๐Ÿšจ Takbiratul ihram ini merupakan salah satu rukun shalat menurut pendapat jumhur (1).

✏ Adapun Hanafiyyah berpandangan takbir ini merupakan syarat, demikian pula satu sisi dari pendapat Syafi’iyyah. Sementara Az-Zuhri bersendirian dalam memandang sunnahnya, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnul Mundzir.
(Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama 2/7, Fathul Bari 2/282)

๐ŸŒ• Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana telah disebutkan sebagian nashnya. Dengan demikian, tidak sah shalat bila takbir ini sampai terluputkan/ditinggalkan. Karena itulah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang yang salah shalatnya untuk melakukan takbir ini.

๐Ÿ“’ Hadits yang kami maksudkan adalah hadits yang masyhur dengan sebutan hadits al-musi’ shalatuhu, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahuanhu, disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Khallad ibnu Rafi’ radhiyallahuanhu, masuk masjid untuk mengerjakan shalat, sementara Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam berada di salah satu sudut masjid.

⏩ Seselesainya dari sholat, Khallad ini mendatangi Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamnya lalu bersabda kepadanya:

ุงุฑْุฌِุนْ ูَุตَู„ِّ، ูَุฅِู†َّูƒَ ู„َู…ْ ุชُุตَู„ِّ. ูَุฑَุฌَุนَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ูَุตَู„َّู‰ ูƒَู…َุง ูƒَุงู†َ ุตَู„َّู‰، ุซُู…َّ ุฌุงَุกَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ n ูَุณَู„َّู…َ ุนَู„َูŠู‡ِ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n: ูˆَุนَู„َูŠูƒَ ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ؛ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ: ุงุฑْุฌِุนْ ูَุตَู„ِّ، ูَุฅِู†َّูƒَ ู„َู…ْ ุชُุตَู„ِّ. ุญَุชَّู‰ ูَุนَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ุซَู„ุงَุซَ ู…َุฑَّุงุชٍ. ูَู‚َุงู„َ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ: ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ุจَุนَุซَูƒَ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ، ู…َุง ุฃُุญْุณِู†ُ ุบَูŠุฑَ ู‡َุฐَุง، ุนَู„ِّู…ْู†ِูŠ. ู‚َุงู„َ: ุฅِุฐَุง ู‚ُู…ْุชَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูَูƒَุจِّุฑْ، ุซُู…َّ ุงู‚ْุฑَุฃْ ู…َุง ุชَูŠَุณَّุฑَ ู…َุนَูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ، ุซُู…َّ ุงุฑْูƒَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฑَุงูƒِุนًุง، ุซُู…َّ ุงุฑْูَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุนุชَุฏِู„َ ู‚َุงุฆِู…ًุง، ุซُู…َّ ุงุณْุฌُุฏْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุณَุงุฌِุฏًุง، ุซُู…َّ ุงุฑْูَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฌَุงู„ِุณًุง، ุซُู…َّ ุงูْุนَู„ْ ุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ุตَู„ุงَุชِูƒَ ูƒُู„ِّู‡َุง

“Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

๐Ÿ‘ฃOrang itu pun kembali lalu mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya yang sebelumnya. Setelahnya ia datang kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, maka beliau menjawab, “Wa ‘alaikas salam.” Kemudian beliau melanjutkan, “Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”

๐Ÿ”ฆ Demikian Rasulullah memerintahkan sampai orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Pada akhirnya orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa mengerjakan shalat lebih bagus daripada apa yang telah kukerjakan. Kalau begitu ajari aku (bagaimana shalat yang benar).”

⌛ Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam kemudian memberi bimbingan, “Bila engkau hendak berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Setelahnya, bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Lalu angkat kepalamu hingga engkau berdiri lurus.

๐Ÿƒ Setelahnya sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan sujud. Setelah itu angkatlah kepalamu hingga engkau lurus dan thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah apa yang telah disebutkan tadi dalam shalatmu seluruhnya.”

(HR. Al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

⚠Perhatian ⚠

✋ Semua amalan shalat yang disebutkan dalam hadits al-musi’ shalatuhu (hadits di atas) ini merupakan rukun, tidak sah shalat tanpanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19)

☑ Faedah

☝Bagi makmum yang shalat di belakang imam dan orang yang shalat sendiri (munfarid) hendaklah memerhatikan bahwa takbir ini diucapkan dengan lisan, dengan menggerakkannya, sehingga tidak cukup bila hanya diucapkan dalam hati.

๐Ÿ”‡Namun, bilamana seseorang itu bisu, tidak bisa berbicara, maka ia meniatkan takbir dalam hatinya tanpa perlu menggerakkan bibir dan lisannya, karena hal itu perbuatan sia-sia dan melakukan gerakan tanpa hajat. Toh dengan kebisuannya, suaranya tidak akan keluar.

๐Ÿ™ŒKetika bertakbir ini tidak diharuskan seseorang mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh kedua telinganya (2), walaupun dalam masalah ini ada khilaf. Namun yang rajih adalah sebagaimana yang kami sebutkan. Karena mengharuskan suara takbir itu terdengar oleh telinga pengucapnya merupakan amrun zaid (perkara yang lebih) dari ucapan dan lafadz. Sementara, apa yang lebih dari keterangan As-Sunnah harus ada dalilnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19-21)

⛵ Dengan diucapkannya takbiratul ihram berarti haram seseorang melakukan pekerjaan selain amalan shalat, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam :

ู…ِูْุชَุงุญُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุงู„ุทُّู‡ُูˆุฑُ، ูˆَุชَุญْุฑِูŠู…ُู‡َุง ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠْุฑُ، ูˆَุชَุญْู„ِูŠู„ُู‡َุง ุงู„ุชَّุณْู„ِูŠู…ُ

“Kunci shalat adalah bersuci/wudhu, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam.”

(HR. Abu Dawud no. 61, 618, At-Tirmidzi no. 3, 238 dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud: “Hasan shahih.”)

๐Ÿ‘‰Dalam hadits ini ada dalil bahwa shalat hanya bisa dibuka dengan takbir Allahu akbar, tidak sah dengan zikir-zikir yang lain. Hal ini merupakan pendapat jumhur. Adapun pendapat Abu Hanifah “Shalat bisa dibuka dengan setiap lafadz yang menunjukkan pengagungan (kepada Allah Subhanahuwata'ala),” adalah pendapat yang marjuh (lemah).

(Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/7, Nailul Authar 2/6)

๐Ÿ”น bersambung insyaallah ๐Ÿ”น

___________________________

๐Ÿ‘ฃCatatan kaki

(1) Rukun adalah suatu amalan yang bila ditinggalkan sengaja ataupun tidak maka ibadah itu tidak sah. Untuk ibadah shalat, amalan itu tidak bisa diganti dengan sekadar sujud sahwi tapi harus ditunaikan sesuai aturan yang ada.

(2) Suara tersebut tidak terdengar bisa jadi karena ada suara-suara bising di sekitar tempat tersebut, atau karena lemahnya pendengaran, atau alasan lainnya.

๐Ÿ“ฌ Sumber :

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-1/

____________
๐Ÿ“š WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: Bagian 3⃣

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿ”Š ๐Ÿ”ŠMengeraskan suara ketika bertakbir

๐Ÿ“ฃ Ketika bertakbir, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh orang di belakang beliau, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/223), Ahmad (3/18), dan lainnya, dari Fulaih ibnu Sulaiman, dari Sa’id ibnul Harits, ia berkata,

๐Ÿ”ป “Suatu ketika Abu Hurairah radhiyallahuanhu yang biasa mengimami orang-orang jatuh sakit atau sedang pergi, maka Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu pun menggantikan posisi imam. Beliau mengeraskan ๐Ÿ”Š suara ketika bertakbiratul ihram, demikian pula ketika ๐Ÿ”Š hendak ruku’, ketika mengatakan ๐Ÿ”Š sami’allahu liman hamidah, ketika ๐Ÿ”Š mengangkat kepalanya dari sujud,๐Ÿ”Š ketika hendak sujud, ketika mengangkat kepala dan ketika ๐Ÿ”Š bangkit dari dua rakaat, sampai akhirnya beliau menyelesaikan shalat.

❗Ternyata ada yang menyampaikan kepada beliau bahwa orang-orang berselisih dalam perkara shalat beliau tadi. Abu Sa’id pun naik mimbar dan berkata, “Wahai manusia! Demi Allah, aku tidak peduli apakah shalat kalian berbeda ataupun tidak dengan shalatku. Yang penting demikianlah aku dulunya melihat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam shalat.”

(Al-Hakim menshahihkannya menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi rahimahullah)

✒ Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata:

๐Ÿ”ป“Hadits ini menunjukkan disenangi bagi imam untuk mengeraskan suaranya saat bertakbir agar makmum tahu perpindahan gerakan imam. Bila si imam suaranya lemah (tidak bisa keras) karena sakit atau alasan lainnya, maka sunnah bagi muadzdzin atau selainnya dari kalangan makmum untuk menjahrkan/mengeraskannya dalam kadar yang dapat didengar oleh manusia.

⌛Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu saat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengimami manusia dalam keadaan suara beliau lemah karena sakit (3)…

๐Ÿ“ก Adapun menyampaikan takbir imam yang dilakukan makmum tanpa ada kebutuhan, sebagaimana biasa dilakukan oleh kebanyakan orang di zaman kita ini dalam bulan Ramadhan, sampaipun di masjid yang kecil, tidaklah disyariatkan menurut kesepakatan ulama, sebagaimana dihikayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa (1/69-70 dan 107).

↔ Dulunya, Bilal radhiyallahuanhu ataupun selainnya tidak pernah meneruskan takbir Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam
 kepada para makmum di belakang beliau.

๐ŸŒพ Begitu pula di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, tidak ada yang menyampaikan takbir mereka di belakang mereka. Karena itulah mayoritas ulama terang-terangan menyatakannya makruh.

❗Bahkan ada yang mengatakan ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ’ซ batal shalat pelakunya tersebut. Ini ada dalam madzhab Malik, Ahmad, dan selain keduanya…

✒ Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

‘Tidaklah diragukan bahwa tabligh (menyampaikan takbir imam kepada makmum) tanpa ada kebutuhan merupakan ⚠ bid’ah. Siapa yang meyakininya sebagai amalan qurbah secara mutlak maka tidak diragukan dia adalah imam yang ๐Ÿ’ฅ jahil, atau memang ia seorang yang menentang dan bersengaja dengan penyelisihannya. Karena permasalahan ini telah dinyatakan oleh para ulama dari berbagai madzhab dalam kitab-kitab mereka, sampaipun dalam kitab-kitab yang ringkas.

๐Ÿ”Š Mereka semua menyatakan, ‘Tidak boleh ada satu pun takbir yang dikeraskan di dalam shalat, terkecuali bila ia seorang imam. Siapa yang terus-menerus meyakini perbuatan seperti ini merupakan qurbah maka ia diberi hukuman karena menyelisihi ijma’.’ Wallahu a’lam.”

(Al-Ashl, 1/187-188)

๐Ÿ”น bersambung insyaallah ๐Ÿ”น
___________________________

๐Ÿ‘ฃCatatan kaki

(3) Dalam hadits Jabir radhiyallahuanhu, ia menyebutkan, “Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam dalam keadaan sakit saat kami shalat di belakang beliau, dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu pun memperdengarkan kepada manusia takbir beliau. Beliau lalu menoleh kepada kami, ternyata beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada kami agar kami duduk. Kami pun duduk dan kami shalat diimami oleh beliau dalam keadaan duduk. Tatkala beliau mengucapkan salam pertanda selesainya shalat, beliau Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ุฅِู†ْ ูƒِุฏْุชُู…ْ ุขู†ِูًุง ู„َุชَูْุนَู„ُูˆู†َ ูِุนْู„َ ูَุงุฑِุณَ ูˆَุงู„ุฑُّูˆู…ِ، ูŠَู‚ُูˆู…ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ู…ُู„ُูˆูƒِู‡ِู…ْ ูˆَู‡ُู… ู‚ُุนُูˆุฏٌ، ูَู„ุงَ ุชَูْุนَู„ُูˆุง، ุงุฆุชَู…ُّูˆุง ุจِุฃَุฆِู…َّุชِูƒُู…ْ، ุฅِู†ْ ุตَู„َّู‰ ู‚َุงุฆِู…ًุง ูَุตَู„ُّูˆุง ู‚ِูŠَุงู…ًุง، ูˆَุฅِู†ْ ุตَู„َّู‰ ู‚َุงุนِุฏًุง ูَุตَู„ُّูˆุง ู‚ُุนُูˆุฏًุง

“Kalian tadi hampir-hampir berbuat seperti perbuatannya orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka sementara raja-raja ini duduk. Maka janganlah kalian lakukan. Contohlah imam kalian, jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Namun bila ia shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dengan duduk.”

(HR. Muslim no. 927)

๐Ÿ“ฌ Sumber :

http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-1/
____________
๐Ÿ“š WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: Bagian 4⃣

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________
.......................
๐Ÿ”ฐ๐Ÿ”‰Takbir dalam Setiap Gerakan
__________

๐ŸŒฟ Hadits Abu Sa’id Al-Khudri di atas juga menunjukkan disyariatkannya takbir dalam;
(1) Setiap gerakan turun dan
(2) Bangkit dalam shalat.
Ini merupakan pendapat keumuman fuqaha dan para ulama.

๐Ÿ Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (1/160) menyatakan bahwa
✏_________________
"Bertakbir ketika ruku’ dan sujud diamalkan oleh para shahabat Nabi, di antaranya Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in rahimahumullah."
Dan inilah yang dipegangi oleh keumuman fuqaha dan ulama.
_________________||


๐Ÿš๐Ÿƒ Pendapat ini dikuatkan pula dengan hadits yang lainnya, di antaranya:
๐Ÿ“š✒• • • • • • • • • • • • • • • •
๐Ÿ“– Hadits Imran bin Hushain yang menyebutkan bahwa ia pernah shalat bersama Ali bin Abi Thalib di Bashrah, ia berkata, “Orang ini mengingatkan kami dengan shalat yang dulunya kami kerjakan bersama Rasulullah.”

๐Ÿ‚ Imran menyebutkan bahwa dalam shalatnya itu, Ali bertakbir setiap kalian mengangkat tubuhnya (naik) dan setiap kali meletakkannya (turun). (HR. Al-Bukhari no. 784 dan selainnya)
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •∆||


๐Ÿ”ฐ๐ŸŒฟ๐ŸŒท Faedah:
__________________
๐Ÿ”บUlama berbeda pendapat tentang hukum takbir selain takbiratul ihram.
{( 1 )} Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Jumhur berpendapat sunnah.
{( 2 )} Sedang Al-Imam Ahmad dan sebagian ahlu zhahir menyatakan wajibnya seluruh takbir.” (Fathul Bari, 2/349)

๐Ÿ“ถ Hujjah mereka yang menghukumi wajib adalah sabda Rasulullah:

ุตَู„ُّูˆุง ูƒَู…َุง ุฑَุฃَูŠุชُู…ُู†ِูŠ ุฃُุตَู„ِّูŠ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

๐ŸŒบ Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz dalam ta’liq beliau terhadap kitab Fathul Bari berkata:
______. . . . . . . . . . .______
“Inilah pendapat yang lebih zhahir dari sisi dalil. Karena Rasulullah menjaga amalan ini (terus melakukannya) serta memerintahkan umatnya untuk mengerjakannya, sementara asal perintah adalah wajib. Sungguh Rasulullah telah bersabda: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.’

Adapun riwayat dari Utsman dan Mu’awiyah, yang menyebutkan bahwa keduanya tidak menyempurnakan takbir maka dibawa kepada pemahaman bahwa keduanya tidak mengeraskan takbir, bukan keduanya meninggalkan takbir. Riwayat tersebut harus dipahami seperti ini, dalam rangka berbaik sangka kepada keduanya. Kalaupun mau diterima keduanya meninggalkan takbir, maka hujjah lebih dikedepankan daripada pendapat keduanya. Semoga Allah merahmati keduanya dan seluruh sahabat. Wallahu a’lam.”
______. . . . . . . . . . .______

.........................................................................
๐Ÿ”นInsya Allah Bersambung๐Ÿ”น
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“ฌ Sumber :
(http://asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-1/)

____________
๐Ÿ“š WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: Bagian 5⃣

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________
.........................
๐Ÿšซ๐Ÿ”‰ " Tidak Mendahului Imam dalam Bertakbir "
_______ _________ _________ _______
๐ŸŒฟ Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah melarang makmum mendahului imamnya.
Seperti dalam hadits Abu Hurairah:

ุฅِู†َّู…َุง ุฌُุนِู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ู„ِูŠُุคْุชَู…َّ ุจِู‡ِ، ูَุฅِุฐَุง ูƒَุจَّุฑَ ูَูƒَุจِّุฑُูˆุง ูˆَู„ุงَ ุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุญَุชَّู‰ ูŠُูƒَุจِّุฑَ، ูˆَุฅِุฐَุง ุฑَูƒَุนَ ูَุงุฑْูƒَุนُูˆุง ูˆَู„َุง ุชَุฑْูƒَุนُูˆุง ุญَุชَّู‰ ูŠَุฑْูƒَุนَ… ุงู„ุญุฏูŠุซ

๐ŸŒท “Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (๐Ÿ“š HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)



๐Ÿ“ถ๐Ÿ”‰ " Mengangkat Tangan "
_______ _________ _________ _______
๐ŸŒฟ Mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat merupakan perkara yang disyariatkan, bahkan perkara yang disepakati (ijma’). (๐Ÿ“š Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)
๐Ÿ“ Telah dinukilkan pernyataan ijma’ ini oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan Ibnus Subki. (๐Ÿ“šAl-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/6, Nailul Authar 2/11)

๐Ÿ“ Akan tetapi, telah dinukilkan dari Al-Imam Malik riwayat:
"Tidak mengangkat tangan sama sekali."
{(❔)} Namun demikian, dikatakan oleh Al- Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib (2/446) bahwa riwayat ini syadz (ganjil).

๐Ÿ“ Demikian pula Al-Imam Ibnu Rajab menafikannya dan menyatakan bahwa periwayatan tersebut nampaknya tidak benar dari Malik karena hadits mengangkat tangan adalah hadits yang disepakati keshahihannya dan tidak didapati celaan seorang pun terhadap perawinya. (๐Ÿ“š Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)

๐Ÿ”ฐ๐Ÿ”„ Namun demikian para ulama berselisih, apakah hukumnya wajib atau mustahab.

||‹‹››|| Sebagian besar ahlul ilmi, yakni jumhur dan termasuk dalam hal ini imam yang empat, mengatakan hukumnya sunnah (๐Ÿ“š Subulus Salam 2/169).
๐Ÿ”ฐDalilnya, Nabi tidak mengajarkan perkara tersebut sebagaimana dalam hadits al-musi’i shalatahu di atas. Beliau hanya mengajarkan takbir saja. Seandainya mengangkat tangan itu seperti hukum takbir yang diajarkan oleh Nabi, tentunya beliau akan mengajarkan pada orang tersebut (๐Ÿ“š Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/297).
๐Ÿ“Œ Pendapat inilah yang rajih, wallahu a’lam.
✏__Kata Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh, mengangkat tangan dalam shalat tidaklah wajib. Tidak ada ulama yang berpendapat demikian kecuali Dawud Azh-Zhahiri. Ia mengatakan wajib mengangkat tangan ketika takbiratul ihram. Namun sebagian pengikut madzhab/murid-muridnya menyelisihi pendapatnya ini. Mereka tidak mewajibkannya. (๐Ÿ“š Ikmalul Mu’lim 2/261-262)

||‹‹››|| Yang berpendapat wajib di antaranya adalah
๐Ÿ”บAl-Humaidi,
๐Ÿ”บDawud Azh-Zhahiri,
๐Ÿ”บAhmad bin Yasar,
๐Ÿ”บ'Ali ibnul Madini,
๐Ÿ”บIshaq,
๐Ÿ”บIbnu Abi Syaibah,
๐Ÿ”บIbnu Khuzaimah, dan
๐Ÿ”บAl-Auza’i.
(๐Ÿ“š Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296-297, Nailul Authar 2/11)

__________
✒__Ibnu Hazm mengatakan, “Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram pada awal shalat adalah perkara fardhu. Shalat tidak teranggap (sah) tanpa perkara ini.” (๐Ÿ“š Al-Muhalla 2/264)
๐Ÿ”ฐDalil mereka di antaranya adalah hadits:

ุตَู„ُّูˆุง ูƒَู…َุง ุฑَุฃَูŠุชُู…ُู†ِูŠ ุฃُุตَู„ِูŠ

๐ŸŒท “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (๐Ÿ“š HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)
___________
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
๐Ÿ”บBersambung insyaAllah๐Ÿ”บ
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“ฌ Sumber:
(http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi/)

____________
๐Ÿ“š WA TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)
_______________________
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 6⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐ŸŒพKeadaan tangan ketika bertakbir๐Ÿƒ

๐Ÿ“„ Rasulullah terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:

– Bersamaan dengan takbir๐Ÿ‚

Abdullah ibnu ‘Umar berkata:

ุฑَุฃَูŠุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุงูْุชَุชَุญَ ุงู„ุชَّูƒุจِูŠุฑَ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ، ูَุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุญِูŠู†َ ูŠُูƒَุจِّุฑُ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْุนَู„َู‡ُู…َุง ุญَุฐْูˆَ ู…َู†ْูƒِุจَูŠู‡ِ …

“Aku pernah melihat Nabi membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)

๐Ÿ‚ Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.

– Sebelum takbir ๐Ÿƒ

Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar juga, ia berkata:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุฅِุฐَุง ู‚َุงู…َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุชَูƒُูˆْู†َุง ุญَุฐْูˆَ ู…َู†ْูƒِุจَูŠْู‡ِ ุซُู…َّ ูƒَุจَّุฑَ…

“Adalah Rasulullah bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)

– Setelah takbir ๐ŸŒพ

Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits :

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ ูƒุงَู†َ ุฅِุฐَุง ูƒَุจَّุฑَ ุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุญَุชَّู‰ ูŠُุญَุงุฐِูŠَ ุจِู‡ِู…َุง ุฃُุฐُู†َูŠْู‡ِ…

“Rasulullah bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau….” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)

๐Ÿ“ฃ Abu Qilabah mengabarkan:

ุฃَู†ّู‡ُ ุฑَุฃَู‰ ู…َุงู„ِูƒَ ุงุจْู†َ ุงู„ْุญُูˆَูŠุฑِุซِ ุฅِุฐَุง ุตَู„َّู‰ ูƒَุจَّุฑَ ูˆَุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠู‡ِ، ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْูƒَุนَ ุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ، ูˆَุฅِุฐَุง ุฑَูَุนَ ุฑَุฃْุณَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุฑُّูƒُูˆْุนِ ุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ، ูˆَุญَุฏَّุซَ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู†َุนَ ู‡َูƒَุฐَุง

Ia pernah melihat Malik ibnul Huwairits apabila shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Bila ia ingin ruku’, ia mengangkat kedua tangannya. Demikian pula ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan ia menyampaikan bahwa Rasulullah melakukan hal tersebut. (HR. Muslim no. 862 dan Al-Bukhari no. 737)

๐Ÿ“ข Al-Imam Al-Albani menerangkan,

“…Masing-masing cara yang telah disebutkan merupakan sunnah yang tsabitah (pasti ketetapannya) dari Rasulullah. Sehingga semestinya seorang muslim mengamalkannya dalam shalatnya. Jangan sampai ia tinggalkan salah satu dari tiga cara ini. Yang sepantasnya, di satu waktu ia melakukan yang ini, di kali lain cara yang itu, dan di waktu selanjutnya ia amalkan cara yang satunya lagi.” (Al-Ashl 1/198-199)


๐Ÿ”บBersambung insyaAllah๐Ÿ”บ
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“ฌ Sumber:
(http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi/)

Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
___________________________
Pada , Sabtu 21 Dzulqo'dah 1436H/05 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 7⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________
. . . . . . . . . . . . . .
๐Ÿ“ฃ๐ŸšฉTata cara mengangkat tangan
___ _______ _______ _______ _______ ___

๐Ÿ”‰ Ketika Rasulullah mengangkat tangannya, beliau membentangkan/meluruskan jari-jemarinya. Satu jari dengan jari yang lain tidak terlalu direnggangkan, namun tidak pula dirapatkan/digabungkan satu dengan yang lainnya, dan diarahkan ke kiblat;
(๐Ÿ“š Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61)

๐Ÿ“Ž Ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah:

ูƒุงَู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฑَูَุนَ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ู…َุฏًّุง

๐ŸŒท “Adalah Rasulullah bila masuk dalam shalatnya (memulai shalatnya dengan takbiratul ihram), beliau mengangkat tangannya dengan membentangkan jari-jarinya.”
(๐Ÿ“š HR. Abu Dawud no. 753 dan selainnya, dishahihkan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’i t dalam Al-Jami’ush Shahih 2/95)

_______ . . . . . . . . .
๐Ÿ”ฐ๐Ÿ‚ Rasulullah bersungguh-sungguh dalam mengangkat kedua tangan beliau, sampai-sampai terlihat kedua ketiak beliau. Sebagaimana kata Abu Hurairah, “Seandainya aku berada di hadapan Nabi niscaya aku dapat melihat kedua ketiak beliau.”
(๐Ÿ“š HR. Abu Dawud no. 746, shahih menurut syarat Muslim, seperti kata guru kami Al-Imam Al-Wadi’i t dalam Al-Jami’ush Shahih 2/96)
_______ . . . . . . . . .


๐ŸŒฟ Dalam hadits yang telah dibawakan, disebutkan bahwa;
• || Rasulullah mengangkat tangannya hingga setentang (sejajar) dengan kedua pundak beliau, dan
• || Di waktu lain beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua telinga beliau.

✔✔✔ ¨ ¨ ¨ ¨
{(๐Ÿ“Œ)} Karena dua tata cara ini ada dalilnya, maka keduanya merupakan sunnah dan dua-duanya bisa diamalkan.

๐Ÿ”ฐ๐Ÿ‚๐Ÿ • • • • • • • • • • •
Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata, “Tidaklah saling bertentangan di antara amalan-amalan/tata cara yang berbeda-beda. Karena boleh jadi semua tata cara tersebut terjadi di waktu-waktu yang berbeda. Sehingga, semuanya merupakan sunnah, terkecuali ada dalil yang menunjukkan mansukh (terhapus)nya sebagian tata cara tersebut…”
(๐Ÿ“š Hasyiyah Sunan An-Nasa’i lis Sindi 2/122)
๐Ÿ”ฐ๐Ÿ‚๐Ÿ • • • • • • • • • • •


๐ŸŒพFaedah:
¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
{(⚪)} Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Al-Faqih Ibnu Utsaimin mengatakan;
“Ulama –semoga Allah merahmati mereka– berbeda pendapat tentang sejumlah ibadah yang disebutkan dengan cara yang beragam.
[ 1 ] Apakah yang afdhal mencukupkan satu cara saja?

[ 2 ] Ataukah yang afdhal melakukan semuanya pada waktu-waktu yang berbeda?

[ 3 ] Ataukah yang afdhal menjamak (mengumpulkan) apa yang mungkin dijamak?

•= = = = = = = ๐Ÿ”ฐ๐ŸŒท๐Ÿ”ฐ = = = = = = =•
Yang benar dalam hal ini adalah
pendapat kedua yang pertengahan,
yaitu ibadah yang datang dengan
cara yang beragam sekali waktu
diamalkan satu cara dan di kali lain
dilakukan cara yang satunya lagi.”
•= = = = = = = ๐Ÿ”ฐ๐ŸŒท๐Ÿ”ฐ = = = = = = =•

{(⚪)} Beliau melanjutkan,
“Kalau engkau hanya mengamalkan satu cara dan meninggalkan cara lain, niscaya akan mati cara yang lain. Karena suatu sunnah tidak mungkin tetap hidup terkecuali bila kita sekali waktu mengamalkannya, di kali lain mengamalkan yang lain lagi.

๐Ÿ”ฌ Alasan lain, bila seseorang di satu waktu mengamalkan satu cara, di kali lain ia melakukan cara yang lain lagi, niscaya hatinya akan hadir ketika menunaikan amalan yang diajarkan oleh As-Sunnah1. Perkara ini nyata, dapat disaksikan. Karena itulah orang yang setiap kali istiftah mengucapkan:
“Subhanaka allahumma wa bihamdika…. “, engkau dapati dirinya dari awal ia bertakbir langsung lanjut dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdika…” tanpa ia sadari. Karena ia sudah terbiasa dengan bacaan tersebut. Akan tetapi bila suatu waktu ia mengucapkan bacaan ini dan di kali lain ia mengucapkan doa yang lain, niscaya ia akan (lebih) perhatian.

๐Ÿ“‚ Ada beberapa faedah mengamalkan ibadah yang memiliki tata cara beragam:
[ 1 ] Mengikuti sunnah
[ 2 ] Menghidupkan sunnah
[ 3 ] Menghadirkan hati (dalam melakukan ibadah)
Bisa juga kita dapati faedah yang keempat:
+ [ 4 ] Bila salah satu cara dari beberapa cara itu ada yang lebih pendek/ringkas dari yang lain, seperti zikir setelah shalat, maka seseorang terkadang ingin mempercepat selesai dari zikir tersebut, sehingga ia mencukupkan dengan mengucapkan Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu akbar 10 kali. Maka orang ini melakukan amalan yang menepati As-Sunnah dengan waktu yang lebih singkat, karena ingin menunaikan hajatnya. Dan tidak ada keberatan/dosa bagi seseorang melakukan hal itu, apatah lagi bila ada hajatnya yang ingin ditunaikan….”
(๐Ÿ“š Asy-Syarhul Mumti’ 3/19-20)
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ“๐Ÿ“‹๐Ÿ”ฐ Catatan kaki

1 Ia akan perhatian dengan amalan/gerakan yang sedang dilakukannya. Beda halnya bila ia terbiasa terus-menerus hanya melakukan satu cara, niscaya gerakannya ibarat gerakan yang spontan, tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Karena sudah terbiasa dilakukan, sehingga hatinya tidak ia hadirkan. Shalatnya bergulir begitu saja tanpa ia pikirkan apa saja yang telah dilakukan dan diucapkannya dalam shalat tersebut. Wallahu a’lam. -pen.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
๐Ÿ”บBersambung insyaAllah๐Ÿ”บ
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐Ÿ“ฌ Sumber:
(http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi/)

Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
___________________________
Pada , Ahad 22 Dzulqo'dah 1436H/06 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 8⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________


❗Perhatian

Sebagian orang mengangkat kedua tangannya tanpa melewati dadanya, seakan-akan ia memberi isyarat dengan kedua tangannya. Yang seperti ini lebih mirip dengan perbuatan sia-sia/bermain-main dalam shalat. Ini sama sekali bukan termasuk dari ajaran As-Sunnah. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61)

✒ Faedah
Al-Hafizh mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan lelaki dan perempuan dalam hal mengangkat tangan.” (Fathul Bari 2/287)
Adapun Hanafiyah berpandangan, lelaki mengangkat tangannya sampai kedua telinganya sedangkan perempuan sampai dua pundaknya, karena ini lebih menutup (cukup) baginya. Dan dinukilkan dari Ummud Darda’ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dua bahunya. Demikian pula pendapat Az-Zuhri. Sementara ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Hammad bin Abi Sulaiman berpendapat wanita mengangkat kedua tangannya sejajar payudaranya, dan ini yang diamalkan Hafshah bintu Sirin rahimahallah. ‘Atha’ bin Abi Rabah mengatakan bahwa wanita memiliki keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Kalaupun dia tidak melakukan yang demikian, maka tidak mengapa. (Tharhut Tatsrib 2/450)

๐Ÿ“„ Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz berkata, “Yang benar, tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dan shalat perempuan. Perbedaan yang disebutkan oleh sebagian fuqaha tersebut tidak ada dalilnya. Sementara ucapan Nabi :

ุตَู„ُّูˆุง ูƒَู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ُูˆْู†ِูŠ ุฃُุตَู„ِّูŠ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
merupakan pokok yang mencakup keseluruhan shalat. Juga, pensyariatan agama ini mencakup laki-laki maupun perempuan, kecuali bila ada dalil yang memang mengkhususkannya.
Karena itu, sunnah bagi wanita untuk shalat sebagaimana laki-laki shalat, baik dalam ruku’, sujud, bacaan, meletakkan kedua tangan di atas dada, ataupun yang lainnya. Ini lebih utama. Demikian pula dalam hal meletakkan tangan di atas lutut ketika ruku’, meletakkan tangan di atas tanah ketika sujud sejajar pundak atau sejajar telinga, meluruskan punggung ketika ruku’, apa yang dibaca ketika ruku’, sujud, setelah bangkit dari ruku’, setelah bangkit dari sujud, ataupun di antara dua sujud. Semuanya sama dengan laki-laki, sebagai pengamalan sabda Rasulullah :

ุตَู„ُّูˆุง ูƒَู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ُูˆْู†ِูŠ ุฃُุตَู„ِّูŠ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. (Majmu’ Fatawa 11/80)

(Insya Allah bersambung)


๐Ÿ“– Sumber http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi/

Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
________________________________
Pada, Senin 23 Dzulqo'dah 1436H/07 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 9⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________
 . . . . . .

๐Ÿƒ๐Ÿƒ Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

๐Ÿ“š Termasuk petunjuk Nabi dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:

ุฅِู†ุงَّ –ู…َุนْุดَุฑَ ุงู„ْุฃَู†ุจِูŠَุงุกِ– ุฃُู…ِุฑْู†ุงَ ุจِุชَุนْุฌِูŠู„ِ ูِุทْุฑِู†َุง ูˆَุชَุฃْุฎِูŠุฑِ ุณَุญُูˆุฑِู†َุง ูˆَุฃَู†ْ ู†َุถَุนَ ุฃَูŠْู…َุงู†َู†َุง ุนَู„َู‰ ุดَู…َุงุฆِู„ِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ

“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas , dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi , 1/206)

๐Ÿ“กJabir mengabarkan, di saat Rasulullah melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. (HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)

๐Ÿ”Š Ibnu Mas’ud berkata, “Nabi melihatku meletakkan tangan kiri di atas tangan kananku di dalam shalat. Beliau pun mengambil tangan kananku lalu diletakkannya di atas tangan kiriku.” (HR. Abu Dawud no. 755, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud dan Fathul Bari, 2/291)

๐Ÿ“œ Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya menyebutkan Bab Wadh’il yumna ‘alal yusra (peletakan tangan kanan di atas tangan kiri) dan membawakan riwayat Sahl ibnu Sa’d yang mengabarkan:

ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุงุณُ ูŠُุคْู…َุฑُูˆู†َ ุฃَู†ْ ูŠَุถَุนَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ุงู„ْูŠَุฏَ ุงู„ْูŠُู…ْู†َู‰ ุนَู„َู‰ ุฐِุฑَุงุนِู‡ِ ุงู„ْูŠُุณْุฑَู‰ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ

“Adalah orang-orang diperintah agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri bagian bawah (lengan bawah/hasta) di dalam shalat.”

๐Ÿ“ข Abu Hazim, perawi yang meriwayatkan dari Sahl mengatakan, “Aku tidak mengetahui dari Sahl kecuali dia menyandarkannya kepada Nabi .” (HR. Al-Bukhari no. 740)

๐Ÿ“‘ Faedah ✒

Para ulama menjelaskan, di antara hikmah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah hal ini merupakan tata cara seorang peminta yang hina (meminta dengan menghinakan diri di hadapan Allah). Cara seperti ini paling menahan/menghalangi dari berbuat main-main dalam shalat dan lebih dekat pada kekhusyukan.” (Fathul Bari, 2/291)

๐ŸŒบCara peletakannya๐ŸŒบ

Tangan kanan tadi diletakkan di atas tangan kiri dengan:

➡– al-wadha’:
diletakkan saja di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hasta/lengannya (antara siku dan telapak tangan).

๐Ÿ“š Dalilnya adalah hadits Wa’il ibnu Hujr, ia berkata, “Sungguh-sungguh aku akan melihat kepada shalatnya Rasulullah untuk mengetahui secara tepat bagaimana shalat beliau. Aku pun mengamati beliau. Beliau berdiri, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga berhadapan dengan bagian atas kedua telinga beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hastanya….” (HR. Abu Dawud no. 727, An-Nasa’i no. 889, dishahihkan dalam Al-Irwa’ 2/68-69)

Atau bisa pula dengan cara:

➡– al-qabdh: tangan kanan menggenggam tangan kiri.

Cara ini disebutkan dalam sebagian riwayat hadits Wail ibnu Hujr seperti dalam riwayat An-Nasa’i (no. 887). Wail berkata:

ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ ู‚َุงุฆِู…ٌ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ، ู‚َุจَุถَ ุจِูŠَู…ِูŠْู†ِู‡ِ ุนَู„َู‰ ุดِู…َุงู„ِู‡ِ

“Aku melihat Rasulullah bila berdiri dalam shalat, beliau menggenggamkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.” (Sanadnya shahihsebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

๐Ÿ”Š Al-Imam Al-Albani berkata, “Tidaklah samar bahwa antara qabdh dengan wadha’ ada perbedaan yang jelas. Karena qabath lebih khusus daripada sekadar meletakkan (wadha’). Setiap orang yang menggenggam berarti ia meletakkan dan tidak sebaliknya.” Beliau mengatakan, “Sebagaimana hadits tentang wadha’shahih, demikian pula tentang qabdh. Maka yang mana saja dari keduanya dilakukan oleh orang yang shalat berarti sungguh ia telah mengerjakan Sunnah.

๐Ÿ‚ Yang lebih utama, bila sekali waktu ia lakukan yang ini dan di waktu yang lain ia lakukan yang itu. Adapun menggabungkan antara wadha’ dengan qabdh yang dianggap baik oleh sebagian orang-orang yang belakangan dari kalangan Hanafiyah adalah bid’ah.

✒๐Ÿ“‘. Gambarannya –sebagaimana yang mereka sebutkan– adalah seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan mengambil/menggenggam pergelangan tangan kiri dengan jari kelingking dan ibu jarinya yang kanan, sementara tiga jari yang lain dibentangkan. Cara ini seperti yang disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin alad Dur (1/454).” (Ashlu Shifah, 1/211­-215)

----------------
๐ŸƒTempat kedua tangan yang disedekapkan๐Ÿƒ

Dalam hal ini terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa kedua tangan tersebut diletakkan di bawah pusar, di atas pusar, atau di atas dada. Bila hadits-hadits tersebut tsabit niscaya ini termasuk keragaman dalam ibadah, di mana masing-masing sahabat meriwayatkan apa yang ia saksikan, maka semuanya berarti disyariatkan. Akan tetapi kata guru besar kami, muhaddits dari negeri Yaman, Al-Imam Abu Abdirrahman Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i , “Hadits-hadits yang menyebutkan di bawah pusar dan di atas pusar, beredar pada rawi yang bernama Abdurrahman ibnu Ishaq Al-Kufi, sementara ia dhaif/lemah. Diperselisihkan riwayat yang dibawakannya karena ada kegoncangan (idhthirab) dalam haditsnya. Terkadang ia meriwayatkan dari Ziyad ibnu Zaid sehinggaperiwayatannya tergolong dalam musnad Ali . Sekali waktu ia meriwayatkan dari Sayyar ibnul Hakam dan dijadikannya mauquf (berhenti sanadnya) sampai Abu Hurairah. Terkadang pula ia meriwayatkan dari An-Nu’man ibnu Sa’d sebagaimana dalam riwayat Al-Baihaqi (juz 2, hal. 11) sehingga tergolong dalam musnad Ali. Al-Baihaqi telah mengisyaratkan sebagian perbedaan ini, kemudian beliau berkata, “Abdurrahman ibnu Ishaq matruk (ditinggalkan haditsnya).”

“Di sana ada riwayat lain dari jalur Ghazwan ibnu Jarir Adh-Dhibbi, dari ayahnya, dari perbuatan Ali , tidak marfu’ (sampai) kepada Rasulullah. Pada Ghazwan dan ayahnya sendiri ada jahalah (majhul). Hanya saja riwayat keduanya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah, sebagaimana penjelasan yang telah lewat. Adapun kalau keduanya bersendiri dalam penetapan suatu hukum maka tidak bisa. Apatah lagi apa yang mereka sebutkan adalah dari perbuatan Ali, sementara perbuatan seorang sahabat bukan hujjah.

๐ŸŒฑAdapun riwayat yang menyebutkan kedua tangan diletakkan di atas dada yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, maka riwayat tersebut dari jalur Muammal ibnu Ismail. Dia lebih dekat kepada kedhaifan. Terlebih lagi dia bersendiri dalam riwayatnya dari sekelompok huffazh, sebagaimana dalam ta’liq terhadap Nashbur Rayah. Akan tetapi hadits Wail diriwayatkan dari jalur Abdul Jabbar ibnu Wa’il, dari ibunya, dari ayahnya, yang dibawakan Al-Imam Ahmad dan dalam sanadnya ada Qubaishah ibnu Halb. Kata Ibnul Madini, “(Qubaishah ini) majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Sammak.” An- Nasa’i berkata, “Dia majhul.” Kata Al-‘Ijli, “Dia seorang tabi’in yang tsiqah.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib. Yang terpilih dalam hal ini adalah ucapan Ibnul Madini dan An-Nasa’i, karena Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban diketahui sering mentsiqahkan orang yangmajhul.

๐Ÿ“– Yang paling shahih dalam masalah ini adalah hadits Thawus yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Di dalamnya disebutkan peletakan tangan di atas dada. Akan tetapi haditsnya mursal, sementara mursal termasuk bagian hadits dhaif. Sehingga yang tampak bagiku adalah perkara di mana kedua tangan itu diletakkan ketika sedekap termasuk perkara yang lapang (tidak dibatasi), sama saja apakah diletakkan di atas pusar, di bawah pusar, ataupun di atas dada. Walaupun riwayat mursal (yang telah kami sebutkan di atas, yaitu meletakkan tangan di atas dada) merupakan riwayat yang paling shahih dalam permasalahan ini. Wallahu a’lam.” (Riyadhul Jannah fir Raddi ‘ala A’da’is Sunnah, hal. 127-128)

 (Insya Allah bersambung)

๐Ÿ“‘ Sumber http://asysyariah.com/tata-cara-shalat-nabi-bagian-3/


Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
________________________________
Pada, Selasa 24 Dzulqo'dah 1436H/08 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian ๐Ÿ”Ÿ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿƒ๐ŸŒพ Hukum melepaskan tangan tanpa bersedekap

๐Ÿ’บGuru kami yang mulia, Asy-Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata,

๐Ÿ”Š “Telah datang atsar tentang melepaskan tangan tanpa bersedekap di dalam shalat dari sebagian salaf, seperti ‘Abdullah bin Az-Zubair, Ibrahim An-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, dan ‘Atha’ bin Abi Rabah, sebagaimana yang ada dalamMushannaf Ibn Abi Syaibah (1/391) dan Mushannaf ‘Abdir Razzaq (2/276).

๐Ÿ“ฃ❓❗ Jawaban akan hal ini:

Bisa jadi tidak sampai kepada sebagian mereka hadits-hadits tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, sementara hadits-hadits itu sampai kepada yang lain. ๐Ÿ”Ž Juga bisa jadi mereka menganggap baik dan memandang bahwa melepaskan tangan tanpa bersedekap bisa membantu untuk khusyu’.

๐Ÿ”ƒ๐Ÿ“š Adapun yang tidak sampai padanya dalil-dalil peletakan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, maka mereka mendapatkan uzur.

๐Ÿ”“๐Ÿ’ก Sementara yang menganggap baik hal itu dalam keadaan telah mendapati nash, maka anggapan mereka itu tertolak, siapa pun dia.

๐ŸŒ•๐ŸŒ– Semoga Allah Subhanahuwata'ala meridhai Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu ketika beliau mengatakan:

๐Ÿ“Œ๐Ÿ”– “Aku tak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam karena pendapat seseorang”, atau ucapan yang semakna dengan ini.

⚪ Allah Azza wa jalla berfirman:

“Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir.”(Al–Ahzab: 21)

⚪ “Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian ikuti selain-Nya sebagai wali. Alangkah sedikitnya kalian ingat.” (Al–A’raf: 3)

๐Ÿ“Œ❌ Karena itu, tidak halal bagi seseorang untuk meninggalkan syariat Allah Subhanahuwata'ala karena pendapat Fulan dan Fulan.

➡ Adapun orang-orang yang berpendapat melepaskan tangan, bisa jadi dia tidak mengetahui dalil dan dia diberi uzur, atau dia seorang alim mujtahid yang diberi pahala dengan ijtihadnya, atau seorang pembangkang yang pantas diberikan hukuman.

๐Ÿ”ฐ๐ŸšซTidaklah halal mengikuti mereka semua dalam perkara yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu'alaihi wa sallan….

☑ Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah telah menetapkan bahwasanya melepaskan tangan itu tidak tsabit (shahih) dari Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam. (Riyadhul Jannah, hal. 131-133)

 (Insya Allah bersambung)

๐Ÿ“‘ Sumber http://asysyariah.com/tata-cara-shalat-nabi-bagian-3/

Dipublikasikan oleh:

๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
________________________________
Pada, Rabu 25 Dzulqo'dah 1436H/09 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣1⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿ”ฐ⛔๐Ÿ”“Larangan berkacak pinggang di dalam shalat

⚫ Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ู†ُู‡ِูŠَ ุฃَู†ْ ูŠُุตَู„ِّูŠَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ู…ُุฎْุชَุตِุฑًุง

“Seseorang dilarang shalat dalam keadaan berkacak pinggang.”

(HR. Al-Bukhari no. 1220)

⚫ Juga dari Ziyad bin Shabih Al-Hanafi, dia mengatakan:

ุตَู„َّูŠْุชُ ุฅِู„َู‰ ุฌَู†ْุจِ ุงุจْู†ِ ุนُู…َุฑَ، ูَูˆَุถَุนْุชُ ูŠَุฏَูŠَّ ุนَู„َู‰ ุฎَุงุตِุฑَุชَูŠَّ، ูَู„َู…َّุง ุตَู„َّู‰ ู‚َุงู„َ: ู‡َุฐَุง ุงู„ุตَّู„ْุจُ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ، ูˆَูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ูŠَู†ْู‡َู‰ ุนَู†ْ ุฐَู„ِูƒَ

๐Ÿ’ฌ❗Aku pernah shalat di sisi Ibnu ‘Umar. Maka aku meletakkan kedua tanganku di kedua pinggangku. Ketika telah selesai shalat, Ibnu ‘Umar mengatakan, “Ini adalah perbuatan yang menyerupai salib di dalam shalat, dan dulu Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam melarang yang seperti ini.”

(HR. Abu Dawud no.903, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

⚫ Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits (Abu Hurairahradhiyallahuanhu) di atas adalah meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. Ini pula yang ditetapkan oleh Abu Dawud dan dinukilkan oleh At-Tirmidzi dari sebagian ahlul ilmi.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Š Ini merupakan pendapat yang masyhur tentang penafsiran ikhtishar dalam shalat. (Fathul Bari 3/115)

⚫Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud ikhtishar adalah seseorang meletakkan tangannya di pinggang ketika shalat.

❗๐Ÿ’ข❗Sebagian ahlul ilmi membenci jika seseorang berjalan dengan berkacak pinggang. Diriwayatkan bahwa iblis bila berjalan sambil berkacak pinggang.”

(Sunan At-Tirmidzi, 1/237)

⚫ Al-Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya berkacak pinggang di dalam shalat. Demikian pendapat ahlu zhahir. Sementara Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ibnu Majlaz, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, ulama ahlul Kufah dan yang lainnya berpendapat makruh.

๐Ÿ’ซ๐Ÿ”Ž Yang kuat adalah apa yang dipegangi oleh ahlu zhahir, karena tidak adanya dalil-dalil penyerta yang dapat memalingkan larangan ini dari pengharaman yang merupakan maknanya yang hakiki. Inilah yang benar.” (Nailul Authar, 2/223)

 (Insya Allah bersambung)

๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”ท๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น

๐Ÿ“‘ Sumber http://asysyariah.com/tata-cara-shalat-nabi-bagian-3/

Dipublikasikan oleh:

๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
________________________________
Pada, Kamis 26 Dzulqo'dah 1436H/10 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣2⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿ”Ž๐Ÿƒ๐ŸŒMelihat ke tempat sujud

๐Ÿ”ฐSemula dalam shalatnya Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat:

“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (Al-Mu’minun: 2)

๐Ÿ’ Beliau pun menundukkan kepala beliau.

(HR. Al-Hakim 2/393. Al-Imam Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini di atas syarat Muslim, lihat Ashlu Shifah1/230)

๐Ÿ”ปAisyah radhiyallahuanha berkata:

ุฏَุฎَู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุงู„ْูƒَุนْุจَุฉَ ู…َุง ุฎَู„َูَ ุจَุตَุฑُู‡ُ ู…َูˆْุถِุนَ ุณُุฌُูˆุฏِู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุฎَุฑَุฌَ ู…ِู†ْู‡َุง

“Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam masuk Ka’bah (untuk mengerjakan shalat, pen.) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (terus mengarah ke tempat sujud) sampai beliau keluar dari Ka’bah.”

(HR. Al-Hakim 1/479 dan Al-Baihaqi 5/158. Kata Al-Hakim, “Shahih di atas syarat Syaikhan.” Hal ini disepakati Adz-Dzahabi. Hadits ini seperti yang dikatakan keduanya, kata Al-Imam Albani rahimahullah. Lihat Ashlu Shifah 1/232)

๐Ÿ“š๐ŸŽจ Ulama berbeda pendapat, ke arah mana sepantasnya pandangan orang yang shalat tertuju.

⚪Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya menyebutkan:

“Bab Raf’ul bashar ilal imam fish shalah (mengangkat pandangan ke imam di dalam shalat).

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“„Lalu beliau membawakan beberapa hadits yang menunjukkan bahwasanya para shahabat dahulu melihat kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam dalam keadaan shalat pada beberapa kejadian yang berbeda-beda.

๐Ÿ”ปSeperti riwayat Abu Ma’mar, ia berkata: Kami bertanya kepada Khabbab radhiyallahuanhu, “Apakah dulunya Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat dhuhur dan ashar?” Khabbab menjawab, “Iya.” “Dengan apa kalian mengetahui hal tersebut[1]?” Khabbab menjawab lagi, “Dengan melihat gerakan naik turunnya jenggot beliau.” (no. 746)

๐ŸŒ•๐ŸŒ๐ŸŒ‘ Demikian pula kabar tentang shalat gerhana matahari seperti yang diberitakan Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhuma. Di dalamnya disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam ,
“Wahai Rasulullah, dalam shalat tadi kami melihatmu mengambil sesuatu pada tempatmu, kemudian kami melihatmu tertahan (tidak jadi mengambilnya).” (no. 748)

๐Ÿ“Ž๐Ÿ“’Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat, pandangan diarahkan ke kiblat.

๐Ÿ’กAdapun Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan orang-orang Kufah berpandangan disenanginya orang yang shalat melihat ke tempat sujudnya karena yang demikian itu lebih dekat kepada kekhusyuan.

✒Al-Hafizh rahimhullah berkata, “Memungkinkan bagi kita memisahkan antara imam dan makmum. Disenangi bagi imam melihat ke tempat sujudnya. Demikian pula makmum, kecuali bila ia butuh untuk memerhatikan imamnya (guna mencontoh sang imam, pen.).

๐Ÿ”‘Adapun orang yang shalat sendirian, maka hukumnya seperti hukum imam (yaitu melihat ke tempat sujud). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 2/301)

✒Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata,

“Dengan perincian yang disebutkan Al-Hafizh rahimahullah di atas dapat dikumpulkanlah hadits-hadits yang dibawakan oleh Al-Bukhari dalam babnya dan hadits-hadits yang menyebutkan tentang melihat ke tempat sujud. Ini merupakan pengumpulan yang bagus. Wallahu ta’ala a’lam.” (Ashlu Shifah 1/233)

๐Ÿ“ฅSumber:

http://asysyariah.com/melihat-ke-tempat-sujud-bagian-ke-4/

Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang
________________________________
Pada, Jum'at 27 Dzulqo'dah 1436H/11 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣3⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
___________________________

๐Ÿ”๐Ÿ”Ž๐Ÿ’กMemejamkan mata ketika shalat

▪Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Yang benar, memejamkan mata di dalam shalat adalah perkara yang dibenci, karena menyerupai perbuatan orang-orang Majusi dalam peribadatan mereka terhadap api, di mana mereka memejamkan kedua mata. Dikatakan pula bahwa hal itu termasuk perbuatan orang-orang Yahudi.

⛔๐ŸšซSementara menyerupai selain muslimin minimal hukumnya haram, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam rahimahullah.

๐ŸŒ‘❌Oleh karena itu, memejamkan mata dalam shalat minimalnya makruh, kecuali jika di sana ada sebab, seperti misalnya di sekitarnya terdapat perkara-perkara yang bisa melalaikannya dari shalat kalau dia membuka matanya. Dalam keadaan seperti itu, dia boleh memejamkan mata untuk menghindari kerusakan tersebut.” (Asy–Syarhul Mumti’, 3/41)

▶๐Ÿšซ Larangan melihat ke langit/ ke atas ⬆ ketika shalat

๐Ÿ”ŽMelihat ke langit/ke atas adalah perkara yang diharamkan dan termasuk dari dosa besar, sebagaimana hadits Jabir bin Samurah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ู„َูŠَู†ْุชَู‡ِูŠَู†َّ ุฃَู‚ูˆَุงู…ٌ ูŠَุฑْูَุนُูˆْู†َ ุฃَุจْุตَุงุฑَู‡ُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุฃَูˆْ ู„ุงَ ุชَุฑุฌِุนُ ุฅِู„َูŠู‡ِู…

“Hendaklah orang-orang itu sungguh-sungguh menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika dalam keadaan shalat, atau (bila mereka tidak menghentikannya) pandangan mereka itu tidak akan kembali kepada mereka.”

▪Dalam satu riwayat:

ุฃَูˆْ ู„َุชُุฎْุทَูَู†َّ ุฃَุจْุตَุงุฑُู‡ُู…ْ

“Atau sungguh-sungguh akan disambar pandangan-pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 965, 966)

✒Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan larangan yang ditekankan dan ancaman yang keras dalam masalah tersebut.”

(Al-Minhaj, 4/372)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:

http://asysyariah.com/melihat-ke-tempat-sujud-bagian-ke-4/

#Sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada, Sabtu 28 Dzulqo'dah 1436H/12 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣4⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿšซ๐Ÿ”Ž๐Ÿƒ Larangan menoleh dalam shalat

๐Ÿ”ฐAisyah radhiyallahuanha pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam tentang menoleh ketika sedang shalat. Beliau menjawab:

ู‡ُูˆَ ุงุฎْุชِู„ุงَุณٌ ูŠَุฎْุชَู„ِุณُู‡ُ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ ู…ِู†ْ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْุนَุจْุฏِ

“Menoleh dalam shalat adalah sambaran cepat, di mana setan merampasnya dari shalat seorang hamba.”

(HR. Al-Bukhari no. 751)

▫Abu Dzar radhiyallahuanhu berkata: Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ู„ุงَ ูŠَุฒَุงู„ُ ุงู„ู„ู‡ُ ู…ُู‚ْุจِู„ًุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุจْุฏِ ูِูŠ ุตَู„ุงَุชِู‡ِ ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَู„ْุชَูِุชْ، ูَุฅِุฐَุง ุตَุฑَูَ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ุงู†ْุตَุฑَูَ ุนَู†ْู‡ُ

“Terus-menerus Allah menghadap kepada seorang hamba yang sedang mengerjakan shalat selama si hamba tidak menoleh. Bila si hamba memalingkan wajahnya, Allah pun berpaling darinya.”

(HR. Abu Dawud no. 909. Dishahihkan dalam Shahih At-Targhib no. 552)

⚠๐Ÿ’ˆ Menoleh karena sesuatu yang mengejutkan atau karena suatu kebutuhan

๐Ÿƒ Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkisah,

“Tatkala kaum muslimin sedang mengerjakan shalat fajar, tak ada yang mengejutkan mereka kecuali Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam (yang ketika itu sedang sakit sehingga tidak dapat hadir shalat berjamaah bersama mereka, pen.) tiba-tiba menyingkap tabir penutup kamar Aisyah, lalu memandang mereka dalam keadaan mereka berada dalam shaf-shaf. Beliau pun tersenyum lalu tertawa.

๐ŸŒพAbu Bakr radhiyallahuanhu yang saat itu mengimami manusia hendak mundur untuk bergabung dengan shaf di belakangnya, karena ia menyangka Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam ingin keluar (untuk mengimami mereka).

๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ฆ Kaum muslimin pun hampir-hampir terfitnah dalam shalat mereka karena gembiranya mereka melihat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam . Namun ternyata Rasulullah memberi isyarat kepada mereka yang bermakna,

“Sempurnakanlah shalat kalian.” ❗❗

๐Ÿšช๐Ÿ”Setelah itu beliau mengulurkan kembali tabir penutup kamar Aisyah. Ternyata beliau wafat di akhir hari tersebut.”

 (HR. Al-Bukhari no. 754)

๐Ÿ“š๐Ÿ“Œ Hadits di atas menunjukkan bahwa tatkala Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar Aisyah yang posisinya di kiri kiblat, para sahabat radhiyallahuanhuma menoleh ke arah beliau.

๐Ÿ”ญ๐Ÿ“Ž Karena menolehlah mereka dapat melihat isyarat beliau Shalallahu'alaihi wa sallam kepada mereka. Dengan tolehan tadi Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam tidak memerintahkan mereka untuk mengulang shalat mereka, bahkan menetapkan shalat mereka dengan isyarat agar mereka melanjutkannya.

(Fathul Bari, 2/306)

๐Ÿ’กSuatu ketika, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam terlambat datang untuk mengimami manusia karena ada keperluan yang ingin beliau selesaikan.

๐Ÿ”† Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu pun diminta menjadi imam. Di tengah shalat, datanglah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bergabung dalam shaf. Orang-orang pun bertepuk tangan ingin memperingatkan Abu Bakr radhiyallahuanhu tentang keberadaan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam .

๐Ÿฎ๐Ÿšง Sementara Abu Bakr radhiyallahuanhu tidak pernah menoleh dalam shalatnya. Namun tatkala semakin ramai orang-orang memberi isyarat dengan tepuk tangan, Abu Bakr radhiyallahuanhu pun menoleh hingga ia melihat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam .

☁๐Ÿ‚ Abu Bakr radhiyallahuanhu ingin mundur, namun Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam memberi isyarat yang bermakna,“Tetaplah engkau di tempatmu.”

(HR. Al-Bukhari no. 684)

๐Ÿ’พ๐Ÿ”‘ Hadits di atas menunjukkan Abu Bakr radhiyallahuanhu menoleh dalam shalatnya karena suatu kebutuhan, dan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakr radhiyallahuanhu mengulang shalatnya, bahkan mengisyaratkan agar melanjutkan keimamannya.

☑ Dengan demikian, menoleh dalam shalat tidaklah mencacati shalat tersebut terkecuali bila dilakukan tanpa ada kebutuhan.

(Fathul Bari, 2/305)

๐Ÿšก๐ŸšDalil lain yang juga menunjukkan bolehnya menoleh bila ada kebutuhan adalah hadits yang berisi perintah Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam untuk membunuh ular dan kalajengking bila didapati oleh seseorang yang sedang mengerjakan shalat.

๐Ÿ“ฃ Sementara membunuh hewan ini berarti membutuhkan gerakan-gerakan di luar gerakan shalat dan mungkin butuh untuk menoleh. Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata:

ุฃَู…َุฑَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ n ุจِู‚َุชْู„ِ ุงู„ْุฃَุณْูˆَุฏَูŠู†ِ ูِูŠ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ: ุงู„ْุญَูŠَّุฉِ ูˆَุงู„ْุนَู‚ْุฑَุจِ

“Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh dua yang hitam di dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.”

(HR. At-Tirmidzi no. 390, dishahihkan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

✏๐Ÿ“‹ Setelah membawakan hadits di atas, Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Ini yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam dan selain mereka.

๐ŸŽฏ Dengan ini pula Al-Imam Ahmad rahimahullah berpendapat, demikian pula Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain membenci untuk membunuh ular dan kalajengking di dalam shalat. Kata Ibrahim An-Nakha’i, “Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” Namun pendapat pertama yang lebih shahih/benar.”

(Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shalah, Bab Ma ja’a fi qatlil hayyah wal ‘aqrab fish shalah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 (insya Allah bersambung)

๐Ÿ“ฅSumber:

http://asysyariah.com/melihat-ke-tempat-sujud-bagian-ke-4/

#Sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada Ahad 29 Dzulqo'dah 1436H/ 13 September 2015M
[5:07 02/10/2015] ุงุจูˆ ุฑูŠุญู†: ~ Bagian 1⃣5⃣ ~

๐ŸŒ€๐Ÿ”‘๐Ÿ“š Sifat Shalat Nabi

๐Ÿ“ Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
_____________________

๐Ÿ“š Doa-doa Istiftah
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam membuka bacaan beliau dalam shalat dengan mengucapkan doa-doa yang banyak lagi beragam.

๐Ÿšช๐Ÿ”Ž Di dalamnya beliau memuji Allah Subhanahuwata'ala, memuliakan-Nya dan menyanjung-Nya. Doa-doa inilah yang diistilahkan dengan doa istiftah.

▫Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda kepada Rifa’ah ibn Rafi’ radhiyallahuanhu, sahabatnya yang keliru dalam shalatnya (al-musi’u shalatuhu):

ุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ุชَุชِู…ُّ ุตَู„ุงَุฉٌ ู„ِุฃَุญَุฏٍ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุชَูˆَุถَّุฃَ ูَูŠَุถَุนَ ุงู„ْูˆُุถُูˆْุกَ –ูŠَุนْู†ِูŠ ู…َูˆْุถِุนَู‡ُ- ุซُู…َّ ูŠُูƒَุจِّุฑَ، ูˆَูŠَุญْู…َุฏَ ุงู„ู„ู‡َ l،ูˆَูŠُุซْู†ِูŠَ ุนَู„َูŠْู‡ِ، ูˆَูŠَู‚ْุฑَุฃَ ุจู…َุง ุชَูŠَุณَّุฑَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ …

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang dari manusia hingga ia berwudhu lalu meletakkan wudhunya pada tempat-tempatnya, kemudian ia bertakbir, memuji Allah Subhanahuwata'ala dan menyanjung-Nya serta membaca apa yang mudah baginya dari Al-Qur’an…”

(HR. Abu Dawud no. 857, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

๐Ÿƒ๐Ÿ”‡Doa istiftah ini dibaca dengan sirr (tidak dikeraskan), dan pendapat yang rajih (kuat) hukumnya mustahab (sunnah) sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka.

✒ Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Tidak diketahui ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Al-Imam Malik rahimahullah. Beliau berkata, ‘Tidak dibaca doa istiftah ini dan tidak ada sama sekali bacaan apapun antara Al-Fatihah dan takbir. Yang seharusnya ia ucapkan adalah bertakbir: Allahu Akbar, lalu membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin sampai akhir dari surah Al-Fatihah.”

(Al-Majmu’, 3/278)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Pendapat Al-Imam Malik rahimahullah ini memberikan konsekuensi batalnya tiga sunnah:

1⃣ Pertama: doa istiftah

2⃣ Kedua: isti’adzah (mengucapkan A’udzubillah… dst, memohon perlindungan dari gangguan setan)

3⃣ Ketiga: basmalah

❗☑ Padahal ini merupakan sunnah yang pasti lagi mutawatir dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam. Yang nampak, sunnah-sunnah ini tidak sampai kepada Al-Imam Malik rahimahullah, ataupun sampai kepada beliau akan tetapi beliau tidak mengambilnya karena suatu sebab menurut beliau.”

(Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam , 1/239-240)

๐Ÿ’ˆ⚠ Sebagaimana telah disinggung di atas, doa-doa istiftah itu banyak dan beragam. Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam sendiri mengganti-ganti bacaan doa istiftahnya.

๐Ÿ“ฃTerkadang membaca doa yang ini, di kali lain membaca doa yang itu dan seterusnya. Ketika shalat fardhu beliau membaca yang satu dan ketika shalat nafilah/sunnah beliau membaca yang lainnya.

▫Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Sepantasnya bagi seseorang beristiftah sekali waktu dengan (doa istiftah) yang ini dan di waktu lain dengan (doa istiftah) yang itu, agar ia menunaikan sunnah-sunnah seluruhnya. Dengan cara seperti itu, berarti ia juga menghidupkan sunnah serta lebih menghadirkan hati.

❓❗Mengapa? Karena bila seseorang hanya membaca satu macam doa istiftah secara terus-menerus (tidak menggantinya dengan doa yang lain), niscaya hal itu akan menjadi kebiasaan baginya. Sampai-sampai saat ia bertakbiratul ihram dalam keadaan hatinya lalai (tidak perhatian dengan amalan shalatnya) sementara telah menjadi kebiasaannya beristiftah dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdik…”, maka ia akan dapati dirinya tanpa sadar mulai membaca doa istiftah tersebut.”

(Asy-Syarhul Mumti’, 3/48)

๐Ÿ”นBersambung insyaallah๐Ÿ”น

๐Ÿ“ฅSumber:
http://asysyariah.com/shifat-shalat-nabi-bagian-5/

#Sifat-sholat-nabi
___________________________
Dipublikasikan oleh:
๐Ÿ“š Tholibul Ilmi Cikarang

Pada Senin 30 Dzulqo'dah 1436H/ 14 September 2015M